Siapa aku, seorang pecundang?
Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.
Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.
Tingkat Saint? Hah...
Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?
Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12 Semi-Demon Lyzeas
Begitu melihat seberkas cahaya terang di ujung jalan, aku memperlambat langkah. Kami akhirnya tiba di bagian puncak Zantur. Tapi sebelum itu, aku harus melakukan langkah pencegahan.
"Kenapa berhenti?" tanya Sandra yang menyenggol punggungku dari belakang.
"Tunggu sebentar."
Aku memungut sebutir kerikil lalu melemparnya keluar dari mulut gua untuk memancing ancaman. Setelah menunggu beberapa saat dan situasi tetap hening, aku menoleh ke arah mereka.
"Kalian berdua bertahan di sini dulu," perintahku pelan.
Aku melangkah keluar sendirian untuk memastikan keadaan benar-benar aman.
"Terang sekali..." gumamku, merincingkan mata.
Saat mendongak, langit biru terhampar menyambut. Sinar matahari terasa menyengat setelah begitu lama menyusuri dungeon yang gelap. Tepat di hadapanku, sebuah singgasana kosong dari batu berdiri megah. Di sekelilingnya, sisa-sisa tulang prajurit dari berbagai kerajaan berserakan—beberapa jubah yang melapisi kerangka itu menandakan mereka penyihir tingkat tinggi.
Mungkinkah ini...?
"... Manusia?"
Sebelum sempat memproses keadaan, suara halus seorang wanita berbisik tepat di samping telingaku.
Insting refleks membuatku melempar tubuh sejauh mungkin. Aku berguling lalu mendarat keras di atas permukaan lantai datar.
"Kenapa kau begitu takut padaku?" tanyanya bernada polos.
"Siapa yang tidak takut padamu!" bentakku sambil bersiaga.
Sepasang sayap hitam membentang lebar di punggungnya. Senyum tipis mengembang di bibirnya, selaras dengan tatapan mata yang tajam. Di mata kirinya terukir pola pentagram berwarna kuning, sedangkan mata kanannya menyala biru terang.
Perempuan di hadapanku ini tak salah lagi...
"Lyzeas! Kau kenal denganku?" tanyanya terkekeh pelan. "Wah, aku terkenal sekali sekarang! Master pasti bangga!"
"Dengan seluruh pembantaian yang kau lakukan, siapa yang tidak tahu namamu?!"
Seketika, raut wajah Lyzeas berubah. Kata 'pembantaian' yang keluar dari mulutku menghapus senyumnya, menyisakan tatapan dingin yang menusuk.
Lyzeas bukan lagi manusia biasa. Aku pernah membaca kisahnya di ensiklopedia. Dia terlahir sebagai manusia, tetapi pertemuannya dengan Jenderal Iblis Zigurad mengubahnya menjadi pengikut setia.
Sebagai murid kesayangan iblis, tubuhnya bertransformasi menjadi makhluk semi-demon. Tanduk kecil, sayap legam, serta pola sihir di matanya adalah bukti nyata kemanusiaannya telah mati. Demi menjalankan perintah Zigurad, ia tak segan membumihancurkan kota dan membantai siapa saja.
"Kau pikir Kekaisaran tidak melakukan hal yang sama?" tanyanya dingin.
"Apa bedanya kalian dengan mereka?!" seruku melangkah mundur.
Mata birunya mendadak berpendar bercahaya terang. Tanpa buang waktu, aku langsung mengangkat tongkat sihirku.
"Oh, Dewi Charlotte, berikanlah aku kekuatan untuk memurnikan dunia ini—Wind Attack!"
Sebuah pusaran angin kecil tercipta di telapak tanganku, lalu membumbung tinggi dan membesar hingga sanggup meratakan bangunan. Namun, hanya dengan sekali hentakan tongkatnya ke tanah, mantraku seketika buyar tak berbekas.
Sebelum aku sempat bereaksi, Lyzeas menggetukkan tongkatnya sekali lagi. Seketika itu juga, aliran waktu di sekitarku berhenti total.
Aku tak mampu menggerakkan satu jari pun. Ia melangkah mendekat, menatapku lekat-lekat dari jarak dekat.
"... Kau hanya bocah yang menyedihkan, Lyan. Bersyukurlah aku sedang tidak ingin membunuhmu," bisiknya dingin.
Saat ia mengetuk tongkatnya untuk ketiga kali, waktu kembali bergulir. Tubuhku langsung ambruk ke tanah—seluruh mana di dalam tubuhku telah terkuras habis oleh sihirnya.
"Kekaisaran telah membantai keluargamu, dan sekarang kau malah menipu diri sendiri dengan melayani orang-orang bajingan itu? Munafik!"
"Apa yang kau bicarakan?!" seruku terengah-engah dari atas tanah.
"Jangan pernah cari Jenderal Zigurad!" bentaknya seraya mengepakkan sayap hitamnya dan melesat ke udara. "Ini peringatan terakhir! Jika kau berani mendekatinya, kau akan menanggung akibatnya!"
Kepakan sayapnya menciptakan hembusan angin kencang yang melemparkan tubuhku ke belakang. Dalam sekejap, Lyzeas menghilang di balik awan, menyisakan beberapa helai bulu hitam yang melayang jatuh.
Hembusan angin tadi nyaris menerbangkan secarik kertas pemberian si pemabuk dari balik jubahku. Saat bergegas menangkapnya, mataku tanpa sengaja tertuju pada deretan tulisan di lembar kertas tersebut.
...
Lyan, kau mungkin akan terkejut membaca ini.
Tidak ada orang di dunia ini yang tidak mengenal Jenderal Iblis Zigurad.
