Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 Putusan Hakim
Hari yang dinanti itu akhirnya tiba.
Hari Kamis pagi, jam tujuh pagi. Langit di atas Desa Suka Makmur terlihat sangat cerah dan biru, tanpa ada awan mendung sama sekali. Angin pagi berhembus pelan menggoyangkan daun-daun mangga di kebun yang berbuah lebat. Seolah alam pun ikut merestui hari ini.
Hari ini adalah hari sidang putusan. Hari dimana palu hakim akan diketuk untuk terakhir kalinya dan menentukan apakah Alya resmi berpisah dengan Arman atau tidak.
Sejak subuh, Alya sudah bangun. Ia mandi, sholat subuh, lalu sholat dhuha dengan lama sekali. Ia memakai gamis terbaiknya, gamis putih bersih yang dulu ia pakai saat akad nikah, tapi kali ini ia pakai untuk mengakhiri pernikahannya. Kerudungnya cokelat muda, wajahnya terlihat sangat tenang, cantik, dan mantap. Tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi rasa bimbang.
Nisa dan Raffi memeluk ibunya dari belakang.
"Mama cantik sekali hari ini," ucap Nisa polos.
Alya tersenyum dan mencium kening kedua anaknya.
"Hari ini Mama mau sidang terakhir, Nak. Doakan Mama ya, Nak, biar semuanya berjalan lancar."
Ustadzah Munah dan Mbak Rina sudah menunggu di teras rumah besar dengan mobil yang sudah dipinjamkan dari tetangga.
"Nak Alya, sudah siap, Nak?" tanya Ustadzah Munah dengan senyum yang penuh dengan dukungan.
"Sudah siap, Bu. Hati Alya sudah sangat siap, Bu," jawab Alya dengan mantap.
Mereka pun berangkat menuju Pengadilan Agama dengan hati yang penuh dengan harapan.
Di sisi lain, di rumah Bu Ratna yang sepi, suasana yang berbeda terjadi.
Arman duduk di kursi ruang tamu dengan wajah yang sangat pucat dan lesu. Luka di lututnya sudah sembuh, tapi ia berjalan masih sedikit pincang. Di depannya ada kemeja putih yang sama yang sudah disetrika rapi oleh Bu Ratna, tapi ia tidak semangat memakainya.
"Man, ayo berangkat, Man. Sudah jam setengah tujuh, Man. Nanti kamu terlambat sidang putusan, Man," ucap Bu Ratna dengan suara yang pelan dan penuh penyesalan. Sejak kejadian ban kempes itu, Bu Ratna tidak lagi berani memaksa Arman.
Arman menatap ibunya dengan tatapan kosong.
"Bu, untuk apa Arman datang, Bu? Alya sudah mantap ingin pisah, Bu. Alya sudah bilang sendiri waktu menjenguk Arman di puskesmas, Bu. Dia datang bukan sebagai istri, Bu, tapi sebagai ibu dari anak-anak Arman. Tidak ada sangkut pautnya dengan perceraian, Bu. Keputusan Alya sudah bulat, Bu."
Bu Ratna terdiam dan menunduk, merasa sangat bersalah.
"Maafkan Ibu, Man. Semua ini gara-gara Ibu, Man. Kalau saja Ibu tidak mengempeskan ban motor kamu, mungkin kamu masih bisa datang ke mediasi dan mempertahankan Alya, Man. Maafkan Ibu, Man..."
Arman menghela napas panjang dan akhirnya berdiri dengan berat.
"Arman tetap akan datang, Bu. Arman akan datang untuk terakhir kalinya. Bukan untuk mempertahankan lagi, Bu, tapi untuk menghormati keputusan Alya, Bu. Arman ingin mendengarkan langsung putusan hakim dengan kepala tegak, Bu."
Arman pun berangkat ke Pengadilan Agama sendirian dengan motornya yang sudah diperbaiki bannya. Hatinya terasa sangat berat, setiap putaran roda motor terasa seperti hitungan mundur menuju perpisahan.
Jam 09.00 pagi, ruang sidang C sudah penuh.
Alya duduk di kursi penggugat dengan didampingi Mbak Rina. Ustadzah Munah duduk di belakangnya sambil terus memegang tasbih dan berdoa pelan. Wajah Alya terlihat sangat tenang dan menunduk, tangannya menggenggam erat ujung kerudungnya.
Tidak lama kemudian, pintu ruang sidang terbuka. Arman masuk dengan langkah yang tertatih dan pelan. Semua mata tertuju padanya. Ia duduk di kursi tergugat yang kosong. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia dan Alya duduk berhadapan lagi di dalam ruang sidang, hanya dipisahkan oleh meja hakim.
