Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.
Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.
Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Ia mengulang kata itu dalam hati.
Selama ini, ia merawat ibu mertuanya bukan karena mengharapkan imbalan. Ia melakukannya karena perempuan itu adalah ibu dari suaminya, seseorang yang selama bertahun-tahun juga menjadi bagian dari keluarganya.
Ia menemani perempuan itu saat sakit, memastikan obat-obatannya diminum tepat waktu, dan menghabiskan banyak malam untuk menjaganya ketika kondisinya memburuk.
Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa suatu hari semua itu akan dianggap sebagai pekerjaan yang layak dibayar dengan sebuah mobil.
Apalagi oleh Pras, lelaki yang pernah berjanji akan selalu menghargainya sebagai istri.
Mikha menelan ludah.
Ternyata, bahkan kebaikan yang ia lakukan dengan tulus pun bisa berubah menjadi sesuatu yang digunakan suaminya untuk membenarkan pemberian kepada perempuan lain.
Ia memejamkan mata sebentar, berusaha menenangkan diri.
Namun, percakapan itu belum selesai.
"Ya, tapi kamu belikan buat aku juga!" Alena kembali membentak. "Aku sudah cerita kepada orang tuaku, pada Mikha, kalau aku bakal beli mobil!"
Mikha membuka mata.
Kali ini, ada sesuatu yang terasa berbeda di dalam dadanya.
Bukan sekadar sakit hati.
Melainkan kesadaran bahwa dirinya selama ini mungkin memang tidak pernah benar-benar memahami seperti apa lelaki yang telah menemaninya selama tujuh tahun.
Ia tahu Pras telah menyakitinya. Ia tahu ada kebohongan yang belum terungkap sepenuhnya. Namun, mendengar sendiri bagaimana suaminya membicarakan dirinya di hadapan perempuan lain membuat semua kenangan mereka terasa berubah.
Tujuh tahun.
Bukan tujuh hari, bukan pula tujuh bulan.
Tujuh tahun ia berusaha menjadi istri yang baik, menjaga rumah tangga mereka, dan percaya bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan akan membuat hubungan mereka semakin kuat.
Sementara di sisi lain, suaminya telah membangun harapan dengan perempuan lain.
Mikha menunduk, menggenggam tali tasnya lebih erat.
Air matanya tidak jatuh.
Ia justru merasa aneh karena kali ini tidak ingin menangis.
Mungkin karena luka yang dirasakannya sudah terlalu dalam hingga tidak lagi bisa diterjemahkan menjadi air mata.
Tak lama kemudian, suara Pras terdengar lagi.
"Nanti kita ngobrol lagi, sekarang aku masih bekerja."
Sambungan telepon terputus.
Beberapa detik berikutnya, terdengar suara benda dibanting.
"Brengsek!"
Mikha mengangkat wajahnya.
Ia bisa membayangkan bagaimana Alena sedang meluapkan kemarahan di ruang tengah. Perempuan itu marah karena keinginannya belum terpenuhi, kecewa karena janji Pras tidak segera diwujudkan, dan takut kehilangan sesuatu yang selama ini dijanjikan kepadanya.
Mikha tidak merasa perlu mengasihani Alena.
Perempuan itu tahu bahwa Pras masih memiliki istri. Ia tahu ada sebuah rumah tangga yang belum selesai, tetapi tetap memilih bertahan dan memperjuangkan hubungan tersebut.
Mungkin mereka memang saling mencintai.
Mungkin Pras telah memberikan banyak janji yang membuat Alena percaya bahwa kehidupan bersama lelaki itu akan menjadi sesuatu yang indah.
Namun, apakah cinta harus membuat orang lain menanggung seluruh kerugian?
Apakah perasaan mereka harus dibayar dengan kehancuran hidup seseorang yang tidak pernah meminta untuk dikhianati?
Mikha mengangkat dagu perlahan.
Di dalam hatinya, sebuah kalimat terucap dengan begitu jelas.
Alena, kau akan mendapatkan Mas Pras.
Ia menarik napas panjang.
Tapi setelah semua uangnya habis.
Tidak ada senyum di bibir Mikha. Hanya tatapan dingin yang perlahan menggantikan kesedihan di matanya.
Uang Mas Pras bukan sesuatu yang bisa kau nikmati sesukamu. Ada anak yang berhak atas masa depannya. Ada tanggung jawab yang tidak bisa dihapus hanya karena kau ingin menjadi istrinya.
