NovelToon NovelToon
PERJALANAN MENUJU DENDAM LAMA

PERJALANAN MENUJU DENDAM LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

DENDAM BERSELIMUT TAWA

Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?

Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.

Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.

Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.

Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.

Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.

Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6- BINATANG IBLIS.

Perjalan panjang akhirnya sampai.

"ka... Kamu bantu yang lain pasang tenda, biar aku dan beberapa pengawal mencari kayu bakar dan mengamankan tempat ini" ucap Kirana.

Raka yang tengah memasang tenda langsung menoleh.

"kau yakin...?"

"tentu, lagi pula aku tak pandai memasang tenda."

setelah itu Kirana benar benar pergi bersama beberapa orang.

Setelah berkeliling ratusan meter, kelompok Kirana sama sekali tak menemukan bintang apapun.

Bahkan suara burung pun tak ada.

"nona Kirana, sepertinya ada yang aneh di tempat ini" ungkap salah satu pengawal.

Kirana mengangguk...

"memang aneh, tak mungkin tak ada hewan liar satupun di hutan yang tak terjamah manusia ini" jawab Kirana.

Lalu Kirana menoleh ke beberapa pengawal.

"kita bagi kelompok dulu, fokuslah ke sekitar sambil mengumpulkan kayu bakar dan buah buahan yang aman di konsumsi. setengah jam lagi kita berkumpul di titik ini, jika tak ada yang berubah kita kembali saja."

"baik nona.."

akhirnya kelompok itu terpecah menjadi 4 kelompok dengan berisi masing masing 5 orang.

Mereka mulai menyebar.

Saat tengah mengumpulkan kayu bakar, Kirana tiba tiba berdiri.

Ia mendengar langkah kaki serentak dari arah salah satu kelompok.

"ini..."

saat ia akan mendatangi sumber suara, dari sisi lain terdengar suara yang sama..

Kirana menoleh ke beberapa orang lainnya.

"apa kalian mendengar juga..?"

para pengawal mengangguk.

"sepertinya suara itu berasal dari 3 kelompok lainnya"

Kirana terdiam, lalu ia melihat asap merah membumbung ke udara.

"peringatan bahaya" ungkapnya.

Kirana kembali menatap pengawalnya.

"bagaimana nona, tanda bahaya ada di setiap kelompok. Yang mana terlebih dahulu yang kita bantu.."

kira diam sejenak.

"kalian bagi menjadi dua kelompok lagi dengan berisi masing masing dua orang"

tunjuk Kirana ke 4 pengawal di belakangnya.

"tapi nona, jika begitu anda akan sendiri"

"tak masalah, sekarang kita tak memiliki banyak waktu. Fokuslah ke teman teman kita yang sedang dalam bahaya, nanti kalian pergi ke kelompok B dan d, biar aku yang pergi ke kelompok c"

mereka akhirnya menurut, lagi pula ini jalan terbaik.

Memilih bersatu pun pasti hanya akan mengorbankan 2 pasukan lain.

Mereka melesat berlawanan arah, meninggalkan kayu bakar yang telah terkumpul.

Kirana melompat melewati 1 pohon ke pohon lainnya, gerakannya cepat. Namun anehnya ia merasa dia tak sampai sampai.

dia juga bisa merasakan ada suasana. Yang mendadak berbeda, apa lagi cuaca yang sebelumnya sedikit panas karena langit terang kini menjadi sejuk namun penuh sesak.

Kirana mendongak...

Seketika ia berhenti.

"kenapa langit memerah"

langit biru cerah yang sebelumnya telah menghilang, kini langit telah berubah Oren kemerahan.

ia mengeluarkan sebuah logam hitam.

"tim c, tim c.... Apa terdengar suara" ucap Kirana.

tak ada sautan, namun Kirana tak menyerah.

"tim c, aku Kirana dari tim a."

"tim c ada di sini" suara dari logam itu.

"akhirnya ada sautan" batin Kirana.

"kondisi di sini tak baik, baik saja. Kami di kejar grombolan babi hutan aneh.". Ungkap suara dari logam dengan napas yang memburu.

"babi hutan..? Jika hanya babi hutan kenapa suaramu sampai sebegitunya, jika hanya mengejar babi hutan. Kalian bisa lupakan dulu, lebih baik kita berkumpul dulu"

"tidak begitu nona, babi hutan ini sangat aneh. Mereka sangat lincah seakan sudah berlatih puluhan tahun, bahkan Sato orang dari kami sudah terluka cukup parah"

Kirana langsung mengepal, ia kembali melihat langit yang tak biru lagi.

