**Surat Terakhir Bapak**
*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*
Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.
Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.
Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.
*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu Belakang
Dimas menyetir tanpa bicara selama sepuluh menit pertama. Ibu duduk dengan tas di pangkuan dan mata lurus ke jalan, sementara pasar yang mulai ramai bergeser di balik kaca: pedagang sayur membuka terpal, tukang ojek mengepulkan rokok pertama, anak sekolah berlari menyeberang. Dunia yang tidak tahu apa-apa.
"Ibu mau berhenti dulu?" tanya Dimas akhirnya. "Sarapan atau apa."
"Jam sembilan masih lama." Ibu tidak menoleh. "Tapi Ibu tidak mau sarapan. Jalan saja, Nak. Pelan-pelan."
Dimas mengangguk. Ia membelokkan mobil ke jalan memutar yang lebih sepi, melewati sawah dan deretan ruko yang belum buka.
"Ibu boleh tanya sesuatu?" kata Ibu.
"Silakan."
"Ibumu ... Ratna ... apa dia pernah bicara tentang Ibu? Selain surat itu."
Dimas diam sejenak. Tangannya mengencang di roda kemudi. "Tiap malam Jumat, dia nyalain lilin kecil di dapur. Aku tanya buat siapa, dia bilang buat orang yang bikin dia tetap hidup." Ia tersenyum tipis. "Aku pikir itu ibunya. Baru semalam aku sadar yang dia maksud Ibu."
Ibu menunduk. Jarinya mengusap ujung tas.
"Dia selalu bilang Ibu lebih kuat dari dia," lanjut Dimas pelan. "Katanya, Ibu bisa berdiri di depan tiga orang yang ingin menjatuhkan Ibu, dan cuma Ibu yang tahu kakinya gemetar."
"Kakinya memang gemetar sekarang."
"Aku tahu."
Ibu menoleh, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia benar-benar menatap Dimas. Lama. Seperti sedang mencari sesuatu di wajah itu: Hartono, Ratna, atau mungkin dirinya sendiri di masa yang tidak sempat ia jalani.
"Kamu tidak harus ikut sampai ke dalam," katanya.
"Aku bukan ikut buat Ibu saja." Dimas menelan ludah. "Aku juga ikut buat Mas Bima. Dan buat Sekar. Aku baru dua hari kenal mereka, tapi ..." Ia mengangkat bahu, tak menyelesaikan kalimatnya.
Ibu menyentuh punggung tangannya sejenak, ringan sekali, lalu menarik tangannya kembali dan menatap jalan lagi.
---
Di toko, Laras berdiri di depan layar komputer, memutar ulang file ketiga untuk kesekian kali. Suara Bapak yang serak memenuhi ruangan kosong itu, dan setiap kali menyebut nama Rukmini, dadanya seperti diremas.
"Matikan, Mbak," pinta Sekar dari bangku kerja. "Aku nggak sanggup dengar lagi."
Laras menekan jeda. Hening kembali, hanya diisi detik jam dinding dan bunyi pengering udara yang mati-hidup.
"Kita nggak bisa cuma duduk di sini," katanya.
"Kita tunggu sampai jam sembilan. Itu pesan Ibu."
"Pesan Ibu juga bilang jangan bawa polisi sebelum jam sembilan. Tapi bukan berarti kita nggak boleh nyari Bima." Laras menoleh pada Pak Surya, yang duduk di lantai dengan punggung bersandar pada rak kayu, matanya kosong. "Pak, kantor Darmawan itu di mana tepatnya? Jalan Diponegoro, lantai tiga, ruko atau gedung?"
"Gedung. Sentosa Tower, empat lantai, miliknya sendiri." Pak Surya menjawab pelan. "Lantai satu parkir terbuka, ada basement satu tingkat. Lantai tiga ruang direksi. Lantai empat ... ruang pribadinya."
"Ada pintu belakang?"
"Ada pintu servis di basement, lewat dapur gedung. Dipakai petugas kebersihan." Ia mengerjap, tiba-tiba waspada. "Kenapa Mbak tanya itu?"
Laras tidak menjawab. Ia menatap Sekar, dan Sekar balas menatapnya dengan sorot yang sama: sorot dua perempuan yang sudah terlalu lelah dijadikan penonton.
