NovelToon NovelToon
Batal Cerai Setelah Suami Mendengar Isi Pikiran Sang Istri

Batal Cerai Setelah Suami Mendengar Isi Pikiran Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:636.3k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.

Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.

Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.

Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.

Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.

Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”

Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Pekerjaan sebagai sekretaris ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang pernah dibayangkan Alina. Pagi hari dia sudah harus berhadapan dengan tumpukan jadwal, dokumen, telepon, rapat, dan berbagai urusan Lorenzo. Belum lagi atasannya sendiri yang sepertinya tidak mengenal istilah toleransi. Satu kesalahan kecil saja sudah cukup untuk membuat Lorenzo mengangkat kepala dari balik layar komputer.

“Alina, ini salah.”

“Maaf, saya perbaiki.”

“Jangan sampai salah lagi.”

“Iya.”

Belum lima menit berlalu, suara Lorenzo kembali terdengar. “Alina.”

“Ya, Tuan?”

“Dokumen ini belum ditandatangani.”

“Sebentar, saya—”

“Bukan sebentar. Sekarang.”

Alina menarik napas panjang. “Baik.”

Wanita itu merasa seperti sedang mengikuti pelatihan militer. Bedanya, bukan komandan yang berdiri di depannya, melainkan suaminya sendiri.

Lorenzo benar-benar berubah menjadi mode killer setiap kali berada di kantor. Tidak ada senyum, tidak ada candaan, apalagi toleransi terhadap kesalahan.

Menjelang sore, Alina sudah hampir tidak merasakan punggungnya. Dia masih duduk di depan komputer ketika Lorenzo akhirnya mengalihkan pandangan dari layar.

Pria itu melirik ke arah jendela kaca besar di belakang meja kerjanya. Cahaya matahari sudah mulai berubah warna. Langit yang sejak siang terang perlahan menjadi jingga.

Lorenzo kemudian berdiri dan merapikan jasnya. “Ayo, pulang.”

Alina mengangkat wajah. “Hah?”

“Hari ini kita disuruh datang ke rumah utama.”

“Oh. Ya.” Jawabannya pendek dan pelan. Alina segera mematikan komputernya.

Namun, Lorenzo bisa mendengar pikiran yang jauh lebih berisik daripada suaranya.

“Akhirnya selesai juga pekerjaan yang bagaikan neraka ini!”

Sudut bibir Lorenzo terangkat tipis. Dia sengaja membuat Alina sibuk seharian. Bukan karena ingin menyiksanya. Dia hanya ingin memastikan wanita itu tidak punya kesempatan untuk melamun dan memikirkan hal-hal aneh seperti siapa pria yang menghamili Rose, apakah dirinya impoten, atau berbagai pertanyaan lain yang terkadang membuat kepalanya sendiri ikut sakit.

Sayangnya, rencana itu tidak sepenuhnya berhasil. Alina memang sibuk bekerja, tetapi sesekali dia masih sempat memaki Lorenzo dalam hatinya dan Lorenzo mulai terbiasa mendengarnya.

Mereka pulang terlebih dahulu ke rumah. Tidak ada waktu untuk bersantai. Alina langsung masuk kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Lorenzo juga melakukan hal yang sama. Setelah siap, keduanya kembali masuk ke mobil dan berangkat menuju rumah utama keluarga Romano.

Rumah utama itu sangat besar. Bangunan megah tersebut berdiri di atas lahan luas dengan halaman yang tertata rapi. Beberapa bodyguard berjaga di berbagai titik. Mereka bekerja bergantian selama dua puluh empat jam penuh untuk memastikan keamanan keluarga. Meskipun begitu, suasana di rumah tersebut justru terasa tenang, tidak ada suara berisik. Setiap orang bekerja di tempatnya masing-masing.

Begitu mobil berhenti, seorang pelayan segera membukakan pintu. Lorenzo turun lebih dahulu, kemudian Alina menyusul.

Mereka berjalan masuk ke dalam rumah. Belum sampai beberapa langkah, suara seorang wanita langsung menyambut mereka.

“Lorenzo!”

Valentina datang menghampiri putra semata wayangnya. Tangannya langsung memeriksa lengan dan bahu Lorenzo seperti seorang ibu yang memastikan anaknya benar-benar pulang dalam keadaan utuh.

“Kamu jangan memaksakan diri saat bekerja,” ujar Valentina lembut. “Jangan sampai sakit lagi.” Tatapan matanya tampak berkaca-kaca.

