Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekesalan Farhan
#17
Hari itu seperti sebelum-sebelumnya, Farhan menemani Sarah mengantarkan Malika ke rumah sakit untuk imunisasi, serta kontrol tumbuh kembang.
Namun, tiba di rumah sakit, Sarah mengetahui bahwa Malika baru saja pup. “Mas, tolong urus registrasinya, ya? Aku mau ke ruang laktasi untuk mengganti popok Malika.”
“Hmm.” Farhan mengangguk.
Ketika Farhan berjalan ke loket pendaftaran, saat itulah ia melihat mantan istrinya keluar dari lift. Tidak sendirian, melainkan bersama seorang pria, yang tidak Farhan kenal.
Dadanya bergemuruh, hendak berlari menghampiri Dina, namun, tiba-tiba ia sadar bahwa mereka sudah menjadi orang asing. Ia tak marah, tapi mulai berprasangka. “Dasar murahan. Baru bercerai dariku beberapa hari saja, ia sudah menggandeng pria lain,” gumam Farhan dengan kedua tangan terkepal penuh amarah.
“Mas, kok, masih bengong, sudah atau belum registrasinya?”
“Belum.”
“Kenapa belum? Lihat, tuh antriannya,” keluh Sarah agak kesal karena Farhan tak mengindahkan perintahnya. “Kamu kenapa, sih, Mas?”
“Sudahlah, jadi registrasi atau tidak?!” Farhan mulai tersulut oleh ucapan Sarah.
Akhirnya Sarah sendiri yang mengantri di loket pendaftaran. Walau geram, ia tak akan menyerah, tak akan menunjukkan emosi berlebihan di depan Farhan. Sebaliknya ia takkan lelah mencoba dan terus berusaha sampai Farhan benar-benar bertekuk lutut di hadapannya.
•••
Mobil milik Azam berhenti di depan rumah Pak Hermanto, “Masuk dulu, Zam.”
Azam mengangguk, setidaknya ia harus menunjukkan sopan santunnya dengan cara menyapa kedua orang tua Dina.
“Asaalaamualaikum, Pa, Ma.”
Pak Hermanto dan Bu Rara sedang di kebun, mereka menyiram serta memetik sedikit sayuran untuk diolah saat makan malam nanti.
“Waalaikumsalam,” sahut Bu Rara dan Pak Hermanto bersamaan.
Azam pun ikut mengucap salam pada kedua orang tua Dina. “Lho, Nak Azam yang mengantar Dina?”
“Iya, Om. Kasihan Dina, baru beberapa hari lalu menjalani operasi, mana tega saya membiarkannya pulang sendirian naik angkutan online.”
Pak Hermanto segera meletakkan peralatan menyiram tanamannya, lalu menyalami Azam. “Din, buatkan minuman dan—”
“Oh, nggak usah repot-repot, Om. Saya cuma mampir menyapa—” kata Azam cepat, sebab ia tak ingin tertahan lebih lama di sana.
“Tidak boleh menolak, ayahmu juga selalu memaksa Om untuk masuk dan makan sampai kenyang masakan bundamu.”
Dina hanya tersenyum saja, lalu berlalu masuk ke dalam rumah, ia sangat bersemangat, padahal hanya menyiapkan teh untuk tamu mereka. “Itu ada bahan makanan, di lemari es, kamu olah saja menjadi hidangan,” kata Bu Rara.
Dina mengangguk penuh semangat. “Iya, Ma.”
Setelah menyuguhkan minuman, Dina kembali ke dapur untuk mengolah bahan yang dimaksudkan Bu Rara. Sedikit-sedikit, Dina juga bisa memasak, walaupun tidak se mahir Bu Rara. Tapi setidaknya Dina tidak buta soal urusan dapur.
Akhirnya, semangkuk hidangan manis dan hangat tersaji di meja setelah beberapa saat Azam berbincang akrab dengan Pak Hermanto. Dua orang pria berbeda generasi itu, saling bertukar pikiran serta sedikit menyinggung masalah sengketa saham yang dialami Pak Hermanto dan Permana Group.
