Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perhatian kecil reza
Suara laporan mendadak dari pengawal kepercayaan Reza di ruang kerja itu langsung membuyarkan suasana malam yang tadinya terasa hangat dan intim.
Maya dengan cepat menarik tangannya dari pipi Reza, wajahnya bersemu merah karena malu sekaligus kaget. Ia bergeser mundur, merapikan duduknya di karpet samping sofa.
Reza mengalihkan pandangannya dari Maya. Garis rahang pria itu mengeras seketika, tatapan matanya berubah dingin bak es yang mencerminkan kemarahan besar di dalam dadanya.
"Siapa?" tanya Reza dengan suara rendah, berat, dan penuh tekanan yang membuat pengawal di hadapannya menunduk gentar.
"Orang kepercayaan paman Nyonya Sora, Tuan," jawab pengawal itu sambil menyerahkan map hitam berisi dokumen dan foto bukti.
"Mereka mencoba menyusupkan penyadap dan merencanakan sabotase dari jalur logistik bawah tanah gedung ini."
Reza membuka map tersebut sekilas, lalu mendengus sinis. "Sora benar-benar sudah hilang akal. Dia pikir dengan mengusik orang-orang terdekat saya, dia bisa menekan saya?"
"Apa perintah selanjutnya, Tuan? Apakah kami harus langsung membersihkan kelompok paman Sora?" tanya pengawal itu meminta instruksi.
Reza terdiam sejenak, berpikir dengan kepala dingin. "Jangan gerak dulu. Biar saya yang urus sendiri. Perketat pengamanan di sekitar mansion ini. Jangan biarkan lalat pun lolos masuk tanpa izin saya."
"Baik, Tuan!" jawab pengawal itu tegas, lalu membungkuk hormat dan kembali masuk ke ruang kerja rahasia, meninggalkan pintu yang tertutup rapat kembali.
Suasana di ruang tengah mendadak kembali hening, namun sisa ketegangan masih terasa pekat di udara.
Maya menelan ludah dengan susah payah, rasa ngeri kembali merayapi dadanya. Hubungan antara Reza dan Sora ternyata jauh lebih rumit dan berbahaya dari apa yang ia bayangkan. Ini bukan sekadar pertengkaran suami istri biasa, melainkan perebutan kekuasaan antar keluarga mafia yang melibatkan nyawa.
Maya menoleh pelan ke arah Reza. Pria itu masih duduk bersandar di sofa dengan mata terpejam sebelah, memijat pelipisnya yang berdenyut pusing. Luka lama di bahunya seolah bertambah sakit akibat emosi yang mendadak naik.
"Kamu... tidak tidur?" tanya Reza pelan tanpa membuka matanya, menyadari Maya masih duduk di sampingnya.
"Aku... tadi terbangun karena haus," jawab Maya gugup. Ia melirik bahu kiri Reza yang tadi sempat dikompresnya. "Bekas luka kamu... apa masih sakit?"
Reza membuka matanya, menoleh menatap Maya lurus-lurus. Cahaya lampu ruangan yang temaram membuat mata hitam pria itu terlihat begitu dalam dan memantulkan bayangan wajah Maya.
"Sudah mendingan berkat kompres air hangat dari kamu tadi," jawab Reza dengan nada bicara yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.
Mendengar ucapan itu, jantung Maya berdebar tidak karuan. Ada getaran aneh yang menjalar di dadanya setiap kali Reza menatapnya dengan cara seperti itu—tatapan penuh perhatian yang sangat kontras dengan reputasinya sebagai bos mafia yang ditakuti sekota.
Maya buru-buru menundukkan pandangannya, takut ketahuan kalau pipinya kini sudah memerah padam.
"Kalau begitu... kamu istirahatlah lagi di kamar," kata Maya terbata-bata, berniat bangkit berdiri dari karpet. "Besok... eh, maksudku, kamu butuh tidur."
Sebelum Maya sempat bergeser, tangan kokoh Reza bergerak cepat meraih pergelangan tangannya. Cengkeramannya tidak kasar, tapi cukup untuk menghentikan langkah Maya.
"Jangan pergi dulu," bisik Reza pelan. Suaranya rendah dan menghipnotis, membuat Maya terpaku di tempat.
Maya mendongak, menatap Reza dengan napas tertahan. "Ada... apa lagi?"
Reza menarik pergelangan tangan itu perlahan, membuat Maya mau tak mau mendekat ke arah sofa. Pria itu menatap Maya lekat-lekat, seolah sedang membaca setiap inci ketulusan di wajah gadis di depannya itu.
"Maya," panggil Reza dengan nada serius. "Sejak kamu datang ke tempat ini, hidupku yang tadinya cuma dipenuhi rencana balas dendam, darah, dan strategi dingin... mendadak berubah."
Maya menelan ludah, tenggorokan mendadak kering. "Berubah... bagaimana maksudmu?"
Reza mengangkat tangan kanannya yang bebas, lalu dengan sangat hati-hati menyentuh dagu Maya, mengangkat wajah gadis itu agar terus menatap matanya.
"saya tidak pernah peduli pada keselamatan siapa pun sebelumnya. Tapi melihat kamu tadi ketakutan karena serangan itu... ada rasa cemas yang belum pernah saya rasakan sebelumnya."
Detak jantung Maya makin menggila. Suara debaran itu terasa begitu nyaring di telinganya sendiri.
Ia tahu ia tidak boleh jatuh ke dalam pesona pria ini. Reza adalah suami orang, bos mafia berbahaya, dan lingkaran hidup mereka adalah jurang maut. Tapi sentuhan hangat dan tatapan lembut itu seolah meruntuhkan seluruh benteng pertahanan di hati Maya.
"Reza... kita tidak seharusnya seperti ini," bisik Maya lemah, mencoba mengingatkan dirinya sendiri di antara kesadaran yang mulai kabur.
"Kamu punya istri... dan aku cuma pelayan yang terjebak di sini."
Reza tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang jarang sekali ia tunjukkan pada dunia luar. Ibu jarinya perlahan mengusap bibir bawah Maya dengan sangat lembut.
"Sora bukan istri saya dalam arti yang sebenarnya, Maya," bisik Reza tepat di depan wajah Maya, aroma parfum maskulinnya menguar memenuhi indra penciuman gadis itu. "Dan kamu... bukan lagi sekadar pelayan."
Maya tertegun, napasnya berhenti sejenak mendengar pengakuan itu. Belum sempat Maya memproses arti ucapan Reza, pria itu perlahan mendekatkan wajahnya, memperkecil jarak di antara mereka hingga hembusan napas hangat keduanya saling bergesekan.
Maya memejamkan matanya rapat-rapat, terjebak dalam perasaan takut, bimbang, dan debaran cinta terlarang yang membakar dadanya.
Tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan, suara dering telepon berbunyi nyaring dari meja kerja di sudut ruangan, memecah keheningan malam.
Bersambung......