"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Gelas Yang Pecah
Di ruang tengah, Satria duduk di sofa tunggal, berhadapan langsung dengan Ayah Isa dan Bu Reni. Suasana mendadak berubah menjadi sangat padat dan menegangkan, khas atmosfer sebelum dimulainya operasi militer.
"Ada apa, Satria? Wajahmu serius sekali seperti mau melepas pasukan ke daerah perbatasan," seloroh Ayah Isa, mencoba mencairkan ketegangan.
Satria menarik napas dalam-dalam melalui hidung, menahannya sejenak di dalam dada bidangnya sebelum mengembuskannya perlahan. Ia menatap lurus ke dalam manik mata ibunya, lalu beralih pada ayahnya.
"Mumpung Ibu dan Ayah tiba-tiba ke Jakarta, aku ingin menyampaikan sesuatu," buka Satria, suaranya terdengar sangat berat, mantap, dan dipenuhi oleh keyakinan yang tidak bisa diganggu gugat.
Bu Reni merajut alisnya heran, menatap lekat anak laki-lakinya. "Soal apa yang mau kamu sampaikan, Nak? Serius sekali tampaknya."
"Aku ada rencana untuk meminang adik iparku, Keisha, untuk menjadi istriku sekaligus ibu baru bagi Rafka," jawab Satria telak, menjatuhkan bom atom informasi tanpa ada keraguan sedikit pun di dalam nadanya.
Mendengar pengakuan lugas itu, Ayah Isa dan Bu Reni sempat tersentak di tempat duduk mereka. Ruangan itu mendadak hening selama beberapa saat.
Satria tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan kalimatnya dengan ketegasan komando yang mutlak. "Tadi pagi, aku juga sudah berbicara secara langsung kepada Ayah Farrel di rumahnya mengenai niat suci aku ini. Beliau secara pribadi sudah memberikan lampu hijau dan menyetujuinya. Maka dari itu, tujuan utama aku malam ini adalah mengungkapkan keinginan aku agar Ayah dan Ibu bersedia melamar Keisha secara resmi ke rumah orang tuanya besok."
Tepat di saat kalimat 'melamar Keisha secara resmi' itu selesai diucapkan oleh Satria, dari arah koridor belakang muncul Ingrid yang sedang berjalan anggun membawa sebuah nampan kayu berisi satu teko teh hangat dan sepiring buah melon yang baru saja ia potong rapi di dapur.
Prang!!
Suara benturan keras logam nampan dan pecahan piring kristal seketika pecah berantakan di atas lantai marmer, memutus keheningan malam dengan begitu dramatis. Teko teh itu terguling, menumpahkan air hangat yang menggenang ke mana-mana, sementara potongan buah melon berserakan di dekat ubin.
Nampan kayu itu terlepas begitu saja dari genggaman tangan Ingrid yang mendadak lemas tak bertulang. Gadis berparas ayu itu berdiri mematung dengan wajah yang mendadak pucat pasi seperti kehilangan seluruh pasokan darahnya. Sepasang mata hendaknya membelalak lebar, menatap lurus ke arah Satria dengan pandangan penuh keterkejutan, syok, dan rasa tidak percaya yang luar biasa dalam setelah mendengarkan dengan kupingnya sendiri ucapan serius dari sang Mayor.
"A-astagfirullah, Ingrid!" seru Bu Reni spontan, langsung bangkit berdiri dari sofa melihat kekacauan yang terjadi. "Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?"
Bik Nini yang mendengar keributan itu dari dapur langsung berlari tergesa-gesa membawa kain pel dan sapu. "Aduh, Neng Ingrid ... biar Bibi saja yang bersihkan, mari-mari menjauh dulu dari pecahan kacanya."
Rumah mewah itu kembali diselimuti ketegangan baru. Ingrid seolah tidak mendengar suara di sekitarnya. Dadanya naik turun dengan napas yang sesak, matanya yang mulai berkaca-kaca menatap lekat-lekat pada Satria yang masih saja duduk dengan tenang dan kaku di sofanya. Laki-laki itu bahkan tidak berkedip atau menunjukkan kepanikan sedikit pun saat piring pecah di dekatnya, seolah-olah seluruh dunianya memang sudah dikunci penuh hanya untuk mendapatkan hati si gadis barbar, Keisha.