•••
Malam harinya, Azam kembali ke rumah sakit, saatnya bergantian dengan sang bunda, agar Bunda Hilda bisa beristirahat dengan tenang malam ini. Setelah berhasil meninabobokkan Ghazi hingga pulas, Azam duduk termenung di sofa ruangan tersebut.
Pikirannya tertuju pada obrolan singkatnya dengan orang tua Dina Pak Hermanto, beliau benar-benar orang yang jujur dan berintegritas, pasti beliau juga tak suka bila Azam menggunakan cara tak baik untuk menolongnya.
“Astaghfirullah,” gumamnya, kembali Azam teringat nasehat Ayah Irfan yang melarangnya menggunakan cara yang curang. Karena tak akan ada keberkahan meski yang kita ambil adalah hak kita sendiri.
Azam mengeluarkan ponselnya, dan menghubungi seseorang.
“Assalamu'alaikum.”
“Waalaikumsalaam,” jawab Azam. “Mas, aku mengganggu?”
“Nggak, aku bahkan belum bisa tidur.”
“Lekaslah menikah, supaya ada yang menemani istirahatmu.”
Alih-alih marah, Ammar justru tertawa renyah mendengar gurauan adiknya. “Sudahlah, jangan membicarakan masalahku. Ada apa menelponku malam-malam begini?”
“Aku dengar ArreV baru saja menandatangani kesepakatan kerja sama dengan Permana Group.”
“Hmm, mulai sekarang mereka akan jadi salah satu penyuplai bahan baku produk ArreV. Kenapa?”
Azam menghela nafas sebelum menjabarkan amanah yang sedang ia genggam untuk dilaksanakan saat ini.
“Aku punya beban moral untuk menolong mereka, karena melalui putri Pak Hermanto, Ghazi selamat dari kondisi kritisnya.”
Ammar terdiam ia mencerna ucapan Azam dengan sebaik-baiknya. Dulu, ArreV memang butuh waktu lama mempertimbangkan kesepakatan bisnis dengan Permana Group. Tapi, melalui informasi yang baru saja ia dengar dari Azam, Ammar jadi terpikirkan untuk melakukan penyelidikan ulang tentang sepak terjang Pak Jatmiko direktur utama Permana Group.
“Baiklah, besok aku akan coba bicarakan dengan Papa.”
“Terima kasih, Mas.”
“Tak usah berterima kasih, jika ini berkaitan dengan orang yang sudah menyelamatkan keponakanku, maka dengan senang hati akan kulakukan. Oh, iya. Bunda mana?” tanya Ammar yang sudah lama tak menemui Bunda Hilda karena kesibukannya yang semakin padat.
“Bunda sudah tidur, besok saja habis sholat subuh Mas telepon beliau.”
“Tak usahlah, besok pagi saja, sebelum berangkat kerja, aku sempatkan mampir ketemu Bunda, sekalian mengunjungi keponakanku.”
•••
Di tempat lain, Farhan berguling sambil mengatur nafasnya. Tubuhnya masih basah bersimbah keringat, tapi pria itu lebih memilih langsung tidur saja.
Sementara sarah tersenyum puas, karena baru saja mendapatkan hal yang diinginkannya. Akhirnya Farhan berhasil membuktikan bahwa dirinya masih sepenuhnya normal sebagai pria.
Namun, tanpa wanita itu sadari, Farhan bisa bereaksi karena pikirannya sedang dipenuhi kecemburuan pada mantan istrinya.
“Tak lama lagi, aku pasti segera hamil anakmu, Mas,” gumamnya bahagia sambil mengusap perutnya yang masih datar.
Beberapa hari ini Sarah mengirimkan banyak uang untuk membungkam Cakra, serta mengenalkan wanita potensial agar pria itu sibuk dengan wanita tersebut.
"Baguslah," gumam Farhan, rupanya pria itu belum sepenuhnya tertidur.
"Jadi, Mas setuju dengan keinginanku?"
"Hmm, kuharap hidup kita tak terlalu sepi setelah anak kita pergi lebih dulu."
Dhuar!
Tubuh Sarah seperti tiba-tiba tersambar petir, kebahagian yang ia rasakan beberapa saat lalu, layu bersama dengan ucapan yang meluncur kejam dari mulut Farhan.