NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Bayangan

Di Antara Dua Bayangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Bad Boy / Tamat
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Konfrontasi Dingin di Perpustakaan

Sehari setelah festival sekolah berakhir, area SMA Nusa Bangsa kembali tenang. Jam istirahat pertama baru saja berkumandang. Aira memanfaatkan waktu luang tersebut untuk pergi ke perpustakaan sekolah—mencari beberapa buku referensi Sosiologi untuk menyempurnakan draf proyek kelompoknya.

Perpustakaan di lantai dua siang itu sangat sepi. Hanya ada hembusan angin dingin dari pendingin ruangan dan deretan rak buku tinggi yang membentuk lorong-lorong sunyi.

Saat Aira sedang menjinjitkan kakinya untuk meraih sebuah buku tebal di rak paling atas, sebuah tangan jangkung dari arah belakang mengulur dan mengambilkan buku itu untuknya.

"Butuh yang ini, Aira?"

Aira terperanjat, buru-buru membalikkan badan. Darel berdiri sangat dekat di belakangnya, menyunggingkan senyuman hangat nan tenang seraya menyodorkan buku tersebut.

"K—Kak Darel..." desah Aira pelan, meremas jemarinya sendiri. "Makasih, Kak."

Darel tidak segera mundur. Ia justru mengambil satu langkah maju, memangkas jarak hingga Aira terdesak pelan menyandar pada rak buku di belakangnya. Atmosfer hangat yang biasanya terpancar dari sosok Darel mendadak berganti menjadi keheningan yang amat menghimpit.

"Aira... minggu depan ada pameran seni di pusat kota," bisik Darel lembut, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Aira tanpa berkedip. "Saya sudah belikan dua tiket VIP. Saya mau kamu ikut pergi sama saya. Cuma kita berdua."

Aira merasa tidak nyaman. Jarak mereka terlalu dekat, dan cara Darel menatapnya terasa sangat menuntut—berbeda dari kebaikan santun yang biasa ditunjukkannya.

"Maaf, Kak Darel..." bisik Aira canggung, mencoba mengalihkan pandangan. "Minggu depan aku kayaknya ada janji mau bantu Bibi di rumah Pradipta, lagian—"

"Aira," potong Darel halus, namun cengkeraman tangannya di tepi rak buku persis di samping kepala Aira mengerat rapat. Senyum di bibirnya mengeras. "Saya tidak suka ditolak. Saya melakukan ini semua buat kamu. Saya selalu ada saat kamu butuh, kan? Lebih dari yang bisa diberikan Vino."

Aira menahan napas. Rasa sesak merayapi dadanya saat menyadari aura posesif yang ganjil dari sepupu Vino ini.

"Lepasin dia, Darel."

Suara berat dan dingin memotong pekatnya udara perpustakaan.

Dari ujung lorong rak buku, Vino melangkah keluar dengan tenang. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana seragam, namun raut wajahnya tampak begitu sengit. Pendar amarah di mata Vino membakar sunyinya ruangan.

Darel perlahan memutar badannya, mempertahankan senyum dinginnya saat berhadapan muka dengan Vino. "Vino... ini area perpustakaan. Dan ini urusan pribadi saya sama Aira."

"Urusan lu sama Aira?" Vino tertawa sinis, sebuah tawa kering tanpa humor. Langkah kaki Vino makin mendekat hingga ia pasang badan tepat di samping Aira, memutus tatapan Darel dari cewek itu. "Gue tegaskan sekali lagi ke lu, Darel. Aira itu tanggung jawab gue selama dia ada di rumah Pradipta. Jangan berani-berani lu tekan atau paksa dia buat hal yang gak dia mau."

"Saya tidak memaksa," sahut Darel tenang, tatapannya menyipit tajam. "Saya cuma menawarkan hal yang pantas. Tidak seperti kamu yang cuma bisa nyuruh-nyuruh dan bikin dia tertekan."

"Gak usah sok tahu soal apa yang dia rasakan," desis Vino rapat di depan wajah Darel. Kepalan tangan Vino di dalam saku celananya bergetar hebat menahan dorongan untuk melayangkan pukulan. "Gue tahu persis apa niat lu dibalik semua sikap sok manis lu ini."

Kedua pangeran sekolah itu saling mengunci tatapan mata dalam persaingan dingin yang membeku. Aira yang berdiri di antara mereka bisa merasakan ketegangan ekstrem yang siap meledak kapan saja.

Darel menyunggingkan senyum menyeringai yang amat tipis, memundurkan langkahnya satu tapak. "Mari kita lihat, Vin... sampai kapan kamu bisa pasang badan buat dia."

Darel membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan lorong perpustakaan tanpa mengalihkan pandangan lagi.

Begitu Darel menghilang di balik pintu, Vino menghela napas panjang dan kasar. Ia menoleh ke arah Aira dengan wajah galak yang dipaksa-paksakan untuk menutupi rasa khawatirnya yang membuncah.

"Lu lagian ngapain sendirian ke perpustakaan gak ngomong-ngomong sama gue?!" omel Vino ketus. "Kalau mau ke mana-mana bilang! Jangan bikin gue kayak orang bego nyariin lu sekeliling sekolah!"

Aira menatap Vino yang masih bernapas memburu. Di balik omelan kasarnya, Aira tahu pasti... Vino baru saja menyelamatkannya dari bahaya yang tak kasat mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!