NovelToon NovelToon
MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmat Agung

Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 — SAKSI YANG HIDUP DALAM BAYANGAN

Pagi itu, Arga Pratama tiba di Agung Joyo Motor dengan pikiran yang belum sepenuhnya tenang.

Panggilan misterius semalam terus terngiang di kepalanya.

Seseorang mengaku mengetahui alasan Raka Wibisono dihapus dari laporan ARX-9. Seseorang itu bahkan mengetahui bahwa Raka menghilang sebelum laporan final disahkan.

Namun, Arga belum tahu apakah penelepon tersebut benar-benar Raka atau hanya orang lain yang menggunakan namanya.

Ia tidak ingin kembali terjebak dalam permainan informasi seperti lima tahun lalu.

Di meja kerjanya, ia membuka laptop dan memutar ulang rekaman percakapan. Suara di seberang terdengar cukup jelas, tetapi tidak memberikan petunjuk pasti mengenai identitas pemiliknya.

Arga mencatat beberapa hal penting.

Pertama, penelepon mengetahui bahwa dirinya sedang mencari Raka.

Kedua, penelepon mengaku memiliki bukti yang tidak tersimpan dalam kotak arsip SR-04.

Ketiga, seseorang di lokasi penelepon memanggil nama Wibisono tepat sebelum sambungan terputus.

Ketiga hal itu menarik, tetapi belum cukup untuk membuktikan apa pun.

Arga baru saja menyelesaikan catatannya ketika Pak Darto masuk membawa sebuah kotak perkakas.

“Kamu terlihat semakin serius belakangan ini,” kata pemilik bengkel itu.

“Masih ada beberapa hal dari masa lalu yang belum selesai, Pak.”

Pak Darto meletakkan kotak perkakas.

“Kalau kamu terus melihat ke belakang, jangan sampai lupa memperhatikan jalan di depan.”

Arga tersenyum kecil.

“Saya ingat nasihat Bapak.”

“Bagus. Mobil pelanggan nomor tiga masih mengeluarkan suara aneh saat berbelok. Coba periksa sebelum kamu menyelidiki seluruh dunia.”

Arga tertawa pelan, kemudian mengambil peralatan pemeriksaan.

Untuk beberapa jam berikutnya, ia kembali menjadi mekanik biasa.

Ia memeriksa sistem kemudi, memastikan kondisi komponen, dan melakukan pengujian sesuai prosedur. Setelah menemukan sumber bunyi pada komponen yang mengalami keausan, ia menjelaskan hasil pemeriksaan kepada pelanggan dan memberikan rekomendasi perbaikan.

Tidak ada kamera.

Tidak ada juri.

Tidak ada nama besar yang berdiri di belakangnya.

Hanya sebuah mobil yang membutuhkan perbaikan.

Dan bagi Arga, itulah bagian dari dirinya yang tidak pernah berubah.

Ia tidak membutuhkan pengakuan untuk melakukan pekerjaan dengan benar.

Namun, ia juga tidak akan membiarkan kebohongan masa lalu terus menentukan masa depannya.

Pukul sepuluh pagi, Nadia Prameswari mengirimkan pesan.

Aku menemukan catatan lama yang mungkin berkaitan dengan Raka. Datanglah ke pusat dokumentasi perusahaan. Aku sudah mengajukan izin pemeriksaan.

Arga segera menghubunginya.

“Dokumen apa yang kamu temukan?”

“Catatan serah terima tugas teknisi integrasi. Ada satu formulir yang tidak cocok dengan riwayat kepegawaian Raka.”

“Apakah namanya tercantum?”

“Ya. Tapi formulir itu tidak menjelaskan ke mana dia pergi setelah tugasnya berakhir.”

Arga meminta Nadia menyimpan salinan digital dan tidak mengubah dokumen asli.

