Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nafas Kedua di Kamar Sunyi
Rasa dingin yang menusuk tulang adalah hal terakhir yang diingat oleh Lady Aurelia Montclair. Rasa dingin yang merayap perlahan dari tenggorokannya yang melepuh, membakar saluran nafasnya, hingga menghentikan detak jantungnya di atas lantai marmer Pavilion Timur yang dingin. Ia ingat betul bagaimana rasa sakit akibat racun itu mencabik-cabik organ dalamnya. Ia ingat rintihan kehijauannya yang tak terdengar, serta gaun sutra mewahnya yang basah oleh darah dan racun yang ia muntahkan.
Dan yang paling membakar jiwanya melebihi rasa sakit racun itu adalah kenyataan bahwa sang Raja pria yang ia cintai setengah mati, pria yang membuatnya memohon pada ayahnya agar diizinkan masuk ke istana ini bahkan tidak sudi menghentikan langkah kakinya ketika melintasi tubuhnya yang sekarat. Julian hanya menatapnya sekilas dengan mata kelamnya yang dingin, seolah Aurelia tak lebih dari sekadar serangga bangkai yang mengotori lorong istananya.
Lalu, kegelapan menelannya bulat-bulat.
"Nona Muda... Nona Muda, bangunlah. Hari sudah pagi. Pelayan dari Istana Utama akan segera datang membawa pakaian harian Anda."
Suara itu.
Aurelia menarik nafas tajam. Udara segar yang tiba-tiba memenuhi paru-parunya membuat dadanya bergolak. Ia tersentak duduk, meremas dadanya sendiri dengan jemari yang gemetar hebat. Tidak ada rasa terbakar. Tidak ada darah yang menyumbat tenggorokannya. Napasnya berhembus lancar, meski jantungnya berdegup begitu kencang bagai derap langkah kuda perang.
"Nona Muda? Anda baik-baik saja? Anda berkeringat sangat banyak..."
Aurelia menoleh patah-patah ke arah sumber suara. Di samping tempat tidur berkanopi emas itu, berdiri seorang gadis muda berseragam pelayan dengan apron putih yang bersih. Wajahnya polos, membawa nampan berisi baskom air hangat dan kain lap.
Marta.
Gadis ini adalah pelayan pribadi yang dibawanya dari kediaman Duke Montclair. Pelayan yang di kehidupan lalunya terbukti membiarkan pintu kamarnya terbuka, membiarkan selir-selir lain menyusupkan racun ke dalam teko tehnya demi segenggam koin emas dari faksi barat.
"Marta..." bisik Aurelia. Suaranya serak, tetapi utuh. Tidak ada bekas luka bakar akibat racun.
"Iya, Nona Muda? Apakah Anda bermimpi buruk? Wajah Anda sangat pucat," ujar Marta sembari melangkah mendekat, hendak meletakkan nampan di meja samping tempat tidur.
Aurelia memandangi jemarinya sendiri. Kulitnya halus, tanpa warna kebiruan akibat racun. Ia memandang sekeliling kamar. Kamar ini... ini adalah kamar di Pavilion Timur. Namun, penataannya berbeda. Pot mawar merah di sudut ruangan masih menyegarkan, belum digantikan oleh anggrek beracun hadiah dari Selir Genevieve. Bunga mawar itu adalah bunga yang dibawa oleh pengawalnya di hari pertamanya memasuki istana.
"Marta... tanggal berapa hari ini?" tanya Aurelia, suaranya tiba-tiba berubah dingin dan tajam, kehilangan nada panik yang tadi sempat terdengar.
Marta tersentak kecil, terkejut mendengar perubahan nada bicara majikannya. "Hari ini... hari Selasa, Nona Muda. Hari kedua setelah kepindahan Anda ke Pavilion Timur. Nanti siang, Anda dijadwalkan untuk menghadiri jamuan minum teh pertama bersama para Lady di taman dalam."
Hari kedua.
Aurelia memejamkan matanya rapat-rapat. Satu detik. Dua detik.
Ia tidak berada di neraka. Ia tidak sedang bermimpi dalam koma. Takdir yang brutal—atau mungkin tuhan yang kasihan padanya—telah melemparkannya kembali ke masa lalu. Tepat di hari kedua ia menjadi seorang selir. Hari di mana ia masih menjadi gadis bodoh yang naif, gadis keras kepala yang mengira cinta mampu melunakkan hati seorang Raja berdarah dingin.