Mikha memang belum mengetahui seluruh rencana Pras. Ia juga belum tahu bagaimana lelaki itu akan menyelesaikan hubungan mereka.
Namun, ia tidak akan membiarkan dirinya dan anaknya menjadi pihak yang paling dirugikan.
Uang yang seharusnya menjadi hak anakku tidak akan kubiarkan habis untuk memenuhi keinginanmu.
Ia terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan isi hatinya.
Ya, mungkin kalian saling mencintai. Mungkin selama ini kalian merasa berhak memperjuangkan kebahagiaan sendiri.
Tapi aku juga manusia, Alena.
Tujuh tahun aku menjalani pernikahan ini. Tujuh tahun aku mempercayai suamiku, menjaga rumah tangga kami, dan meyakini bahwa semua yang kulakukan memiliki arti.
Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk dijadikan lelucon oleh kalian berdua.
Mikha mengembuskan napas perlahan.
Kali ini, ia tidak akan memohon agar Pras kembali mencintainya. Ia juga tidak akan menghabiskan waktunya untuk meminta Alena merasa bersalah.
Ia sudah terlalu lelah menjadi satu-satunya orang yang berusaha mempertahankan sesuatu yang ternyata tidak dijaga bersama.
Jika Pras memang ingin pergi, Mikha tidak akan memaksanya tinggal.
Namun, ada hal-hal yang harus diselesaikan sebelum lelaki itu bisa melangkah menuju kehidupan barunya.
Hak anaknya.
Tanggung jawabnya.
Dan kebenaran tentang tujuh tahun yang telah mereka jalani bersama.
Mikha melirik ke arah ruang tengah. Ia harus mengambil dompetnya, lalu pergi sebelum Alena menyadari bahwa dirinya mendengar percakapan tadi.
Ia melangkah pelan menuju meja ruang tamu tempat terakhir kali ia duduk.
Dompet cokelat itu tergeletak di antara dua bantal sofa.
Mikha meraihnya, kemudian memasukkannya ke dalam tas.
Saat hendak berbalik, ia berhenti sejenak.
Dari ruang tengah, terdengar suara Alena yang masih menggerutu tentang mobil dan janji pernikahan mereka.
Mikha tidak lagi merasa perlu mendengarkan lebih jauh.
Ia sudah mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada penjelasan apa pun yang mungkin diberikan Pras.
Sebuah gambaran tentang apa yang sebenarnya sedang mereka perjuangkan.
Alena menginginkan Pras beserta kehidupan nyaman yang dijanjikan lelaki itu.
Sementara Mikha kini memiliki tujuan berbeda.
Ia ingin memastikan bahwa pengkhianatan mereka tidak merenggut masa depan anaknya.
Mikha berjalan menuju pintu dengan langkah mantap. Sebelum keluar, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah rumah itu.
Tidak ada kebencian yang perlu ia ucapkan.
Tidak ada ancaman yang harus ia sampaikan.
Untuk sementara, biarlah Alena tetap percaya bahwa semua yang diinginkannya akan menjadi miliknya.
Dan biarlah Pras tetap mengira bahwa istrinya belum mengetahui apa-apa.
Mikha akan menunggu.
Bukan karena ia masih bersedia dipermainkan, melainkan karena ia ingin memastikan bahwa ketika kebenaran akhirnya terbuka, tidak ada lagi bagian dari hidupnya yang bisa mereka ambil begitu saja.
Ia membuka pintu, lalu melangkah keluar.
Di halaman, mobil pemberian Pras masih terparkir dengan tenang.
Mikha menatap kendaraan itu sekilas sebelum masuk ke dalamnya.
Dulu, mobil tersebut mungkin akan membuatnya merasa dicintai.
Sekarang, benda itu menjadi pengingat bahwa hadiah paling mahal sekalipun tidak bisa membeli kembali kepercayaan yang telah dihancurkan.
Mikha menyalakan mesin.
Ia tidak tahu berapa lama lagi pernikahannya akan bertahan. Namun, satu hal telah ia putuskan.
Mulai hari ini, ia tidak akan lagi menjadi perempuan yang hanya menunggu keputusan suaminya.
Jika Pras sudah memikirkan masa depannya sendiri bersama Alena, maka Mikha pun akan mulai memikirkan masa depannya bersama anaknya.
Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun mengorbankan mereka demi kebahagiaan orang lain. Dirinya dan anaknya harus tetap bahagia di masa depan.
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