DARK RONIN
Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.
Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Panggilan Daiki
Pagi itu kabut tipis masih menggantung di antara deretan atap ubin, menyisakan butiran air yang menetes pelan dari tepian papan kayu. Di dalam Karya Baja, udara terasa hangat — bau besi panas dan arang membara bercampur dengan aroma kopi yang baru diseduh. Kakashi berdiri di depan tungku, tangannya memegang tang penjepit, menatap sebatang baja yang perlahan memerah di antara nyala api. Gerakannya tenang, teratur, seolah seluruh dunianya hanya terdiri dari tempaan, api, dan besi yang dibentuk menjadi sesuatu yang berguna. Tiga hari telah berlalu sejak kedatangan sosok asing yang mengawasinya dari seberang jalan — sosok yang kemudian menghilang tanpa jejak, namun tatapan dinginnya seakan masih menempel di punggungnya. Kakashi belum menceritakannya kepada siapa pun. Ia berharap itu hanyalah firasat yang berlebihan, sisa bayangan masa lalu yang belum sepenuhnya pudar.
Pintu toko berderit terbuka. Angin pagi menyelinap masuk, membawa sejuk yang membuat nyala api di tungku bergoyang sejenak. Kakashi tidak menoleh segera — biasanya pengunjung akan menyapa atau menyebutkan keperluan mereka. Namun keheningan menyusul, hanya terdengar suara langkah kaki yang teratur, berat, dan sama sekali tidak tergesa-gesa. Langkah seseorang yang tahu ke mana ia pergi dan apa yang akan ia lakukan.
Kakashi meletakkan tang penjepit perlahan di tepi tungku, lalu berbalik.
Di ambang pintu berdiri seorang pria paruh baya, berpakaian jubah kelabu polos yang rapi, wajahnya tenang namun matanya tajam, menyapu setiap sudut ruangan sebelum akhirnya menetap tepat pada wajah Kakashi. Di pinggangnya tergantung sebilah pedang — bukan senjata perang, melainkan tanda jabatan, gagangnya dihiasi ukiran sederhana namun jelas bagi siapa pun yang mengenalnya: lambang serikat dagang.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Kakashi, suaranya datar, namun tangannya yang tergantung di sisi tubuh perlahan mengepal. Ia tidak mengenali wajah ini, namun ada sesuatu dalam cara pria itu berdiri — tegak, terukur, penuh kendali — yang mengingatkannya pada masa lalu.
Pria itu melangkah masuk sepenuhnya, menutup pintu perlahan hingga celah terakhir tertutup. Ia tidak mendekat terlalu jauh, seolah menghormati batas, namun tatapannya tidak beralih.
"Aku tidak datang untuk membeli besi atau memesan senjata," ucapnya, suaranya rendah namun tegas. "Aku datang untuk menyampaikan pesan. Tuan Daiki sudah lama tahu kau ada di sini."
Darah seketika terasa membeku di urat nadi Kakashi. Ia mundur selangkah, punggungnya hampir menyentuh tepi landasan. Daiki... Nama itu menghantam dadanya lebih keras daripada pukulan benda tumpul. Ia menatap pria itu lekat-lekat, seakan mencari tanda kebohongan di wajahnya.
"Daiki..." gumamnya, nama itu terasa asing sekaligus sangat akrab di lidahnya. "Keponakan mendiang Tuan Kenzaburo."
"Benar," pria itu mengangguk pelan. "Ia kini menjabat sebagai Ketua Serikat Dagang, menggantikan mendiang Tuan Kenzaburo — orang yang pernah kau sumpah setia menjaga, sebelum kau pergi."
Kakashi menelan ludah yang terasa pahit. Ia mengalihkan pandangan sejenak, menatap lantai tanah yang dipadatkan. Dua tahun berlalu sejak ia meninggalkan kota besar itu, sejak hari pemakaman Tuan Kenzaburo, sejak ia membiarkan dirinya menghilang tanpa pamit, tanpa pesan, tanpa jejak. Ia pikir ia sudah cukup jauh, cukup tersembunyi. Ternyata tidak.
