"Apa?! Kak Rania kabur?!"
Surat di tangan Gladis bergetar hebat. Matanya membelalak tak percaya saat membaca tulisan tangan kakaknya untuk ketiga kalinya.
Maaf, Ayah, Ibu. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang bahkan tidak aku cintai. Aku memilih hidupku sendiri. Jangan mencariku.
Tubuh Gladis mendadak lemas.
Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir persiapan pernikahan kakaknya dengan seorang CEO ternama. Semua undangan telah disebar. Hotel mewah telah dipesan. Para relasi bisnis penting dijadwalkan hadir.
Namun sang calon pengantin justru menghilang.
"Ayah... bagaimana ini?" suara Gladis bergetar.
Di ruang keluarga yang megah namun terasa mencekam, wajah kedua orang tuanya tampak pucat.
Ayahnya terduduk lemah sambil memegangi dada.
"Kita tidak boleh membatalkan pernikahan ini."
"Tapi Kak Rania sudah pergi!"
"Kau tidak mengerti, Gladis!" bentak ibunya tiba-tiba.
Gadis itu terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat ketakutan pada orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moon28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu anak-anak atau rindu....
Roy masih berdiri beberapa meter dari bangku taman.
Di kedua tangannya terdapat empat gelas minuman.
Es cokelat untuk Rian.
Jus jeruk untuk Raka.
Milkshake stroberi untuk Raina.
Dan...
Es kopi susu gula aren favorit Gladis.
Langkahnya sempat terhenti ketika melihat Gladis masih berbicara melalui telepon dengan Arsen.
Ia tidak berniat menguping.
Namun sesekali terdengar tawa kecil Gladis.
Senyum tipis yang sudah lama tidak ia lihat.
Roy menarik napas pelan.
Lalu tetap berjalan mendekat.
"Permisi..."
Ucapnya sambil tersenyum.
Gladis menoleh.
"Oh, makasih."
Roy mengulurkan gelas itu.
"Ini."
Gladis melihat minuman di tangannya.
"Kamu masih ingat?"
Roy mengangkat bahu santai.
"Ya iyalah."
"Kamu dari SMA kalau lagi stres selalu pesan kopi gula aren."
Salsa yang sejak tadi memperhatikan langsung menyipitkan mata.
"Ehemmm..."
Roy pura-pura tidak mendengar.
"Ehemmmm..."
Roy tetap membagikan minuman kepada anak-anak.
"EHEMMMMM!"
Kali ini suara Salsa lebih keras.
Bahkan Rian sampai ikut menoleh.
"Tante Salsa batuk?"
Salsa menggeleng.
"Bukan."
"Lalu kenapa?"
"Ada orang..."
Salsa melirik Roy tajam.
"...yang masih hafal minuman kesukaan seseorang."
Roy mendesah.
"Salsa."
"Hm?"
"Ingat."
"Apa?"
"Dia sudah punya suami."
Roy tersenyum tipis.
"Dia memang temanku."
"Teman dari kecil."
"Kami besar bersama."
Salsa langsung mengangguk panjang.
"Ooooo..."
"Sahabat dari kecil."
"Iya."
"Yang hafal makanan favorit."
"Iya."
"Hafal warna favorit."
"Iya."
"Hafal minuman favorit."
"Iya."
"Hafal ulang tahun."
"Iya."
"Hafal nomor sepatu."
Roy berkedip.
"Itu aku tidak hafal."
Salsa tertawa puas.
"Nah!"
"Berarti masih ada yang belum."
Gladis sampai tertawa sambil menggeleng.
"Kalian ini."
Roy ikut tertawa.
"Sudahlah."
"Aku cuma ingin memastikan dia tidak salah beli minuman."
Salsa kembali menyenggol Gladis.
"Lihat."
"Masih bela diri."
Roy mengangkat kedua tangan.
"Aku menyerah."
Rian yang sejak tadi mendengarkan akhirnya mengangkat tangan.
"Aku tahu."
Semua menoleh.
"Tahu apa?"
"Tante Salsa lagi ngeledekin Om Roy."
Salsa tersenyum.
"Pintar."
"Karena Om Roy mukanya merah."
Roy langsung memegang pipinya.
"Merah ya?"
Raka yang sedang minum jus menjawab datar.
"Sedikit."
Raina ikut menambahkan.
"Kurang lebih seperti tomat."
Roy memandang langit.
"Ya Allah..."
"Aku dikeroyok satu keluarga."
Semua langsung tertawa.
Menjelang magrib mereka pun pulang.
Hari itu menjadi salah satu hari paling menyenangkan bagi anak-anak.
Bahkan Raka yang biasanya pendiam mulai beberapa kali bercanda.
Sedangkan Raina semakin sering tersenyum.
Gladis melihat perubahan itu dengan hati hangat.
Mungkin...
Anak-anak itu memang hanya membutuhkan seseorang yang mau meluangkan waktu bersama mereka.
Hari-hari berikutnya berlalu cepat.
Satu minggu sejak keberangkatan Arsen.
Rutinitas Gladis semakin padat.
Pukul empat pagi ia sudah bangun.
Shalat.
Menyiapkan sarapan.
Membangunkan anak-anak.
Mengantar Rian belajar.
Mengantar si kembar ke sekolah.
Lalu...
Ia sendiri berangkat kuliah.
Setelah kuliah selesai.
Ia kembali menjemput Raka dan Raina.
Pulang ke rumah.
Membantu pekerjaan rumah.
Mendampingi anak-anak belajar.
Membacakan cerita untuk Rian sebelum tidur.
Hari-harinya melelahkan.
Namun...
Anehnya.
Ia menikmatinya.
Suatu pagi...
