NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:491
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 - PENYESUAIAN DIRI

Sinar matahari siang menerobos tipis melalui celah ventilasi atap seng Bengkel Maju Jaya Motor, membiaskan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai semen yang bernoda oli. Setelah pembagian peran secara resmi diputuskan oleh Luna, suasana di dalam tempat persembunyian itu mendadak berubah menjadi kesibukan yang teratur. Setiap anggota kelompok tampak langsung membaur dengan tugasnya masing-masing, memfungsikan bengkel tua itu sebagai markas pertahanan yang hidup.

Di sudut lorong utama bengkel, Onad tampak sibuk merangkak di bawah kolong truk rakitannya, diiringi dentang kunci pas dan dentum halus perkakas besi. Di meja kantor, Nancy sudah menata deretan kabel data, laptop, dan tablet digitalnya untuk memindai gelombang radio darurat. Sementara itu, Steve berdiri di pelataran tengah, memutar-mutar pipa besi tebalnya seraya melapisi bagian pegangan dengan pita perekat kain agar genggamannya tidak licin saat bertarung.

Di tengah kesibukan yang mengalir alami itu, Endru justru berdiri mematung di samping meja kayu ruang kantor. Matanya menatap bingung pada dua ransel medis merah yang sudah ditatanya rapi sejak satu jam lalu. Seluruh botol antibiotik, perban steril, alkohol, dan obat penurun panas telah dikelompokkan berdasarkan jenisnya. Namun, rasa canggung yang mendalam tetap bersarang kaku di dadanya.

"Aku sudah merapikan obat-obatan ini tiga kali," gumam Endru seraya mengembuskan napas panjang yang sarat akan beban pikiran.

Pemuda berkacamata tebal itu meremas jemarinya yang kurus. Melihat rekan-rekannya yang terampil dan berpengalaman, rasa tidak percaya diri perlahan menggerogoti perasaannya. Ia merasa dirinya adalah satu-satunya anggota kelompok yang tidak memiliki ketangguhan fisik maupun keberanian untuk menghadapi dunia luar yang brutal.

Dengan langkah ragu, Endru melangkah keluar dari ruang kantor menuju area bengkel utama. Ia berjalan mendekati truk pick-up rakitan yang kap mesinnya terbuka lebar.

"Ada yang bisa aku bantu, Onad?" tanya Endru canggung seraya berdiri agak jauh di samping roda depan truk.

Onad mendadak menyembulkan kepalanya dari balik kap mesin. Wajah tirusnya kini teroles garis jelaga hitam oli di pipi kanan, namun kacamata merahnya tetap bertengger centil di dahi.

"Aduh, Brondong Medis!" jerit Onad seraya mengibaskan telapak tangannya yang belepotan gemuk pelumas.

"Jangan dekat-dekat bawah mesin begini dong! Nanti tangan halusmu yang suka pegang botol obat itu kena noda oli membandel!" lanjut Onad seraya memanyunkan bibirnya dramatis.

"T-tapi aku mau bantu. Apa ada komponen atau alat yang perlu kuambilkan?" tawar Endru seraya menunjuk rak perkakas di dinding.

Onad terkekeh nyaring, menggelengkan kepalanya seraya menyapu peluh di kening menggunakan lengan bajunya. "Aduh, tidak usah, Sayang! Eke ini sudah menyatu sama kunci pas dari lahir! Kamu mending istirahat atau minum kopi saja, daripada nanti salah ambil kunci pas delapan belas jadi kunci ring empat belas!"

Endru tersenyum kaku, mengangguk pasrah seraya melangkah mundur perlahan. Rasa tidak berguna makin menghimpit dadanya. Ia berbalik arah, berjalan menuju pelataran bengkel tempat Steve sedang menguji keseimbangan pipa besinya.

Steve yang menyadari kehadiran Endru langsung menghentikan sabetan latihannya. Pria berbadan tegap itu menurunkan senjata tumpulnya, lalu menyapu keringat di lehernya dengan handuk kecil.

"Pikirannya lagi melayang ke mana, Ndru?" tegur Steve seraya menepuk bangku kayu panjang di sebelahnya.

Endru ragu sejenak, namun akhirnya mendaratkan duduknya di ujung bangku tersebut. Ia menundukkan kepala, menatap kedua dadanya yang saling bertaut kaku di atas paha.

"Aku merasa tidak sepadan berada di kelompok ini, Steve," bisik Endru seraya memilin ujung jas laboratorium putihnya.

Steve menaikkan sebelah alisnya, mengamati raut cemas di wajah pemuda di sampingnya. "Kenapa kamu berpikir begitu?"

"Kalian semua luar biasa," tutur Endru dengan vokal yang agak bergetar pelan.

"Luna punya naluri taktis dan kemampuan memanah yang hebat. Kamu punya kekuatan fisik yang luar biasa untuk melindungi kita semua. Nancy menguasai teknologi dan peta kota, sementara Onad paham segala jenis mesin. Cuma aku... aku tidak punya keberanian. Seumur hidupku, aku cuma berhadapan dengan resep obat dan pasien flu. Kalau ada zombie menyerang, aku cuma bisa gemetaran di pojokan," aku Endru membeberkan ketakutan terbesarnya secara jujur.

