NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Anak Kost

Sisi Gelap Anak Kost

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Lelaki/Pria Miskin / Slice of Life
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Cerita terinspirasi kisah nyata!

Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.

Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.

Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 - Hidup Hanya Sekali

Galih tidak berusaha menghindar atau menepis tangan Indri saat pukulan-pukulan lemah itu mendarat di dadanya. Ia membiarkan wanita itu meluapkan seluruh emosi, amarah, dan rasa frustrasinya. Merasakan sesak yang luar biasa di dada Indri, Galih perlahan merangkul kedua bahu wanita itu, menahannya agar tidak makin melukai diri sendiri.

"Mbak... Tenang dulu," kata Galih lembut namun penuh penekanan.

Ia menuntun Indri untuk duduk bersender pada tepi tempat tidur. Galih lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang berantakan itu. Di atas meja kecil dekat cermin, terdapat sebuah teko plastik dan gelas kosong. Tanpa membuang waktu, Galih beranjak sebentar, mengisikan air putih ke dalam gelas, lalu menyodorkannya ke tangan Indri yang masih gemetar hebat.

"Minum dulu, Mbak. Pelan-pelan," pinta Galih hangat.

Indri menerima gelas itu dengan tangan menggigil. Ia meminumnya seteguk demi seteguk, berusaha meredakan rasa panas dan perih di tenggorokannya yang memerah akibat jeratan tali. Setelah gelas itu kosong dan diletakkan di lantai, nafas Indri yang tadinya memburu perlahan mulai teratur, meski isakan tangis masih sesekali lolos dari bibirnya.

Galih menarik kursi kayu yang tadi sempat roboh, benda yang dijadikan pijakan bunuh diri oleh Indri, lalu menegakkannya dan duduk di hadapan wanita itu.

"Mbak Indri... Membunuh diri sendiri itu nggak bakal menyelesaikan masalah," ujar Galih membuka suara dengan nada tenang. "Mati cuma menghentikan napas Mbak, tapi nggak pernah menghapus kenyataan atau merubah keadaan jadi lebih baik."

Indri menunduk dalam-dalam, memeluk kedua lututnya seraya menggelengkan kepala. "Kamu nggak tahu apa-apa tentang hidupku... Kamu nggak tahu seberapa hancurnya aku..."

"Memang, aku nggak tahu seluruh cerita hidup Mbak Indri," sahut Galih tulus. "Tapi aku tahu rasanya ingin menyerah. Semua orang di dunia ini punya beban dan masalahnya masing-masing, Mbak. Termasuk aku."

Indri perlahan mendongak, menatap wajah Galih yang dihiasi luka memar kebiruan di bagian pipi dan sudut bibir.

"Sejak kecil, rumahku itu nggak beda jauh sama neraka," lanjut Galih, tatapannya menerawang mengingat bayang-bayang ayahnya. "Aku dipukuli, ditendang, dan dimaki hampir setiap hari sama ayah kandungku sendiri. Setiap hari aku hidup dalam ketakutan. Dulu... aku juga pernah berada di titik di mana aku berpikir kalau mati itu lebih mudah daripada harus bertahan hidup."

Galih menatap mata Indri dengan sorot yang begitu dalam dan hangat. "Tapi seseorang pernah memberitahuku satu hal yang selalu aku ingat sampai sekarang. Hidup itu cuma sekali. Ini bukan game yang kalau kita mati, kita bisa respawn atau main lagi dari awal. Kalau kita memilih menyerah dan mati sekarang, kesempatan kita buat melihat hari esok yang lebih baik bakal hilang selamanya. Kita nggak bakal pernah tahu takdir indah apa yang sebenarnya lagi menunggu kita di depan."

Galih tersenyum tipis, mencoba mengalirkan kekuatan pada wanita di depannya. "Hidup memang susah, Mbak. Keras banget malah. Tapi daripada menyerah pada keadaan, mending kita lakukan yang terbaik selagi masih diberi napas. Buktikan kalau kita lebih kuat dari masalah kita."

Kata-kata sederhana namun penuh perenungan dari mulut pemuda dua puluh tahun itu meresap dalam-dalam ke dalam dada Indri.

Indri terdiam mematung. Air matanya kembali menetes, tetapi kali ini bukan karena amarah, melainkan rasa haru dan penyesalan yang membuncah. Seluruh pertahanan dirinya runtuh. Secara refleks, Indri memajukan tubuhnya dan langsung memeluk Galih dengan erat. Ia menyandarkan kepalanya di dada Galih, menangis terisak-isak meluapkan seluruh rasa lelah yang membebani jiwanya selama ini.

"Maaf... Maafkan aku..." bisik Indri di sela tangisnya. "Aku cuma frustrasi banget... Aku lelah... Aku capek banget menghadapi kenyataan ini..."

Galih sempat tertegun mendapat pelukan mendadak itu. Namun, memahami bahwa Indri hanya butuh sandaran untuk menumpahkan bebannya, Galih menepuk-nepuk punggung wanita itu secara perlahan untuk menenangkannya.

Akan tetapi, tepat pada saat suasana di dalam kamar penuh dengan rasa haru, sebuah bayangan jangkung mendadak berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka lebar.

Itu adalah Adit. Pria berkaos hitam itu baru saja keluar dari arah mandi. Langkah kakinya terhenti begitu matanya menangkap pemandangan di dalam kamar, Galih yang sedang berpelukan erat dengan Indri di atas lantai.

Seketika, raut wajah Adit berubah drastis. Matanya yang tajam membelalak, dan rahangnya mengeras. Raut tenang dan bersahabat yang baru saja ia tunjukkan di dapur umum tadi meluap entah ke mana, berganti dengan kilatan emosi dan rasa kesal yang begitu pekat.

