Menjalani kehidupan yang cukup sulit akibat terlilit hutang-hutang ayahnya membuat Diva terkadang ingin merasakan bagaimana enaknya menjadi orang kaya. Namun siapa sangka, suatu kejadian yang menimpanya membuat jiwa Diva terjebak dalam raga orang lain, sehingga gadis itu menyadari bahwa tidak semua orang yang terlahir kaya bisa menikmati hidupnya. Semua manusia pasti tercipta dengan sifat dan ujian yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.
Diva tak langsung turun dari taksi online yang ditumpanginya, cukup lama wanita itu memandang rumah kontrakan orang tuanya dari balik kaca mobil hingga akhirnya seruan Rika menyadarkan nya dari lamunan.
"Diva...."
Diva menoleh ke samping, di mana Rika menunggu pergerakannya untuk turun dari taksi.
"Semua pasti akan baik-baik saja." Rika mengusap punggung Diva, berusaha menenangkan sahabatnya itu. Walaupun kenyataannya ia sendiri tak sepenuhnya yakin dengan ucapannya sendiri.
Diva hanya mengangguk singkat.
Menyaksikan ayahnya keluar dari dalam kontrakan, Diva pun turun dari taksi dan Rika pun segera menyusul. Sadar bahwa saat ini jiwa Diva terjebak di raga Calista dan pastinya sang ayah tidak akan mengenali putrinya sendiri, Rika pun mendahului langkah sahabatnya itu.
"Selamat siang, paman."
Ayahnya Diva yang hendak mengunci pintu kontrakan langsung menoleh ke sumber suara. Terlihat jelas dari mimik wajahnya jika pria itu tidak berkenan dengan kedatangan dari sahabat baik putrinya itu.
"Mau apa kamu ke sini?." Pertanyaan itu terdengar begitu ketus hingga Rika menghela napas panjang mendengarnya. Sementara Diva, wanita itu masih diam saja.
"Maaf jika kedatangan Rika telah mengganggu paman. Rika hanya ingin bertemu dengan Diva, paman."
Ayahnya Diva tak langsung menjawab, pria paruh baya dengan jaket jeans lusuh yang melekat pada tubuhnya tersebut justru beralih menatap wanita asing dihadapannya dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Ohiya Paman, kenalkan ini Calista sahabat baik aku dan Diva." Sadar akan tatapan ayahnya Diva, Rika lantas mengenalkan Diva sebagai Calista kepada pria itu.
Ayahnya Diva kembali memandang pada Rika.
"Anak sia-lan itu tidak ada di sini, sudah hampir dua minggu terakhir anak sia-lan itu terbaring koma di rumah sakit. Dasar anak tidak tahu diri, bisanya hanya menyusahkan saja."
Deg.
"Terbaring koma?." Baik Diva maupun Rika sama-sama terkejut.
"Apa perkataan saya belum cukup jelas sampai kalian masih saja bertanya?." Suara pria itu naik beberapa oktaf, sebelum akhirnya melangkah begitu saja meninggalkan Diva dan juga Rika.
"Tunggu paman!." Rika menyusul langkah ayahnya Diva. "Di rumah sakit mana Diva di rawat, paman?."
"Di rumah sakit XXX." Ayahnya Diva menjawab sambil terus berjalan menuju ke arah sepeda motornya berada.
Sepeninggal ayahnya, tangis Diva pun pecah. Ternyata akibat kejadian naas malam itu raganya sampai terbaring koma di rumah sakit.
"Ragaku terbaring koma, Rika.... hiks...hiks... hiks...."
Rika menopang tubuh Diva yang hampir luruh ke permukaan bumi.
"Tenangkan dirimu, Diva! Sebaiknya kita segera ke rumah sakit sekarang!." Rika mengajak Diva untuk segera ke rumah sakit. Untungnya, tadi Rika sempat meminta kepada sopir taksi online yang mereka tumpangi untuk tetap menunggu sehingga mereka pun bisa segera melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit yang dimaksud oleh ayahnya Diva.
Jarak antara rumah kontrakan orang tua Diva dan rumah sakit kisaran dua kilo meter dan saat ini jalanan tidak begitu macet sehingga dalam waktu sepuluh menit mereka pun tiba di tujuan.
Setelah membayar ongkos taksi, Rika menuntun Diva turun dari taksi tersebut.
"Tenangkan dirimu, Diva! Ingat, saat ini jiwamu terjebak di raga orang lain sehingga menangis seperti ini pasti akan memancing kecurigaan dihati orang tuamu, terutama ibumu!." Rika mengingatkan Diva akan situasinya saat ini.
Diva lantas mengangguk lalu mengusap jejak air mata di pipi. Setelah melihat Diva sudah lebih tenang, Rika pun mengajak Diva memasuki gedung rumah sakit. Tujuan utama mereka adalah mendatangi ruang ICU karena biasanya pasien yang koma akan mendapatkan perawatan intensif di sana.
