NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 - Pembelaan yang Salah

Salsabila Jannati itu kalau sudah sayang sama orang, sayangnya pol-polan. Kalau sudah benci sama ketidakadilan, bencinya juga pol-polan.

Makanya malam itu dia tidak bisa tidur.

Seharian Muthi'ah tidak makan benar. Pagi cuma dua suap nasi, siangnya nampannya dikembalikan masih penuh, sore di kantin dia cuma minum air putih. Duduknya pun selalu di pojok. Bangku kelas yang biasanya diisi tiga orang di sebelahnya, sekarang kosong. Kalau Muthi'ah lewat, yang lain berbisik, lalu pura-pura sibuk.

Muthi'ah tidak nangis di depan orang. Dia nangisnya pas tahajud saja, di pojokan kamar yang gelap, suaranya ditahan biar tidak membangunkan Dina, Zahra, dan Salsa. Tapi Salsa tahu. Salsa kan tidurnya paling akhir, paling peka kalau ada yang sesenggukan.

Dan malam itu, pas lampu asrama putri sudah dimatikan jam 9 malam, Salsa melihat Muthi'ah masih duduk di atas sajadah, memeluk mushaf kecil pemberian Nyai Maryam. Tidak dibaca, hanya dipeluk. Punggungnya naik turun.

Salsa sesak.

Di asrama putri, HP itu barang haram. Aturannya harus dititipkan ke Ustazah Khadijah. Tapi hampir semua santri punya HP selundupan, diselipin di dalam lipatan mukena atau di bawah tumpukan kitab. Salsa punya satu, HP Android yang layarnya retak di ujung kiri karena pernah jatuh waktu roan.

Jam 9 lewat 15 menit, Salsa pura-pura ke kamar mandi. Kamar mandi asrama putri di ujung lorong, lampunya kuning redup, kadang kedip-kedip. Di situlah tempat paling aman buat buka HP.

Dia kunci pintu, jongkok di atas kloset biar kakinya tidak kelihatan dari luar, membuka WhatsApp.

Grup kelas putri 3B sudah 67 chat belum dibaca. Isinya foto itu. Foto crop-an hujan. Yang aslinya Jungwon yang ngasih payung, tapi di-crop jadi seolah-olah Jay yang ngasih langsung ke Muthi'ah di depan pintu aula.

Di bawah foto itu, komentarnya jahat-jahat.

Pantes jadi favorit Ustazah, ada yang jagain.

Juara musabaqah modal deketin Gus?

Kasihan yang bener-bener pinter tapi gak punya backing.

Salsa meremas HP-nya. Tangannya gemetar.

Tanpa mikir panjang, dia buka status WhatsApp. Dia ketik, jarinya cepat sekali, typo dimana-mana, dia hapus, ketik lagi.

Klarifikasi buat semua yang sudah fitnah Muthi'ah Azzahra. Foto payung yang menyebar itu HOAX. Yang ngasih payung itu Kang Jungwon, bukan Gus Jay. Gue ada di sana, gue liat sendiri pas hujan. Muthi'ah itu gak salah apa-apa! Dia juara karena dia pinter, bukan karena deketin siapa-siapa! Stop fitnah temen gue!

Dia berhenti. Napasnya masih ngos-ngosan.

Lalu dia nambahin satu kalimat lagi, kalimat yang sejak tadi mengganjal di kepalanya sejak dia lihat Nadira bawa HP pas hujan kemarin.

Yang nyebar fitnah itu Nadira, yang memang dari dulu iri sama Muthi'ah. Jangan jadi pengecut! Berani nyebar, berani ngaku!

Pencet kirim.

Detik itu juga dia screenshot statusnya, dia kirim ke grup kelas 3B, ke grup roan akbar, ke grup kecilnya Dina-Zahra-Muthi'ah.

Centang dua biru. Langsung menyebar.

Salsa keluar dari kamar mandi dengan muka puas, seolah baru saja menang perang. Di kamar, Zahra lagi rebahan sambil murojaah, Dina lagi ngeroll jilbab, Muthi'ah masih duduk di sajadah.

Zahra HP-nya getar. Dia buka. Matanya langsung melotot.

"SALSA!" bisik Zahra keras, tapi kerasnya itu kencang, langsung lari nyusul Salsa ke lorong.

Muthi'ah yang di kasur cuma ngeliat Zahra dan Dina panik. Dina juga buka HP, baca status Salsa.

"Ya Allah, Salsa..."

Salsa dengan santainya duduk di kasur, "Gimana? Gue bela lu, Muth. Biar mereka tau rasa. Biar Nadira kapok."

Zahra langsung narik Salsa ke pojokan kamar, dekat lemari kitab, suaranya gemetar nahan marah.

