NovelToon NovelToon
PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Harga dari Sebuah Jalan Pintas

Malam itu, setelah musyawarah darurat di aula utama berakhir dan seluruh sekte mulai membersihkan sisa-sisa kerusakan akibat serangan semalam, Chu Feng duduk sendirian di beranda asramanya, lengannya masih dibalut perban, pikirannya dipenuhi dua beban yang sama-sama mendesak—melindungi sekte yang kini menjadi rumahnya, dan menemukan cara untuk membantu Su Yue sebelum tenggat waktu tiga bulan itu benar-benar habis.

Hei bergelung di dekat kakinya, sesekali mendongak menatap tuannya dengan mata kekuningan yang penuh kekhawatiran, seolah turut merasakan beban berat yang menggantung di udara malam itu.

Tiga bulan, pikir Chu Feng, menatap ke arah langit malam yang masih menyisakan bau asap dari pertempuran semalam. Waktu yang sama untuk kompetisi, untuk Su Yue, dan mungkin untuk serangan berikutnya dari Aula Kegelapan Malam. Latihan normal saja tidak akan cukup untuk mempersiapkan kami menghadapi semuanya sekaligus.

Dengan tekad yang sudah lama tidak ia gunakan untuk meminta sesuatu secara langsung, Chu Feng memanggil suara yang selama ini bersemayam di tulang belakangnya.

"Aku butuh bantuanmu," katanya pelan, meski tidak ada seorang pun di sekitarnya yang bisa mendengar percakapan batin ini. "Latihan yang kami jalani sekarang tidak akan cukup cepat. Kalau Aula Kegelapan Malam menyerang lagi sebelum kompetisi, atau kalau aku harus mencari cara membantu Su Yue di tengah semua ini—aku butuh sesuatu yang lebih dari sekadar latihan biasa."

Hening sejenak sebelum suara itu menjawab, nadanya jauh lebih berat dan penuh pertimbangan dibandingkan biasanya.

"Ada sesuatu yang bisa kutunjukkan padamu," katanya akhirnya. "Sebuah tempat yang tersembunyi jauh di kedalaman gunung di belakang sekte ini—ruang latihan kuno yang dulu digunakan oleh salah satu pemilik pertama Tombak Awan Kelabu, tersembunyi dengan formasi yang hanya bisa dibuka oleh seseorang yang membawa warisan sepertiku. Di dalamnya, aliran waktu dan qi bekerja berbeda—satu hari di dalam ruangan itu setara dengan hampir sepuluh hari latihan normal di luar."

Chu Feng tersentak mendengar penjelasan itu, jantungnya berdegup cepat dengan harapan baru. "Kau tahu tempat seperti itu sejak awal? Kenapa tidak memberitahuku lebih dulu?"

"Karena ada harga yang harus dibayar untuk membukanya," jawab suara itu, nadanya semakin berat. "Membuka formasi itu membutuhkan sebagian besar kekuatanku yang tersisa—bukan kekuatan tempur, melainkan kesadaran yang memungkinkan aku terus berkomunikasi denganmu seperti ini. Kalau aku menggunakannya untuk membuka jalan itu, aku akan jatuh ke dalam semacam tidur panjang. Aku tidak akan bisa berbicara denganmu, memberi peringatan, atau membantu menyembuhkan lukamu seperti biasa—sampai waktu yang telah ditentukan oleh formasi itu sendiri tiba, entah itu satu bulan, atau mungkin lebih lama."

Chu Feng terdiam, beban keputusan itu terasa jauh lebih berat dari yang ia duga. Suara itu, meski awalnya hanya kehadiran asing di dalam tubuhnya, kini telah menjadi semacam penasihat, sahabat, bahkan pelindung yang selalu siap memberi peringatan di saat-saat genting. Kehilangan itu, meski sementara, terasa seperti kehilangan sebagian dari dirinya sendiri.

"Apakah ada risiko lain?" tanyanya hati-hati. "Selain kau yang tertidur?"

"Ruangan itu sendiri tidak berbahaya bagi kalian yang berlatih di dalamnya," jawab suara itu. "Tapi percepatan waktu semacam itu menuntut tubuh dan pikiran bekerja jauh lebih keras dari batas normal. Tidak semua orang mampu bertahan dalam tekanan seperti itu tanpa persiapan mental yang matang. Dan selama aku tertidur, kalau terjadi sesuatu yang mendesak—serangan mendadak, luka parah—aku tidak akan bisa membantumu seperti biasanya."

