Aksi heroik Kapten Fikri Rafisqy ditengah perampokan swalayan berujung duka. Berusaha menyelamatkan seorang anak kecil, Fikri tak sadar peluru maut mengincar nyawanya. Naas, seorang kakek justru mengorbankan diri demi menyelamatkannya. Dalam kondisi kritis dirumah sakit, sang kakek menyampaikan wasiat terakhir: Fikri harus menikahi cucu tunggalnya, Seruni Shafira, gadis penjual bunga kini sebatang kara.
Seruni menolak tegas. Bagaimana mungkin ia harus menikah disaat impian sekolahnya masih membumbung tinggi? Namun demi melunasi utang nyawa dan amanah terakhir, Fikri menerimanya. Didepan ruang ICU, ijab kabul terucap sebelum sang kakek mengembuskan napas terakhirnya.
Kini, kehidupan mereka berubah total. Bisakah Seruni menerima takdir pernikahannya bersama pria yang terpaut jarak usia 12 tahun darinya? Apalagi, Seruni masih bersikeras memanggil suami dengan sebutan "Paman"!
Saksikan kisah cinta penuh liku, aksi menegangkan dan kepolosan Seruni yang meluluhkan hati dingin Kapten Fikri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Ke Luar Daerah
Pagi-pagi sekali, saat embun masih menetes di dedaunan halaman rumah dinas, suasana di dalam rumah sudah tampak sibuk. Kapten Fikri berdiri di depan cermin, mengancingkan seragam lapangan lengkap dengan atribut khusus dinas luar. Sebuah tas taktis berukuran besar tergeletak di dekat pintu.
Seruni yang baru saja selesai merapikan syal segitiga di kepalanya berjalan mendekat dengan wajah mengantuk. Matanya berkedip lambat menatap barang bawaan suaminya.
"Paman mau ke mana pagi-pagi begini bawa tas besar?" tanya Seruni seraya mengucek matanya yang masih agak sepet.
Fikri berbalik, membetulkan letak jam tangannya. "Saya ada tugas mendesak ke daerah terpencil di luar provinsi. Ada kasus perampokan bersenjata yang meresahkan warga desa di sana, jadi saya dan tim diutus ke lokasi."
Mendengar itu, mata Seruni seketika berbinar cerah. Hah?! Paman Kapten mau pergi jauh?! Berarti... aku bebas?! bisik hatinya bersorak kegirangan. Bibir kecilnya bahkan mulai menyunggingkan senyum yang gagal ia sembunyikan.
Fikri yang paham betul jalan pikiran istri kecilnya langsung memicingkan mata. Ia melangkah maju satu cengkiak, menatap Seruni dengan pandangan mengintimidasi.
"Jangan senang dulu, Seruni Shafira," potong Fikri dingin, mematahkan kegembiraan Seruni dalam sekejap. "Meskipun saya tidak ada di rumah, aturan tetap aturan. Kamu harus tetap pulang tidur di rumah dinas ini setiap malam."
"Ihh! Kok gitu?!" sungut Seruni langsung cemberut seratus persen. "Kan Paman tidak ada di rumah! Masa Runi sendirian di rumah besar ini?!"
"Kamu tidak sendirian. Saya sudah menugaskan seorang Polwan untuk bersiap mengawal dan menemanimu selama saya pergi," terang Fikri santai. "Dan ingat, kamu harus tetap mengirim pesan laporan seperti biasa. Kalau kamu sampai bolos laporan atau nekat tidur di toko bunga... meskipun saya berada di hutan terpencil, saya bisa memerintahkan jaringan polisi lokal untuk menyegel toko bungamu detik itu juga."
Seruni menepuk jidatnya sendiri dengan wajah dongkol setengah mati. "Paman ini benar-benar ya! Tidak ada orangnya pun tetap saja terornya sampai ke toko!"
Fikri tidak mempedulikan ocehan Seruni. Ia meraih tas taktisnya, menepuk pelan puncak kepala Seruni yang tertutup syal. "Saya berangkat dulu. Jaga diri baik-baik."
Sebelum Seruni sempat membalas, Fikri sudah melangkah keluar rumah menuju mobil dinas kepolisian yang sudah meluncur menjemputnya bersama pasukan.
Tak berselang lama setelah keberangkatan Fikri, sebuah mobil dinas lain merapat di depan rumah. Seorang Polwan berparas cantik, tegap, dan anggun keluar dari mobil. Ia adalah Briptu Mayang Sari.
"Selamat pagi, Mbak Seruni. Saya Mayang Sari yang ditugaskan Kapten Fikri untuk mengawal Mbak," sapa Mayang penuh kehangatan dan kesopanan.
Seruni meringis pelan. "Aduh, Mbak Mayang... panggil Runi saja, tidak usah pakai Mbak. Runi kan masih anak sekolah."
Begitu mobil yang dikendarai Mayang sampai di depan gerbang SMA Tunas Bangsa, hebohhnya murid-murid kembali berulang. Cindy dan Juliya yang memang sedang berdiri di pos satpam langsung berlari mendekat saat melihat Seruni turun dari mobil bersama Polwan cantik tersebut.
"Seruni! Keren banget sih kamu!" seru Cindy melotot tajam seraya memperhatikan Mayang dari atas sampai bawah. "Kemarin Paman Polisi ganteng, terus Om Dimas yang agak manis, sekarang Polwan cantik kayak model! Kamu ini sebenarnya punya hubungan keluarga sama Mabes Polri ya?!"
