NovelToon NovelToon
Ku Sadari Cintaku Setelah Kamu Pergi

Ku Sadari Cintaku Setelah Kamu Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: rini sya

Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.

Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.

Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.

Hati Jihan hancur.

Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.

Jihan hanya terdiam.

Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.

Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Di Instagram

Sore itu, Juan sedang bersantai sejenak di ruang kerjanya. Setelah menyelesaikan beberapa tugas dari Hansen, ia membuka Instagram untuk memperbarui unggahan di akun pribadinya.

Awalnya, Juan hanya berniat melihat beberapa postingan teman. Namun, jarinya mendadak berhenti ketika sebuah foto muncul di layar ponselnya.

Foto itu diunggah oleh seseorang yang tidak terlalu dikenalnya. Tampak beberapa orang sedang menikmati waktu santai di sebuah kafe. Ada yang berpose bersama, ada pula yang sibuk mengobrol sambil menikmati minuman.

Namun, perhatian Juan justru tertuju pada sosok perempuan di bagian belakang foto.

Perempuan itu duduk di dekat jendela, sedang menikmati secangkir minuman. Wajahnya terlihat sedikit menyamping, tetapi Juan mengenalinya dengan sangat baik.

"Jihan?"

Juan spontan memperbesar foto tersebut.

Ia mengamati wajah perempuan itu sekali lagi. Tidak salah lagi. Itu memang Jihan.

Meskipun hanya tertangkap kamera secara tidak sengaja, Juan yakin betul bahwa perempuan tersebut adalah mantan istri bosnya.

"Astaga, akhirnya ada juga jejaknya."

Juan segera menyimpan tangkapan layar foto tersebut. Ia kemudian membuka profil pemilik akun yang mengunggahnya.

Sayangnya, tidak ada informasi jelas mengenai lokasi foto itu diambil. Keterangan unggahannya pun hanya berisi kalimat singkat tentang menikmati waktu bersama teman-teman.

Juan tidak mau membuang kesempatan. Ia langsung mengirim pesan pribadi kepada pemilik akun tersebut.

Halo, maaf mengganggu. Saya ingin bertanya tentang perempuan yang ada di foto unggahan Anda. Perempuan yang duduk dekat jendela sambil memegang cangkir. Apakah Anda mengenalnya?

Beberapa menit berlalu, tetapi belum ada balasan.

Juan kembali memeriksa pesan itu. Ia bahkan mencoba mengirim satu pesan tambahan.

Saya sedang mencari informasi tentang beliau. Jika Anda mengenalnya, bolehkah saya tahu namanya atau lokasi tempat foto itu diambil?

Tidak lama kemudian, sebuah balasan masuk.

Maaf, saya tidak terlalu mengenal orang-orang yang ada di sekitar saya. Foto itu diambil secara spontan ketika sedang berkumpul. Saya juga tidak tahu siapa perempuan tersebut.

Juan menghela napas kecewa.

Jadi, hanya itu informasi yang bisa ia dapatkan.

Namun, setidaknya ia sudah menemukan sesuatu.

Juan tidak menunggu lebih lama. Ia segera membawa ponselnya menuju ruang kerja Hansen.

"Permisi, Pak."

Hansen yang sedang membaca dokumen mengangkat wajah.

"Ada apa?"

Juan masuk dan meletakkan ponselnya di atas meja.

"Saya menemukan sesuatu tentang Bu Jihan."

Seketika Hansen menutup dokumen di tangannya.

"Jihan?"

"Iya, Pak. Coba lihat ini."

Juan membuka tangkapan layar foto tersebut, lalu menggeser ponselnya ke hadapan Hansen.

Hansen langsung mengambilnya.

Begitu melihat sosok perempuan di dekat jendela, matanya membesar.

"Ini Jihan?"

"Iya, Pak. Saya cukup yakin. Saya mengenali wajahnya."

Hansen memperbesar foto itu. Ia memperhatikan wajah Jihan yang terlihat sedang menikmati minuman dari sebuah cangkir.

Perempuan itu tampak lebih segar dibandingkan terakhir kali ia melihatnya. Bahkan, ada senyum tipis di wajahnya.