Lorenzo tersenyum kecil. “Aku sudah sehat, Ma. Mama tidak usah khawatir.”

Valentina masih memandangi wajah putranya. “Kepala kamu sudah tidak pusing?”

“Tidak,” jawab Lorenzo tersenyum tipis. "Cuma pusing dengar ocehan isi hati Alina saja," batinnya.

“Kakinya?”

“Sudah baik.”

Baru setelah yakin, Valentina mengembuskan napas lega. Kemudian tatapannya beralih kepada Alina. Ekspresi lembut di wajahnya berubah sedikit lebih tegas.

“Alina.”

“Iya, Ma?”

“Kamu harus memperhatikan segala kebutuhan Lorenzo. Kesehatan dan keselamatan Lorenzo menjadi tanggung jawab kamu.”

Alina tersentak kecil. “Iya, Ma.”

Namun, pikirannya langsung menggerutu.

“Huh! Apa tidak salah aku yang harus menjaga Lorenzo? Dia kan pria dewasa, bukan bayi lemah.”

Lorenzo menoleh kepadanya. Alina pura-pura tidak melihat.

Belum sempat Valentina mengatakan sesuatu lagi, terdengar suara langkah dari arah ruang keluarga.

“Lorenzo, cucu kesayangan Nenek!” Isabella muncul dengan wajah cerah.

Wanita tua itu langsung menghampiri Lorenzo dan memeluk cucu kesayangannya. “Kamu baik-baik saja, kan?”

“Iya, Nek.”

Isabella melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua pipi Lorenzo. “Kamu kelihatan kurus.”

Lorenzo tersenyum manja. “Aku baik-baik saja, Nek.”

“Nenek harus memastikan kamu makan dengan baik.”

“Iya.”

“Tidur juga cukup?”

“Cukup.”

“Jangan terlalu banyak bekerja.”

“Iya.”

Alina berdiri beberapa langkah dari mereka sambil menatap keduanya. Sudut bibirnya bergerak sedikit. Dia sudah hafal drama antara Lorenzo dan Isabella. Kalau berada di dekat neneknya, pria itu mendadak berubah menjadi cucu kesayangan yang sangat patuh.

Alina memalingkan wajah. Dia sudah bisa membayangkan panjangnya omelan Isabella.

“Kalau nanti Lorenzo mulas dan kentut terus, jangan-jangan aku yang bakal disalahkan. Karena salah kasih makan dan masuk angin.”

Tak lama kemudian, mereka semua duduk di meja makan. Meja panjang itu sudah dipenuhi berbagai macam hidangan. Jumlah makanannya bahkan terlihat berlebihan untuk lima orang.

Alina memandangi meja tersebut mulai dari makanan pembuka sampai penutup. Bahkan beberapa hidangan khusus yang hanya disiapkan dalam porsi tertentu.

Hal itu memang sudah menjadi kebiasaan keluarga Romano. Setiap anggota keluarga memiliki makanan kesukaan dan alergi yang berbeda-beda, sehingga meja makan selalu terlihat penuh.

Alessandro duduk di kursi utama. Meskipun usianya sudah berkepala lima, pria itu masih terlihat sangat tegap dan terawat. Rambutnya tertata rapi, bahunya lebar, dan posturnya masih kokoh. Jika orang yang tidak mengenalnya melihat Alessandro berdiri bersama Lorenzo, mungkin mereka akan mengira Alessandro adalah kakak sulung Lorenzo, bukan ayahnya.

Makan malam berlangsung tenang. Sampai akhirnya Alessandro membuka pembicaraan.

“Lorenzo.”

Lorenzo meletakkan sendoknya. “Ya, Pa?”

“Apa kamu sudah mendapatkan laporan terbaru dari kepolisian mengenai kecelakaan itu?”

Lorenzo mengangguk.

“Katanya itu kecelakaan murni, Pa. Tidak ditemukan tanda-tanda sabotase.”

Alessandro tidak langsung menjawab. Jarinya mengetuk meja pelan. Alessandro terlihat berpikir beberapa saat.

“Kamu tetap cari orang untuk menyelidiki kejadian itu secara menyeluruh. Tanpa melihat hasil penyelidikan polisi?”

Alessandro menatap putranya dengan serius. “Cari tahu dari awal. Jangan hanya mengandalkan laporan yang sudah ada.”

Lorenzo mengerutkan alis, diam mendengarkan. Lalu, dia mengangguk. “Baik, Pa.”