"Mbak," bisik Sekar. "Pesan Haryo bilang pintu belakang parkiran bawah. Itu pintu servis, kan?"
"Iya."
"Berarti dia bilang jujur soal lokasi."
"Atau dia memang tahu persis ke mana Ibu akan masuk." Laras menggosok pelipisnya. "Itu yang aku takutkan."
Ponsel Sekar bergetar. Ia membukanya, dan wajahnya berubah.
"Unduhannya selesai. Dari Dimas." Ia menggulir cepat, lalu berhenti. "Mbak, ada satu file tambahan yang tadi nggak ada di flashdisk. Namanya *buat_Laras_dan_Sekar.txt*."
"Buka."
Sekar membuka berkas itu, membacanya dalam hati, dan kerutan di dahinya perlahan mendalam.
"Mbak ... ini tulisan Bima. Dikirim lewat Dimas jam empat pagi. Dia tulis ..." Ia mendongak. "Dia tulis, kalau sampai jam delapan Ibu nggak bawa kabar, kita harus cek satu hal di rumah. Di bawah dipan kamar Bapak."
"Dipan kamar Bapak?"
"Ada kotak kayu kecil. Isinya katanya ..." Suara Sekar hilang. Ia menelan ludah, lalu membacakan pelan-pelan, seperti takut kalimat itu pecah di mulutnya. "*Isinya nama orang yang paling Bapak percaya di seluruh dunia, dan orang itu bukan Pak Surya.*"
Pak Surya mengangkat wajah dari lantai. Untuk pertama kalinya, wajahnya tampak lega.
---
Pukul sembilan kurang sepuluh, Ibu berdiri di trotoar seberang Sentosa Tower.
Gedung itu tidak mewah, tidak menjulang. Empat lantai kaca gelap dengan kanopi besi di depan dan satpam yang mengantuk di pos. Biasa saja, seperti kantor notaris atau agen asuransi. Justru itu yang membuat tengkuk Ibu dingin. Kejahatan yang sebenarnya tak pernah tampil mengancam. Ia duduk di balik meja dan menawarkan teh.
"Aku tunggu di mobil," kata Dimas. Ia menunjuk ujung jalan. "Kalau lewat jam sepuluh Ibu belum keluar, aku masuk."
"Kamu tidak usah masuk."
"Aku akan masuk, Bu."
Ibu menatapnya sebentar, lalu mengangguk. Ia tidak punya tenaga untuk berdebat.
Ia menyeberang pelan, berjalan melewati depan gedung seolah hanya pejalan kaki biasa, lalu membelok ke gang sempit di sisi kiri. Di sana ada jalan menurun ke basement, dengan portal besi yang terbuka separuh. Tak ada satpam. Hanya bau oli, lembap, dan lampu neon yang berkedip-kedip malas.
Basement itu hampir kosong. Dua mobil terparkir di sudut: Kijang hitam yang Ibu kenali dan sedan abu-abu tua. Di dinding paling ujung ada pintu baja dengan tulisan *SERVIS* yang sudah mengelupas.
Pintu itu terbuka sedikit.
Ibu berhenti sepuluh langkah darinya. Jantungnya berdetak keras sampai ia khawatir terdengar sampai ke atas. Ia membayangkan Bapak, di bengkel tua itu, menuangkan teh ke gelas seng sambil bertanya apakah ia sudah makan.
Lalu ia melangkah.
"Bu."
Suara itu datang dari balik pintu, rendah dan hati-hati. Seorang lelaki bergeser dari bayangan: bahu lebar, jaket hitam, rambut pendek. Wajahnya, di bawah cahaya neon yang berkedip, tampak jauh lebih muda dan jauh lebih letih daripada kemarin.
Haryo.
Ia tidak membawa senjata. Kedua tangannya terbuka di sisi tubuh, telapak menghadap ke depan, seperti orang yang tahu ia sedang dinilai.
"Terima kasih sudah datang," katanya.
Ibu tidak menjawab. Matanya turun ke tangan lelaki itu, pada ibu jari kirinya yang melengkung sedikit ke dalam, kebiasaan yang sama dengan Kardi dulu, kebiasaan yang selalu membuatnya mual setiap kali melihat.
