Up di jam yang sama 12.00 WIB
Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.
Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Bersampul Cokelat dan Panggilan dari Tanah Jawa
Musim semi di London perlahan menyerahkan tongkat estafetnya kepada musim panas yang hangat. Udara dingin yang menusuk tulang kini berganti dengan sepoi angin lembut yang membawa aroma bunga-bunga bermekaran di Hyde Park. Di dalam apartemen kecil Martha dan Adnan, ritme kehidupan harian telah menemukan kestabilannya. Sukses kecil dari publikasi esai berseri Martha di Oxford Literary Review memberikan mereka napas finansial, sementara draf akhir novel The Javanese Resonance kini hanya tinggal menyisakan beberapa bab penyuntingan terakhir.
Namun, di tengah kedamaian semu yang baru saja mereka raih, sebuah benda tipis yang mendarat di kotak pos apartemen pada suatu kamis pagi mengubah segalanya dalam sekejap.
Benda itu adalah sebuah amplop besar bertekstur kasar berwarna cokelat tua, dengan prangko pos internasional berstempel resmi dari kota Solo, Jawa Tengah. Tulisan tangan di sampul depan menggunakan tinta hitam yang tegap dan rapi, ditujukan langsung kepada: Bapak Adnan Bagas Setiawan di London, Inggris.
Martha, yang saat itu baru saja mengangkat surat dari lantai dekat pintu masuk, membawa amplop tersebut ke meja dapur tempat Adnan sedang menyiapkan sarapan. Dengan kening berkerut penasaran, Martha meletakkan surat itu di samping cangkir kopi Adnan.
"Ada surat untukmu, Adnan. Dari Solo," ucap Martha, suaranya mengandung sedikit nada tanya.
Adnan menghentikan gerakannya memotong roti. Pria itu menatap amplop cokelat tersebut sejenak. Garis wajahnya yang tenang mendadak berubah serius. Ia mengenali tulisan tangan di sampul itu—itu adalah tulisan tangan dari sesepuh keluarga besar di dusun asalnya, atau mungkin dari pamannya yang memegang amanah pengurus yayasan seni tradisional di sana.
"Terima kasih, Martha," ujar Adnan pelan. Ia menyeka tangannya dengan serbet, lalu merobek bagian atas amplop tersebut.
Martha berdiri di dekatnya, memperhatikan setiap gerak-gerik Adnan dengan debar jantung yang mulai meningkat. Ada firasat aneh yang merayap di dadanya setiap kali bayangan tentang tanah Jawa dan keluarga Adnan berkelebat dalam pikirannya. Selama ini, mereka hidup dalam gelembung perlindungan di London, terisolasi dari dunia asal Adnan. Tapi surat ini terasa seperti jangkar nyata yang menarik mereka kembali ke kenyataan.
Adnan mengeluarkan selembar surat kertas bergaris dari dalam amplop, membacanya perlahan baris demi baris. Semakin jauh matanya menelusuri tulisan tersebut, semakin dalam kerutan di kening pria itu. Rahangnya mengeras, dan napasnya terdengar sedikit lebih berat.
"Adnan... ada apa?" tanya Martha tak sabar, suaranya bergetar pelan. "Apakah terjadi sesuatu yang buruk di Solo?"
Adnan melipat surat itu dengan tenang, lalu meletakannya kembali di atas meja kayu. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam bola mata biru-kehijauan Martha dengan sorot mata yang menyiratkan dilema besar.
"Keluarga besar di Solo mengirim kabar," jawab Adnan dengan suara baritonnya yang tenang namun terdengar berat di telinga. "Pusat pelatihan ukir dan galeri budaya keluarga kita sedang menghadapi masalah serius. Investor lama menarik diri, dan bangunan joglo utama yang menjadi warisan leluhur terancam diambil alih oleh pihak luar karena masalah administrasi utang yang ditinggalkan paman saya sebelum beliau wafat."
Martha tertegun. Napasnya tercekat. "Ya Tuhan... lalu, apa hubungannya dengan kita di sini, Adnan?"
Adnan menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Mereka meminta saya pulang, Martha. Bukan hanya sekadar berkunjung untuk menengok, tapi kembali untuk mengambil alih kepemimpinan yayasan dan menyelamatkan warisan keluarga tersebut secara permanen."
Kalimat itu menggantung di udara, menghantam kesunyian dapur apartemen kecil itu bagai palu godam.
Kembali ke Solo.
Artinya, Adnan harus pulang ke tanah airnya, ke tengah komunitas masyarakat tradisional Jawa yang memegang nilai-nilai adat dan keagamaan yang sangat ketat. Dan pertanyaan paling menakutkan yang langsung melompat ke kepala Martha adalah: Lalu, bagaimana dengan diriku? Apakah aku harus ikut pergi bersamanya ke Jawa?