Alina hanya mendengarkan sambil menikmati pudingnya. Pembicaraan seperti itu bukan sesuatu yang asing baginya. Keluarga Romano memang selalu berhati-hati. Terutama para pria dalam keluarga tersebut. Mereka terbiasa memastikan segala sesuatu sebelum mempercayai kesimpulan.

Alina melirik Lorenzo.

“Entah kenapa yang satu ini agak melenceng sedikit.”

Dia kembali menyendok puding. Alina kemudian melanjutkan makannya dengan santai. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Alessandro tiba-tiba menoleh kepadanya. “Alina.”

Alina berhenti mengunyah. “Iya, Pa?”

“Kalian sudah menikah selama tiga tahun. Kenapa belum juga hamil?”

Sendok di tangan Alina berhenti di udara. Dia berkedip dua kali. Pertanyaan itu benar-benar di luar dugaannya. Selama ini Alessandro tidak pernah membicarakan soal anak dengannya. Biasanya, orang yang paling sering ribut mengenai keturunan adalah Isabella.

Alessandro melanjutkan dengan nada tenang. “Sekarang sudah saatnya kalian memikirkan keturunan Romano.”

Alina menelan pudingnya dengan susah payah. “I-iya, Pa.”

Lorenzo diam di sampingnya. Dia juga tidak menyangka ayahnya akan membahas hal tersebut malam ini.

Alina menunduk. Pikirannya mulai berputar. Bagaimana menjawab pertanyaan seperti itu? Mereka sudah menikah tiga tahun, tetapi hubungan mereka bahkan tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya.

Alina menggigit bibir. Dia melirik Lorenzo. Kemudian sebuah pikiran melintas begitu saja.

“Bagaimana mau punya anak ... Burung Lorenzo saja tidak hidup!”

Lorenzo yang saat itu sedang meneguk air langsung tersedak.

“Uhuk!”

Air yang ada di dalam mulutnya menyembur keluar. Air itu tepat mengenai wajah Alessandro.

Semua orang di meja makan langsung membeku. Alina membelalakkan mata. Valentina menutup mulut. Isabella terdiam dengan sendok masih di tangannya. Sementara Lorenzo sendiri membeku dengan mata membesar.

Alessandro perlahan mengusap wajahnya. Satu tetes air masih mengalir dari dagunya. Tidak ada seorang pun yang berani bersuara.

Alina menunduk sangat dalam. Wajahnya memerah.

“Ya Tuhan ....”

Lorenzo memejamkan mata. Dia tidak tahu harus marah kepada siapa. Semuanya gara-gara satu pikiran Alina.

1
Felycia Fernandez
pantesan gak update ya kk Thor,semoga cepat sembuh ya kk.banyak minum air putih hangat kk...
Hadi Mulyono
ini bab panjaang
Atik Kiswati
next......
RiriChiew🌺
emang salah nya kamu ed , dulu hrusnya tanya Lorenzo dulu gimana kejadian nya bukan langsung menuduh dan balas dendam kaya beginii 😔
Inooy
setelah semua misteri kematian Xavier terbuka dengan jelas, nyesel kan kamu Ed?
maka nya sebelum kamu benar2 menyalahkan seseorang atas kematian kaka mu..sebaik nya kamu telusuri dulu kebenaran nya sampai sedetail detail nya, jangan hanya meliat sepotong video yg g lengkap kamu langsung menyalahkan orang tanpa tau kebenaran yg sebenar benar nya....
setelah smua nya terbuka, sekarang kamu tanggung konsekuensi dendam mu Ed..karena akibat dendam mu kamu mencelakai Lorenzo yg notabene telah berusaha menyelamatkan kaka kamuu...
jadiiii siap2 hukum yg akan mengambil alih masalah kamu, Ed....
ryuka
haduuhh edgar kamu terlalu sulit mempercayai nya ya
Inooy
Ya Allah aq kira kaka sehat2 aj, pantesan up nya lama..aq pikir lg rehat sejenak utk mengembalikan mood yg suka naik turun, ternyata rehat nya benar2 rehat karena sakit 🥺
cepet sehat dn pulih lg y ka Santi,,biar Alina dn Lorenzo nya g kesepian 🤭
sehat selalu kakaaaa...!!!!
Inooy
sekarang kamu mengakui klo Lorenzo membantu kalian utk bebas dr penyekapan..kenapa waktu om Roberto belum datang dn belum berbicara soal kebebaran tetang kejadian belasan tahun k belakang,,kamu dn Pabio dengan yakin nya menyalahkan Lorenzo..kamu takut ama kemarahan om Roberto yg sangat amat melindungi alorenzo??
maka nya klo mo ngomong kebenaran itu d pikirin dulu baik buruk nya,,jangan hanya demi menyelamatkan diri sendiri kalian mengorbankan orang lain...lagian udh jelas2 4 kluarga udh berbicara tentang kejadian itu dn udh saling menerima dn memahami nya..kenapa kalian tiba2 seolah olah g tau apa2??? 😡
Inooy
nah lhoo saksi hidup lain nya masih ada, dn saksi hidup nya bakalan murka ama kalian Pabio dn Darius..karena pernyataan kalian yg asal bunyi udh bikin seorang Lorenzo d siksa Edgar....
siap siaaaap kalian menerima erupsi nya seorang Robertoo!!!! ha ha haaaa
Inooy
tuuuh kaan kalian g bisa menjelaskan secara rinci, padahal kalian jg korban penculikan tersebut..aneh aj kalian langsung menyalahkan Lorenzo, padahal dr awal kalian d sekap kalian tau Lorenzo jg tertangkap..dn tau jg gimana berusaha keras nya Lorenzo membantu kalian utk bebas,,tp koq sekarang malah seolah olah Lorenzo yg bersalah atas kematian Xavier..ada apa dengan kalian??