"Salsa, kamu nyebut nama Nadira di status! Kamu punya bukti kuat? Kamu lihat sendiri dia yang foto dan nge-crop dan nyebar? Kamu tau gak kalau kaya gini malah jadi masalah baru?" kata Zahra. Zahra itu jarang marah, kalau marah suaranya malah pelan dan gemetar.

Salsa masih ngotot, mukanya merah, "Lah, memang Nadira kan yang bawa HP pas hujan? Gue liat sendiri, Zah! Di jendela aula, dia yang ngeluarin HP! Masa kita diam aja liat Muthi'ah diginiin?"

Dina ikut nimbrung, duduk di tengah mereka, jadi penengah, "Salsa, niat lu baik, sumpah baik banget. Tapi caranya salah. Kalau lu nyebut nama Nadira tanpa bukti yang jelas di depan Ustazah, yang ada lu yang dikira nyebar fitnah balik. Nanti malah lu yang dihukum, Muthi'ah makin jadi bahan omongan."

Muthi'ah yang baru baca status Salsa di HP pinjeman Zahra, mukanya pucat. Mushaf kecil di tangannya jatuh ke kasur.

"Salsa... kenapa nyebut nama Nadira? Kita kan belum tau pasti dia yang nyebar. Aku takut..." kata Muthi'ah pelan. Suaranya kecil sekali, hampir gak kedengeran.

Benar saja. Setengah jam kemudian, efeknya kayak bom.

Status Salsa sudah di-screenshot balik sama orang lain. Di grup putri yang tadi cuma ngomongin Muthi'ah, sekarang jadi dua kubu. Kubu yang bela Muthi'ah, kubu yang bela Nadira.

Nadira yang lagi di kamarnya, yang kamarnya cuma beda dua pintu dari kamar 7, ngeliat status Salsa dari HP Lulu. Langsung nangis kejer. Bukan nangis karena menyesal sudah nge-crop foto, tapi nangis karena merasa dipermalukan di depan satu pondok.

Dia punya harga diri. Dia anak donatur, juara pidato, juara kaligrafi. Selama ini dia selalu dipuji. Sekarang namanya disebut di status sebagai tukang fitnah.

Tanpa mikir, dia langsung lari ke kantor Ustazah Khadijah malam-malam, masih pakai baju tidur, jilbabnya miring.

"Ustazah, saya difitnah, Ustazah. Salsabila nuduh saya nyebar foto, padahal bukan saya," kata Nadira sesenggukan di depan pintu kantor. Suaranya keras, sampai santri piket malam keluar.

Jam 10 malam, bel asrama dipencet panjang, tiga kali. Tanda panggilan darurat. Semua santri putri yang sudah mau tidur langsung duduk tegak.

Suara piket malam dari toa yang agak pecah: "Salsabila Jannati dan Nadira, ke kantor Ustazah sekarang. Salsabila Jannati dan Nadira, ke kantor Ustazah sekarang."

Satu asrama heboh. Kamar 7 langsung sepi. Dina, Zahra, Muthi'ah cuma bisa saling tatap.

Di kantor Ustazah Khadijah, lampunya masih nyala terang. Di meja ada dua HP yang sudah disita piket: HP Nadira yang casingnya pink, dan HP Salsa yang layarnya retak. Disaksikan Ustazah Aisyah, wali kelas lain, biar adil.

Ustazah Khadijah duduk, wajahnya gak marah meledak-ledak, tapi tegas, dingin. Itu yang bikin lebih takut.

"Salsa, Nadira, Ustazah mau dengar dari kalian berdua. Salsa, kenapa kamu nulis status seperti itu, nyebut nama Nadira?" tanya Ustazah.

Salsa nunduk, air matanya udah netes, "Soalnya Nadira yang nyebar foto fitnah Muthi'ah, Ustazah. Saya bela Muthi'ah. Saya kasian liat Muthi'ah dijauhin."

Nadira langsung nyahut sambil nangis, "Bohong, Ustazah. Saya tidak nyebar foto itu. Salsa fitnah saya!"

Ustazah Khadijah natap Salsa lama, "Salsa, kamu melihat sendiri Nadira yang memfoto dan menyebar foto crop-an itu? Lihat dengan mata kepala kamu sendiri, dia mencet tombol foto, dia nge-crop, dia kirim ke Lulu?"

Salsa diam. Dia cuma liat Nadira bawa HP pas hujan di jendela. Dia gak liat Nadira motret, gak liat Nadira nge-crop.

"Tidak... tidak melihat langsung memfoto, Ustazah. Tapi... tapi saya liat dia bawa HP pas hujan. Dan Lulu bilang dapat foto dari Nadira..." jawab Salsa terbata.

