NovelToon NovelToon
Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: DUA BAYANGAN, SATU RUMAH

#

Sabtu itu datang dan pergi tanpa darah. Raden tidak mati. Itu yang paling aneh, dan Kenzo tidak tahu apakah ia harus lega atau curiga.

Pesta di vila tebing itu berjalan sempurna, dengan dua ratus tamu, lampu-lampu gantung, dan seorang lelaki berambut perak yang berdiri di pojok dengan segelas air putih, tersenyum pada siapa pun yang menyapanya. Kenzo mengawasinya dari balkon seberang dengan jas pelayan dan nampan di tangan, wajahnya dilindungi kacamata tebal dan rambut yang disisir ke samping. Tidak ada tembakan yang ia lepaskan. Tidak ada yang menghentikannya. Ia hanya melihat Raden yang melihat balik padanya, sekali, tepat dari seberang aula, dan mengangkat gelasnya sedikit seperti memberi hormat pada seseorang yang sudah lama ia kenal.

Raden tahu. Dan ia tidak lari.

"Kamu tidak menembak," kata Raden dua hari kemudian, di ruang bawah tanah, tanpa mengangkat mata dari papan catur. Bidak-bidak itu sekarang bergeser tiap malam, pelan, seperti orang yang akhirnya berani bernapas.

"Kontraknya nggak masuk akal."

"Tidak." Raden menggeser sebuah kuda. "Itu ujian. Dari aku."

Kenzo tidak bergerak. "Dari Anda."

"Aku harus tahu apakah The Shadow bisa dibeli oleh siapa pun yang membayar cukup." Ia akhirnya menatapnya, dan matanya tidak meminta maaf, tapi tidak menyembunyikan apa pun. "Dan soal Rendra, aku akan menjawabnya malam ini, kalau kamu mau mendengar. Tapi bukan sekarang. Ada tamu yang harus kamu temui lebih dulu."

 

Tamunya datang menjelang tengah malam, dan Kenzo mengenali tipe orang itu sebelum ia sempat duduk: pria enam puluhan, tinggi, berjas krem, bahasa Indonesianya halus dengan aksen asing yang tidak bisa ia tempatkan. Don Michael Anderson, pemilik rantai kasino di tiga kota pelabuhan, orang yang membuat satu aturan dalam hidupnya: tidak pernah mengotori tangan sendiri.

Kenzo masuk dengan topeng porselen itu, dan Anderson menatapnya cukup lama tanpa berkedip.

"Jadi ini bayangannya." Ia menyesap anggur dari gelas kristal, tidak ditawarkan pada siapa pun. "Aku dengar kamu mahal."

"Katakan targetnya."

"Langsung. Aku suka." Anderson menjentikkan jari, dan seorang pengawal menyodorkan map tipis. "Budiawan Hartanto. Pengusaha tekstil, pemilik tiga pabrik, tujuh yayasan. Orang-orang memanggilnya dermawan." Senyumnya menipis. "Dia menolak menjual tanah dermaga selatan padaku. Tiga kali. Dan sekarang dia mengancam membuka pembukuan pada wartawan."

Kenzo membuka map itu. Foto lelaki tua berwajah teduh, kacamata bundar, sedang menyalami anak-anak di depan sebuah sekolah. Di halaman berikutnya: alamat rumah, jadwal harian, daftar pengawal, dan satu catatan kecil di pinggir.

*Semua penjaga rumah baru diganti bulan lalu.*

"Tarifku sepuluh kali lipat."

"Dua puluh," kata Anderson cepat. "Aku mau dia mati dalam seminggu. Dan aku tidak mau tahu caranya."

Topeng itu tidak menunjukkan apa-apa. Tapi di balik porselen dingin itu, Kenzo menatap foto anak-anak yang tersenyum pada lelaki tua itu, dan sesuatu yang kecil dan sudah lama ia kubur bergerak sedikit.

