NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN OM

BERMAIN API DENGAN OM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.

Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.

Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30.

Di dalam kamar, Clarisa bersandar pada daun pintu sambil membawa kantong plastik makanan tersebut, napasnya masih memburu dengan dada yang naik-turun karena emosi. Ia mendengus sebal, melemparkan tatapan tajam ke arah pintu yang baru saja ia tutup rapat.

​"Nyebelin banget, sumpah!" gerutu Clarisa tertahan dengan gigi terkatup rapat.

​Bella yang sedang bersandar di atas ranjang menatap sahabatnya dengan kening berkerut dalam, merasa bingung melihat kemarahan Clarisa yang meledak-ledak. Gadis itu merapikan selimutnya pelan.

​"Ada apa sih, Clar? Kok mukanya merah banget gitu? Siapa di luar?" tanya Bella hati-hati, suaranya masih terdengar agak serak.

​Mendengar pertanyaan Bella, ekspresi kesal di wajah Clarisa seketika melunak. Ia berjalan mendekati ranjang, lalu meletakkan kantong plastik berlogo restoran terkenal itu di atas nakas dengan agak kasar.

​"Siapa lagi kalau bukan kakakmu yang mirip es batu basi itu!" decak Clarisa kesal, melipat kedua tangannya di dada sambil mendengkus. "Aku tadinya mengira bibi ART yang mengantar pesananku ke atas. Nggak tahunya malah dia sendiri yang bawa ke sini. Aneh banget, padahal dia sendiri yang repot-repot mengantar ke kamar, tapi malah dia juga yang ngomel-ngomel bilang aku merepotkan!"

​Bella terperanjat kecil. "Kak Nathan? Kak Nathan yang bawain makanan kamu ke sini?"

​"Iya! Padahal ya, kalau bukan karena bibi lagi nggak ada, aku juga bisa ambil sendiri di bawah!" tukas Clarisa mendengus sebal, lalu membuka kantong plastik tersebut dan mengeluarkan kotak makanannya. "Udah gitu, gayanya sok banget kayak penguasa bumi. Nyebelin banget!"

​Bella terdiam, menundukkan kepalanya perlahan. Suasana hatinya mendadak mendung. Ia tahu betul bagaimana tabiat Nathan selama ini—kakaknya itu memang keras, ketus, dan tidak pernah ramah kepada siapa pun.

Namun, sejak insiden di rumah sakit dan rahasia besar keluarga yang terungkap, Bella bisa merasakan ada beban psikologis berat yang sedang dipikul oleh Nathan. Pemuda itu tampak jauh lebih pendiam, meski gengsinya terlalu tinggi untuk mengakuinya.

​"Maafin Kak Nathan ya, Clar..." cicit Bella lirih dengan suara pelan, matanya menatap kosong ke arah lipatan selimut. "Mungkin dia lagi banyak pikiran akhir-akhir ini... Makanya sikapnya jadi makin ketus ke semua orang."

​Melihat perubahan ekspresi Bella yang mendadak sedih, kemarahan Clarisa seketika menguap. Ia merasa bersalah karena terlalu emosional mengomentari kakak sahabatnya itu di hadapan Bella yang baru saja pulih.

​Clarisa langsung duduk di tepi ranjang, merangkul bahu Bella dengan lembut, lalu menyodorkan kotak makanan yang sudah dibuka.

​"Eh, hei... Kenapa jadi melow gini?" bujuk Clarisa dengan nada hangat. "Udah, nggak usah dipikirin omongan cowok arogan kayak dia. Lagian aku nggak bener-bener dimasukin ke hati kok, cuma sebal sama mukanya yang songong itu. Nih, makan yuk! Mumpung pesanan aku udah datang, kita makan bareng, ya."

​Bella mendongak, menatap mata Clarisa yang tulus. Senyuman tipis akhirnya terbit di bibir pucatnya. Ia mengangguk pelan. "Iya, Clar... Makasih ya."

​"Sama-sama," seru Clarisa riang, berusaha mencairkan suasana kembali ceria.

*

​Sementara itu, suasana di ruang tengah mansion Allegra terasa begitu hampa dan menyesakkan bagi Nathan. Pemuda itu duduk seorang diri di atas sofa besar, menatap kosong ke arah meja kaca di depannya dengan kepala yang nyaris pecah menanggung beban rahasia yang teramat berat.

​Tak lama kemudian, suara derap langkah tegas menggema di ambang pintu utama. Christian Gerald melangkah masuk dengan setelan jas rapi, memancarkan aura dominan dan berwibawa dari setiap gerak-geriknya.

​Melihat kehadiran sang paman, Nathan langsung bangkit berdiri dari sofanya. Matanya menatap tajam ke arah Christian dengan kilatan emosi yang tidak bisa lagi disembunyikan.

​"Om," panggil Nathan dengan suara berat dan sarat ketegangan.

