"Apa?! Kak Rania kabur?!"
Surat di tangan Gladis bergetar hebat. Matanya membelalak tak percaya saat membaca tulisan tangan kakaknya untuk ketiga kalinya.
Maaf, Ayah, Ibu. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang bahkan tidak aku cintai. Aku memilih hidupku sendiri. Jangan mencariku.
Tubuh Gladis mendadak lemas.
Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir persiapan pernikahan kakaknya dengan seorang CEO ternama. Semua undangan telah disebar. Hotel mewah telah dipesan. Para relasi bisnis penting dijadwalkan hadir.
Namun sang calon pengantin justru menghilang.
"Ayah... bagaimana ini?" suara Gladis bergetar.
Di ruang keluarga yang megah namun terasa mencekam, wajah kedua orang tuanya tampak pucat.
Ayahnya terduduk lemah sambil memegangi dada.
"Kita tidak boleh membatalkan pernikahan ini."
"Tapi Kak Rania sudah pergi!"
"Kau tidak mengerti, Gladis!" bentak ibunya tiba-tiba.
Gadis itu terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat ketakutan pada orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moon28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mau saya antar?
Beberapa menit kemudian...
Setelah kejadian yang membuat wajahnya memerah itu, Gladis buru-buru masuk ke kamarnya sendiri.
Ia mengembuskan napas panjang.
"Ya Allah..."
"Hari ini benar-benar memalukan."
Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri.
"Tenang."
"Anggap saja tidak terjadi apa-apa."
Sayangnya...
Semakin ia berusaha melupakan kejadian itu...
Justru bayangan wajah Arsen yang sama-sama terkejut terus muncul di kepalanya.
"Astaghfirullah..."
Gladis segera mengambil tas kuliahnya.
Laptop.
Buku.
Dompet.
Pulpen.
Power bank.
Semuanya dimasukkan ke dalam tas.
Ia menatap jam dinding.
"Waduh."
"Sudah hampir berangkat."
Gladis segera mengenakan jilbab, lalu turun ke lantai bawah.
Sebelum pergi, ia merasa perlu berpamitan kepada Arsen.
Bagaimanapun juga...
Kini Arsen sudah pulang.
Ia berjalan menuju ruang kerja.
Pintu ruang kerja sedikit terbuka.
Dari dalam terdengar suara Arsen yang sedang berbicara serius.
"Bagian kontrak direvisi."
"Jangan ada keterlambatan."
"Pastikan laporan sore ini sudah selesai."
Gladis mengintip pelan.
Di dalam...
Arsen sedang duduk di depan meja kerja.
Di sampingnya berdiri Dimas sambil membuka beberapa map.
Laptop menyala.
Monitor besar menampilkan wajah beberapa orang yang sedang mengikuti rapat daring.
Gladis mengetuk pelan.
Tok...
Tok...
Tok...
Arsen langsung menoleh.
"Mas..."
Gladis tersenyum kecil.
"Maaf mengganggu."
Arsen mengangguk kepada peserta rapat.
"Sebentar."
Ia menekan tombol mute.
Lalu berdiri dari kursinya.
Dimas langsung berkedip.
Bos...
Berdiri?
Biasanya kalau sedang rapat, gempa bumi pun belum tentu membuat Arsen berdiri.
Arsen mendekati pintu.
"Ada apa?"
Gladis mengangkat tas di bahunya.
"Aku mau berangkat kuliah dulu."
Arsen mengangguk.
"Hati-hati."
"Iya."
Gladis hendak berbalik.
Namun tiba-tiba Arsen berkata,
"Tunggu."
Gladis menoleh lagi.
"Aku antar."
Gladis membulatkan mata.
"Hah?"
"Aku antar."
"Eh... tidak usah, Mas."
"Aku bisa menyetir sendiri."
Arsen menjawab singkat.
"Tidak apa-apa."
"Mas masih sibuk meeting."
"Bisa dilanjutkan nanti."
Dimas yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung berdeham panjang.
"Ehemmmm..."
Arsen menoleh perlahan.
"Dimas?"
Dimas langsung memasang wajah polos.
"Eh..."
"Iya, Pak."
"Kamu kenapa?"
"Saya..."
Dimas memegang lehernya.
"Serak, Pak."
"Tenggorokan saya."
"Ehem..."
"Ehem..."
Arsen menyipitkan mata.
"Seraknya muncul tepat sekarang?"
"Iya, Pak."
"Penyakit musiman."
Gladis sampai menundukkan kepala agar tidak tertawa.
Arsen masih menatap asistennya.
"Dimas."
"Iya, Pak?"
"Kalau tenggorokanmu sakit..."
"Iya?"
"Minum air."
"Bukan berdeham."
Dimas langsung mengangguk cepat.
"Siap, Pak."
Lalu...
"Ehem."
Arsen menghela napas.
"Dimas."
"Maaf, Pak."
"Sekarang refleks."
Dari layar laptop terdengar suara salah satu peserta rapat.
"Pak Arsen?"
"Apakah rapat bisa dilanjutkan?"
Arsen kembali ke meja.
"Sebentar."
Ia menatap Gladis.
"Jam kuliah mulai pukul berapa?"
"Setengah sembilan."
"Masih ada waktu."
Gladis tersenyum kecil.
"Mas..."
"Hm?"
"Benar-benar tidak usah mengantar."
"Aku sudah biasa sendiri."