bikin emosi aj s Pabio ama s Darius inii..😤
Inooy
dn kalian jg jangan asal men-judge Lorenzo..tooh video kalian cuma sepotong d tambah lg kalian keburu pingsan kaan..jd kronologi keseluruhan nya tidak tau pasti.....
hati2 atas pernyataan kalian, orang yg kalian fitnah bukan orang sembarangan..kalian seolah olah menuduh Lorenzo 100% bersalah, kalian menuduh Lorenzo menjadikan Xavier tameng bagi diri nya..padahal kalian tidak tau d balik tubuh Xavier yg tidak secara langsung membentengi tembakan bagi Lorenzo...kalian hanya berasumsi sendiri, ato mungkin kalian hanya berlindung dr kemarahan Edgar?
tp kalian menyepelekan kemarahan nya Alina dn papa Alessandro klo terbukti pernyataan kalian membuat Lorenzo menderita dn terluka!!!
Ummee
iyaa... knp si edgar bebal banget, gengsi kali ya mau ngaku salah

semoga lekas sembuh kak, sehat²...
Arin
Biar Edgar tau sebab dan akibatnya karena berusaha mencelakai Lorenzo. Akibat dendam lama yang salah sasaran
Ummee
lah... ternyata pengkhianat nya orang yg ditolong dulu, apa motifnya coba?
tau gitu dulu jgn ditolong
Inooy
ternyata teman lucknat yg udh bikin Edgar salah paham dn mengakibatkan Lorenzo jd bulan bulanan dendam nya Edgar....
Pabio dn Darius kalian layak nya anjing yg lg kejepit d tolongin, tp ngebalas gigit orang yg nolongin kalian ckckck....
seandai nya dulu kalian g d tolongin Lorenzo, aq yakin kalian g akan hidup kaya sekarang..kalian benar2 teman durjanaa, g mikir apa ketika Lorenzo mati matian nolongin kalian..sampe2 Lorenzo mempertaruhkan nyawa nya jg??? 😡
sekarang malah kalian memutarbalikkan fakta..ingaaat hukum tabur tuai Pabio, Dariuuus!!!! 😤
Halimah
Makanya Gar....Edgar jd orang tuh yg pinter jgn bodoh.Cuma dr potongan sebuah video singkat km lgsg menyimpulkan sendiri tanpa km cari tau kejadian sebelumnya gmn Malu ga Lo skrg???? pasti malu laaaah
Halimah
Emang iya bebal bgt si Edgar...Getok aja thor pake palu biar pinteran dikit🤣🤣🤣
Semangat thor semoga lekas sehat ya
Uba Muhammad Al-varo
Edgar makanya kepintaran otak mu dipakai untuk menyelidiki kebenaran yang sebenarnya terjadi bukan malah pintar kebelingger jadinya salah paham 🤔🤔🤔
Halimah
Tegang bgt bacanya...Itu Pablo n Darius oon apa gmn sih? udah d tolongin malah kek gitu
Pa Muhsid
gak tau bakal dikibulin Sama nyonya muda mu Antonio
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!