​Christian menghentikan langkahnya, menaikkan sebelah alisnya menatap keponakannya itu. "Ada apa, Nathan?"

​"Aku mau bicara. Di ruang kerja sekarang," tandas Nathan dingin. Tanpa menunggu jawaban sang paman, ia langsung berbalik dan melangkah cepat menuju ruang kerja pribadi ayahnya.

​Christian terdiam sejenak, mengamati punggung Nathan dengan sorot mata menyelidik, lalu menyusul pemuda itu masuk ke dalam ruangan tertutup tersebut. Begitu pintu kayu jati itu tertutup rapat, Nathan langsung mengunci pintunya dari dalam, memastikan percakapan mereka tidak akan didengar oleh siapapun.

​Christian berdiri dengan tenang di dekat meja kerja, melipat kedua tangannya di depan dada. "Katakan, Nathan. Ada hal penting apa sampai kamu harus menguncinya seperti ini?"

​Nathan mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menatap lurus ke dalam manik mata sang paman tanpa rasa takut.

​"Om Christian tahu semuanya, kan?" tanya Nathan tajam, suaranya bergetar menahan amarah. "Om tahu tentang rahasia busuk Papa... Om tahu kalau ayah kandung Bella sebenarnya mendekam di penjara demi menggantikan posisi Papa atas kasus korupsi itu?!"

​Christian bergeming. Wajah tampan pria paruh baya itu tetap datar tanpa ekspresi, tidak ada keterkejutan sedikit pun yang terpancar di wajahnya. Diamnya Christian sudah menjadi jawaban paling telak atas pertanyaan Nathan.

​Melihat sang paman hanya diam membisu, kemarahan Nathan akhirnya meledak. Ia maju beberapa langkah, mencengkeram tepi meja kerja dengan napas memburu.

​"Kenapa Om diam saja?!" bentak Nathan frustrasi. "Om tahu kebohongan sebesar itu, Om tahu betapa hancurnya hidup Bella, tapi Om memilih bungkam?! Bukankah Om orang yang selalu bersikap seolah-olah paling peduli padanya?!"

​Christian menghela napas pelan. Dengan gestur yang sangat tenang, ia merapikan jasnya, lalu menatap tajam keponakannya.

​"Karena itu bukan urusanku, Nathan," jawab Christian dingin, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Dunia bisnis dan masa lalu orang tuamu adalah urusan mereka sendiri. Aku tidak punya kepentingan untuk ikut campur atau membongkar rahasia kotor yang pada akhirnya hanya akan menghancurkan keluarga ini lebih parah lagi."

​"Tapi itu tidak adil buat Bella!" sergah Nathan dengan suara parau, air matanya nyaris tumpah di pelupuk matanya. "Dia hidup dalam kebohongan! Dia mengira dirinya anak pungut yang tidak diinginkan, dia merasa bersalah karena menghabiskan uang keluarga, sementara di luar sana orang tua kandungnya menderita di penjara gara-gara keparat seperti ayahku!"

​"Lalu apa yang kamu harapkan dariku?" potong Christian tajam, tatapannya menyalang menusuk mata Nathan. "Membongkar semuanya pada Bella saat mentalnya baru saja mulai pulih? Apa itu yang kamu sebut adil? Atau kamu hanya ingin melimpahkan rasa bersalahmu sendiri agar Bella membenci keluarganya, hah?!"

​Nathan terpaku, terhenyak mendengar skakmat dari sang paman. Napasnya tersengal-sengal, sementara dadanya naik turun menahan gemuruh emosi.

​"Asal kau tahu, aku yang memaksa Alan dan Karin untuk pulang," ucap Christian tenang, membuat Nathan membelalakkan matanya kaget. "Aku tidak akan membiarkan mereka melarikan diri dari tanggung jawab moral mereka terhadap Arabella. Dan... aku juga yang memaksa Alan serta Karin untuk bersikap hangat, lembut, dan memperlakukan Bella dengan layak sebelum mereka pergi ke Melbourne."

​Deg!

​Kalimat itu menghantam kepala Nathan bagaikan petir di siang bolong. Seluruh darah di tubuhnya mendadak berdesir hebat, membuat kepalanya berdenging keras.

​Jadi... sikap manis dan penuh kasih sayang yang ditunjukkan Alan dan Karin pada Bella sebelum mereka pergi ke bandara bukanlah bentuk penyesalan murni dari lubuk hati kedua orang tuanya?

​Itu semua terjadi karena Christian yang menekan dan memaksa mereka?!

​"Jadi... semua itu..." cicit Nathan terbata, suaranya bergetar hebat. "Perhatian Papa... pelukan Mama... itu semua bukan karena mereka benar-benar merasa bersalah pada Bella... tapi karena Om yang mendikte mereka?!"

​Christian melangkah maju perlahan, mendekati Nathan yang kini terpaku di tempatnya dengan tubuh gemetar hebat. Pria paruh baya itu menatap keponakannya dengan sorot mata setajam elang, penuh wibawa namun menyimpan dingin yang mengerikan.