Chu Feng menatap ke arah kegelapan hutan di kejauhan, mempertimbangkan setiap kemungkinan dengan hati-hati. Kehilangan bimbingan dan perlindungan suara itu, bahkan sementara, berarti ia dan timnya harus menghadapi risiko apa pun yang muncul selama masa itu sepenuhnya dengan kemampuan mereka sendiri—tanpa jaring pengaman yang selama ini, disadari atau tidak, selalu ada di latar belakang setiap keputusan pentingnya.

"Aku akan mempertimbangkannya," katanya akhirnya, "tapi aku ingin mendiskusikannya dulu dengan Tetua Wang dan tim. Ini bukan keputusan yang bisa kuambil sendirian."

"Kebijaksanaan yang tepat," suara itu menjawab, nada hangat yang jarang terdengar menyelinap di baliknya. "Kau sudah banyak berubah sejak malam kita pertama bertemu di Lembah Kabut, Pangeran Ketujuh. Dulu kau selalu memutuskan segalanya sendirian. Sekarang, kau belajar mempercayai orang lain."

Keesokan paginya, Chu Feng membawa tawaran itu ke hadapan Tetua Wang, menjelaskan secara rinci apa yang ditawarkan pecahan Dewa di dalam dirinya—ruang latihan tersembunyi dengan percepatan waktu, namun dengan konsekuensi kehilangan bimbingan dan perlindungan suara itu selama jangka waktu yang tidak pasti.

Tetua Wang mendengarkan dengan saksama, wajahnya yang masih menunjukkan luka-luka dari pertempuran semalam mengeras dalam pertimbangan yang dalam.

"Ini keputusan besar, Nak," katanya akhirnya. "Bukan hanya untukmu, tapi untuk seluruh tim yang akan berlatih bersamamu di sana."

"Aku tahu," Chu Feng mengangguk. "Itu sebabnya aku ingin mendengar pendapat kalian semua sebelum memutuskan."

Ketika kabar itu disampaikan kepada Zhao Lin, Liu Bo, Jiang Rou, dan dua anggota tim lainnya sore harinya, reaksi mereka terbagi antara antusiasme dan kekhawatiran yang wajar.

"Sepuluh kali lipat kecepatan latihan," gumam Liu Bo, matanya berbinar membayangkan potensi perkembangan yang bisa mereka capai. "Itu bisa menjadi pembeda besar, baik untuk kompetisi maupun untuk menghadapi Aula Kegelapan Malam kalau mereka kembali."

"Tapi risikonya juga nyata," Jiang Rou menyela, nada suaranya lebih hati-hati. "Kalau sesuatu terjadi selama kita di sana, atau bahkan setelah kita keluar sementara pecahan Dewa Chu Feng masih tertidur, kita tidak akan punya peringatan dini seperti biasanya."

Zhao Lin, yang selama ini dikenal sebagai yang paling tenang dan penuh pertimbangan di antara mereka, akhirnya angkat bicara. "Menurutku, risiko itu sepadan. Kita sudah melihat sendiri semalam betapa lemahnya kita menghadapi kekuatan sesungguhnya dari Aula Kegelapan Malam. Kalau kita tidak mempercepat perkembangan kita, serangan berikutnya mungkin tidak akan bisa kita hadapi sama sekali."

Perdebatan berlangsung cukup lama, setiap anggota tim menyuarakan kekhawatiran dan harapan mereka masing-masing, hingga akhirnya Tetua Wang mengangkat tangannya, meminta perhatian semua orang.

"Aku akan membiarkan keputusan ini di tangan kalian berlima," katanya. "Tapi aku ingin kalian memahami satu hal—apa pun yang kalian pilih, aku akan mendukung sepenuhnya. Kalian sudah menunjukkan kedewasaan luar biasa sejauh ini, jauh melampaui usia kalian."

