Namaku sari, umur 19 tahun menikah dengan suami yang aku cintai. tapi baru 6 bulan menikah , tetangga janda kaya sebelah rumah terus menggoda suamiku dengan uang. apakah rumah tanggaku akan hancur? Kisah nyata dari mamuju yang bikin menangis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Rumah baru dan hati yang berdebar
Mobil mewah Arya berhenti di depan sebuah rumah kontrakan yang sangat bagus. Rumah itu tidak terlihat seperti kontrakan biasa. Rumah itu besar, bersih, ada taman kecil di depannya dan catnya masih baru berwarna putih.
"Ini kontrakan saya Una. Sudah lama kosong karena memang tidak saya sewakan. Kamu tinggal di sini saja. Kuncinya ada dua, satu untuk kamu, satu untuk saya kalau darurat," kata Arya sambil membukakan pintu mobil untukku.
Aku turun dengan ragu. "Kak Arya, ini rumahnya terlalu bagus untuk saya. Saya takut tidak bisa bayar."
Arya tertawa, "Sudah saya bilang gratis Una. Kamu tidak perlu pikirkan uang. Kamu fokus sembuhkan dulu hatimu yang luka itu. Anggap saja ini bantuan dari kakak untuk adiknya."
Aku masuk ke dalam rumah. Di dalamnya sangat wangi dan bersih. Ada sofa, ada tempat tidur besar, ada dapur lengkap, bahkan ada AC. Jauh lebih bagus daripada rumahku dengan Rizal dulu yang hanya gubuk kayu.
Air mataku menetes lagi, tapi kali ini bukan karena sedih, tapi karena terharu. Masih ada orang baik di dunia ini.
"Kamar mandinya di sana, dapurnya sudah ada beras dan telur di kulkas. Kamu masak saja. Kalau butuh apa-apa telpon saya, nomor saya ada di kartu tadi ya," kata Arya.
Aku mengangguk, "Terima kasih banyak kak Arya. Saya tidak akan lupakan kebaikan kakak."
Arya menatapku lama. Tatapannya berbeda. Bukan tatapan kasihan, tapi tatapan kagum. "Una, boleh saya jujur? Sejak pertama lihat kamu menangis di warung tadi, hati saya bergetar. Kamu cantik sekali, bahkan saat menangis. Saya tidak tahu kenapa, tapi saya merasa harus melindungi kamu."
Jantungku berdebar sangat kencang mendengar kata-kata itu. Wajahku memerah. Sudah lama sekali tidak ada laki-laki yang bicara seperti itu padaku. Rizal bahkan tidak pernah memujiku seperti itu.
"Kak Arya jangan bercanda," kataku gugup.
"Saya serius Una. Saya sudah lama tidak merasakan ini. Saya pengacara, saya biasa bertemu banyak wanita cantik di kota, wanita kaya, wanita model. Tapi tidak ada yang membuat hati saya berdebar seperti kamu. Kamu beda. Kamu tulus," kata Arya sambil mendekat.
Aku mundur selangkah. Aku takut. Aku baru saja disakiti oleh suamiku. Aku trauma dengan laki-laki.
Arya sadar aku takut. Dia langsung mundur. "Maaf Una, saya tidak bermaksud membuat kamu takut. Saya tidak akan macam-macam. Kamu istirahat saja. Saya permisi dulu."
Arya pergi meninggalkan rumah. Aku mengunci pintu dan terduduk di sofa empuk itu.
Hati ini berdebar. Ada rasa aneh yang tidak bisa aku jelaskan. Arya tampan, kaya, pengacara, dan sangat baik padaku. Jauh berbeda dengan Rizal yang hanya buruh bengkel.
Tapi apakah aku pantas? Aku hanya janda muda berusia sembilan belas tahun yang baru diusir suami. Aku tidak punya apa-apa. Sedangkan Arya punya segalanya.
Malam itu aku mandi dengan air hangat untuk pertama kalinya. Aku memakai baju tidur yang ternyata sudah disiapkan Arya di lemari. Bajunya baru dan wangi.
Aku melihat diriku di cermin. Wajahku memang cantik. Mungkin inilah alasan Bu Ratna takut padaku dan ingin menyingkirkanku. Karena aku lebih cantik dan lebih muda darinya.
Aku berjanji pada diriku sendiri di depan cermin itu. "Una, kamu harus bangkit. Kamu harus jadi wanita kaya dan sukses. Kamu harus buat Rizal dan Bu Ratna menyesal telah menginjak-injak kamu."
Tiba-tiba hp ku berdering. Nomor tidak dikenal. Aku angkat.
"Una, ini saya Rizal," suara itu.
Darahku mendidih. Untuk apa dia telpon aku setelah mengusirku?
"Apa lagi? Mau hina saya lagi?" kataku marah.
"Una, kamu di mana? Bu Ratna marah-marah, dia minta kamu tanda tangan surat cerai besok. Dia mau kita cepat nikah," kata Rizal tanpa rasa bersalah.
Aku mematikan telpon itu dengan kasar. Tanganku gemetar menahan amarah.
Janda kaya itu benar-benar ingin merebut suamiku secepatnya.
Aku langsung telpon Arya, "Kak Arya, Rizal minta saya tanda tangan surat cerai besok."
Di seberang telpon, suara Arya terdengar tegas, "Jangan tanda tangan apapun Una sebelum saya lihat. Besok pagi saya jemput kamu. Kita lawan mereka bersama. Saya akan jadi pengacara kamu. Gratis."
Mendengar kata-kata Arya, aku merasa aman. Untuk pertama kalinya, ada yang membela aku.
Besok akan jadi hari penentuan. Apakah aku harus cerai atau bertahan?