Mereka saling bertatapan sejenak. Alya menunduk dengan sopan, Arman menatap Alya dengan tatapan yang penuh dengan penyesalan dan rasa cinta yang masih tersisa.
Hakim ketua masuk dan semua orang berdiri.
"Baik, sidang perkara nomor 123/Pdt.G/2026/PA dengan penggugat Alya binti Harun dan tergugat Arman bin Rano, dengan agenda putusan, dibuka."
Tok, tok, tok. Palu hakim diketuk.
Ruang sidang menjadi sangat hening, hanya terdengar suara AC yang berdengung pelan.
Hakim ketua mulai membacakan pertimbangan.
"Menimbang, bahwa setelah melalui proses mediasi yang dinyatakan gagal karena pihak tergugat tidak hadir, dan melalui sidang pembuktian dimana pihak penggugat tetap pada pendiriannya ingin bercerai meskipun pihak tergugat sudah mengakui kesalahannya dan ingin rujuk."
"Menimbang, bahwa berdasarkan bukti-bukti dan keterangan saksi, majelis hakim menilai rumah tangga antara penggugat dan tergugat sudah tidak harmonis dan sudah tidak dapat dipertahankan lagi, serta sering terjadi pertengkaran karena campur tangan pihak ketiga."
"Menimbang, bahwa pihak penggugat, Ibu Alya, telah membuktikan kemandiriannya dan mampu hidup bahagia bersama anak-anaknya tanpa tergantung pada tergugat, dan anak-anak dalam keadaan lebih sehat dan terurus."
Alya mendengarkan setiap kata hakim dengan jantung yang berdegup kencang. Tangannya bergetar.
Arman menunduk dalam-dalam, air matanya sudah mulai jatuh membasahi meja sidang.
Hakim ketua menarik napas panjang, lalu membacakan putusan terakhir dengan suara yang tegas dan jelas.
"Oleh karena itu, dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, Majelis Hakim Pengadilan Agama memutuskan, mengabulkan gugatan penggugat untuk bercerai dari tergugat. Menyatakan putus pernikahan antara Alya binti Harun dan Arman bin Ranondengan talak satu ba'in sughra."
Tok, tok, tok!
Palu hakim diketuk tiga kali dengan keras. Suaranya menggema di seluruh ruang sidang.
Selesai. Resmi. Putus.
Alya langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis. Tapi kali ini bukan tangis sedih, melainkan tangis haru, tangis lega, tangis bahagia yang sudah ia tahan selama lima tahun.
"Alhamdulillah, Ya Allah, Alhamdulillah..." bisik Alya dengan air mata yang jatuh deras.
Ustadzah Munah langsung memeluk Alya dari belakang dengan erat.
"Alhamdulillah, Nak Alya, Alhamdulillah. Akhirnya selesai, Nak. Kamu sudah resmi berpisah, Nak. Kamu sudah bebas, Nak."
Mbak Rina juga tersenyum dan memeluk Alya.
"Selamat ya, Mbak Alya. Prosesnya berjalan lancar, Mbak."
Di seberang meja, Arman jatuh terduduk dan menangis sejadi-jadinya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya bergetar hebat. Ia sudah resmi menjadi duda. Ia sudah resmi kehilangan istri yang sangat ia cintai dan ibu dari anak-anaknya.
Alya berdiri dan menatap Arman untuk terakhir kalinya sebagai mantan istri. Ia berjalan pelan mendekati Arman dengan langkah yang mantap.
"Man," ucap Alya pelan.
Arman mengangkat wajahnya yang penuh air mata.
"Terima kasih ya, Man, untuk semuanya, Man. Untuk lima tahun ini, Man. Alya sudah memaafkan semua kesalahan kamu man. Alya harap kamu juga memaafkan Alya ya, man. Mulai hari ini kita bukan lagi suami istri, Man, tapi kamu tetap ayah dari Nisa dan Raffi, Man. Pintu rumah Alya selalu terbuka untuk kamu kalau kamu ingin bertemu anak-anak, Man."
Arman hanya bisa mengangguk sambil menangis, tidak bisa berkata apa-apa.
Setelah itu, Alya berjalan keluar dari ruang sidang dengan langkah yang ringan seperti burung yang baru saja keluar dari sangkar. Di luar gedung Pengadilan Agama, langit terlihat sangat cerah dan matahari bersinar sangat terang.
Hari yang dinanti itu akhirnya tiba. Waktu sidang putusan itu akhirnya selesai. Dan Alya, untuk pertama kalinya setelah lima tahun, merasa benar-benar merdeka dan bahagia.
Bersambung