Malam harinya, diskusi serius itu digelar di ruang tamu di bawah temaram lampu meja. Suasana terasa jauh lebih berat daripada malam-malam sebelumnya. Di hadapan mereka tergeletak surat dari Solo yang seolah menjadi penentu arah babak baru kisah hidup mereka.
"Martha," Adnan membuka percakapan, suaranya begitu lembut namun penuh ketegasan. "Saya tidak bisa mengabaikan panggilan ini. Joglo warisan keluarga itu bukan sekadar bangunan kayu tempat saya tumbuh besar; itu adalah harga diri, sejarah, dan pusat kehidupan masyarakat dusun yang bergantung pada yayasan seni tersebut. Jika saya tinggal diam di London, semuanya akan runtuh."
Martha mendengarkan dengan dada yang bergemuruh. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata. Ia tahu betul arti penting keluarga dan tradisi bagi seorang Adnan. Pria itu tidak mungkin memalingkan muka dari tanggung jawab sebesar itu.
"Aku mengerti, Adnan," bisik Martha parau, menundukkan kepalanya. "Aku sangat mengerti... tapi, bagaimana dengan posisiku? Jika kau kembali ke Solo untuk menyelamatkan warisan keluargamu, di mana tempatku dalam duniamu di sana?"
Adnan bergeser dari kursinya, berlutut tepat di hadapan Martha, lalu meraih kedua tangan wanita itu dan menggenggamnya erat-erat. Kehangatan telapak tangan Adnan selalu menjadi tempat perlindungan terbaik bagi Martha, tetapi kali ini, kehangatan itu tidak mampu menghapus rasa takut yang mencengkeram jiwa wanita tersebut.
"Saya ingin Anda ikut bersama saya ke Jawa, Martha," ucap Adnan mantap, menatap lurus ke dalam mata Martha tanpa ada keraguan. "Saya ingin membawa Anda ke tanah kelahiran saya, memperkenalkan Anda pada keluarga besar, dan menunjukkan bahwa dunia saya juga bisa menjadi rumah bagi Anda."
Pernyataan itu membuat jantung Martha berdegup kencang luar biasa. Ikut ke Jawa? Meninggalkan London sepenuhnya? Masuk ke dalam lingkungan masyarakat tradisional Solo yang religius dan menjunjung tinggi adat ketimuran, sementara dirinya adalah seorang wanita barat yang baru saja memutus hubungan dari keluarga bangsawan Inggris?
"Adnan, kau tahu itu tidak mudah," suara Martha bergetar hebat, air matanya akhirnya tumpah menuruni pipi. "Di London saja keluargaku menolakmu karena perbedaan kita. Bayangkan apa yang akan dikatakan oleh masyarakat dan keluarga besarmu di Solo saat melihat seorang wanita barat sepertiku datang mendampingimu—dengan segala perbedaan budaya, kebiasaan, dan keyakinan yang kita miliki. Aku takut... aku takut aku tidak akan pernah diterima di sana."
Adnan tidak memotong. Ia membiarkan Martha meluapkan segala ketakutan yang selama ini dipendamnya rapat-rapat. Dengan penuh kesabaran, pria itu menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata di pipi wanita yang dicintainya.
"Saya tahu ini menakutkan, Martha," kata Adnan lembut. "Perbedaan itu nyata. Di Solo, adat istiadat dan nilai agama memegang peranan yang sangat sakral dalam kehidupan sehari-hari. Tapi ingatlah satu hal: saya tidak akan pernah membiarkan Anda berjalan sendirian menghadapi badai itu. Saya akan berdiri di depan melindungi Anda, seperti halnya Anda berdiri di samping saya di hadapan keluarga bangsawan Inggris tempo hari."
Kata-kata itu membangkitkan keberanian kecil di dalam dada Martha. Ia teringat kembali bagaimana Adnan berdiri tegak menghadapi kemarahan ayahnya di ruang dansa Kensington. Pria ini tidak pernah ingkar janji. Jika Adnan berkata ia akan melindungi, maka ia akan memegang janji itu dengan nyawanya sendiri.
Namun, tantangan di hadapan mereka bukan lagi sekadar pertentangan sosial kelas elite barat, melainkan benturan kultural dan spiritual yang jauh lebih mendalam di jantung kebudayaan Jawa. Apakah cinta mereka cukup kuat untuk bertahan di tanah leluhur Adnan? Ataukah kepulangan ini justru menjadi ujian akhir yang menentukan apakah dua dunia ini benar-benar tidak ditakdirkan untuk menyatu?
Malam itu, di bawah langit London yang perlahan memasuki musim panas, sebuah keputusan besar diambil—keputusan untuk menutup bab lama di Inggris dan melangkah menyeberangi samudra menuju tanah Jawa, menghadapi takdir mereka yang sesungguhnya.
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.
Salam paseduluran rek❤️❤️