Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".
Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Deg-degan" itu masih ada, bahkan setelah mobil Pak Rhaegar hilang di tikungan jalan.
Kila mengunci pagar dengan tangan gemetar. Senyumnya tidak bisa hilang. Jantungnya masih berdetak tak karuan seperti habis lari maraton.
Setelah ganti baju, Kila merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Berencana mau tidur, tapi matanya tidak bisa terpejam.
Tanpa sadar, dia senyum-senyum sendiri. Mengingat kebersamaannya dengan Pak Rhaegar tadi di dalam mobil. Walau hanya sebentar, hanya sunyi dan suara hujan, tapi itu sudah cukup membuatnya bahagia setengah mati.
Dia berguling-guling di atas kasur, sambil tersenyum seperti orang gila, memeluk gulingnya erat-erat.
"Gila, bisa-bisanya aku suka sama bapak dosen itu," gumam Kila, mukanya kembali merah padam.
Di saat dia masih guling-guling seperti orang linglung, HP-nya yang tergeletak di samping bantal bergetar.
Elvano: Bocil, udah sampai rumah?
Elvano: Tadi hujan gede banget, aku ngebut soalnya khawatir kamu.
Kila langsung duduk tegak. Senyum gilanya karena Pak Rhaegar hilang seketika.
Padahal yang kehujanan di jalan malam itu bukan dia, tapi Elvano.
Kila buru-buru mengetik, rasa bersalahnya muncul.
Kila: Udah sampai kok. Kamu gimana? Kehujanan nggak?
Elvano: Nggak, aman. Jaketnya jangan lupa dicuci ya, bau keringet aku tuh 😆
Kila: Nggak mau, malas banget.
Elvano: Ya udah nggak usah dicuci, pakai terus aja biar kangen sama aku terus.
Kila: Apaan sih.
Elvano: Ya udah kamu tidur gih. Jangan begadang mikirin aku.
Elvano: Selamat tidur ya, bocil.
Kila: Selamat tidur juga.
Kila meletakkan HP di dada. Layarnya sudah mati, tapi senyumnya masih ada. Beda senyumnya. Kalau tadi senyumnya deg-degan, malu-malu, dan gila karena Pak Rhaegar, sekarang senyumnya hangat, nyaman, dan tenang.
Dua rasa yang berbeda dalam satu malam.
"Ahhh sudahlah, tidur saja, besok kan harus bangun pagi pulang ke rumah Mama Lydia," katanya pada dirinya sendiri, menarik selimut.
Kila akhirnya tertidur setelah bersusah payah melawan rasa deg-degannya yang tidak mau hilang.
Dalam tidurnya dia berharap bisa memimpikan bapak dosen tampan itu lagi, tapi ternyata yang datang justru mimpi buruk.
Kila terbangun dari tidurnya, napasnya tersengal, detak jantungnya tak karuan. Keringat dingin membasahi dahinya. Kamarnya gelap gulita.
"Itu cuma mimpi," gumam Kila, mencoba mengatur napas dan detak jantungnya yang berdebar kencang bukan karena cinta, tapi karena takut.
"Aku sepertinya memang harus pulang," ucap Kila lirih, yang masih terbayang jelas mimpi buruknya tadi.
...****************...
Pagi itu Kila tidak butuh alarm.
Dia sudah bangun sejak jam lima, dengan mata sembab dan jantung yang masih berdebar sisa mimpi buruk semalam.
Tas sudah dia packing semalam. Isinya cuma beberapa baju dan charger. Tidak banyak, karena rencananya dia hanya liburan sebentar.
Jam 6 pagi, dia sudah menyalakan motornya. Perjalanan yang cukup lama dan melelahkan itu pun dimulai. Sepanjang jalan, dia hanya fokus ke depan, mencoba melupakan apa yang dia lihat di mimpinya.
"Itu cuma mimpi," gumamnya lagi, seperti mantra yang ia ulang-ulang sepanjang perjalanan.
Akhirnya dia sampai di depan rumah tempat dia dibesarkan oleh kedua orang tuanya.
Rumah besar yang selalu sepi karena penghuninya selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Rumah yang megah tapi dingin. Hal itu juga yang membuatnya akhirnya memutuskan untuk tinggal sendiri di rumah kecilnya. Karena meskipun tinggal di sini pun dia selalu kesepian.
