NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Diceraikan

Istri Gendut Yang Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Dendam Kesumat / Cewek Gendut
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.

Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.

Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.

Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.

Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...

“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amarah Bu Sumarni

Matahari hampir tenggelam ketika tamu terakhir berpamitan.

Mobil-mobil menyala satu per satu, klakson bersahutan, dan salam perpisahan terdengar di antara deru mesin. Ibu-ibu tetangga yang tadi membantu memasak pulang sambil membawa kotak-kotak nasi sisa hajatan. Para paman menepuk bahu Rizal dan berpesan agar sering-sering main, sementara Bude Marni dan Tante Lisna keluar paling cepat, dengan wajah masam dan langkah yang nyaris berlari.

Ruang tamu yang tadi riuh kini berantakan seperti medan perang yang baru ditinggalkan. Tikar kusut, piring kotor bertumpuk di mana-mana, sisa nasi dan tulang ayam berserakan di atas nampan, gelas-gelas berkeringat di lantai. Bau santan basi bercampur asap rokok melayang di udara.

Danti berdiri di dekat pintu, menyelempangkan tas kecilnya di bahu. Ia sudah merapikan rambut dan memeriksa selendang di tangan kirinya, lalu menarik napas panjang.

Dulu di saat seperti ini, ia sudah berada di dapur belakang dengan lengan baju tergulung, mencuci piring sampai larut malam, mengepel lantai sampai lututnya perih, mengangkut sampah sampai punggungnya serasa mau patah, sementara semua orang sudah pulang atau tidur nyenyak. Dan tak seorang pun pernah mengucapkan terima kasih.

"Tidak lagi," batinnya.

"Danti!"

Suara itu membuatnya berhenti di ambang pintu.

Bu Sumarni muncul dari ruang tengah dengan langkah cepat, napas memburu, sanggulnya sedikit miring. Wajahnya sudah kehilangan topeng ramah sepenuhnya. Matanya merah, rahangnya tegang, dan jari telunjuknya mengacung seperti pistol.

"Mau ke mana kamu?"

"Pulang, Bu."

"Pulang?" Bu Sumarni nyaris menjerit. "Siapa yang suruh pulang? Lihat rumah ini! Berantakan! Piring kotor segunung! Lantai lengket! Kamu mau pergi begitu aja, hah!"

"Tangan saya terkilir, Bu." Danti mengangkat tangan kirinya yang berselendang dengan wajah menyesal. "Saya nggak bisa kerja berat. Takut makin parah."

"Alasan!" Bu Sumarni melotot. "Ini rumah mertuamu! Tamunya keluarga kamu juga! Harusnya kamu yang beres-beres! Siapa lagi yang mau bersihin semua ini?!"

Danti memiringkan kepala, tampak berpikir sebentar. Lalu ia tersenyum ramah.

"Kan masih ada Rani, Bu."

Di ujung ruangan, Rani yang sedang rebahan di sofa sambil memainkan ponsel mendongak kaget. "Hah? Aku?"

"Iya, Rani kan juga anak Ibu. Pasti mau bantu, kan?" Danti melambaikan tangan manis ke arah adik iparnya. "Tangan Rani masih sehat, baru dicat kukunya lagi. Pasti cepat selesai."

"Eh, enak aja, aku nggak..."

"Selamat sore, Bu. Terima kasih sudah mengundang saya."

Danti membungkuk sedikit dengan sopan, lalu melangkah ke pintu.

"DANTI! Kembali! Ibu belum selesai bicara!"

"Sampai jumpa, Bu."

"DANTI!!"

Danti tidak menoleh. Ia melenggang keluar halaman, melewati pagar, lalu mendongak menatap langit senja yang berwarna jingga keemasan. Angin sore meniup ujung rambutnya, dan ia menarik napas dalam-dalam, menghirup kebebasan kecil yang rasanya manis sekali.

Di belakangnya, teriakan Bu Sumarni terus menggema, makin lama makin samar, seperti radio yang kehilangan sinyal.

