NovelToon NovelToon
My Shit Boss

My Shit Boss

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.

Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.

Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.

Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.

Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 10

Part 10

Malamnya, Alfan pulang dengan wajah dan tubuh lelah. Ia ingin segera istirahat di ranjangnya, bisa dilihat dari langkah kakinya yang langsung menuju kamarnya. Namun saat masuk ke dalam kamar, mamanya sudah berada di sana sedang merapikan tempat tidurnya seperti biasa.

"Kamu sudah pulang?"

"Iya, Ma."

"Kamu mau mandi?"

"Enggak, Ma. Mau langsung tidur aja." Alfan menjatuhkan tubuhnya di ranjang, sedangkan mamanya hanya menghela nafas panjangnya.

"Kamu kalau sudah nikah jangan kaya gini ya, Al. Nanti Tina enggak mau tidur sama kamu, masa pulang kerja enggak mau mandi?" Wanita itu duduk di sisi ranjang, menatap jijik ke arah putranya yang seenaknya tidur sebelum mandi, padahal kalau di luar rumah, Alfan adalah sosok lelaki rapi dan wangi, penampilannya yang biasa maskulin sering kali dinilai dingin sebagai pemimpin.

"Kalau enggak mau tidur sama aku, tinggal aku ikat aja di ranjang, Ma." Alfan menjawab malas, ia benar-benar lelah sekarang, merasa tak minat menjawab pertanyaan mamanya.

"He, kamu enggak boleh ya perkosa istri, sekarang itu ada undang-undangnya. Kamu bisa masuk penjara, tau enggak kamu?"

Di balik tengkurapnya, Alfan membulatkan matanya, padahal matanya sempat menyipit ingin terlelap, namun ucapan mamanya itu justru membuatnya ingin terjaga. Dengan cepat, Alfan membalikkan tubuhnya lalu membangunkannya dan duduk di samping mamanya.

"Mama ngomong apa sih?" Alfan bertanya tak habis pikir, bisa-bisanya mamanya itu berkata fulgar seperti itu dengannya.

"Memangnya Mama ngomong apa?"

"Ya tadi Mama bilang perkosa, Mama enggak sungkan ngomong gitu ke aku?" Alfan menatap tak percaya ke arah mamanya, namun mamanya itu justru menghela nafas panjangnya.

"Kenapa harus sungkan? Kamu kan putra Mama. Dan lagi, yang Mama bicarakan itu enggak fulgar kok. Kamu kan sebentar lagi akan menikah, kamu juga harus mengerti sedikit tentang pernikahan itu seperti apa?"

"Jadi Mama bilang tidur itu maksudnya aku ... Tina ... begitu?" Alfan bertanya kaku yang justru membuat mamanya tertawa kecil.

"Sepertinya hidup kamu itu terlalu fokus ke pendidikan dan pekerjaan ya? Sampai hal kaya gitu aja kamu ngomongnya kaku. Iya, maksud Mama seperti itu. Tina enggak akan mau tidur sama kamu kalau pulang kerja aja kamu enggak mau mandi." Wanita itu tersenyum, merasa lucu dengan putranya yang satu itu, namun ia bahagia bisa melihat putranya bahagia.

"Aku belum memikirkan sejauh itu, Ma. Tolong jangan berbicara hal aneh, apalagi tentang pernikahanku dengan Tina." Alfan memalingkan wajahnya, merasa malu saja bila membicarakan hal itu pada mamanya, terlebih lagi karena belum tentu ia bisa menikah dengan wanita itu.

"Mama mengatakan beberapa hal tentang pernikahan, karena Mama cuma enggak mau pernikahan kamu seperti Mama dan Papa, yang sempat hancur karena orang ketiga." Wanita itu menundukkan wajahnya, sedangkan Alfan hanya terdiam mendengarkan keluhannya.

"Salah paham, kurang komunikasi, kurang bisa mengerti satu sama lain, dan orang ketiga, membuat Mama dan Papa sempat ingin menghancurkan tali rumah tangga. Sekarang kamu akan menikah, Mama harap kamu bisa mengerti Tina begitupun sebaliknya, Mama cuma enggak mau kamu menjalani pernikahan yang sama." Wanita itu mengelus puncak kepala putranya, matanya berkaca-kaca bila mengingat masa lalunya.