Chu Feng menatap keempat rekannya, masing-masing wajah menunjukkan campuran keraguan dan tekad yang sama seperti yang ia rasakan sendiri. Akhirnya, satu per satu, mereka mulai mengangguk—Liu Bo lebih dulu dengan semangat khasnya, diikuti Zhao Lin yang tenang, kemudian dua penopang tengah yang saling melirik sebelum mengangguk bersamaan, dan terakhir Jiang Rou yang meski masih menyimpan kekhawatiran, tetap memberikan persetujuannya demi kepentingan tim secara keseluruhan.

"Kita akan melakukannya," kata Chu Feng akhirnya, suaranya mantap meski di dalam hatinya, kekhawatiran akan kehilangan suara yang selama ini menjadi penasihat setianya masih membayangi. "Bersama-sama."

Malam itu, sebelum tidur, Chu Feng duduk sendirian sekali lagi, berbicara untuk terakhir kalinya dengan suara di dalam dirinya sebelum keputusan itu dijalankan esok pagi.

"Terima kasih," katanya sederhana, "untuk semua bimbingan yang sudah kau berikan sejauh ini."

"Kau tidak perlu berterima kasih, Pangeran Ketujuh," suara itu menjawab, nadanya lembut dengan sesuatu yang menyerupai kebanggaan yang tulus. "Aku hanya berharap, ketika aku terbangun nanti, aku akan menemukan dirimu—dan orang-orang yang kau lindungi—masih utuh, dan mungkin, jauh lebih kuat dari yang pernah kubayangkan."

Chu Feng tersenyum tipis dalam kegelapan kamarnya, menggenggam kalung peninggalan ibunya dengan satu tangan, dan gagang Tombak Awan Kelabu dengan tangan lainnya—dua warisan yang kini akan menemaninya menempuh jalan yang penuh ketidakpastian, namun untuk pertama kalinya, ia tidak akan menempuhnya benar-benar sendirian.

Aku akan menjagamu juga, pikirnya, meski tahu suara itu sudah tidak akan mendengarnya lagi setelah esok pagi. Bagaimanapun caranya.

1
Nanik S
Chu Feng ..harusnya cepat tinggalkan sekte dan mulai mengembara👌
Irhab Hauzan: terimakasih 👍🙏
total 1 replies
Nanik S
Hei...jadilah kuat agar bisa melindungi Tuanmu
Irhab Hauzan: siap laksanakan 👍
total 1 replies
Nanik S
Lanjut terus💪💪💪
Irhab Hauzan: gas👍👍
total 1 replies
Nanik S
Menjadi Murid sekte
Nanik S
Chu Feng ada teman dalam perjalanan
Nanik S
Akhirnya Chu Feng pergi menuju Sekte Langit
Irhab Hauzan: lanjut kak🙏
total 1 replies
Nanik S
Siapa nanti yang akan berkhianat pada Chu Feng apakah itu Su Yue
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya 🙏👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng harus berlindung disekte dan terus berlatih agar menjadi Kuat
Irhab Hauzan: terimakasi🙏😄
total 1 replies
Nanik S
Keturunan siapakah sebenarnya Ibu Chu Feng
Nanik S
Lanjutkan💪💪💪
Irhab Hauzan: terimakasih 🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Yan... kenapa tidak malu melawan adiknya yang paling Lemah
Irhab Hauzan: suka mbuly soalnya😄👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng.... mulai menunjukan kemampuannya dan pasti akan berbahaya bagi Kakak²nya😇😇😇
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng memang harus berhati hati karena kelicikan wanita
Irhab Hauzan: 😄😄😄 wanita memang tipudaya
total 1 replies
Nanik S
Semoga pangeran Ketuju tidak terlalu tertarik dengan asmara agar cerita ini tidak membosankan
Irhab Hauzan: terimakasih atas masukanya🙏
total 1 replies
Nanik S
Ada yang mengawasi ... dan kenapa sang Dewa tidak menyadarunya
Irhab Hauzan
terimakasih masukanya🙏
Nanik S
Lanjutkan Tor... jangan sampai ada perjodohan atau pernikahan muda pasti Ceritanya sudah TDK akan menarik
Nanik S
Lanjutkan Tor💪💪💪
Nanik S
Dewa... yang dianggap Intensitas tertinggi
Nanik S
Semoga cerita ini sampai selesai
Irhab Hauzan: terimakasih supportnya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!