Kila tidak memberi tahu siapa pun tentang kepulangannya hari ini. Rencananya mau memberi kejutan untuk Mama Lidya.
Tapi dari luar pagar, dia sudah mendengar keributan. Suara piring pecah. Suara bentakan.
"Ada apa ya ribut-ribut? Tumben, biasanya juga sepi kayak kuburan," gumam Kila sambil memarkirkan motornya dengan tergesa dan berjalan menuju pintu masuk yang sedikit terbuka.
Dia membuka pintu pelan, dengan senyum kejutan yang sudah disiapkan di wajahnya.
Senyum itu langsung hilang. Hancur seketika.
Pemandangan di dalam bukan kejutan yang dia harapkan. Itu adalah kejadian yang tidak pernah diharapkan oleh anak mana pun di dunia ini, termasuk dirinya. Papa Adrian dan Mama Lidya sedang bertengkar hebat di ruang tengah. Kata-kata kasar yang tidak pernah ia dengar sebelumnya keluar dari mulut Papa Adrian.
Tanpa sadar bulir bening dari kelopak matanya jatuh membasahi pipinya. Dadanya sesak.
Kila yang sudah tidak sanggup melihat kejadian itu pun berbalik dan berencana untuk pergi. Kabur saja dari rumah itu.
BRAK!
Saat berbalik dengan air mata berlinang, dia menabrak seseorang dengan keras. Kepalanya mendarat tepat di dada bidang yang kukoh milik orang itu. Aroma parfum yang sangat ia kenal.
Tanpa mengatakan apa pun orang itu langsung memeluknya erat, seperti tahu apa yang baru saja Kila lihat. Seperti sudah menunggu Kila di situ. Akhirnya Kila pun menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan orang itu.
"Kakak kok nggak pernah cerita masalah Mama sama Papa?" kata Kila masih terisak dalam pelukan kakaknya satu-satunya itu, Kak Elvar.
"Maaf ya Kil, bukannya Kakak nggak mau kasih tahu kamu tapi Kakak nggak mau kalau kamu jadi kepikiran masalah ini. Kamu lagi ujian juga kan," kata Kak Elvar masih memeluknya erat dan mencoba menenangkannya, tangannya mengelus punggung Kila.
"Terus kapan Kakak mau ngasih tahu aku, hah?" kata Kila kesal sambil memukul-mukul dada kakaknya dengan pelan, masih sesenggukan.
"Iya maafin Kakak ya?" katanya sambil mengelus bagian belakang kepalanya dengan sayang.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama mereka, kok mereka bisa bertengkar seperti itu?" tanya Kila melepaskan pelukannya, menatap Kak Elvar dengan mata sembab.
"Kita bicara di luar aja ya, nggak enak di sini. Nanti Kakak jelasin semuanya," kata Kak Elvar sambil menuntunnya masuk ke mobilnya yang terparkir di depan.
Setelah beberapa menit mereka pun sampai di kedai ice cream langganan mereka sejak kecil. Kak Elvar memang paling tahu apa yang bisa membuat Kila sedikit tenang. Tapi tetap saja Kila tidak bisa sesenang biasanya mengingat kejadian di rumah tadi.
"Ayo masuk, pesan sebanyak-banyaknya yang kamu mau, hari ini Kakak yang traktir," kata Kak Elvar sambil merangkul Kila masuk.
"Kakak nggak usah repot-repot, aku lagi nggak mood. Mending Kakak cepat cerita deh masalah Mama sama Papa," jawab Kila tak sabar, suaranya masih bergetar.
"Ya udah, kita masuk dulu, duduk dulu ya."
Setelah memesan dan mendapat tempat duduk di pojok yang sepi, Kak Elvar pun mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tentang orang ketiga. Tentang Papa Adrian yang berubah. Kila pun lagi-lagi menangis, tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut kakaknya itu. Rasanya dadanya dihantam batu besar, sesak sekali rasanya, badannya seketika lemas tak bertenaga. Kak Elvar yang melihat adiknya terus menangis kembali memeluknya dari samping.