​"Nathan," panggil Christian dengan suara baritonnya yang tenang namun berwibawa, mencengkeram kuat bahu pemuda itu. "Dengarkan baik-baik apa yang akan kukatakan padamu."

​Nathan mendongak, manik matanya yang memerah menatap langsung ke dalam mata pamannya. Napasnya masih memburu, menahan beban kejut dan rasa ngeri yang baru saja menghantam kewarasannya.

​"Kamu marah?" lanjut Christian datar. "Kamu merasa dibohongi, merasa dipermainkan seperti boneka di atas panggung sandiwara yang kuatur? Sadarlah, Nathan. Kebodohan dan kebusukan keluargamu sendiri yang menciptakan kekacauan ini dari awal."

​Nathan mengepalkan tangannya kuat-kuat, giginya bergemeletuk menahan amarah yang mendidih. "Tapi bukan berarti Om berhak mengatur semuanya di belakang kami! Om memperlakukan Bella seolah-olah dia..."

​"Seolah-olah dia apa?" potong Christian tajam, mempererat cengkeramannya di bahu Nathan hingga membuat pemuda itu meringis tertahan. "Seolah-olah dia adalah satu-satunya hal yang kupedulikan di rumah ini? Ya. Memang itu kenyataannya."

​Pengakuan blak-blakan yang meluncur tanpa ragu dari bibir Christian membuat jantung Nathan serasa berhenti berdetak. Seluruh kecurigaan gila yang sempat ia tepis beberapa hari lalu di basement rumah sakit kini mendadak kembali, menghantam kepalanya dengan kekuatan penuh.

​Tunggu... batin Nathan menjerit ngeri. Apa yang sebenarnya diinginkan Om Christian dari Bella? Kenapa perhatiannya begitu... tidak wajar?

​Christian melepaskan cengkeramannya dari bahu Nathan, lalu mundur selangkah sambil merapikan jasnya dengan tenang.

​"Ayahmu pengecut, dan ibumu lemah. Kalau bukan karena aku yang turun tangan, Bella sudah hancur sejak pertama kali skandal itu meledak," ucap Christian dingin, kembali memasang topeng wibawanya. "Dan kamu... alih-alih meratap dan menyalahkan keadaan seperti anak kecil, sebaiknya belajar menutup mulutmu rapat-rapat."

​Nathan menatap pamannya dengan pandangan campur aduk—antara kebencian, ketakutan, dan kesadaran pahit bahwa ia tidak memiliki kuasa apa pun di rumah ini.

​"Kalau kamu sampai berani membuka mulut pada Arabella tentang kebenaran ayah kandungnya, atau mencoba merusak ketenangannya..." Christian menoleh tajam, memberikan tatapan memperingatkan yang membuat darah Nathan membeku, "...aku sendiri pastikan bukan cuma perusahaan ayahmu yang runtuh, tapi sisa hidupmu di luar sana pun tidak akan pernah tenang."

​Ancaman itu diucapkan tanpa nada tinggi, namun dampaknya jauh lebih mematikan daripada bentakan keras. Christian membalikkan badan, melangkah dengan tenang menuju pintu ruang kerja, lalu membukanya lebar-lebar.

​Sebelum keluar, Christian sempat melirik sekilas ke belakang. "Ingat posisimu, Nathan. Urusi hidupmu sendiri, dan biarkan Arabella berada di bawah perlindunganku."

*

*

*

1
Nurmalia Lia
aishhh gak sabar nunggu bella nih thor😍👍
+1
kapan plok2 🌚
Vira Anisah
lanjut
Ita Putri
munafik tingkat dewa si Alan 🤭
+1
lama 😗
Mia Camelia
rasakan kau nathan di jutekin Clarisa🤣🤣🤣
Mita Paramita
lanjut Thor double up 😍😍😍
Mia Camelia
ceritain Clarisa dan nathan dulu thor, makin penasaran nih 🤭
+1
jodoh anda 🌚
+1
bisa dipercepat alurnya 🌚🌚🌚
Mia Camelia
aduh makin rumit nih😔
Mita Paramita
nah gitu dong sih Vero mesti dikasih dipenjara biar sadar🫡 om Christ tegas banget buat lindungi Bella 😍
Mia Camelia
akhirnya bella di Terima keluarga nya😂
Mia Camelia
bella keras kepala banget sih😔😂
Mia Camelia
cristian udh mulai melindungi bella, 🤭
Ita Putri
pergi yg jauh sekalian Bella
kesel banget liat keluarga allegra
Ita Putri
pret lah....
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang
Mia Camelia
plis bella jangan kabur2an mulu, capek nih🤭🤭
+1
kejar om.. borgol kakinya 🌚
+1
mati🌚
MissSHalalalal: eh, jangan donk kak..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!