Benar saja, dari jarak beberapa meter, Rika dapat melihat keberadaan ibunya Diva duduk di bangku besi bercat putih depan ruang ICU. Kedua mata wanita paruh baya tersebut nampak bengkak, sepertinya karena terlalu banyak menangis. Terbukti juga dengan wajahnya yang nampak sembab.
"Ibu..." seruan itu terlontar Lirih dari mulut Diva. Ia ingat akan pesan Rika bahwa saat ini ia terjebak di raga orang lain maka sudah tentu ibunya tidak akan dapat mengenalinya. Rasa ingin memeluk ibunya pun berusaha di tahan oleh Diva.
"Tante...."Rika mendekat pada ibunya Diva. Wanita paruh baya tersebut lantas mengangkat pandangannya.
"Rika..." Sedikit terkejut dengan kedatangan sahabat baik putrinya itu. Ibunya Diva langsung memeluk Rika. "Diva....Saat ini Diva sedang terbaring koma, Rika... hiks....hiks...hiks..."Tangis ibunya Diva kembali pecah.
Rika pun ikut meneteskan air mata. Ia dapat merasakan betapa hancurnya hati ibunya Diva melihat kondisi putrinya terbaring koma di ranjang rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, ibunya Diva mengurai pelukannya dan memandang ke arah wanita cantik di samping Rika.
"Kenalkan Tante, ini Calista, sahabat baik aku dan Diva." Di akui Rika sebagai sahabat baik Diva, akhirnya Diva bisa meluapkan kesedihan dihatinya dengan tangis. Melihat wanita cantik yang baru saja diakui Rika sebagai sahabat baik putrinya tersebut membuat naluri keibuan di dalam diri ibunya Diva langsung bergerak memeluk wanita cantik itu.
Deg.
Sungguh, Diva tidak menyangka bahwa Ibunya akan memeluk Calista. Diva pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia lantas membalas pelukan hangat yang sangat dirindukannya itu.
"Diva kangen banget sama ibu." Diva hanya bisa berujar dalam hati.
Entah mengapa, ibunya Diva merasa sangat familier dengan cara wanita itu memeluknya.
"Cara kamu memeluk ibu sama persis dengan cara Diva memeluk ibu, nak." Kata ibunya Diva setelah mengurai pelukan diantara mereka.
Dada Diva terasa sesak, ibarat ada batu besar yang kini tengah mengganjal di saluran pernapasannya saat mendengar kata-kata ibunya.
Rika meminta izin pada ibunya Diva untuk menjenguk Diva dan tentunya wanita paruh baya tersebut memperbolehkan. Setelah mendapat izin, Rika bukannya langsung masuk namun wanita itu justru mempersilahkan Diva untuk menjenguk terlebih dahulu.
"Masuklah lebih dulu! Kamu pasti ingin melihat ragamu bukan?." Lirih Rika kepada Diva.
"Terima kasih, Rika." Balas Diva. Kalau bukan karena datang bersama Rika, belum tentu perjalanannya bisa semulus ini untuk melihat kondisi raganya.
Rika mengangguk.
Setelah mengenakan APD, Diva pun memutar handle pintu lalu perlahan mengayunkan langkah memasuki ruang ICU hingga sesaat kemudian pandangannya menangkap keberadaan raganya yang kini tengah terbaring koma dengan berbagai macam alat medis yang menempel pada tubuhnya.
Pandangan Diva mulai kabur akibat genangan air mata yang kembali beranak sungai di pelupuk mata indahnya. Ia tidak menyangka ternyata senahas ini nasib raganya setelah kecelakaan malam itu.
Diva duduk di kursi samping tempat tidur pasien, perlahan menggenggam tangan yang dulunya digunakan untuk banting tulang dalam mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya tersebut. Wajah cantik yang dulu begitu ceria meski harus melalui kehidupan yang sulit, kini nampak pucat seperti tak dialiri da-rah. Diva sampai tak bisa berkata-kata, hanya air mata yang menjadi ungkapan rasa atas hancurnya perasaannya melihat kondisi raganya saat ini.
Deg.
Tubuh Diva membeku seketika saat menyadari tangan digenggamannya tiba-tiba memberi respon, bergerak meskipun lemah. Mata masih terpejam dan semua masih terlihat sama namun pergerakan lemah itu masih dapat dirasakan oleh Diva. Jika ada pergerakan di raga itu, bukankah itu artinya ada jiwa di dalamnya, begitu pikir Diva dengan wajah syok nya.
Dugaannya semalam kembali memenuhi benak Diva. Mungkinkah jiwanya dan Calista tertukar?
Real ya pelakor banyak gak sadar diri dan gak tau posisi...🤣🤣🤣🤣