"Udah ya, jangan nangis lagi," kata Kak Elvar mencoba menenangkannya.
"Tapi... kok Papa tega sih, padahal selama ini Papa selalu baik sama kita kan Kak? Papa sayang banget sama Mama," kata Kila masih terisak, air matanya tak berhenti.
"Kakak juga nggak tahu Kil. Ya udah kamu makan ice cream kamu dulu, tuh udah mau meleleh," kata Kak Elvar sambil menyodorkan cup ice cream coklat favorit Kila.
"Gimana kalau mereka benar-benar bercerai, kita harus gimana Kak?" tanya Kila lirih, ketakutan terbesarnya keluar.
"Kita doakan saja yang terbaik buat Mama sama Papa, kamu jangan sedih gitu dong, lagian kamu masih punya Kakak kan? Kakak di sini terus buat kamu," kata Kak Elvar menatap adiknya dengan tulus.
"Tapi kan Kak..." Kila belum menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Kak Elvar menyuapinya ice cream dengan sendok.
"Udah... kamu makan ice cream aja, nggak usah dipikirin lagi, Kakak janji bakal cari cara biar Mama sama Papa nggak jadi cerai," kata Kak Elvar berusaha meyakinkannya dengan janji yang berat.
"Kamu habisin tuh ice cream kamu, habis itu Kakak antar kamu pulang."
"Aku nggak mau pulang ke rumah, aku nggak mau ketemu sama Papa," kata Kila kesal sambil memakan ice creamnya dengan paksa.
"Kamu harus pulang dong, setidaknya kamu harus ketemu sama Mama kan? Kamu nggak kasihan sama Mama? Mama pasti butuh kamu sekarang," kata Kak Elvar menasehati Kila dengan lembut.
"Hmm... ya udah deh aku pulang," jawab Kila akhirnya.
***
Sesampai di rumah, suasana sudah kembali sepi. Seolah pertengkaran tadi tidak pernah terjadi. Kila pun disambut hangat oleh Mama Lidya di ruang tengah. Mama bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi, dengan senyum yang dipaksakan, padahal Kila tahu hatinya sekarang sedang hancur. Bagaimana tidak, laki-laki yang sudah bersamanya hampir 30 tahun lamanya itu tega mengkhianatinya.
"Anak cantik Mama, udah pulang?" kata Mama Lidya sambil memeluknya erat.
Kila yang sudah sedari tadi menahan air matanya, tak mampu lagi membendungnya, tangisannya kembali pecah saat merasakan pelukan hangat Mama yang bergetar.
"Kok anak Mama nangis?" tanya Mama Lidya khawatir, mengelus rambut Kila.
"Nggak apa-apa kok Ma, aku cuma kangen sama Mama," kata Kila ngeles tak mau Mama tahu kalau dia sudah tahu tentang perceraiannya dengan Papa. Dia tidak mau membuat Mama semakin sedih.
"Beneran nggak apa-apa? Kalau ada masalah cerita sama Mama ya, Nak."
"Nggak kok Ma, beneran deh," jawab Kila dengan senyum terpaksa yang penuh air mata.
"Uhhh anak Mama, udah besar juga masih nangis," kata Mama Lidya mengelus lembut kepalanya, menahan tangisnya sendiri.
"Ya udah aku istirahat dulu ya Ma, capek banget soalnya," kata Kila tak mampu lagi berlama-lama bersama Mama, takut pertahanannya jebol.
"Iya sayang, Mama juga mau balik kantor dulu, kalau lapar bilang sama Bibi aja."
"Kakak juga mau balik kantor dulu, kamu baik-baik di rumah ya Kil. Jangan kemana-mana," kata Kak Elvar.
"Iya Ma, iya Kak, hati-hati di jalan," kata Kila sambil melangkah gontai menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Setelah sampai di kamar masa kecilnya, Kila pun menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang dingin. Rasanya lelah sekali, bukan karena perjalanan, tapi karena hatinya. Dia pun memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur. Namun bayangan tentang pertengkaran Papa Adrian dan Mama Lidya terus membayanginya. Tanpa disadari air matanya kembali membasahi pipinya. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan pernikahan orang tuanya.
ayok ada dibaca🤭