Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: DUA BAYANGAN, SATU RUMAH
#
Sabtu itu datang dan pergi tanpa darah. Raden tidak mati. Itu yang paling aneh, dan Kenzo tidak tahu apakah ia harus lega atau curiga.
Pesta di vila tebing itu berjalan sempurna, dengan dua ratus tamu, lampu-lampu gantung, dan seorang lelaki berambut perak yang berdiri di pojok dengan segelas air putih, tersenyum pada siapa pun yang menyapanya. Kenzo mengawasinya dari balkon seberang dengan jas pelayan dan nampan di tangan, wajahnya dilindungi kacamata tebal dan rambut yang disisir ke samping. Tidak ada tembakan yang ia lepaskan. Tidak ada yang menghentikannya. Ia hanya melihat Raden yang melihat balik padanya, sekali, tepat dari seberang aula, dan mengangkat gelasnya sedikit seperti memberi hormat pada seseorang yang sudah lama ia kenal.
Raden tahu. Dan ia tidak lari.
"Kamu tidak menembak," kata Raden dua hari kemudian, di ruang bawah tanah, tanpa mengangkat mata dari papan catur. Bidak-bidak itu sekarang bergeser tiap malam, pelan, seperti orang yang akhirnya berani bernapas.
"Kontraknya nggak masuk akal."
"Tidak." Raden menggeser sebuah kuda. "Itu ujian. Dari aku."
Kenzo tidak bergerak. "Dari Anda."
"Aku harus tahu apakah The Shadow bisa dibeli oleh siapa pun yang membayar cukup." Ia akhirnya menatapnya, dan matanya tidak meminta maaf, tapi tidak menyembunyikan apa pun. "Dan soal Rendra, aku akan menjawabnya malam ini, kalau kamu mau mendengar. Tapi bukan sekarang. Ada tamu yang harus kamu temui lebih dulu."
Tamunya datang menjelang tengah malam, dan Kenzo mengenali tipe orang itu sebelum ia sempat duduk: pria enam puluhan, tinggi, berjas krem, bahasa Indonesianya halus dengan aksen asing yang tidak bisa ia tempatkan. Don Michael Anderson, pemilik rantai kasino di tiga kota pelabuhan, orang yang membuat satu aturan dalam hidupnya: tidak pernah mengotori tangan sendiri.
Kenzo masuk dengan topeng porselen itu, dan Anderson menatapnya cukup lama tanpa berkedip.
"Jadi ini bayangannya." Ia menyesap anggur dari gelas kristal, tidak ditawarkan pada siapa pun. "Aku dengar kamu mahal."
"Katakan targetnya."
"Langsung. Aku suka." Anderson menjentikkan jari, dan seorang pengawal menyodorkan map tipis. "Budiawan Hartanto. Pengusaha tekstil, pemilik tiga pabrik, tujuh yayasan. Orang-orang memanggilnya dermawan." Senyumnya menipis. "Dia menolak menjual tanah dermaga selatan padaku. Tiga kali. Dan sekarang dia mengancam membuka pembukuan pada wartawan."
Kenzo membuka map itu. Foto lelaki tua berwajah teduh, kacamata bundar, sedang menyalami anak-anak di depan sebuah sekolah. Di halaman berikutnya: alamat rumah, jadwal harian, daftar pengawal, dan satu catatan kecil di pinggir.
*Semua penjaga rumah baru diganti bulan lalu.*
"Tarifku sepuluh kali lipat."
"Dua puluh," kata Anderson cepat. "Aku mau dia mati dalam seminggu. Dan aku tidak mau tahu caranya."
Topeng itu tidak menunjukkan apa-apa. Tapi di balik porselen dingin itu, Kenzo menatap foto anak-anak yang tersenyum pada lelaki tua itu, dan sesuatu yang kecil dan sudah lama ia kubur bergerak sedikit.
"Aku akan menghubungi lewat Don Raden."
"Tentu." Anderson tersenyum lebar. "Aku sudah dengar, bayangan tidak pernah menolak klien yang mampu membayar."
Di rumah besar bergaya kolonial di pinggir Marenta, Budiawan Hartanto tidak bisa tidur.
