"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Ampun, Mayor!
Setiap pagi, Ita selalu setia duduk di kursi kayu samping ranjang. Ia mengusap wajah Vina dengan handuk basah, menyisir helai demi helai rambut hitam sahabatnya yang tersisa di balik perban, dan membacakan doa-doa lembut di samping telinga Vina. Ita bahkan mengambil cuti dari pekerjaannya di panti asuhan hanya untuk memastikan Vina tidak sendirian sewaktu-waktu matanya terbuka.
Namun, di samping kanan ranjang ... ada satu kursi pengunjung berbahan kulit sintesis berwarna biru yang tetap kosong.
Tidak ada buket bunga. Tidak ada jejak kehadiran. Dan tidak pernah sekalipun ada langkah sepatu lars yang kaku menapak di atas ubin ruangan itu.
Dua minggu berlalu bagai keabadian yang membeku.
Selama empat belas hari penuh, Mayor Yudhana tak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di rumah sakit. Pria itu tetap menjalankan rutinitasnya di markas dengan dada tegap, menghadiri rapat komando, memimpin latihan prajurit, dan menghabiskan malam-malamnya dalam jamuan makan hangat bersama Tanti dan kerabatnya. Bagi Yudhana, ketidakhadiran Vina di rumah dinas hanyalah sebuah aksi aksi mogok makan atau mogok pulang dari seorang wanita yang sedang merajuk.
Hingga pada suatu sore di hari keempat belas, saat sinar matahari senja berwarna oranye redup menerobos masuk lewat celah tirai kamar perawatan ....
Ita sedang tertidur lelap dengan kepala bersandar di tepi kasur Vina, masih menggenggam erat jemari sahabatnya.
Bip ... bip ... bip-bip-bip ...
Frekuensi detak monitor jantung di samping ranjang mendadak berubah ritme. Grafiknya melompat naik pelan. Desis mesin respirator terganggu oleh sebuah hembusan napas alami yang terengah dari dada Vina.
Jemari tangan kanan Vina—jemari dingin yang selama dua minggu terkulai kaku dalam genggaman Ita—tiba-tiba bergerak tipis. Ujung telunjuknya mengetuk pelan kulit tangan Ita.
Ita tersentak bangun. Matanya yang sembap berkedip kaget, memandang ke arah jemari Vina yang kembali bergerak pelan.
"Vin ...?" bisik Ita dengan suara bergetar, memburu menatap wajah sahabatnya.
Kelopak mata Vina yang tertutup rapat selama empat belas hari penuh mulai bergerak-gerak pelan. Bulu matanya yang lentik bergetar halus di bawah pendar redup lampu ruangan. Dengan usaha yang sangat berat, kelopak mata itu perlahan-lahan terangkat, membuka celah sempit yang memperlihatkan sepasang bola mata cokelat bening di baliknya.
Dunia yang hitam pekat dan dingin itu perlahan-lahan runtuh, digantikan oleh pendar cahaya putih yang kabur dan menyengat mata.
"Dokter! Dokter!" jerit Ita histeris, melompat dari kursinya dan berlari menuju pintu depan tanpa melepaskan tatapannya dari ranjang. "Dokter, sahabat saya sadar!"
Di atas ranjang, Vina mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan. Rasa nyeri yang tumpul masih tersisa di kepala dan dadanya, namun rasa sakit yang membakar dadanya dua minggu lalu ... secara ajaib telah hilang tanpa bekas.
Mata bening itu bergulir pelan, menatap langit-langit kamar rumah sakit yang asing, lalu berpindah menatap sosok Ita yang berlari masuk kembali bersama seorang dokter dan perawat.
Vina membuka bibirnya yang kering dan pecah-pecah di balik masker oksigen. Suaranya meluncur sangat tipis, hampir tak terdengar di antara desis mesin.
"Ta..."
***
Sinar matahari pagi menerobos tipis lewat celah tirai putih kamar rawat inap, membiaskan garis-garis cahaya ke emas yang menimpa keramik dingin. Aroma tajam cairan pembersih lantai dan antiseptik bercampur lengket di udara. Di ujung ranjang besi, lembar catatan medis berwarna merah muda tergantung kaku pada papan jepit, bergoyang pelan setiap kali terpaan angin pendingin ruangan melintas.
