Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Layar monitor utama di ruang server rahasia lantai bawah tanah menyala terang benderang.
Angka-angka kode enkripsi bergerak cepat membentuk barisan data yang rumit.
Bzzrt...
Suara kipas pendingin server berdengung kencang di ruangan yang ber-AC sangat dingin.
Bima berdiri di depan layar monitor dengan tangan bersedekap dada sambil mengamati pergerakan data.
"Bagaimana hasilnya, tim IT?" tanya Bima dengan suara tenang namun tegas.
"Enkripsi server pusat milik sindikat Victor berhasil kita tembus, Tuan Bima," jawab kepala tim IT antusias.
Bagus, itu jauh lebih cepat dari perkiraan waktu yang kita tentukan sebelumnya, balas Bima dingin.
Sekarang saatnya kita masukkan kode perusak ke dalam sistem keuangan gelap mereka, instruksi Bima jelas.
Baik, Tuan, eksekusi pemindahan dana ilegal ke rekening penampungan negara sedang berjalan, lapor teknisi itu.
Klip, klip, klip...
Suara tombol keyboard ditekan bertalu-talu dengan sangat cepat di ruangan tersebut.
Di belahan dunia lain, tepatnya di kota tua Eropa tempat markas utama sindikat Victor berada, suasana mendadak kacau.
Victor berdiri di depan meja kerjanya sambil menatap layar komputer utama yang mendadak berubah menjadi warna merah darah.
Bip, bip, bip...
Suara alarm peringatan darurat berbunyi memekakkan telinga di seluruh ruangan mewah itu.
Ada apa ini?! Kenapa sistem pertahanan utama kita terkunci otomatis?! bentak Victor murka pada anak buahnya.
Seorang ahli IT sindikat berlari tergopoh-gopoh menghampiri meja kerja bos besar mereka dengan wajah pucat.
Tuan Victor... seluruh rekening offshore kita di berbagai bank dunia disedot habis dalam hitungan detik! lapor teknisi itu histeris.
Disedot habis?! Siapa yang berani meretas sistem keuanganku?! tanya Victor histeris dengan urat leher menegang.
Pelacakan balik menunjukkan serangan ini berasal dari Asia, tepatnya dari perusahaan milik Bima, jawab teknisi gemetar.
Wajah Victor langsung memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dadanya.
Bocah sialan itu benar-benar mencari mati dengan menantang singa yang sedang tidur! maki Victor kalap.
Ia meraih vas bunga kristal di atas mejanya dan membantingnya kuat-kuat ke lantai marmer.
Prang!
Pecahan kaca berhamburan ke segala arah menghiasi kemarahan sang gembong kriminal global.
Segera kerahkan seluruh pasukan bayaran tersisa untuk menghabisi nyawa Bima malam ini juga! perintah Victor murka.
Tapi, Tuan... jaringan keuangan kita sudah lumpuh total, kita tidak punya dana lagi untuk membayar mereka, jawab teknisi putus asa.
Mendengar kenyataan pahit itu, Victor terperanjat lemas di kursi kerjanya dengan napas memburu.
Seluruh kekayaan gelap yang ia kumpulkan selama puluhan tahun lenyap seketika dalam satu malam akibat serangan balik Bima.
Kembali ke ruang server rahasia di markas Bima, senyum kemenangan terukir tipis di bibir pemuda itu.
Tuan Bima, seluruh aset keuangan sindikat Victor di luar negeri sudah berhasil kita bekukan seratus persen, lapor kepala tim IT.
Kerja bagus, pastikan tidak ada celah bagi mereka untuk memulihkan sistem itu kembali, puji Bima tenang.
Baik, Tuan, pertahanan server kita sudah ditutup rapat dengan lapisan enkripsi berlapis, jawab teknisi bangga.
Bima berbalik badan dan melangkah keluar dari ruang server menuju lift pribadi lantai atas.
Ia tahu betul bahwa musuh yang sudah kehilangan segalanya akan melakukan tindakan nekad tanpa arah.
Namun Bima tidak pernah merasa takut sedikit pun menghadapi sisa-sisa ancaman dari musuh yang sekarat.
Sesampainya di ruang kerja pribadinya, Rian sudah menunggu dengan membawa setumpuk dokumen laporan penting.
Selamat malam, Tuan Bima, berita lumpuhnya sindikat Victor sudah menyebar luas di kalangan intelijen internasional, sapa Rian hormat.
Bagus, biarkan dunia tahu akibatnya jika ada yang berani mengusik perusahaan kita, balas Bima duduk di kursi kerjanya.
Apakah kita perlu melapor ke interpol untuk menangkap Victor di markas eropanya, Tuan? tanya Rian penasaran.
Tidak perlu, biarkan kemiskinan dan kehancuran reputasi yang menghabisi mentalnya perlahan-lahan, jawab Bima dingin.
Rian mengangguk paham dan mengagumi strategi cemerlang bos muda yang selalu berpikir beberapa langkah lebih maju.
Kehancuran sindikat Victor membuktikan bahwa Bima bukan lagi tandingan bagi para penjahat kerah putih internasional.
Malam semakin larut menyelimuti gedung pencakar langit PT Cipta Sentosa yang berdiri kokoh dan megah.
Bima menatap keluar jendela kaca besar menikmati gemerlap lampu kota yang tenang dan damai.
Semua rintangan besar berhasil ia taklukkan satu persatu dengan kecerdasan dan mental baja yang luar biasa.