---

Rizal baru keluar dari persembunyiannya ketika suara ibunya mulai mereda.

Ia mengintip dari balik pintu dapur belakang dengan wajah pucat dan keringat dingin. Setelah memastikan tamu-tamu sudah pergi dan suasana cukup aman, ia melangkah keluar perlahan dengan langkah seperti kucing yang takut kena tendang, berharap bisa menyelinap ke teras tanpa terlihat.

"RIZAL!"

Langkahnya terhenti.

Bu Sumarni berdiri di tengah ruangan dengan tangan berkacak pinggang. Napasnya naik-turun. Wajahnya sudah merah seperti tomat yang hampir pecah.

"Dari tadi kamu ke mana?"

"A-aku... aku di belakang, Bu. Cuci tangan."

"Cuci tangan satu jam?" Suara Bu Sumarni naik satu oktaf. "Kamu itu laki-laki! Anak Ibu! Waktu Ibu dihina, waktu Ibu diperlakukan begitu rendah oleh istrimu di depan seluruh keluarga, kamu malah ngumpet? Mana tanggung jawabmu sebagai anak! Mana?"

"Bu, aku nggak..."

"Kamu denger sendiri kan, apa yang dia bilang? Dia bilang Ibu nyuruh dia bayar ayam pakai uangnya sendiri! Dia bikin malu Ibu di depan Bu Duma, di depan Pak RT, di depan Bude dan Tante! Dia menghina saudara-saudara Ibu! Dia memperlakukan Ibu seperti penjahat!"

Rizal menunduk, tangannya meremas ujung kemejanya. Ia ingin menjawab, tapi kata-katanya tersangkut di tenggorokan.

"Kamu dengar nggak, Rizal!"

"I-iya, Bu."

"Ceraikan dia."

Satu kalimat itu jatuh bagai petir di tengah ruangan.

Rizal mendongak, matanya melebar. "Apa?"

"Ceraikan Danti. Hari ini juga." Bu Sumarni menatapnya tajam. "Ibu sudah muak. Dari dulu Ibu bilang, dia bukan menantu yang pantas. Dia melawan orang tua, dia bikin malu keluarga, dia boros, gendut, mandul, sekarang kurang ajar pula. Buat apa dipertahankan?"

"Bu..."

"Betul, Bang!" Rani tiba-tiba bangkit dari sofa, langsung ikut menimpali dengan semangat tak tahu malu. "Aku juga capek lihat dia! Dia tuh udah nggak sopan banget, Bang. Tadi di depan semua orang, dia sindir-sindir Tante Lisna, Bude Marni... aku malu punya kakak ipar kayak gitu!"

"Itu..."

"Kamu masih muda, Zal," sambung Bu Sumarni. "Kamu punya jabatan bagus, gaji stabil, banyak perempuan yang mau sama kamu. Lepas Danti, cari yang lebih cantik, yang lebih pantas. Yang bisa dibanggakan, bukan yang bikin malu terus!"

"Iya, Bang! Aku punya banyak teman yang cantik-cantik lho!"

Dua suara itu bersahutan seperti genderang, mendesak dan memaksa.

Tapi Rizal menggeleng.

Pelan, tapi pasti.

"Nggak, Bu."

"Apa?"

"Aku nggak mau cerai."

Bu Sumarni terdiam. Rani ikut melongo.

Rizal sendiri tak tahu dari mana datangnya kalimat itu. Selama bertahun-tahun, ia memperlakukan Danti seenaknya, membentaknya, menyindirnya, mengabaikannya. Ia bahkan tak segan menyebut istrinya gemuk di depan umum.

Tapi setiap kali kata cerai melintas, entah dari mulut ibunya atau dari pikirannya sendiri, ada sesuatu yang menahannya. Sesuatu yang bukan cinta, setidaknya ia tak yakin itu cinta, tapi lebih seperti kebiasaan yang terlalu dalam. Danti selalu ada. Danti selalu menunggu di rumah. Danti selalu membuatkannya kopi.