Tes ... tes ... tes ...
Cairan infus di dalam kantong transparan menetes teratur, mengalir menyusuri selang bening menuju jarum yang terpasang di punggung tangan Vina. Di atas peraduan, jemari tangan kanan wanita itu kembali mengelak halus. Garis grafik hijau pada monitor jantung di samping tempat tidur berdenyut lebih rapat, menandai alur napasnya yang perlahan teratur tanpa bantuan selang ventilator.
Dokter baru saja selesai melepaskan respirator beberapa saat lalu, mengonfirmasi bahwa fase kritis dua minggu telah terlewati. Vina sudah bisa bernapas secara mandiri, meski kesadarannya masih mengambang di antara batas mimpi dan kenyataan.
"Vin, aku keluar sebentar ya?" bisik Ita pelan, menunduk di samping ranjang. Jemarinya mengusap lembut dahi Vina yang masih tertutup perban tipis. "Aku mau beli bubur hangat di depan sekalian lapor ke suster di pos jaga kalau kamu udah bangun total. Kamu jangan gerak-gerak dulu."
Vina tak menjawab secara lisan. Kelopak matanya bergetar tipis, hanya sanggup memberi rintikan gerakan kecil sebelum kembali terpejam lemah.
Ita menghembuskan napas lega, merapikan selimut putih yang menutupi dada sahabatnya hingga sebatas leher. Ia meraih tas kecilnya, lalu melangkah keluar kamar dengan pijakan pelan agar tak menimbulkan kegaduhan.
Sepeninggal Ita, kamar rawat nomor 304 itu kembali diselimuti keheningan yang janggal. Hanya ada suara dengung halus pendingin udara dan ritme teratur dari mesin pemantau tanda vital.
Brak!
Derak pintu kayu berpelapis cat putih itu mendadak terbuka paksa, menghantam pembatas dinding di belakangnya hingga menimbulkan dentuman nyaring.
Langkah kaki tegap yang dilapisi sepatu lars kulit beradu kencang dengan lantai keramik. Suara ketukan tumitnya kaku, beruntun, dan penuh dominasi. Seseorang melangkah masuk tanpa mengetuk, membawa serta hawa dingin yang asing dan aroma wewangian maskulin yang pekat ke dalam ruangan yang steril.
Mayor Yudhana berdiri di tengah ruangan.
Ini adalah hari ke-empat belas sejak kecelakaan di persimpangan jalan raya itu terjadi. Pria itu datang bukan dalam balutan pakaian bebas atau raut wajah panik seorang suami yang cemas menanti kabar keselamatan istrinya. Ia berdiri tegap menggunakan seragam dinas harian bergaris tegas, lengkap dengan papan nama logam mengkilap di dada kanan dan baret hijau tua yang terselip rapi di bawah lidah pundaknya.
Di matanya, tidak ada rasa lega. Tidak ada pula jejak air mata atau lingkaran hitam akibat begadang menunggui sang istri. Yang terpancar dari sepasang manik mata pekat itu hanyalah kejengkelan yang memuncak dan keangkuhan yang membeku.
Yudhana melangkah mendekat ke sisi ranjang. Pandangannya menyapu tubuh Vina yang terbaring kaku, lalu tertuju pada jejak luka gesek yang mulai mengering di pipi wanita itu. Namun, bukannya rasa kasihan yang muncul, Yudhana justru menganggap seluruh pemandangan di depannya sebagai sebuah pementasan teater yang sangat terencana.
bersambung...
Vina benar jadi untuk apa takut di lihat suaminya,,, orang cari uang halal ko dan
apa bila mau protes dan marah marah ,,Vina juga bisa menyampaikan kepada Kakek Gema iya to,,,wong cucunya yang selingkuh bahkan seolah Vina hanya di jadikan babu ,,,sedang dirinya mirip buaya muara ngecas sama wanita lain ko ga malu sama rekan atau bawahannya, biarpun banyak uang buat apa ga menghargai wanita notabene sebagai istri,,anjit ga banget lihat tiap hari di samperin sama si pELaKoR,,najong tralala,,😡😡