Dan kau mungkin pernah mendengar nama Lyzeas... (Sebuah bercak air mengering di atas kertas, mengaburkan tulisan di bagian ini.)
Maaf, aku menulis surat ini dalam keadaan teler berat...
Lyzeas adalah anak sulungku.
Aku adalah sosok ayah yang tidak bertanggung jawab. Sejak kematian istriku, Isabella, aku berubah menjadi pria brengsek yang melampiaskan seluruh duka pada alkohol dan menelantarkannya. Sampai suatu hari aku sadar dia telah pergi. Di saat itulah kata-kata terakhirnya baru terngiang di kepalaku: "Aku benci Ayah!"
Aku berusaha mencarinya selama bertahun-tahun tanpa hasil. Hingga akhirnya, aku mendengar rumor tentang makhluk semi-demon yang membantai pasukan Kekaisaran. Di situlah aku sadar bahwa monster yang mereka bicarakan adalah anakku sendiri. Lyzeas bukan nama aslinya. Nama yang kuberikan padanya adalah Chisa.
Mungkin karena begitu membenciku, dia membuang nama pemberianku dan memilih nama baru itu.
Satu permintaan, Lyan... Hanya satu permintaan ini saja! Aku akan membayar berapa pun agar kau mau melakukannya.
Tolong bawa kembali Chisa, putri tercintaku...
"Lyan!"
Teriakan Sandra mengejutkanku, membuatku buru-buru menyembunyikan kembali surat itu ke balik jubah.
"Siapa wanita tadi?" tanya Sandra terengah-engah begitu tiba di puncak.
"Lyzeas," jawab Steven mendahuluiku.
Aku mengangguk pelan. "Benar, dia Lyzeas. Pengkhianat bangsa manusia yang bersekutu dengan iblis demi ambisinya sendiri."
Sandra memiringkan kepala, tampak bingung. "Ambisi?"
"Dia berusaha meruntuhkan Kekaisaran, lalu menjual jiwanya kepada Jenderal Iblis Zigurad untuk mendapatkan kekuatan," jelasku singkat.
Aku melirik sekeliling, mencoba mengalihkan perhatian. "Ngomong-ngomong… kenapa aliran mana di tempat ini mendadak lenyap? Dan suara gemuruh apa itu?"
"Lyan, apa kau yang melakukan ini?" tanya Steven cemas.
"Melakukan apa?"
"Gerombolan goblin di bawah… mereka meninggalkan dungeon dan mulai merangsek naik ke puncak ini!"
"Tidak ada waktu lagi!" potongku cepat.
Aku merangkul bahu mereka berdua. Saat berniat merogoh senjata, aku baru menyadari tongkat sihirku telah patah menjadi dua akibat terhempas tadi. Tanpa pilihan lain, aku mengacungkan tangan kosong ke udara.
"Akh...!"
Ketika mana seorang penyihir telah terkuras, energi jiwa akan terperas secara paksa sebagai penggantinya. Rasa sakit menyengat seluruh organ dalam tubuhku saat aku memaksakan mantra terakhir.
"Hentikan, Lyan! Kau bisa terbunuh! Kita cari jalan lain!" teriak Steven panik melihat kondisiku.
"Tidak bisa! Sudah terlambat, tempat ini akan diserbu goblin dalam hitungan detik!"
Tiga lintasan seluncuran es mendadak tercipta dari pembekuan embun udara di tepi jurang. Tanpa membuang waktu, aku langsung mendorong Sandra jatuh mengekor di lintasan pertama.
"Lyan!"
Sandra berhasil menyambar pergelangan tanganku tepat pada waktunya.
"... Jangan lepaskan tanganku, apa pun yang terjadi!" serunya terengah-engah, berusaha menyeimbangkan tubuh sambil menghindari bebatuan tajam yang mencuat di sepanjang seluncuran.
"Earth Bullet!"
Melihat batu raksasa menghadang jalur Sandra, aku memaksakan sisa tenagaku untuk menembakkan peluru tanah dan menghancurkannya hingga berkeping-keping.
"Sudah kubilang, jangan paksa pakai mantramu lagi!" teriak Sandra panik melihat kondisiku.
"Kalau tidak kulakukan, kita berdua yang mati!" balasku menahan sakit.
Setibanya di kaki bukit, kami mendarat darurat di tanah lapang. Steven rupanya sudah tiba lebih dulu dan bergegas menghampiri kami.
"Sebenarnya apa yang terjadi di atas sana, Lyan?" tanya Steven penasaran.
"Kawanan goblin tidak akan mengganggu desa lagi. Kita sudah menemukan penyebab utama migrasi mereka," jawabku seraya menstabilkan napas.
"Maksudmu… keberadaan Lyzeas?"
"Benar. Dia sudah meninggalkan tempat ini."
"Tapi...?" Steven menatapku curiga.
"Tidak ada apa-apa," potongku cepat. "Semuanya sudah selesai. Mari kembali ke Guild untuk melaporkan hasilnya."
Hampir saja aku keceplosan. Aku harus menyelesaikan masalah surat itu sendirian. Mengajak mereka berdua berhadapan dengan Lyzeas sama saja menyerahkan nyawa; kemampuannya setidaknya berada di tingkatan Class A- jika memang ada dalam daftar buronan. Tapi kenyataannya, namanya sejauh ini hanya dianggap cerita rakyat di buku-buku sejarah.
"Kalau begitu jangan buang waktu lagi, kita balik ke Guild!" ajakku mengalihkan fokus. "Kalian tidak perlu terlalu waspada, Kawasan Qianlo sudah sepenuhnya aman dari goblin."
Bersambung...