Ia berdiri di jendela ruang kerjanya dengan baju tidur dan segelas teh yang tidak diminum, menatap halaman yang dijaga empat lelaki berjaket gelap yang belum pernah ia lihat sebelum bulan lalu. Sejak surat ancaman ketiga, hidupnya terasa seperti ruangan yang makin sempit. Istrinya sudah ia kirim ke rumah anak mereka di luar negeri. Para pengawal itu disewa lewat agen, dan sesuatu di wajah mereka, cara mereka tidak pernah menatap matanya, membuat bulu kuduknya berdiri.
Ia meraih telepon tua di meja dan menekan nomor yang sudah dua puluh tahun hanya ia gunakan dua kali.
"Victor? Maaf... maaf menelepon malam-malam."
Di Kota Tua, Victor yang setengah tertidur di kursi dengan tongkat di pangkuan langsung menegakkan punggung. "Pak Budi. Ada apa? Suaramu..."
"Aku butuh bantuanmu. Sebagai teman." Lelaki tua itu terdengar malu, seperti seseorang yang meminta pinjaman dari sahabat lama. "Dulu kamu pernah menjagaku waktu pabrik hampir diserbu. Aku tidak punya siapa-siapa yang kupercaya sekarang. Kalau kamu masih... kalau lututmu masih..."
"Bapak mau aku datang?"
"Seminggu. Tidak lebih. Aku akan bayar apa pun."
"Jangan bicara soal bayaran." Victor sudah berdiri, mengambil jaket gelap dari gantungan. "Aku berangkat subuh."
Ia menutup telepon, lalu berdiri lama di tengah ruangan yang sunyi itu. Jarinya menyentuh kotak panjang di bawah papan lantai, tidak membukanya, hanya menyentuh. Tiga piring di rak dapur. Foto hitam putih di saku. Telepon retak yang masih menyimpan pesan tiga baris itu.
*Tebakanmu benar, Victor. Dan aku tidak akan menghentikannya. Tapi kau bisa.*
Kalau memang anak itu mulai menjadi apa yang dikhawatirkannya, mungkin ia tidak bisa menghentikannya lewat telepon. Mungkin ia harus kembali menjadi orang yang pernah ia tinggalkan.
Rumah itu bau melati dan buku tua. Victor tiba tepat saat langit mulai terang, dan Budiawan menyambutnya di teras, memeluknya erat sekali sampai lelaki tua itu terisak sebentar di bahunya.
"Kamu kelihatan tua sekali, Vic."
"Kamu juga, Pak."
Mereka tertawa kecil, dan itu terasa seperti pulang. Victor memeriksa seluruh rumah dengan mata yang sudah tiga puluh tahun belajar melihat celah: jendela belakang yang kuncinya longgar, pohon mangga yang cabangnya hampir menyentuh balkon, empat penjaga bayaran yang ia periksa satu per satu tanpa suara. Dua di antaranya punya bekas tato yang sengaja dihapus di pergelangan. Ia mencatat itu dalam diam.
"Mereka bukan orang baik," katanya malam itu di ruang makan, sambil membersihkan mulut dari sup. "Besok aku ganti dengan orang yang kupercaya."
"Aku tidak punya uang untuk..."
"Bukan soal uang." Victor menatap lelaki tua itu dengan mata kelabu yang lembut. "Aku punya hutang padamu, Pak. Waktu aku nggak punya apa-apa, kamu yang kasih aku kerja tanpa tanya apa-apa. Aku nggak akan lupa."
Budiawan tersenyum dan menuang teh, tangannya sedikit gemetar. "Kamu punya anak dua sekarang, kan? Yang kamu besarkan sendiri?"
Victor berhenti mengunyah.
"Iya." Suaranya merendah. "Dua. Tapi mereka sedang jauh."
"Bagus. Bangga rasanya mendengarnya." Budiawan menepuk punggung tangannya. "Mereka pasti anak baik, karena dibesarkan olehmu."
Victor menunduk, menatap supnya yang mulai dingin, dan tidak menjawab. Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa seperti disayat justru oleh kalimat sederhana itu.