"Kalian lagi ngapain, Hah?!" gertak Adit tiba-tiba dengan suara rendah namun menyengat.

Sontak saja, Galih dan Indri terperanjat kaget. Pelukan mereka terlepas seketika. Indri mengusap air matanya dengan panik, sementara Galih bergegas berdiri seraya mengangkat kedua tangannya.

"Mas Adit! Ini nggak seperti yang Mas lihat—"

"Alah! Nggak usah banyak alasan kamu, Galih!" potong Adit kasar, melangkah masuk dua tapak ke dalam ruangan dengan tatapan bersitegang.

Adit kemudian mengalihkan pandangannya pada Indri. Sorot matanya dipenuhi rasa jijik dan kebencian yang mendalam. "Kamu ini memang nggak tahu malu ya, Indri! Anak baru datang pun langsung kamu rayu juga?! Aku ini sudah tinggal paling lama di kost ini! Aku tahu betul tabiatmu kayak gimana! Tiap minggu bergonta-ganti pria masuk ke kamarmu! Dasar pelacur!"

Tudingan menohok dan kasar itu menghantam ruangan sempit tersebut bagai petir di tengah malam. Wajah Indri seketika memucat pasi, sementara Galih terperanjat tak percaya mendengar umpatan sekasar itu keluar dari mulut Adit.

"Mas Adit! Cukup!" bentak Galih mencoba menengahi. Amarahnya mulai terpancing melihat perlakuan kasar Adit kepada wanita yang baru saja hampir kehilangan nyawa. "Mas nggak tahu apa-apa! Mbak Indri ini baru aja—"

"Kamu nggak usah ikutan dibodohi sama dia, Galih!" potong Adit dengan nada semakin meninggi. "Kamu itu masih polos, baru sehari di sini! Cewek kayak gini tuh racun! Cuma mampunya merusak dan memanfaatkan kepolosan cowok-cowok buat kepentingannya sendiri!"

Ucapannya yang penuh kepahitan itu seolah memancarkan luka lama dari dalam diri Adit sendiri. Tampaknya rasa terpuruk akibat ditinggalkan dan dikhianati mantan kekasihnya telah memicu prasangka buruk mendalam pada setiap wanita, terutama sosok seperti Indri.

Indri yang dihujani tuduhan kejam itu tak sanggup lagi berkata-kata. Bekas luka jeratan tali di lehernya yang memerah dipadu rasa sakit hati akibat dihina secara terang-terangan membuat air matanya menetes makin deras. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, terisak tanpa suara.

"Mas Adit, mending Mas keluar dulu," tegas Galih seraya berdiri tegap memasang badan di depan Indri, menghalangi pandangan Adit. Sorot mata Galih menatap Adit dengan lurus dan penuh ketegasan. "Aku hargai Mas Adit sebagai penghuni senior di sini, tapi Mas nggak berhak menghina dan menghakimi Mbak Indri kayak gitu tanpa tahu fakta sebenarnya."

Adit menatap Galih dengan napas memburu. Ia melihat keteguhan di mata pemuda yang baru saja memberinya makanan sejam lalu itu. Rasa kesal di dada Adit bercampur aduk dengan kejengkelan karena usahanya "menyelamatkan" Galih dari Indri malah ditolak.

"Terserah kamu deh, Galih!" dengus Adit penuh kekecewaan. "Nanti kalau kamu udah kena batunya atau dimanfaatin sama dia, jangan pernah datang mengeluh ke aku!"

Dengan langkah kaki yang dihentakkan kasar, Adit membalikkan badan lalu pergi meninggalkan kamar Indri, menembus lorong yang temaram menuju kamarnya sendiri. Dentuman pintu kamar Adit yang ditutup dengan keras bergema memenuhi koridor kosan.

1
Ardan
ingat warung pak susilo, jangan langsung ditinggalkan, kasihan ledua orang paruh baya tsb, bikin warungnya rame dan maju dulu galih
Ardan
misteri nya blm terpecahkan, antara horor atau ada orang usil nih
fara sina
lanjut kak. semangat selalu ya nulisnyaa
fara sina
ini gak adil. indri kamu bener bener jahat. padahal galih ga ada salah apa apa sama kamu. kamu memanfaatkan kebaikan galih.
fara sina
mas Adit gamau bantu?? kenapa ya🥺 inget mas Adit mas Adit 1 piring Indomie kamu ga ada niatan bantuin
fara sina
sangking baiknya kamu ya galih. padahal kenal belum ada seminggu
fara sina
galih orangnya gaenakan ya. serius jadi orang gaenakan itu gaenak. serba salah
fara sina
kenapa ga pernah akur begitu ya
fara sina
Waduh Galih, jangan senyum kecut aja dong... Hati-hati itu Fika tetangga sebelah beneran takut atau cuma modus malam-malam begini?
fara sina
gerak geriknya serem ya kaya bukan manusia
fara sina
ikutan sedih ya lih, banyak banyak berdoa biar warungnya laris manis.
fara sina
yess, cari cuan dulu ya buat modal nantinya. kalo udah ada modal tambahan juga cari kerja yang gajinya lumayan
fara sina
yuk bisa yuk galih cita citanya bisa terwujud
fara sina
tapi kayanya mba Fika bukan orang jahat ya
fara sina
duh, hati hati galih. jangan gampang menerima pemberian orang asing yang baru kenal apalagi makanan
fara sina
🥺 tetap semangat ya galih. semoga nantinya cepet dapet kerjaan
fara sina
gatau, aku bukan laki laki. kayanya gasemua sama dah
Ekka
aneh
fara sina
sekaligus baik dan pengertian. tau galih ga ada duit inisiatif ngasih duit
fara sina
keuntungan biar banyak yang kos wkwkwk pak Yono
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!