"Namamu bukan Haryo," kata Ibu. Suaranya bergetar, tetapi tidak patah.
"Itu nama yang dikasih Pak Darmawan."
"Nama aslimu?"
Haryo diam. Lama. Ia tampak sedang menimbang sesuatu yang lebih besar dari sekadar jawaban. "Saya tidak tahu, Bu. Saya dibesarkan di panti. Waktu umur dua belas, ada orang yang mengambil saya, memberi saya nama baru, bilang saya anak yatim piatu." Ia mengangkat wajah. "Baru tiga tahun lalu, waktu saya sakit dan dioperasi, golongan darah saya tidak cocok dengan catatan lama. Saya mulai mencari."
"Dan kamu menemukan Ibu."
"Saya menemukan nama Rukmini di arsip panti. Tertulis sebagai ibu kandung yang meninggalkan saya tiga hari setelah lahir." Suaranya turun. "Saya pikir Ibu sudah meninggal. Lalu Pak Darmawan memperlihatkan foto Ibu, foto di pantai itu, dan bilang, 'Perempuan ini yang membuangmu.'"
Ibu memejamkan mata sekejap.
"Dia bohong," bisiknya. "Aku tidak membuangmu. Kardi yang mengambilmu dariku."
"Saya tahu." Haryo menelan ludah. "Dua hari lalu, setelah Pak Hartono meninggal, saya mendengar sesuatu dari ruang kerja Pak Darmawan. Beliau bicara dengan seseorang lewat telepon, tertawa, bilang 'anak itu sudah masuk perangkap'. Saya mengintip. Saya lihat berkas-berkas. Semua tentang Ibu, tentang saya, tentang kapan harus saya dipakai." Rahangnya mengeras. "Saya cuma alat, Bu. Alat terakhir dia."
"Dan sekarang kamu mengkhianatinya."
"Saya sudah terlambat dua puluh enam tahun sebelum itu."
Ibu menatapnya, dan di antara cahaya neon yang berkedip, ia melihat seorang lelaki empat puluh satu tahun yang berdiri dengan bahu tegak tetapi mata seperti anak yang tersesat di terminal. Ia tidak mengenali apa pun di wajah itu, kecuali satu hal: cara menahan tangis tanpa mengubah ekspresi. Cara yang sama yang ia pelajari sendiri sejak umur tujuh belas.
"Di mana Bima?" tanyanya.
"Di lantai empat, Bu. Utuh. Dia tidak diapa-apakan." Haryo membuka pintu baja lebih lebar, menyingkir ke samping. "Tapi ada satu hal yang harus Ibu tahu sebelum naik."
"Apa?"
Haryo menarik napas. "Waktu perekamnya ketahuan, Mas Bima tidak melawan. Dia tidak menyangkal, tidak memohon. Dia hanya tersenyum dan bilang, 'Aku sudah tahu kamu akan menemukannya.'"
Ibu mengerutkan kening. "Maksudnya?"
"Itu sebabnya saya takut." Haryo menatapnya lurus. "Karena sejak itu, Pak Darmawan tidak lagi bicara pada saya seperti sebelumnya. Dia bicara pada Mas Bima. Dan Mas Bima bicara balik seperti orang yang sudah tahu apa yang akan terjadi."
Dari lorong di balik pintu baja, terdengar bunyi lift tua yang berderit turun, pelan dan teratur. Lampu neon berkedip sekali lagi, lalu padam seluruhnya.
Dalam gelap, Haryo berbisik, begitu dekat hingga napasnya terasa di pipi Ibu:
"Bu, saya tidak tahu siapa yang sebenarnya memegang kendali di atas sana. Tapi saya yakin satu hal: yang menunggu Ibu bukan Pak Darmawan yang mengundang. Itu Mas Bima."
Pintu lift terbuka. Cahaya putih menyapu lantai basement, dan di dalamnya berdiri Bima, kaus hitamnya sudah berganti kemeja putih rapi, kedua tangan di saku, wajah tenang seperti orang yang sudah menunggu lama.
"Bu," katanya lembut. "Aku senang Ibu datang. Sekarang kita bisa mulai."