Tanpa sadar, sudut bibir Hansen terangkat.

"Dia terlihat baik-baik saja," gumamnya.

Juan mengangguk.

"Sepertinya begitu, Pak."

Hansen kembali mengamati foto tersebut.

"Ini di mana?"

"Itulah masalahnya, Pak. Saya sudah mencoba menghubungi pemilik akun yang mengunggah foto ini, tetapi dia tidak mengenal Bu Jihan. Katanya, foto tersebut diambil secara spontan ketika sedang berkumpul. Dia juga tidak tahu lokasi atau identitas orang-orang yang tertangkap kamera."

Wajah Hansen kembali berubah.

"Jadi, kamu tidak tahu di mana tempat ini?"

Juan menggeleng.

"Maaf, Pak. Hanya foto ini yang berhasil saya temukan."

Hansen menatap layar ponsel cukup lama.

"Setidaknya kita tahu dia masih berada di sekitar sini."

Juan tidak berani memastikan.

"Belum tentu, Pak. Kami belum bisa memastikan lokasi pengambilan foto tersebut."

Hansen mengangguk pelan. Ia memahami bahwa informasi itu memang belum cukup untuk menemukan Jihan.

Namun, melihat wajah perempuan itu saja sudah membuat hatinya sedikit lega.

"Juan, simpan foto ini. Coba periksa apakah akun tersebut pernah mengunggah foto lain di tempat yang sama. Siapa tahu ada petunjuk tambahan."

"Baik, Pak."

"Dan jangan menghubungi pemilik akun itu berulang kali. Jangan sampai dia merasa terganggu."

"Siap, Pak."

Setelah Juan keluar, Hansen kembali menatap foto tersebut.

Jarinya menyentuh layar, tepat di bagian wajah Jihan.

"Kamu sedang apa di sana, Sayang?"

Ia memperhatikan cangkir yang berada di tangan perempuan itu.

"Minum susu atau teh, ya?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Hansen tersenyum tipis. Namun, senyum tersebut perlahan menghilang ketika ia kembali mengingat semua kesalahannya.

Ia ingin sekali mengetahui keadaan Jihan secara langsung. Ingin memastikan perempuan itu tidak sedang sakit, tidak kekurangan sesuatu, dan benar-benar bahagia.

Namun, sebuah foto yang bahkan tidak sengaja menampilkan Jihan ternyata menjadi satu-satunya petunjuk yang ia miliki.

Hansen mengembuskan napas panjang.

"Setidaknya sekarang aku tahu kamu masih baik-baik saja."

Ia menyimpan tangkapan layar itu di ponselnya.

Untuk sementara, hanya itu yang bisa ia lakukan.

***

Hansen tak bisa konsetrasi dengan pekerjaannya. Untuk itu ia pun memutuskan untuk pulang. Kali ini ia tak pulang ke apartemen melainkan pulang ke rumah utama.

Kerena rindu pada Jihan tak mampu ia bendung lagi, ia pun memutuskan untuk ke dapur. Menyentuh apapun yang ada di sana. Bahkan ia mengambil apron yang biasa di gunakan oleh mantan istrinya tersebut.

Bukan hanya apron yang jadi sasarannya, panci, kompor, piring, bahkan gelas yang biasa Jihan gunakan untuk minum.

Gelas tersebut masih di tempat yang sama. Gelas yang terbuat dari keramik bergambarkan Panda dan ada namanya di sana. Entah dari mana ia dapat gelas itu. Tapi Hansen sangat tau jika mantan istrinya itu sangat suka dengan binatang itu, Jihan pernah bilang bahwa Panda sangat menggemaskan.

Hansen juga tau hampir semua barang pribadi yang dimiliki istrinya bergambar karakter itu, seperti gantungan kuci, kotak pensil, bahkan dompet, Jihan punya semua. Dan sekarang Hansen menemukan cangkir itu.

"Kamu jahat Jihan, kamu ninggalin aku. Kamu tau nggak aku kangen sama kamu," ucapnya sembari menaruh gelas itu tepat di dadanya.