Seruni menghembuskan napas lelah seraya merapikan tas ranselnya. "Paman Polisi lagi ada tugas ke luar daerah, Cindy. Jadi dia mengutus Mbak Mayang."
Seruni lalu menoleh pada Mayang yang berdiri bersedekap dada di samping mobil. "Mbak Mayang, nanti sore tidak usah dijemput ya? Runi bisa naik angkot kok ke toko."
Mayang tersenyum tipis seraya menggeleng halus. "Mohon maaf, Runi. Saya tidak bisa menuruti permintaan itu. Ini perintah langsung dari Kapten Fikri yang harus saya jalankan secara presisi."
Seruni menghentakkan kakinya ke tanah. "Tuh kan! Kapten lagi, Kapten lagi! Orang tua itu tidak ada di sini saja aturan konyolnya masih jalan terus! Bikin pusing saja!" gerutu Seruni blak-blakan yang membuat Mayang terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala.
Saat Seruni, Cindy, dan Juliya melangkah menyusuri koridor sekolah menuju kelas, tiba-tiba langkah mereka terhenti. Sosok pria tegap dengan wajah tampan dan rambut tertata rapi menghadang jalan mereka.
Dia adalah Bagas, siswa paling populer dan dianggap paling tampan di SMA Tunas Bangsa. Bagas terkenal sombong karena merasa wajah tampannya bisa meluluhkan hati semua siswi.
"Hai, Seruni," sapa Bagas sok manis seraya menyenderkan punggungnya di dinding koridor. Matanya menatap Seruni dengan senyuman yang dibuat-buat pamer pesona. "Aku perhatikan dari kemarin kamu selalu diantar jemput polisi. Penasaran aja... kamu ini sebenarnya anak pejabat ya?"
Seruni yang memang paling malas berdebat dan ingin cepat-cepat masuk kelas menjawab asal-asalan tanpa beban. "Iya, aku anak pejabat. Sudah ya, mau lewat."
Jawaban polos nan ceplas-ceplos Seruni justru membuat Bagas makin yakin dengan rencananya. Semalam, Bagas sempat mengobrol dengan teman-teman segengnya di warung kopi. Bagas yang punya cita-cita masuk Akademi Kepolisian berprasangka bahwa Seruni adalah anak pejabat tinggi Polri.
'Kalau aku bisa pacari Seruni, urusanku masuk kepolisian pasti gampang banget lewat jalur dalam!' begitu niat licik yang bersarang di kepala Bagas.
Bagas langsung melangkah mendekati Seruni, mencoba bersikap perhatian. "Seruni, kalau kamu butuh bantuan apa saja di sekolah, bilang ke aku ya? Bawa barang berat, tugas sekolah, atau antar pulang... aku siap bantu kamu kapan saja."
Melihat Bagas, idola sekolah, mendadak bersikap sangat manis dan mendekati Seruni dengan agresif, siswi-siswi lain yang melintas di koridor langsung berbisik-bisik panas. Tatapan cemburu dan sinis terarah lurus pada Seruni.
"Lihat tuh, sok cantik banget sih Seruni! Masa Bagas sampai mau jadi pembantunya gitu?!" bisik salah satu siswi dengan nada dengki yang cukup keras.
"Iya, dasar gatal! Baru diantar mobil dinas saja sudah sok tebar pesona!" sahut siswi lainnya.
Cindy dan Juliya mulai merasa tidak nyaman dan ingin melabrak siswi-siswi itu, namun Seruni dengan santainya menepis tangan Bagas yang mencoba meraih tali ranselnya.
Seruni menatap Bagas dari ujung rambut sampai ujung sepatu, lalu menoleh ke arah siswi-siswi yang sedang memelototinya dengan muka julid.
"Aduh, Mbak-Mbak sekalian yang ada di sana!" seru Seruni nyaring dengan suara polos tanpa dosa, memotong pembicaraan koridor. "Kalian kalau mau ambil Bagas ini, ambil saja sana! Tidak usah ngiri atau marah-marah ke saya! Jujur ya, tipe cowok kayak Bagas begini sama sekali tidak masuk level saya! Kembalikan saja ke habitatnya!"
DEG!
Koridor sekolah mendadak hening seketika!
Cindy dan Juliya sampai menepuk jidat mereka masing-masing, tak menyangka Seruni bakal seceplas-ceplos itu menolak pesona idola sekolah di depan umum.
Wajah Bagas yang semula tersenyum manis seketika membeku. Rasa malu dan gengsinya hancur berkeping-keping dihantam kata-kata jujur dari mulut Seruni yang menganggap dirinya 'tidak selevel'.
Bagas mengepalkan tangannya rapat-rapat di dalam saku celana, menatap punggung Seruni yang melangkah santai menuju kelas tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Lihat saja nanti, Seruni..." geram Bagas dalam hati dengan mata memerah menahan malu dan dendam. "Semakin kamu jual mahal dan menolakku, semakin besar ambisiku buat memilikimu!"
Sementara itu, di sebuah desa terpencil yang berjarak ratusan kilometer dari kota, Kapten Fikri yang sedang memimpin penyisiran hutan mendadak tersedak pelan. Pria itu mengusap hidungnya yang gatal, tak menyadari bahwa istri kecilnya di sekolah baru saja membuat kekacauan baru.