"Mama!"
Suara Rian kembali menggema.
"Iya?"
"Tugas menggambar."
"Kenapa?"
"Aku disuruh gambar keluarga."
"Oh."
"Itu kan mudah."
Rian mengangguk.
"Iya."
"Lalu?"
"Papa lagi di luar negeri."
"Iya."
"Kalau begitu Papa kugambar pakai koper."
Gladis langsung tertawa.
"Kenapa pakai koper?"
"Supaya guruku tahu Papa sedang jalan-jalan."
"Bukan jalan-jalan."
"Kerja."
"Oh iya."
"Lalu Mama kugambar pakai celemek."
"Kenapa?"
"Karena Mama tiap hari masak."
Raka yang sedang makan roti tiba-tiba menyela.
"Kalau aku?"
"Kak Raka kugambar bawa buku."
"Kenapa?"
"Karena Kak Raka kalau tidak baca buku nanti mati."
Semua langsung berhenti makan.
Raka berkedip.
"Itu logika dari mana?"
Rian mengangkat bahu.
"Perasaanku."
Raina menepuk pelan bahu kakaknya.
"Sudahlah."
"Terimalah takdirmu."
***
Sementara itu...
Di negara lain.
Gedung pencakar langit berdiri megah.
Di lantai paling atas.
Ruang rapat masih menyala meski jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Arsen baru saja menyelesaikan rapat selama hampir empat jam.
Dimas mengikuti di belakang sambil membawa setumpuk berkas.
Begitu pintu lift tertutup.
Dimas menghela napas panjang.
"Pak."
"Hm?"
"Boleh tanya?"
"Tanya."
"Bapak tidak capek?"
Arsen tetap menatap layar tabletnya.
"Capek."
"Lalu kenapa masih kerja?"
"Masih banyak yang harus selesai."
Dimas mengangguk pelan.
Namun beberapa langkah kemudian ia kembali bertanya.
"Pak."
"Hm?"
"Bapak sekarang tidurnya selalu malam."
"Iya."
"Makan juga sering telat."
"Iya."
"Rapat terus."
"Iya."
"Kerja terus."
"Iya."
Dimas akhirnya berhenti berjalan.
"Pak."
"Hm?"
"Kenapa?"
Arsen ikut berhenti.
Menatap asistennya.
Dimas menggaruk kepala.
"Perasaan dulu Bapak tidak begini."
Arsen terdiam beberapa detik.
Lalu berkata pelan.
"Aku ingin semua pekerjaan selesai sebelum pulang."
Dimas mengangguk.
"Oh..."
"Supaya bisa libur beberapa hari."
Dimas tersenyum kecil.
"Berarti..."
"Bapak rindu anak-anak."
Arsen menjawab tanpa berpikir.
"Iya."
Dimas mengangguk lagi.
Lalu...
Dengan senyum jahil yang mulai muncul.
"Ehemm..."
Arsen langsung menyipitkan mata.
"Apa?"
"Rindu anak-anak..."
"Iya."
"Atau..."
Belum selesai kalimat itu.
Arsen sudah lebih dulu memotong.
"Dimas."
"Iya Pak?"
"Mau kupotong gajimu?"
Dimas langsung menegakkan badan.
"Ups."
"Jangan dong Pak."
"Aku masih punya cicilan."
Arsen kembali berjalan.
Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.
Dimas mengejar.
"Pak."
"Hm?"
"Berarti benar bukan?"
"Apa?"
"Bukan cuma rindu anak-anak."
"Dimas."
"Iya?"
"Aku masih bisa mencari asisten baru."
Dimas langsung memegang dada.
"Pak..."
"Kejam."
Arsen tidak menjawab.
Tetapi beberapa detik kemudian...
Ponselnya menyala.
Wallpaper yang muncul adalah foto tiga anaknya.
Rian sedang tertawa lepas.
Sedangkan Raka dan Raina berdiri di kanan kirinya dengan wajah datar.
Di belakang mereka...
Terlihat Gladis yang sedang merapikan kerah baju Rian sambil tersenyum.
Foto itu diambil diam-diam oleh Dimas beberapa minggu lalu saat acara keluarga.
Arsen memperhatikan foto itu beberapa saat.
Sangat lama.
Dimas yang tanpa sengaja melihat dari samping langsung berbisik pelan.
"Ehemm..."
Arsen menoleh.
"Apa lagi?"
"Itu..."
Dimas menunjuk layar ponsel.
"Wallpaper Bapak."
"Kenapa?"
"Bagus."
"Iya."
"Tapi..."
"Di situ ada empat orang."
Arsen mengernyit.
"Lalu?"
"Kalau cuma rindu anak-anak..."
Dimas tersenyum lebar.
"...kenapa foto Nyonya tidak dipotong saja?"
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Lift baru saja terbuka.
Arsen perlahan memasukkan ponselnya ke saku.
Lalu menatap Dimas datar.
"Dimas."
"Iya Pak?"
"Besok."
"Hm?"
"Tambahan kerja."
Senyum Dimas langsung hilang.
"Hah?"
"Lembur."
"Pak!"
"Full."
"Pak Arsen!"
"Tidak ada protes."
Dimas langsung memukul pelan dahinya sendiri.
"Ya Allah..."
"Mulutku lagi."
Arsen melangkah keluar lift lebih dulu.
Dan untuk pertama kalinya malam itu...
Terdengar tawa pelan dari CEO muda tersebut.
Sangat singkat.
Namun cukup membuat Dimas membelalak.
"Lho..."
"Bos ketawa?"
Ia langsung tersenyum sendiri.
"Sepertinya..."
"Bukan cuma anak-anak yang dirindukan Bos."