***
"M-maaf ... maaf, Bude, Pakde, Kak Satria ... Ingrid beneran tidak sengaja. Tangan Ingrid mendadak licin sekali," cicit Ingrid dengan suara yang gemetar hebat, memecah keheningan mencekam setelah insiden pecahnya piring di lantai marmer.
Wajahnya yang ayu kini memucat sempurna, dihiasi rasa malu sekaligus syok yang luar biasa setelah mendengar pernyataan bom atom dari mulut pria yang dikaguminya. Tangannya bergerak kikuk, hendak berjongkok untuk memunguti pecahan kristal dan potongan buah melon yang berserakan di atas genangan air teh hangat.
Satria yang sejak tadi menyaksikan kekacauan itu tanpa perubahan ekspresi sedikit pun langsung mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat pelan namun tegas agar Ingrid menghentikan gerakannya.
"Jangan disentuh, Ingrid. Berbahaya untuk tanganmu," potong Satria, suaranya terdengar sangat datar, dingin, dan formal khas militer. Ia kemudian menoleh ke arah koridor dapur di mana asisten rumah tangganya sudah bersiap dengan peralatan. "Bik Nini, tolong bersihkan seluruh sisa pecahan ini. Pastikan lantainya dipel sampai kering agar tidak ada yang terpeleset."
"Siap, Den Satria. Mari, Neng Ingrid, biar Bibi saja yang bereskan," sahut Bik Nini cekatan, langsung menyapu pecahan piring dengan gerakan cepat sementara Ingrid berdiri mundur dengan tubuh yang masih tampak lemas.
Akibat insiden dramatis tersebut, pembicaraan serius yang baru saja dibuka oleh Satria mengenai rencana pinangannya pada Keisha mendadak terganggu dan terhenti di tengah jalan. Suasana di ruang tengah menjadi sangat tidak kondusif. Ketegangan tak kasat mata kini merayap di antara mereka berempat.
Bu Reni yang sejak tadi mengamati perubahan raut wajah keponakan jauhnya langsung menghela napas panjang. Sebagai seorang wanita dan seorang ibu, ia tentu bisa membaca dengan sangat jelas riak-riak kekecewaan serta kekaguman yang teramat besar di mata Ingrid untuk anaknya. Ia bangkit dari sofa, lalu berjalan mendekati Ingrid dan merangkul pundak gadis itu dengan lembut.
"Ya sudah, tidak apa-apa, Ingrid. Namanya juga musibah kecil," hibur Bu Reni dengan nada keibuannya yang hangat. Ia kemudian menoleh ke arah suaminya dan Satria. "Yah, Satria ... Ibu ajak Ingrid ke kamar tamu bawah dulu ya. Kasihan anak ini, sepertinya dia sudah terlalu lelah dan syok karena perjalanan jauh dari bandara tadi. Biar Ingrid beristirahat dulu saja."
Ayah Isa hanya mengangguk pelan sembari membetulkan letak duduknya. "Ya, Bu. Bawa Ingrid istirahat."
***
Di dalam kamar tamu lantai bawah yang bernuansa krem hangat, Bu Reni menutup pintu kayu dengan rapat, mengunci sisa-sisa suara dari ruang tengah. Ia menuntun Ingrid untuk duduk di pinggiran ranjang empuk, lalu ikut duduk di sebelahnya. Di bawah temaram lampu tidur, air mata yang sejak tadi ditahan oleh Ingrid akhirnya luruh juga, membasahi pipi ayunya yang kini merona merah karena menahan gejolak kesedihan.
"Bude ...," ucap Ingrid parau, meremas ujung blus kasualnya dengan erat. "Kenapa Kak Satria tiba-tiba mau menikah lagi dengan Keisha? Bukankah ... bukankah hubungan mereka selama ini hanya sebatas kakak dan adik ipar saja?"
Bersambung...