Di kehidupan sebelumnya, di hari kedua inilah ia mulai merajuk. Ia menangis karena Raja Julian tidak mengunjunginya di malam pertama. Ia membuat kekacauan di jamuan teh siang hari karena diejek oleh selir-selir senior, hingga akhirnya Raja semakin membencinya dan menganggapnya sebagai putri yang tak tahu tata krama. Ketololannya itu menjadi awal mula jalannya menuju kematian.
Perlahan, Aurelia membuka matanya. Tatapan matanya yang dulu selalu dipenuhi oleh binar cinta, kelapangan, dan kepolosan seorang putri kesayangan Duke Montclair, kini telah lenyap tanpa bekas. Yang tersisa hanya sepasang manik mata sehitam malam, dingin, dan tajam bagai sembilu yang siap mengoyak.
"Nona Muda?" Marta menatapnya bingung. Ada sesuatu yang berbeda dari sang Lady. Aura di sekitar Aurelia terasa begitu berat, membuat Marta tanpa sadar melangkah mundur satu tapak.
"Singkirkan air hangat itu," perintah Aurelia datar.
"T-tapi Nona Muda, Anda harus membasuh wajah dan—"
"Aku bilang singkirkan, Marta," potong Aurelia. Tatapannya tertuju lurus pada mata Marta. "Atau kau ingin aku menyiramkan air panas itu ke wajahmu?"
Marta menelan ludah dengan susah payah. Tubuhnya gemetar seketika. "B-baik, Nona Muda! Maafkan hamba!"
Aurelia menyibakkan selimut sutranya dan melangkah turun dari tempat tidur. Kaki telanjang menapak pada lantai kayu cedar yang dingin. Ia berjalan mendekati cermin besar berukir emas di sudut ruangan.
Di dalam pantulan cermin itu, berdiri seorang wanita muda bersurai cokelat kemerahan yang terurai indah. Wajahnya rupawan, dipadu dengan bibir merah alami dan kulit seputih pualam. Ini adalah wajah seorang putri kesayangan yang tak pernah menyentuh penderitaan seumur hidupnya—sampai ia melangkahkan kaki ke istana ini.
Aurelia menyentuh permukaan cermin, mengelus gambar wajahnya sendiri.
"Aurelia Montclair yang bodoh sudah mati di lantai marmer dingin itu," bisiknya pada pantulan cermin. "Gadis yang mengemis cinta pada pria tak berhati... tidak ada lagi."
Di kehidupan lalu, ia merendahkan dirinya, merajuk, bertindak impulsif, dan menjadi bahan tertawaan hanya demi mendapatkan perhatian Julian. Ia membiarkan wanita-wanita ular di istana ini memanipulasinya hingga ia terpojok dan dibunuh secara tragis.
Tapi tidak kali ini.
Rasa sakit dari racun itu masih terasa nyata di memorinya. Setiap detakan jantungnya kini menyuarakan dendam yang membara.
"Kalian menginginkan tahta? Kalian menginginkan perhatian Raja?" Aurelia tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang mengerikan, tanpa hangat sedikit pun. "Akan kubuat kalian berlutut memohon ampun di hadapanku. Satu per satu dari kalian akan membayar setiap tetes darah yang keluar dari mulutku di kehidupan lalu."
Dan untuk King Julian...
Aurelia mengepalkan tangannya erat-erat hingga kuku-kukunya memutih. Raja yang angkuh itu tidak peduli padanya ketika ia mati? Raja itu menganggapnya hanya sebagai beban politik dari keluarga Montclair?
"Aku tidak akan lagi meminta cintamu, Julian," gumam Aurelia pelan. "Aku akan membuatmu mendambakanku. Aku akan merobek topeng dinginmu, membuatmu gila karena menginginkanku, dan membuat sang Penguasa Kerajaan ini bertekuk lutut di bawah kakiku."
Pintu kamar mendadak diketuk dari luar. Suara seorang pengawal terdengar berat.
"Lady Aurelia, utusan dari Kediaman Utama telah tiba. Selir Keagungan, Lady Genevieve, menyampaikan salam dan mengingatkan agar Anda tidak terlambat menghadiri jamuan teh siang ini."
Aurelia membalikkan badannya. Bunga mawar di sudut ruangan tampak begitu merah, merah seperti warna darah yang akan segera membasahi lantai-lantai istana ini.
Permainan baru saja dimulai. Dan kali ini, Aurelia yang memegang semua bidak caturnya.
"Katakan pada utusan itu," ujar Aurelia dengan suara tenang, namun sarat akan dominasi yang tak terbantahkan, "Aku akan datang. Dan pastikan Lady Genevieve menyiapkan tempat duduk terbaik untukku."
~ To Be Continue