Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Satu minggu berlalu di Rumah Sakit Utama Deluca. Di bawah pengawasan ketat dan perlindungan mutlak dari Bashkar, kondisi fisik Zela menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Luka-luka memar di kulitnya perlahan memudar, rona merah tipis mulai kembali menyinari pipi porselennya, dan traumanya terhadap lingkungan medis bertahap mengendur.
Berkat kesabaran tak terbatas dari Bashkar yang hampir tidak pernah meninggalkan sisinya, Zela kini mulai bisa menerima kehadiran dokter spesialis dan dua suster pribadi yang ditugaskan khusus untuk merawatnya. Ia sudah mau tersenyum tipis, menjawab pertanyaan medis sederhana, dan membiarkan mereka memeriksa tekanan darahnya. Namun, batas toleransinya hanya berhenti sampai di sana. Jika ada wajah asing baru seperti staf pembersih atau pengawal lain yang tidak biasa ia lihat Zela akan refleks bersembunyi di balik tubuh tegap Bashkar atau menarik selimutnya tinggi-tinggi.
Hingga akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Dokter secara resmi menyatakan bahwa kondisi fisik Zela sudah cukup stabil untuk menjalani perawatan jalan di rumah.
Konvoi mobil SUV serba hitam milik keluarga Deluca melaju tenang memasuki kawasan mansion megah bergaya klasik modern di pinggiran kota. Gerbang besi berukir menjulang tinggi terbuka lebar secara otomatis, menyambut kepulangan sang Nyonya muda.
Saat mobil berhenti tepat di depan foyer utama, Bashkar melangkah keluar terlebih dahulu. Tanpa menunggu pelayan membukakan pintu atau menyodorkan kursi roda, pria tegap itu langsung merengkuh tubuh mungil Zela ke dalam pangkualannya, menggendongnya erat menembus pintu jati berukir yang terbuka lebar. Para pelayan dan pengawal baris menunduk hormat dengan khidmat, tidak ada yang berani bersuara bising demi menjaga ketenangan Zela.
Bashkar melangkah mantap menaiki tangga melingkar menuju lantai dua, menelusuri koridor berkarpet tebal hingga berhenti di depan pintu ganda gading yang megah. Dengan satu dorongan perlahan, pintu kamar utama itu terbuka.
Aroma lembut kayu cendana, vanilla bourbon, dan wangi bunga segar dari vas meja langsung menyergap indra penciuman Zela.
Bashkar menurunkan tubuh Zela perlahan ke atas lantai berkarpet bulu yang sangat empuk. Zela berdiri kaku sejenak, mengedipkan matanya yang bulat berulang kali sewaktu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan tersebut. Di dalam kepalanya yang masih tertutup kabut amnesia, segalanya terasa begitu baru, luas, dan asing.
Ruangan itu teramat megah. Lampu gantung kristal memancarkan pendar hangat dari langit-langit yang tinggi. Di sudut kanan terdapat area ruang santai dengan sofa kulit cokelat tua, tv berlayar lebar, dan jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan taman belakang bersalju. Sementara di tengah ruangan, berdiri kokoh sebuah tempat tidur berukuran king-size dengan sprei sutra warna abu-abu gelap dan tumpukan bantal empuk yang melimpah.
Zela memiringkan kepalanya sedikit, jarinya yang mungil menunjuk ke sekeliling ruangan dengan raut wajah polos dan melongo tak percaya mirip seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak berkunjung ke dalam istana dongeng.
"Ini... ini kamar aku...?" tanya Zela polos, suaranya dipenuhi rasa takjub yang jernih. "Segede ini...? Kamu enggak salah kamar, kan, Mas Es Batu?"
Panggilan konyol yang tak sengaja meluncur dari bibir polos Zela itu seketika menghantam dada Bashkar. Garis rahangnya yang biasanya tegang perlahan mengendur, dan sudut bibirnya terangkat tipis memancarkan senyuman samar yang teramat langka.
"Tidak salah," sahut Bashkar pelan, langkah kakinya mendekati Zela. "Ini kamarmu. Kamar kita."
Mendengar konfirmasi itu, sepasang mata bulat Zela seketika berbinar terang. Rasa canggung dan asing di hatinya menguap begitu saja, berganti dengan rasa penasaran yang meletup-letup. Lupa akan sisa-sisa rasa sakit di tubuhnya, Zela melangkah kecil melepaskan sandal bulunya.
Ia berlari-lari kecil melintasi karpet empuk, menghampiri tempat tidur raksasa di tengah ruangan, lalu dengan riang melompat naik ke atas kasur!
BOING!
"Wahhh! Empuk banget!" jerit Zela gembira, tawa renyahnya yang polos pecah memenuhi keheningan kamar.
Zela berlutut di atas kasur, lalu mulai melompat-lompat kecil di atas sprei sutra empuk itu. Rambut panjangnya yang terurai bergerak lambay mengikuti setiap lompatannya. Ia tertawa lepas, menyandarkan kepalanya ke tumpukan bantal sutra yang besar, lalu berguling ke kiri dan ke kanan bagaikan anak kecil yang baru menemukan mainan favoritnya.
"Gila, empuk banget kayak awan!" seru Zela seraya menatap Bashkar yang berdiri kaku di tepi tempat tidur. Zela menepuk-nepuk pualam kasur di sampingnya dengan wajah berbinar. "Mas Es Batu, sini! Coba tengkurap di sini, beneran empuk banget!"
Melihat kepolosan murni dan tawa renyah yang akhirnya kembali menghiasi wajah pucat istrinya, bayangan darah, dinginnya galian tanah, dan jeritan histeris Zela di malam kelam itu seolah luruh tanpa sisa dari benak Bashkar.
Penguasa underworld yang biasanya ditakuti oleh seluruh musuhnya itu kini hanya bisa berdiri mematung di samping brankar, menatap lurus ke dalam sepasang mata bulat bahagia milik istrinya dengan hangat yang menjalar penuh di seluruh dadanya.