NovelToon NovelToon
My Shit Boss

My Shit Boss

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.

Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.

Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.

Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.

Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 16

Part 16

"Saya tidak mau," jawab Alfan sembari kembali menutup mata lalu membaringkan kepalanya di pangkuan Tina, membuat empunya terdiam dengan wajah terkejut melihat kelakuan bosnya yang begitu tiba-tiba.

"Loh Bapak kenapa jadi tidur di pangkuan saya?" Tina bertanya tak habis pikir, merasa tak nyaman saat bosnya begitu dekat dengannya.

"Saya tidak bawa bantal, lebih baik kamu yang jadi bantal saya."

"Tapi Pak ...."

"Bangunkan saya kalau sudah sampai di bandara," potong Alfan tenang lalu kembali masuk ke alam bawah sadarnya, tanpa mau memedulikan Tina yang tampak menghela nafas dengan kasarnya, merasa tak percaya saja dengan kelakuan bosnya.

***

Cukup lama di perjalanan, akhirnya kini Tina dan Alfan sudah sampai di tempat tujuan. Mereka segera bergegas ke arah hotel untuk mencari tempat tinggal selama berada di sana. Selama di perjalanan menuju hotel terdekat, Alfan tampak murung, ekspresi wajahnya tak sesegar seperti biasanya, membuat Tina sempat bertanya-tanya ada apa dengan bosnya.

"Bapak sakit ya?" tanya Tina saat berada di dalam taksi yang sedang mengantarkan mereka.

"Tidak," jawab Alfan terdengar tak bersemangat ataupun dingin dan tenang seperti biasanya, yang lagi-lagi membuat Tina keheranan dengan sikapnya.

"Kalau enggak sakit, kenapa Bapak seperti orang kurang makan? Bapak belum sarapan?" tanya Tina lagi, sebagai asisten Alfan, ia juga harus memerhatikan pola makan bosnya selama bersamanya.

"Belum."

"Oh belum? Tapi kenapa tadi di pesawat tidak makan, Pak?"

"Ngantuk."

"Oh begitu? Bagaimana kalau setelah ini Bapak sarapan dulu, baru kita cari hotel."

"Saya akan makan nanti, saya masih mau tidur lagi." Alfan kembali memejamkan matanya, yang hanya Tina diami tanpa mau banyak bertanya. Meski ia sendiri bingung dengan bosnya yang tidak biasanya mengantuk saat bekerja terlebih lagi tidur di hampir seluruh waktu perjalanan.

"Iya, Pak," jawab Tina seadanya, entah kenapa ia merasa bila bosnya yang selalu menyebalkan itu sekarang tampak berbeda, seolah ada sesuatu yang kurang dari sikapnya. Namun Tina bersyukur, setidaknya hari ini ia tidak terlalu menguras emosinya karena kelakuan bosnya yang sudah biasa membuatnya kesal.

***

Tina merapatkan bibirnya dengan rasa geram, padahal baru beberapa jam yang lalu ia merasa bila hari ini bosnya tidak akan berbuat ulah, namun sepertinya semua itu hanya khayalan semata karena yang terjadi justru sebaliknya, bosnya itu seperti tidak akan membiarkannya hidup dengan nyaman untuk sehari saja.

"Kita sekamar, Pak?" tanya Tina dengan nada tak percaya, ekspresinya bahkan tampak ingin memakan jari-jari bosnya saking geramnya.

"Iya. Memangnya kenapa?" Alfan bertanya tenang yang tentu saja membuat Tina tak tahan.

"Kita kan berbeda gender, Pak. Bagaimana mungkin kita bisa sekamar? Apalagi kita tidak memiliki hubungan apapun kecuali masalah pekerjaan?" Tina bertanya tak percaya, merasa tak habis pikir dengan pemikiran bosnya.

"Di dalam kamar itu ada dua ranjang, kita tidak akan tidur bersama, jadi tolong jangan bersikap berlebihan." Alfan menekankan kalimatnya, berusaha membuat Tina mengerti dengan keinginannya.