"sial, sepertinya kamu tak bisa tenang malam ini" batinnya.

Setelah meminta posisi para tim c, Kirana langsung bergegas.

Dengan arahan tim c, Kirana mamu dengan cepat menemukan jalan yang benar.

ia berhenti setelah melihat bekas kertas peledak untuk tanda bahaya sebelumnya.

Ia menoleh ke sekitar, namun ia tak menemukan siapapun di sana.

Kirana mencoba menghubungi kembali tim c, namun sama sekali tak ada jawaban.

Walau begitu, Kirana tak menyerah. Ia terus menghubungi sampai pada akhirnya 5 orang muncul.

"nona Kirana, akhirnya kamu sampai"

"kalian tak apa" tanya Kirana sambil menatap satu per satu orang orang itu.

"kami tak apa, para babi hutan sudah berhasil di bereskan. Sekarang lebih baik kita kembali dulu"

Kirana mengangguk, ia memimpin jalan di depan.

Setelah beberapa langkah Kirana berhenti.

"ada apa nona...?" tanya salah satu pengawal.

"oh ia, kenapa kalian tak menjawab saat aku memanggil tadi"

pemimpin kelompok pengawal mengeluarkan sebuah logam hitam dengan beberapa bercak darah.

"tadi kami tak sengaja bertemu lagi dengan para babi hutan, di pertarungan aku tak sengaja merusakkan ini"

Kirana mengecek logam komunikasi itu, dan benda itu memang rusak.

"baguslah, ku kira kalian sengaja tak mau menjawab panggilanku" ungkap Kirana memberikan kembali logam hitam itu.

"mana mungkin kami berani nona..."

"baiklah, sebelum kembali apa kalian tak perlu istirahat dulu...? Bukankah kalian baru saja bertarung..? dari pada kena marah bang Tito karena hal ini, lebih baik kalian bermalam di sini menyembuhkan setamina setelah pulih, aku bisa membantu berbicara dengan bang Tito."

"tak perlu nona, lebih baik kita pulang. "

namun saat mereka melangkah, mereka kembali berhenti.

Bukan Karana ingin, tapi tubuh mereka tak bisa di gerakkan.

Kirana hanya diam, dengan lambaian tangan.

tombak hitam keluar dan bayangan samar di kaki mereka, tombak itu mengarah ke leher masing masing.

"di mana teman temanku" ucap Kirana sambil berbalik"

"nona, apa maksudmu kami ada di sini. Siapa lagi yang kamu cari."

Kirana melirik sosok yang berbicara, tangannya langsung mengayun.

Seketika tombak hitam bergerak menembus tengkorak orang itu.

tubuh itu langsung jatuh tak bernyawa.

"jangan fikir aku bodoh, kalian fikir aku bisa tertipu hanya karena wujud kalian"

saat itu, tiba tiba salah satu pengawal menyeringai.

Tubuh kecilnya tiba tiba membesar, kulit kulitnya seakan menggeliat dan berubah menjadi lebih tebal.

Walau tubuhnya masih bentuk manusia, tapi terlihat jelas kalau ukuran dan warna kulitnya berbeda dari pengawal yang sebelumnya.

Yang paling ketara perubahannya ada di bagian kepala, wajah manusia yang tadi telah menghilang. Berubah menjadi wajah babi hutan dengan taring menjulang.

Perubahan ini, langsung di ikuti 3 lainnya.

Melihat ini Kirana terdiam, konsentrasinya terganggu.

Hal ini di manfaatkan oleh ke 4 sosok yang tersisa untuk terbebas dari ikatan bayangan Kirana.

"sial, aku lengah" batinnya.

Bayangan Kirana kembali memanjang, mengejar bayangan sosok sosok itu.

Namun sayang, sosok sosok ini tak sebodoh itu.

Mereka bisa dengan cepat membaca situasi, dan menghindari bayangan Kirana.

"gadis manusia, kau lengah"

Kirana yang tadi fokus mengejar bayangan salah satu sosok sampai tak sadar kalau 2 lainnya telah menghilang.

Saat hendak menoleh, tubuhnya terpental terlebih dahulu.

ia sampai berguling beberapa kali, hingga mendapatkan tumpuan untuk berhenti.

"sial, tendangannya keras sekali" gumam Kirana yang merasakan pinggangnya terasa akan patah.

Dengan berat, Kirana mencoba berdiri tegap menghadap 4 sosok di depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!