Steve mendengarkan dengan penuh kesabaran. Pria kekar itu menyandarkan pipa besinya di dinding, lalu memutar tubuhnya menghadap Endru secara utuh. Ia mengulurkan telapak tangannya yang lebar, menepuk bahu Endru dengan kehangatan seorang kakak yang protektif.

"Dengar ya, Ndru," kata Steve seraya menatap lurus mata pemuda itu dari balik kacamatanya.

"Di dunia yang hancur karena wabah ini, orang yang bisa mengayunkan besi atau menembak panah itu banyak. Tapi orang yang punya pengetahuan untuk menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa? Itu sangat langka," tegas Steve memberi pemahaman yang membumi.

"Tapi saat di apotek kemarin, aku hampir menangis ketakutan," sela Endru menunduk malu.

"Dan itu wajar!" potong Steve seraya terkekeh hangat.

"Siapa pun yang tidak takut melihat monster berkerak jamur itu berarti sudah gila, Ndru. Tapi waktu bahuku infeksi parah dan badanku demam tinggi, tanganmu tidak gemetar sama sekali waktu membersihkan lukaku. Keberanian itu bukan berarti tidak punya rasa takut, tapi tetap melakukan tugasmu meskipun kamu takut setengah mati," lanjut Steve menyuntikkan semangat yang jujur.

Endru tertegun mendengar ucapan Steve. Sudut hatinya merasa sedikit terobati, meski rasa canggungnya belum sepenuhnya sirna.

Tidak lama kemudian, Nancy melangkah keluar dari ruang kantor membawa dua cangkir seng berisi air minum bersih. Wanita berkacamata itu berjalan mendekati bangku kayu, menyodorkan satu cangkir ke arah Endru dengan senyuman manis yang selalu menenangkan.

"Minum dulu, Endru," tutur Nancy lembut seraya mendaratkan duduknya di sisi lain bangku.

"Terima kasih, Nancy," bisik Endru seraya menerima cangkir tersebut dengan kedua telapak tangannya.

Steve berdiri dari bangku, memberikan ruang privasi bagi kedua rekannya seraya menepuk bahu Endru sekali lagi. "Pikirkan baik-baik ucapanku tadi, Ndru. Kamu bagian penting dari tim ini."

Setelah Steve melangkah pergi untuk melanjutkan aktivitasnya, suasana di sekitar bangku kayu menjadi hening dan teduh. Nancy menyesap air minumnya perlahan, melirik raut wajah Endru yang masih tampak menyimpan keraguan.

"Aku mendengar percakapanmu dengan Steve tadi," kata Nancy pelan, memecah keheningan dengan nada vokal yang sangat halus.

Endru merona merah, menundukkan kepalanya makin dalam karena merasa malu. "Maaf... aku terkesan seperti pemuda cengeng yang suka mengeluh, ya?"

"Sama sekali tidak," balas Nancy cepat seraya menggelengkan kepalanya.

Nancy mengulurkan jemarinya yang dingin, menyentuh pelan punggung tangan Endru yang terikat di atas cangkir. Sentuhan halus itu membuat gelombang kehangatan emosional menyengat dada Endru, menghentikan getaran cemas di tangannya.

"Kamu tidak perlu membandingkan dirimu dengan Steve atau Luna, Endru," kata Nancy seraya memandang matanya tulus.

"Waktu aku terjebak di ruang server gedung elektronik sendirian, aku juga sangat ketakutan. Aku pikir aku bakal mati di sana. Tapi ketika kita berkumpul, aku sadar kalau kekuatan kelompok ini ada pada keanekaragaman kita," papar Nancy menjelaskan.

"Kehadiranmu memberikan rasa aman yang lain buat kami. Mengetahui ada seseorang yang bisa merawat luka dan peduli pada keselamatan kami... itu memberikan rasa tenang yang sangat besar," lanjut Nancy dengan binar mata yang memancarkan perhatian murni.

Endru menatap balik mata Nancy dari balik kacamata tebalnya. Kejujuran dan kehangatan yang terpancar dari ungkapan Nancy melelehkan sisa-sisa rasa tidak percaya diri yang sempat menyiksanya. Kimia emosional yang terjalin erat di antara mereka berdua di tengah puing-puing kiamat ini memberi Endru alasan baru untuk berdiri tegap.

"Terima kasih, Nancy... Ucapanmu sangat berarti buatku," tutur Endru dengan senyum tulus yang perlahan terkembang di wajah tirusnya.

Dari tangga meja mezanin berlantai dua bengkel, Luna berdiri memperhatikan interaksi anggota kelompoknya dari ketinggian. Mantan taruna itu tidak menyela, hanya mengangguk halus melihat bagaimana rasa saling percaya dan penyesuaian diri perlahan terbentuk secara alami di dalam timnya.

Endru menghembuskan napas panjang, berdiri dari bangku kayu dengan langkah yang kini jauh lebih mantap. Ia kembali ke ruang kantor, mengambil pulpen dan buku catatan tua, lalu mulai mencatat inventarisasi data medis dan jadwal pemberian dosis antibiotik untuk seluruh anggota kelompok. Endru menyadari, ia tidak perlu menjadi seorang prajurit untuk menjadi pahlawan; ia hanya perlu menjadi penyembuh yang tangguh bagi keluarga barunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!