Di detik yang sama, Hansen melihat ada celengan kaleng di dalam salah satu kitchen set yang terpasang di atas kompor. Penasaran Hansen pun membuka lemari tersebut.

Dan berapa terkejutnya Hansen, Di sana ada beberapa tumpuk buku dan celengan kaleng dengan gambar panda.

"Apa ini?" tanya Hansen sembari mengambil celengan kaleng itu. Berat, Hansen mengintip isi celengan tersebut. Membolak balikkan celengan kaleng itu.

Di bagian bawah menemukan kaleng tersebut tidak permanen, ada pembukanya. Penasaran, Hansen pun membuka penutup itu, betapa terkejutnya Hansen, di sana banyak sekali uang.

"Astaga Jihan, apa ini?" gumamnya Penasaran.

Penasaran dengan barang-barang rahasia itu, Hansen pun mengeluarkan semua buku-buku itu. Buku yang hampir semuanya di sampul dengan sampul gambar panda. Lalu ia membawanya ke meja dapur. Baru mau melangkah, ia melihat satu kaleng lagi. Hansen mengambilnya.

Hansen melihat kaleng itu bertuliskan Sedekah Subuh.

"Jadi... " gumam Hansen heran. Masih berusaha mencerna apa yang ia lihat. Ia hanya heran, kenapa Jihan tak membawa barang-barang ini. Barang-barang berisi uang yang Hansen yakin jumlahnya tidak sedikit.

"Apa dia lupa?" gumam Hansen sembari membawa semua barang -barang itu ke meja makan.

Bersambung...

1
Halimah
Dasar laki" munafik
Halimah
Betul Ji.... Mending km resign n pergi sejauh mungkin biar km ga bs ketemu lg sm Hansen
Rini Sya
bantu beri ulasan ya kakak2😍
Ai nurjanah
ayo up lagi dong thor🙏
sunaryati jarum
Masyaallah Jihan,kau punya tabungan begitu banyak tidak dibawa,kan bisa bila rumah sederhana dan buka apotek.
sunaryati jarum
Kehidupan Jihan semakin baik ,mungkin itu uang sisa nafkah darimu, setelah pergi baru divari
sunaryati jarum
Semoga kesempatan itu memiliki Apotek
sunaryati jarum
Harus semangat dan happy selalu agar dua baby sehat pertumbuhan dan perkembangannya normal.Kamu.juga rezeki lancar hingga sebelum baby lahir kamu sudah punya apotek yang kau impikan jadi bisa merawat dua baby sambil menjaga apotek.
sunaryati jarum
Jika kalian.brrjodoh mudah- mudahan bertemu dan Jihan memberi maaf serta memberi kesempatan
Setyowati Setyowati
bukan lupa Hansen..tp mungkin itu uang belanja dari kamu , makanya Jihan GK mau bawa
Setyowati Setyowati
semangat Jihan ..kamu wanita kuat, dan berjuang untuk si kembar
Setyowati Setyowati: siap...hadiahnya rajin up yaa🤭🤭
total 2 replies
Setyowati Setyowati
seperti biasa ...masih merasa kurang 🥰🥰
Rini Sya
Terima kasih buat teman-teman semua atas dukungannya. Sekali lagi jangan lupa like komen dan beri ulasan ya gaes.... makasih banyak😍😍😍
Halimah
Kenapa Hansen ga jujur sekalian kalo penyebab Jihan pincang karena dia yg udah menabraknya
Halimah
Ini anak kecil kok mulutnya udah pedes bgt gitu ya
sunaryati jarum
Selamat Jihan, semoga kamu dan bayimu sehat.Kamu tetap bisa beraktifitas tidak terganggu dengan kehamilan itu.Dan Hanzen tahu dia mengalihkan kehamilan simpatik
sunaryati jarum
Semoga nanti.Jihan memberi kabar Hanzen
Setyowati Setyowati
lanjut lagi Thor..sangat bagus ceritanya
sunaryati jarum
Segera telpon tanya keadaan putramu ,Jihan.Dia sakit dan mencarimu
Setyowati Setyowati
episode ini ikut nangiss Thor 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!