"Aku akan menghubungi lewat Don Raden."

"Tentu." Anderson tersenyum lebar. "Aku sudah dengar, bayangan tidak pernah menolak klien yang mampu membayar."

 Di rumah besar bergaya kolonial di pinggir Marenta, Budiawan Hartanto tidak bisa tidur.

Ia berdiri di jendela ruang kerjanya dengan baju tidur dan segelas teh yang tidak diminum, menatap halaman yang dijaga empat lelaki berjaket gelap yang belum pernah ia lihat sebelum bulan lalu. Sejak surat ancaman ketiga, hidupnya terasa seperti ruangan yang makin sempit. Istrinya sudah ia kirim ke rumah anak mereka di luar negeri. Para pengawal itu disewa lewat agen, dan sesuatu di wajah mereka, cara mereka tidak pernah menatap matanya, membuat bulu kuduknya berdiri.

Ia meraih telepon tua di meja dan menekan nomor yang sudah dua puluh tahun hanya ia gunakan dua kali.

"Victor? Maaf... maaf menelepon malam-malam."

Di Kota Tua, Victor yang setengah tertidur di kursi dengan tongkat di pangkuan langsung menegakkan punggung. "Pak Budi. Ada apa? Suaramu..."

"Aku butuh bantuanmu. Sebagai teman." Lelaki tua itu terdengar malu, seperti seseorang yang meminta pinjaman dari sahabat lama. "Dulu kamu pernah menjagaku waktu pabrik hampir diserbu. Aku tidak punya siapa-siapa yang kupercaya sekarang. Kalau kamu masih... kalau lututmu masih..."

"Bapak mau aku datang?"

"Seminggu. Tidak lebih. Aku akan bayar apa pun."

"Jangan bicara soal bayaran." Victor sudah berdiri, mengambil jaket gelap dari gantungan. "Aku berangkat subuh."

Ia menutup telepon, lalu berdiri lama di tengah ruangan yang sunyi itu. Jarinya menyentuh kotak panjang di bawah papan lantai, tidak membukanya, hanya menyentuh. Tiga piring di rak dapur. Foto hitam putih di saku. Telepon retak yang masih menyimpan pesan tiga baris itu.

*Tebakanmu benar, Victor. Dan aku tidak akan menghentikannya. Tapi kau bisa.*

Kalau memang anak itu mulai menjadi apa yang dikhawatirkannya, mungkin ia tidak bisa menghentikannya lewat telepon. Mungkin ia harus kembali menjadi orang yang pernah ia tinggalkan.

 

Rumah itu bau melati dan buku tua. Victor tiba tepat saat langit mulai terang, dan Budiawan menyambutnya di teras, memeluknya erat sekali sampai lelaki tua itu terisak sebentar di bahunya.

"Kamu kelihatan tua sekali, Vic."

"Kamu juga, Pak."

Mereka tertawa kecil, dan itu terasa seperti pulang. Victor memeriksa seluruh rumah dengan mata yang sudah tiga puluh tahun belajar melihat celah: jendela belakang yang kuncinya longgar, pohon mangga yang cabangnya hampir menyentuh balkon, empat penjaga bayaran yang ia periksa satu per satu tanpa suara. Dua di antaranya punya bekas tato yang sengaja dihapus di pergelangan. Ia mencatat itu dalam diam.

"Mereka bukan orang baik," katanya malam itu di ruang makan, sambil membersihkan mulut dari sup. "Besok aku ganti dengan orang yang kupercaya."

"Aku tidak punya uang untuk..."

"Bukan soal uang." Victor menatap lelaki tua itu dengan mata kelabu yang lembut. "Aku punya hutang padamu, Pak. Waktu aku nggak punya apa-apa, kamu yang kasih aku kerja tanpa tanya apa-apa. Aku nggak akan lupa."

Budiawan tersenyum dan menuang teh, tangannya sedikit gemetar. "Kamu punya anak dua sekarang, kan? Yang kamu besarkan sendiri?"