"Nah, kalau tidak melihat langsung, kenapa menyebut nama orang? Di pesantren, kita tidak boleh menuduh orang tanpa bukti, Salsa. Itu namanya membuka aib orang lain. Itu namanya su'udzon yang diumbar. Niat kamu baik, mau bela teman, tapi caranya salah. Kalau kamu bela teman dengan cara membuka aib orang lain, kamu sama saja mengajarkan teman kamu cara yang salah untuk membela," kata Ustazah Khadijah pelan tapi nusuk.

Salsa nangis. Baru sadar. Niatnya mau jadi pahlawan buat Muthi'ah, malah jadi bikin masalah baru.

Muthi'ah yang dari tadi berdiri di belakang pintu kantor, gak dipanggil tapi ikut ngintip karena khawatir, gak tahan, maju.

"Ustazah, maaf, ini salah saya. Salsa bela saya karena saya difitnah. Jangan hukum Salsa, Ustazah. Hukum saya aja," kata Muthi'ah, suaranya gemetar, matanya bengkak.

Ustazah Khadijah melihat Muthi'ah, lalu melihat Salsa dan Nadira. Dia hela napas panjang.

"Ustazah tidak akan menghukum kalian dengan dipermalukan di depan semua santri pas apel pagi. Pesantren bukan tempat untuk mempermalukan orang. Pesantren tempat untuk belajar dari salah. Dengar ya, tiga-tiganya."

Ustazah lanjut, "Salsa, kamu hapus status kamu sekarang, di depan Ustazah. Besok kamu buat klarifikasi lagi, tapi bukan klarifikasi yang menuduh orang. Klarifikasi yang minta maaf karena sudah menyebut nama tanpa bukti. Dan kamu khidmah di dapur putri selama tiga hari, bantu mbak-mbak dapur cuci piring habis makan. Biar kamu belajar, bela teman itu butuh sabar, bukan emosi."

Salsa ngangguk sambil nangis, "Inggih, Ustazah."

"Nadira, kamu juga. Ustazah tahu kamu juga ikut menyebar foto itu di grup. Ustazah sudah cek HP kamu, ada foto aslinya yang belum di-crop, masih ada di galeri. Besok kamu juga ikut ke kantor, kita selesaikan bersama Kiai dan Nyai. Sekarang kalian balik ke kamar, wudhu, istighfar, tidur. Jangan buka HP lagi malam ini," lanjut Ustazah.

Nadira kaget, HP-nya sudah dicek. Bukti foto aslinya masih ada. Dia nunduk, gak bisa ngeles lagi. Air matanya makin deres, tapi kali ini bukan karena malu, tapi karena ketahuan.

Keluar dari kantor, lorong asrama putri sepi. Cuma suara jangkrik. Salsa nangis kejer di pelukan Muthi'ah, pelukannya erat banget.

"Maaf, Muth. Gue niatnya bela lu, malah jadi ngerepotin lu. Maaf, gue bego, Muth," isak Salsa, ingusnya udah kemana-mana.

Muthi'ah meluk Salsa balik, padahal dia sendiri yang seharian gak makan, yang paling capek, tapi dia yang nenangin.

"Gapapa, Salsa. Aku tau niat kamu baik. Makasih ya udah berani bela aku," bisik Muthi'ah.

Zahra yang dari tadi diam di belakang, akhirnya bicara. Pelan tapi nusuk, kata-katanya bakal diinget mereka berempat lama.

"Salsa, Dina, Muth... denger ya. Kita bela Muthi'ah dengan adab, bukan dengan membuka aib orang lain. Kalau kita balas fitnah dengan fitnah, kita sama saja seperti yang memfitnah. Kita mau bela Muthi'ah, tapi jangan sampai kita jadi Nadira yang kedua. Mengerti? Bela itu gak harus paling keras suaranya, tapi paling benar caranya."

Salsa dan Dina diam, ngangguk. Muthi'ah ngangguk juga, air matanya netes lagi.

Malam itu, status Salsa dihapus. Tapi screenshot-nya sudah menyebar kemana-mana. Grup wali santri yang tadinya cuma ngomongin foto payung, sekarang ngomongin status Salsa yang nyebut nama Nadira. Masalah yang tadinya hanya Muthi'ah vs gosip, sekarang jadi Muthi'ah vs Nadira vs Salsa. Makin besar, makin ruwet, makin susah dilurusin.

Dan Zahra tahu, besok sidang kecil di kantor Ustazah Khadijah bakal jadi penentu, apakah dinding pesantren ini bisa membetulkan retaknya, atau malah retaknya makin lebar gara-gara pembelaan yang salah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!