"Dan Nona Aoi?" tanyanya tiba-tiba, kepalanya mendongak tajam, jemarinya tanpa sadar meraba gagang pedang yang tersembunyi di balik rak alat. "Apakah dia juga tahu?"
Pria itu terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak... maksudku, awalnya tidak. Namun ia sendiri yang menyadarinya. Sejak kunjungannya ke sini seminggu yang lalu."
Kakashi tersentak. "Aoi datang ke sini?"
"Ia datang sendiri, tanpa pengawal, hanya untuk melihat kota tempat kau memilih untuk bersembunyi. Ia melihatmu dari kejauhan — melihatmu berjalan di tepi sungai, melihatmu menempa besi di teras toko ini. Ia tidak mendekat. Ia tidak menyapamu. Ia tahu kau mencari ketenangan, dan ia tidak ingin mengganggunya."
Hati Kakashi berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih berat — rasa bersalah yang tiba-tiba bangkit, menyesakkan dadanya. Putri tunggal Tuan Kenzaburo... Gadis yang dulu sering membawakan teh ke ruang kerja ayahnya, yang pernah membalut luka di lengannya dengan kain saputangan sendiri, yang pernah berkata "Kau tidak sekeras yang kau tampakkan, Kakashi-san". Ia datang ke sini, melihatnya, dan memilih untuk tidak mengganggu. Kebaikan itu terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan mana pun.
"Kalau begitu mengapa Daiki mengutusmu?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar. "Mengapa tidak membiarkanku tetap di sini?"
Pria itu menunduk sejenak, napasnya terdengar berat. "Karena ia khawatir akan keselamatan Nona Aoi. Sejak mengambil alih jabatan, Daiki menemukan banyak hal yang disembunyikan selama masa kepemimpinan mendiang Kenzaburo — utang lama, persaingan tersembunyi, pihak-pihak yang tidak puas dengan kebijakan almarhum. Ancaman mulai mengarah kepada Nona Aoi. Ia adalah satu-satunya pewaris sah. Dan Daiki... ia baik dan bijaksana, namun ia tidak memiliki kekuatan untuk melindunginya sendirian."
Ia mendongak kembali, menatap lurus ke mata Kakashi.
"Maka itu Tuan Daiki memintamu kembali. Ia tahu siapa dirimu. Ia tahu kemampuanmu. Dan ia tahu bahwa dari semua orang yang pernah melayani mendiang tuannya, hanya kau yang paling tulus — hanya kau yang tidak melayani karena jabatan atau harta, melainkan karena kesetiaan yang sejati."
Kakashi terdiam. Ia berbalik memunggungi pria itu, menatap ke arah jendela yang terbuka sedikit, tempat cahaya pagi menyelinap masuk berupa sinar-sinar miring. Kembali... Kembali ke dunia yang ia tinggalkan, ke tempat yang penuh intrik dan bahaya, ke sisi Aoi yang kini terancam. Ia bisa menolak. Ia bisa tetap di sini, di kota yang damai ini, di mana tidak ada yang menuntut apa-apa darinya. Namun bayangan wajah Aoi — wajah yang melihatnya dari kejauhan lalu pergi tanpa menyapa — tak bisa ia usir dari benaknya.
"Katakan pada Daiki..." mulutnya terasa kering, "bahwa aku akan datang."
Pria itu tersenyum tipis, seakan sudah tahu jawaban itu sejak awal. "Terima kasih. Kota besar itu masih membutuhkanmu. Dan Nona Aoi... ia lebih membutuhkanmu daripada yang kau bayangkan."
Ia memberi hormat singkat, lalu berjalan menuju pintu. Langkahnya menghilang di antara keramaian pagi, meninggalkan Kakashi sendirian di tengah ruangan yang kini terasa sempit dan gelap.
Kakashi duduk di tepi bangku kayu, menatap kedua telapak tangannya — tangan yang memegang palu besi setiap hari, tangan yang ia kira sudah tak akan lagi memegang pedang untuk melindungi siapa pun.