"Aku mengerti, Ma. Aku juga enggak mau menjalani pernikahan seperti itu, dulu aku sempat berpikir untuk enggak menikah, aku takut menyakiti siapapun termasuk Mama. Tapi kehadiran Tina di hidupku, membuat aku berpikir untuk mencoba mewujudkan pernikahan yang indah." Alfan menyunggingkan senyumnya, ia memang sempat terpuruk dengan apa yang namanya cinta, itu karena rumah tangga orang tuanya sempat membuatnya trauma.

"Mama enggak nyangka kamu pernah berpikir sejauh itu, tapi sekarang Mama senang, akhirnya kamu bisa bahagia dengan wanita yang kamu cintai. Pasti Tina sudah membuat kamu sangat jatuh cinta ya, sampai kamu bisa berani bangun dari trauma keluarga kita?"

Alfan tersenyum mendengar ucapan mamanya, ia juga merasa seperti itu, meski ia sendiri belum berani mengatakan yang sebenarnya pada Tina, namun setidaknya ia akan berusaha memperjuangkannya.

"Iya, Ma. Tina sudah membuat aku jatuh cinta bahkan jauh sebelum Mama dan Papa bertengkar karena orang ketiga."

"Maksud kamu, Tina itu orang yang kamu sukai sejak lama?" tanya wanita itu terdengar tak yakin, merasa penasaran dengan kisah cinta putranya.

"Iya, Ma. Tina itu gadis tomboi di sekolah SD ku dulu. Tapi di tengah semester dia pindah sekolah, karena orang tuanya ada masalah. Mulai hari itu aku belum bisa melupakan dia, sampai aku kerja dan lupa semuanya, dia justru melamar kerja di kantor Papa." Alfan tersenyum kecil saat mengingat masa itu, masa di mana ia melihat Tina untuk pertama kalinya setelah perpisahan mereka di sekolah.

"Oh ya? Mama senang dengarnya, itu berarti kalian berjodoh kan?"

"Aku enggak tahu, Ma. Tapi yang pasti aku akan berusaha membuatnya bahagia."

"Baiklah. Oh ya, kamu dan Tina sudah berencana akan menikah, tapi Papa dan Mama belum ke rumah orang tua Tina, sebaiknya kamu atur waktu ya supaya kita bisa membicarakan pernikahan antar keluarga." Alfan seketika terdiam kaku, merasa bingung karena belum memikirkan hal itu.

"Soal itu aku dan Tina enggak buru-buru kok, Ma. Aku juga belum bertemu dengan papanya Tina, jadi kita bisa punya banyak waktu untuk bertemu." Alfan memalingkan wajahnya, berusaha untuk terlihat biasa saja.

"Begitu ya? Tapi jangan lama-lama ya, nanti Tina diambil orang lagi," goda sang mama yang seketika ditatap tak suka oleh putranya.

"Ya Mama doakan aku lah supaya Tina dan aku bisa menikah dan bahagia," jawab Alfan terdengar kesal membuat mamanya tersenyum melihat tingkah laku putranya.

"Iya-iya. Ya sudah kamu istirahat lagi sana, Mama ke kamar dulu." Wanita itu membangunkan tubuhnya, sedangkan Alfan juga turut mendirikan tubuhnya, membuat mamanya keheranan melihatnya.

"Kamu mau apa?"

"Mau mandi," jawab Alfan seadanya yang kali ini disenyumi oleh mamanya.

"Tumben mandi? Biasanya langsung ke alam mimpi. Takut Tina enggak mau tidur sama kamu ya kalau kalian sudah menikah?" goda sang mama.

"Memangnya kenapa? Enggak boleh. Ya udah aku tidur lagi, enggak mau mandi." Alfan kembali menjatuhkan tubuhnya ke ranjang, membuat mamanya tersenyum melihat tingkah lakunya. Putranya itu selalu saja seperti itu, jauh berbeda saat dia berada di luar rumah, bertemu banyak orang dan para karyawan.

"Ya sudah, Mama pergi dulu ya. Kamu istirahat saja."

"Iya." Alfan menjawab singkat dengan posisi yang sama, sampai saat mamanya keluar dari kamarnya, dengan cepat Alfan membangunkan tubuhnya lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

1
Renjana
aku pun ikut kaget,🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!