Victor berhenti mengunyah.

"Iya." Suaranya merendah. "Dua. Tapi mereka sedang jauh."

"Bagus. Bangga rasanya mendengarnya." Budiawan menepuk punggung tangannya. "Mereka pasti anak baik, karena dibesarkan olehmu."

Victor menunduk, menatap supnya yang mulai dingin, dan tidak menjawab. Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa seperti disayat justru oleh kalimat sederhana itu.

 

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iih jadi inget.. 🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: yang baca ini.. 🤭🤭
total 4 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu harunya ingat saat pas kalian masih bersama, melewatkan segala susah senang bersama, bahkan saat tersulit pun kalian bisa menghadapinya.. jangan hanya kesalahan yang bahkan membuat Kenzo menyesal seumur hidupnya pun kamu meninggalkan dia, dan juga karena seorang cewek yang sudah memberikan hati ya padanya.. padahal Kenzo sendiri cuek sama dia kan.. dia tidak membalas perasaan Silva...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaahh cinta segitiga gak tuh nantinya... terus Silva gimana dong Ken... kamu jangan memberi harapan palsu ke Silva.. kasihan kan dia.. mana si Axel juga jadi ninggalin kamu kan karena Silva suka sama kamu.. eh kamunya malah suka sama anak musuh mu sendiri.. emang enak ditinggalin sama orang yang pernah kita sayangi dan kita percayai dalam hidup kita....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah Kenzo dong... super hero datang juga akhirnya... kak authornya pinter banget sih, lagi tegangan tinggi langsung datengin hero nya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh siapa tuh yang pakee motor🤔🤔🤔
tania Weh
kalau kekasih lama. suka gak😍?
tania Weh
dangdut ya 🤭🤭, yang dak dik duk gitu deh, kayak hatiku padamu loh 🤣
tania Weh
mungkin author nya pernah deh
tania Weh
iiiiihhhn jadi flashback deh saat aku di suapin seseorang 😍😍😍😍
tania Weh
peran jahat lagi ini
tania Weh
romantis bangeeeeett 😍😍, jadi pengen deh di peluk kak author nya 🤭
tania Weh
diskusi apa sih, 😍😍😍😍😍 , apaa jangan jangan aku ya 😄😄
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waah kak authornya mau berdiskusi dulu ternyata.. silahkan kak.. nyantai aja...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaaahh Axel kenapa kamu begitu... ahh tidaaakk.. 😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah apa maksudnya si lord ini.. dia mau memecah Axel sama Kenzo... dan siapa 2 orang yang bertopeng dengan tongkat itu.. apakah dia yang tadinya duduk di kursi roda itu kah? 😱😱😱
EVandri Beloved❤❤: yang jelas bukan penjahat waspadalah... waspadalah.. waspadalah
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaahh Axel hubungan kamu sama kenzo jangan jadi rusak gara² hal ini dong... hati tidak bisa berpindah begitu saja kan.. hati yang memilih.. kamu juga pasti tahu hati tidak bisa ditebak kita akan menyukai siapa didunia ini.. karena kalau jati sudah memilih maka kita tidak bisa menolak... pliisssss jangan jadi renggang sama Kenzo...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa lagi mereka???
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah kamu Kenzo... kenapa kamu tembak mati dulu... harusnya walaupun kamu tembak, tapi jangan di tempat yang fatal duku biar kamu bisa ngorek. informasi yang kamu cari dari dia...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apakah itu adalah ayahnya si Kenzo itu? 🤔🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah cinta segitiga nih.. Axel kamu jangan jadi begitu dong sama Kenzo.. hati tidak bisa dipaksakan untuk mencintai... kita tidak bisa memilih atau menolak haal itu... semoga kamu bisa legowo Axel... ingat kalian sudah tumbuh bersama selama ini, jangan hanya karena hal itu hubungan kalian jadi retak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!