Dan ia tak pernah sekali pun, membayangkan hidup tanpa semua itu.

"Aku nggak pernah mikir untuk cerai, Bu," ulangnya lebih lirih. "Dia istriku."

"Istri!" Bu Sumarni tertawa sinis. "Istri macam apa yang membiarkan suaminya malu di depan keluarga?"

"Bang, kamu jangan lembek!" Rani mendesak. "Kamu tuh udah dibutakan sama dia! Pelet apa sih yang dia pakai?"

"Aku bilang nggak mau, Ran."

"Tapi..."

"NGGAK MAU!"

Bentakan Rizal menggelegar, membuat Rani terdiam. Bu Sumarni sampai tersentak.

Hening sejenak. Lalu perlahan bahu Bu Sumarni mulai bergetar. Ia memegang dadanya, wajahnya berubah dari murka menjadi iba, secepat orang mengganti saluran televisi. Ia melangkah ke kursi dan menjatuhkan diri dengan gerakan lemas, tangan terkulai.

"Ya Allah..." isaknya dramatis. "Ya Allah, begini kah nasibku? Sudah tua, sudah sendiri, masih harus dianiaya menantu sendiri. Dihina di depan orang banyak, dituduh macam-macam, disuruh nanggung utang yang bukan utangku..." Ia menyeka mata yang sama sekali tak berair. "Dan anakku, anak yang dilahirkan, dibesarkan dengan susah payah, malah membela perempuan itu."

"Bu, bukan begitu..."

"Aku ini ibumu, Zal! Sembilan bulan ku kandung! Dibesarkan tanpa suami yang sempurna, disekolahkan sampai kamu jadi orang! Dan balasan kamu begini?"

Rani langsung menghampiri ibunya, mengusap-usap punggungnya sambil melirik tajam pada Rizal. "Tuh kan, Bang! Ibu sampai sakit hati!"

Rizal menggigit bibir.

Tiba-tiba, di tengah rasa bersalah yang menyesakkan, ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Ingatan. .

Dan dengan suara pelan, nyaris berbisik ia berkata, "Bu... Danti juga nggak sepenuhnya salah."

1
ryuka
bagus rizal semakin cepat kamu masuk kurang klo bgini 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
selamat Rizal sbntar lgii km bkal masuk k jurang kehancuran 😏
Muft Smoker
awalnya emnk manis ,, tp nanti juga akhirnya anda bakal ngerasa mana yg tulus ma hidup mu ,, mana yg cuma tulus ma uang mu zal ,, 😒😒😒
ryuka
nunggu kehancuran kalian sekeluarga aku tuuuhhh 🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
haduuuhh biasa nya yg gampang terpukau itu yg gampang di bodohi 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
orang salah emang selalu cari pembenaran 🫠🫠🫠🫠🫠🫠
Muft Smoker
ayoo dantii ,, semangat berjuang ,,
ryuka
semangat dantiiii 👍👍👍👍👍👍👍
ryuka
kamu mulai terlena rizal.. haduh haduh haduhh.. /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
gpp danti ,, biarkan si Rizal hancur sndrii dg selalu merasa bnar ,,
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,
Muft Smoker
baru 1 hari atur uang belanja ,, km udh stress zal/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ryuka
naahhh mikir kamu sekarang.. haduuhh di bodohin kok mau aja sihhh
Muft Smoker
sbntar lgii jugaaa hancur dy ,, biarin aj ,,
ryuka
bodoh kamu bodoh rizal.. tunggu kehancuran kamu zal
Muft Smoker
gpp zal semakin km merasa bosan ma danti ,, semakin penyesalan dan kehancuran mendekat ke arah mu
ryuka
terlalu bodoh kamu rizal../Sweat//Sweat//Sweat//Sweat/
Muft Smoker
danti pun membalas ,, ' km banci mas ' 😒😒😒😒😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
ryuka
bagus danti.. keluarkan semua uneg2 mu biar rizal tau.. tinggal kita liat keputusan apa yang kita ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!