"Tapi tetap saja, Pak. Kita itu berbeda, Bapak lelaki, saya perempuan. Kita butuh privasi masing-masing di luar pekerjaan, saya dan Bapak tidak bisa sekamar."

"Jadi mau kamu apa?" tanya Alfan terdengar menantang, merasa lelah juga bila harus berdebat dengan Tina.

"Ya kita tidur di kamar yang berbeda lah, Pak."

"Ya sudah, cari sana kamar yang kamu mau dan jangan lupa kamu juga harus bayar sendiri." Alfan menunjuk ke arah belakang Tina lalu membuka kamar hotelnya dan masuk ke dalamnya, meninggalkan Tina dengan sorot mata tak percayanya.

"Apa? Bayar sendiri?" Tina menggeram kesal, merasa sangat marah dengan kelakuan bosnya, meski pada akhirnya tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali masuk ke kamar yang sama dengan bosnya.

"Kenapa kamu masuk? Katanya kamu mau tidur di kamar sendiri?" tanya Alfan kali ini setelah melihat Tina masuk mengikuti langkahnya.

"Ya Bapak pikir sendiri, saya mana ada uang buat sewa kamar?" Tina menjawab kesal, lalu berjalan ke arah ranjang lainnya. Tanpa menyadari bagaimana Alfan diam-diam tersenyum bisa sekamar dengannya.

"Makanya jangan terlalu banyak tingkah, tinggal tidur di kamar yang sama apa susahnya?"

"Ya susah lah, Pak. Bapak kan lelaki tidak akan rugi apapun, beda dengan saya." Tina menjawab kesal, nada suaranya terdengar curiga tanpa mau menatap ke arah Alfan.

"Memangnya apa kerugianmu?"

"Ya ... kalau Bapak cari kesempatan ke saya, bagaimana? Saya kan pasti takut." Tina melirik sesekali ke arah bosnya, merasa malu juga saat mengatakan apa yang ditakutinya.

"Satu hal yang harus kamu ingat, kamu bukan tipe saya, jadi jangan berpikir aneh-aneh. Atau jangan-jangan kamu yang malah mengharapkannya?" tanya Alfan dengan memicingkan matanya ke arah Tina, yang seketika ditatap tak terima oleh sekretarisnya tersebut.

"Mana mungkin, Pak? Jangan seenaknya menuduh saya ya," sungut Tina tak terima, namun Alfan justru terdiam dan membaringkan tubuhnya.

"Terserah," jawabnya singkat setelah tubuhnya berada di ranjang, bibirnya tersenyum tanpa sepengetahuan Tina yang tampak geram dengan kelakuannya.

"Bapak butuh sesuatu? Kalau tidak, saya akan mandi." Tina mendirikan tubuhnya sembari membawa peralatan mandi dan pakaiannya termasuk handuk.

"Tidak ada, saya mau tidur lagi." Alfan memiringkan tubuhnya, berharap bisa segera terlelap ke alam bawah sadarnya.

"Bapak tidak mandi dulu?"

"Kenapa saya harus mandi lagi? Sebelum ke sini saya sudah mandi ya."

"Kan kita baru dari perjalanan, Pak. Masa Bapak langsung tidur lagi? Memangnya Bapak tidak risi?"

"Tidak kok." Alfan menjawab santai, yang Tina tanggapi dengan gelengan kepala, merasa sedikit tak percaya saja bila bosnya yang biasa rapi dan wangi ternyata memiliki kebiasaan malas mandi.

"Kalau begitu saya mandi dulu," pamit Tina sembari berjalan ke arah kamar mandi. Sedangkan Alfan justru kembali membangunkan tubuhnya, merasa bila kelakuannya itu bisa saja membuat Tina tak akan menyukainya.

"Apa aku harus mandi?" keluh Alfan yang terdengar seperti pertanyaan, membuatnya frustrasi terlebih lagi saat mengingat ucapan mamanya bila Tina tidak akan mau dengannya bila mandi saja ia masih suka malas.

1
Renjana
aku pun ikut kaget,🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!