Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".
Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Kila tidak pernah seberusaha ini untuk terlihat tinggi.
Jam delapan pagi, semua anak kelas sudah berkumpul di lapangan untuk kelas praktik. Semua asyik mengobrol, sampai tiba-tiba semua pandangan berbelok ke satu arah yang sama. Tatapan yang tidak biasa. Kekaguman yang tidak terlukiskan.
Kila yang terjebak di barisan paling belakang karena tinggi minimalisnya hanya bisa celingak-celinguk. Jinjit, tidak sampai. Lompat sedikit, tetap tidak terlihat.
Sampai akhirnya ia melihatnya.
Sosok laki-laki yang biasanya rapi dengan kemeja dan celana bahan, hari itu berubah total. Kaos hitam polos yang melekat pas di badannya, jaket jeans senada, celana jeans hitam, dan sneaker putih bersih.
Ia bukan lagi terlihat seperti dosen. Ia terlihat seperti _boyfriend material_ yang selama ini hanya ada di dalam kepala Kila.
Lamunan semua orang buyar ketika suara itu terdengar.
"Selamat pagi semua," katanya sambil melempar senyum khas yang sudah mulai Kila hafal.
"Pagi, Pak!" jawab semua serentak, lebih semangat dari biasanya.
Adalah Pak Rhaegar. Dosen yang kemarin membuat aturan nomor satu Kila terancam gagal.
Kelas praktik hari itu adalah simulasi lapangan. Setelah briefing dan pembagian tim, semua menyebar ke posko masing-masing. Kila mendapatkan tugas untuk menjaga alat.
Masalahnya, ia tidak tahu cara menggunakan alat itu sama sekali.
Ia membolak-balikkan benda itu. Dipencet, tidak berfungsi. Diputar, tetap tidak berfungsi. Diketuk pelan, siapa tahu ajaib, tetap saja mati.
Tanpa ia sadari, sepasang mata sudah menyaksikan kebodohannya dari tadi.
"Butuh bantuan?"
Kila terlonjak kaget. Pak Rhaegar sudah berdiri tepat di samping poskonya. Menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu dengan pelan merebut alat itu dari tangan Kila dan menunjukkan cara menggunakannya. Jari-jarinya bergerak cekatan, dan dalam dua detik, alat itu menyala.
Kila yang akhirnya mengerti spontan mengeluarkan kata pamungkas sejuta umat.
"Ohhh," katanya sambil manggut-manggut seperti anak kecil yang baru mengerti cara mengikat tali sepatu.
Pak Rhaegar hanya tersenyum melihat Kila manggut-manggut.
Setelah sadar bahwa manggut-manggutnya itu membuatnya terlihat bodoh dan sangat memalukan, Kila segera menghentikannya. Tapi sudah terlambat. Dari ekspresi wajah Pak Rhaegar, sudah jelas sekali ia sedang menahan tawa dan mengejek Kila dalam diam.
Kila sedikit kesal, tapi bodohnya, rasa kesal itu justru berubah menjadi debaran. Detak jantungnya tidak karuan, hampir sesak napas. Berdekatan dengan Pak Rhaegar dalam jarak sedekat ini ternyata jauh lebih berbahaya dari yang ia kira.
Agar tidak semakin berlanjut, Kila cepat-cepat kabur dengan alasan pura-pura membantu teman satu tim yang poskonya agak jauh dari jangkauan Pak Rhaegar.
Siang hari, simulasi selesai. Semua dibubarkan. Kila sudah bersiap menuju parkiran. Energinya terkuras habis, apalagi setelah kejadian memacu jantung tadi. Ia hanya ingin pulang, makan, dan melupakan kebodohannya.
Setelah sampai di parkiran dan siap menyalakan motor, tiba-tiba terdengar sebuah suara dari belakang.
"Sudah mau pulang?" kata orang itu.
Kila tidak menoleh. Karena terlalu lelah dan lapar, ia bahkan tidak mengenali suara itu.
"Nggak, mau nginep, ini lagi siapin tenda!!" jawab Kila agak asal sambil terus menyalakan mesin motornya yang sedikit rewel.
Terdengar suara seseorang tertawa. Tawa yang berat dan familiar.
Kila pun menoleh.
Dan Kila syok bukan main. Yang mengajaknya bicara itu adalah Pak Rhaegar. Masih dengan kaos hitam dan jaket jeansnya, sudah rapi, kunci mobil sudah ada di tangannya, berdiri tidak jauh dari motor Kila. Di belakangnya, SUV hitam miliknya sudah terparkir gagah.
Kaget, malu, dan segala macam rasa bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Rasanya ia ingin menghilang seketika dari muka bumi.
Kila yang sudah terlanjur malu hanya bisa meminta maaf sambil cengengesan tidak jelas.
Pak Rhaegar masih saja tertawa bahkan setelah mendengar permintaan maaf Kila. Tawa yang membuat gigi gingsulnya terlihat lagi.
Tidak punya muka lagi untuk disimpan, Kila segera pamit dengan terbata-bata dan langsung menjalankan motornya, meninggalkan Pak Rhaegar yang masih menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkahnya.
Di sepanjang jalan pulang, hanya satu kalimat yang Kila ulang terus menerus sambil memukul-mukul jidatnya sendiri di balik helm.
"Ya Tuhan, malu banget."
Entah apa yang akan terjadi kalau sampai bertemu lagi dengan Pak Rhaegar. Kila baru saja membuat malu dirinya sendiri di depan dosen paling disukai seangkatan.
ayok ada dibaca🤭