Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Usia Adelia kini genap dua belas tahun. Rasa ingin tahunya seiring waktu ia tumbuh.
Sore itu, hujan deras mengguyur kediaman mereka.
Adel duduk di sofa ruang tengah sembari memangku laptop untuk mengerjakan tugas sekolah.
Di seberangnya, Ardio sedang fokus memeriksa tumpukan dokumen tebal.
Ia melihat Paman Reno berdiri tegak bersama dua pria bertubuh kekar berjas hitam.
Adel menghentikan ketikannya. Matanya beralih dari layar laptop menuju para pengawal itu, lalu menatap Ardio.
"Papa..." panggil Adel pelan.
Ardio langsung mengalihkan pandangannya dari dokumen, ke arah Adel. "Ya, Sayang? Ada tugas sekolah yang sulit? Mau Papa bantu?"
"Bukan tugas, Pa. Adel cuma penasaran. Kenapa ya, ke mana pun Papa pergi, bahkan waktu antar Adel beli buku atau makan es krim, pasti ada Paman Reno dan Paman berjas hitam yang ikut?" tanya Adel memiringkan kepalanya, mengetuk-ngetuk dagu dengan pensil.
Ruang tengah mendadak hening sejenak.
Ardio tetap bersikap sangat tenang.
"Kenapa memangnya, Sayang? Apa Adel merasa tidak nyaman ada Paman Reno dan yang lainnya?" tanya Ardio memancing.
"Bukan tidak nyaman, Pa. Paman Reno baik kok, sering belikan Adel permen. Tapi... teman-teman Adel di sekolah, ayah mereka kalau antar sekolah ya cuma sendirian naik mobil. Tidak ada konvoi tiga mobil hitam besar, tidak ada Paman berjas rapi yang bawa alat komunikasi di telinganya. Malah waktu kemarin Adel lihat Paman berjas hitam di dekat mobil... ada benjolan keras di balik jasnya, mirip bentuk senjata api," sahut Adel jujur.
Reno sedikit berdeham pelan untuk menutupi rasa terkejutnya atas ketelitian mata Adel.
Ardio terkekeh ringan. "Adel tahu kan Papa ini bekerja sebagai apa?" panggil Ardio seraya mengusap rambut panjang putrinya.
"Tahu. Kata Papa, Papa itu pengusaha. Papa punya banyak gedung, pelabuhan, dan perusahaan," jawab Adel polos.
"Nah, benar. Papa ini pengusaha besar. Di dunia bisnis itu, tidak semua orang jujur seperti Papa. Ada banyak sekali persaingan. Kadang-kadang, ada saingan bisnis Papa yang sangat nakal dan curang," lanjut Ardio dengan nada mendongeng yang menyakinkan.
Adel menengadah. "Nakal bagaimana, Pa?"
"Ya... misalnya, karena mereka iri melihat bisnis Papa sukses, mereka suka mengirim orang nakal untuk mengganggu Papa. Atau mencoba menggertak Papa supaya Papa menyerahkan bisnis Papa ke mereka," ujar Ardio santai tanpa nada ragu.
"Ooh... jadi mereka seperti anak pembully di sekolah ya, Pa? Yang iri kalau ada teman yang pintar?" tebak Adel mencoba menghubungkan dengan dunianya.
Ardio tersenyum tipis, mengacak pelan rambut Adel. "Tepat sekali. Saingan bisnis Papa itu seperti pembully versi orang dewasa. Mereka suka main curang."
"Lalu benjolan di balik jas Paman pengawal itu benar senjata, Pa?" desak Adel lagi.
Ardio menatap Reno sekilas, lalu kembali menatap Adel.
"Itu alat pelindung, Sayang. Karena saingan bisnis Papa nakal dan suka membawa mainan berbahaya, pengawal Papa juga harus bersiap untuk melindungi Papa... dan terutama, melindungi Adel," ucapnya tersenyum.
"Melindungi Adel juga?"
"Tentu saja. Adel itu harta Papa yang paling berharga di seluruh dunia. Saingan bisnis Papa tahu kalau Papa sangat menyayangi Adel. Jadi, Papa harus memastikan ada pahlawan-pahlawan berjas hitam ini yang siap menjaga Princess Adelia dua puluh empat jam. Supaya tidak ada orang nakal yang berani mengganggu tidur nyenyakmu," kata Ardio sambil mencubit pelan hidung mungil Adel.
Adel tampak manggut-manggut memahami penjelasan itu.
"Berarti Papa ini pengusaha yang hebat ya, sampai saingan Papa takut dan bikin rencana nakal?" tanya Adel dengan mata berbinar.
"Papa akan selalu jadi yang terbaik untuk Adel. Jadi, Adel tidak perlu cemas atau bingung lagi ya? Tugas Adel cuma belajar yang rajin, tumbuh jadi anak yang bahagia, dan tersenyum setiap hari. Sisa urusan orang-orang nakal itu... biar Papa yang selesaikan," bisik Ardio hangat. Ia menarik tubuh Adel ke dalam pelukannya.
"Siap, Papa!" seru Adel mantap. Ia membalas pelukan hangat ayahnya dengan erat.
Reno menarik napas lega. Ia mengagumi betapa rapinya Ardio menyembunyikan kenyataan kelam dunia mafia dari pendengaran Adel.
Ardio menatap bayangan dirinya di kaca jendela. "Siapa pun saingan bisnis atau musuh masa lalu yang mencoba menyentuh rahasia ini, akan kupastikan mereka hancur sebelum sempat membocorkan kebenaran ini pada putriku!" batin Ardio tegas,