Arsen terdiam beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
"Baik."
Gladis mengembuskan napas lega.
"Terima kasih."
Ia melangkah pergi.
Namun baru dua langkah...
Suara Arsen kembali terdengar.
"Gladis."
"Iya?"
"Mobilmu bensinnya tinggal sedikit."
Gladis langsung berhenti.
"Hah?"
"Aku lihat tadi."
"Oh..."
"Isi dulu di jalan."
Gladis tersenyum malu.
"Iya, Mas."
"Terima kasih."
Setelah Gladis pergi...
Ruangan kembali sunyi.
Arsen duduk.
Rapat dilanjutkan.
Namun...
Baru lima detik.
"Ehemm..."
Suara itu terdengar lagi.
Arsen perlahan menoleh.
"Dimas."
"Iya, Pak."
"Kali ini kenapa?"
"Saya cuma mau memastikan."
"Memastikan apa?"
"Tadi Bapak mau mengantar Nyonya..."
"Iya."
"Itu refleks..."
"Atau..."
Belum selesai.
Arsen sudah mengangkat satu map.
"Dimas."
"Iya?"
"Kalau map ini terbang..."
"Saya mundur, Pak."
Dimas langsung mengambil dua langkah ke belakang.
Peserta rapat yang mendengar percakapan itu mulai saling berpandangan.
Salah satu direktur bahkan tersenyum kecil.
Dimas kembali membuka map.
Namun mulutnya masih belum bisa diam.
"Pak."
"Hm?"
"Saya baru sadar."
"Apa?"
"Dulu waktu saya sakit demam..."
"Iya."
"Bapak cuma bilang..."
"'Minum obat.'"
"Iya."
"Waktu saya keseleo..."
"'Pakai minyak.'"
"Iya."
"Waktu saya hampir pingsan karena lembur..."
"'Istirahat kalau sempat.'"
"Iya."
"Nah..."
Dimas tersenyum lebar.
"Tapi ke Nyonya..."
"'Aku antar.'"
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Beberapa peserta rapat yang kameranya masih menyala langsung pura-pura melihat dokumen.
Padahal bahu mereka mulai bergetar menahan tawa.
Arsen memijat pelipis.
"Dimas."
"Iya, Pak."
"Kamu tahu kenapa aku mempertahankanmu sampai sekarang?"
Dimas tersenyum bangga.
"Karena saya pintar?"
"Bukan."
"Karena saya loyal?"
"Bukan."
"Karena saya tampan?"
Arsen menatap datar.
"Karena mencari asisten yang lebih cerewet darimu ternyata sulit."
Ruangan langsung dipenuhi tawa.
Bahkan beberapa peserta rapat ikut tertawa.
Dimas memegang dadanya.
"Pak..."
"Itu pujian atau hinaan?"
"Terserah kamu."
Sementara itu...
Di luar rumah.
Gladis sudah masuk ke dalam mobilnya.
Ia masih tersenyum kecil mengingat percakapan tadi.
"Mas Arsen..."
"Tiba-tiba mau mengantar segala."
Ia menggeleng pelan.
"Untung aku menolak."
Kalau tidak...
Mungkin ia akan semakin gugup.
Ia menyalakan mesin mobil.
Baru keluar dari halaman rumah...
Matanya melihat sebuah SPBU di ujung jalan.
"Oh..."
"Benar juga."
"Bensinku memang hampir habis."
Ia tersenyum sendiri.
"Mas sampai memperhatikan itu."
Entah kenapa...
Perhatian kecil seperti itu justru membuat hatinya terasa hangat.
Sementara di ruang kerja...
Rapat akhirnya selesai hampir satu jam kemudian.
Semua peserta keluar dari panggilan video.
Ruangan kembali sepi.
Dimas menutup laptop.
"Pak."
"Hm?"
"Sudah selesai."
Arsen mengangguk.
"Kalau begitu..."
Dimas mengambil map terakhir.
"Saya pamit."
Namun sebelum keluar...
Ia berhenti di depan pintu.
"Pak."
"Apa lagi?"
"Saya cuma mau bilang."
"Apa?"
"Nyonya pasti senang tadi Bapak mau mengantar."
Arsen tetap menatap berkas di tangannya.
"Aku hanya khawatir dia lelah."
"Iya, Pak."
"Jangan berpikir macam-macam."
"Siap, Pak."
Dimas membuka pintu.
Lalu sebelum benar-benar keluar...
Ia kembali menoleh sambil tersenyum jahil.
"Pak..."
"Hm?"
"Kalau nanti Nyonya pulang..."
"Boleh saya pura-pura serak lagi?"
Arsen mengangkat kepala perlahan.
"Dimas."
"Iya?"
"Kamu mau cuti panjang?"
Dimas langsung membelalak.
"Hah?"
"Sampai tahun depan."
"Ups."
"Saya pergi sekarang, Pak."
Belum selesai kalimatnya...
Dimas sudah berlari keluar ruangan.
Arsen hanya menggeleng kecil.
Namun beberapa detik kemudian...
Tanpa sadar...
Sudut bibirnya kembali terangkat.
Hari itu...
Entah sejak kapan...
Rumah yang dulu selalu terasa sunyi baginya...
Kini mulai terasa seperti tempat yang benar-benar ingin segera ia pulangi.
drama pengganti 99 % nanti balik lagi nak lihat yg ini balik lagi kah atau tidak