Setelah mendapat izin meninggalkan bengkel selama beberapa jam, ia berangkat menuju pusat dokumentasi perusahaan yang sebelumnya mengelola arsip proyek ARX-9.

Bangunan itu terletak di kawasan perkantoran yang tidak terlalu ramai. Di bagian depan terdapat meja keamanan dan ruang penerimaan tamu.

Nadia sudah menunggunya di sana bersama seorang petugas arsip.

“Pak Arga, saya jelaskan terlebih dahulu,” kata petugas tersebut. “Dokumen yang akan diperiksa merupakan bagian dari arsip lama. Kami mengizinkan pemeriksaan sesuai permohonan, tetapi dokumen asli tidak boleh dibawa keluar.”

“Tentu,” jawab Arga. “Saya hanya ingin mencatat informasi yang relevan dan memverifikasi keterkaitannya.”

Mereka memasuki ruang dokumentasi.

Di atas meja telah tersedia beberapa berkas yang disusun berdasarkan nomor inventaris.

Nadia membuka dokumen pertama.

Itu adalah formulir serah terima pekerjaan yang dibuat beberapa hari setelah pengujian terakhir ARX-9.

Nama Raka Wibisono tercantum pada kolom teknisi integrasi sistem.

Namun, kolom penerima tanggung jawab tidak memuat nama pengganti.

Sebagai gantinya, terdapat keterangan singkat:

PENGALIHAN TUGAS DITANGGUHKAN ATAS PERMINTAAN DIREKTUR PENGAWASAN.

Arga membaca kalimat tersebut dengan saksama.

“Siapa direktur pengawasan yang dimaksud?”

Petugas arsip memeriksa kode dokumen.

“Dalam formulir ini tidak disebutkan nama lengkapnya. Kami perlu mencocokkannya dengan struktur organisasi pada periode tersebut.”

Nadia membuka halaman berikutnya.

Di sana terdapat catatan bahwa sejumlah dokumen teknis milik Raka harus dipindahkan ke penyimpanan terbatas sampai proses audit selesai.

Tidak ada keterangan mengenai alasan pembatasan tersebut.

“Apakah ada tanda terima pemindahan?” tanya Arga.

Petugas memeriksa daftar lampiran.

“Ada nomor referensi, tetapi dokumen pendukungnya belum ditemukan dalam berkas ini.”

Arga mencatat nomor tersebut.

Ia tidak ingin menyimpulkan bahwa Raka sengaja disembunyikan oleh perusahaan. Bisa saja proses administrasi saat itu memang belum selesai, atau dokumen pendukungnya tersimpan di bagian lain.

Namun, ada satu pertanyaan yang semakin sulit diabaikan.

Mengapa pemindahan dokumen Raka harus menunggu persetujuan seorang direktur pengawasan?

Dan mengapa tidak ada catatan jelas mengenai siapa yang menerima tanggung jawabnya?

Sebelum mereka melanjutkan pemeriksaan, petugas arsip kembali membawa sebuah map tipis.

“Ini ditemukan dalam bundel yang sama. Sepertinya belum pernah dimasukkan ke indeks utama.”

Ia meletakkan map tersebut di atas meja.

Pada sampulnya tertulis:

CATATAN KOREKSI LAPORAN KESELAMATAN — ARX-9.

Arga dan Nadia saling berpandangan.

“Boleh kami memeriksanya?” tanya Nadia.

“Boleh, selama pemeriksaan tetap dilakukan di sini.”

Arga membuka map tersebut perlahan.

Di dalamnya terdapat dua halaman catatan koreksi. Sebagian isinya berkaitan dengan ketidaksesuaian data pengujian dan permintaan agar laporan keselamatan awal dilampirkan dalam evaluasi akhir.

Pada halaman kedua, ada sebuah kalimat yang diberi garis bawah:

Keberatan teknis harus tetap tercatat meskipun pengujian telah dihentikan oleh pihak pengawas.

Di bawah kalimat itu terdapat paraf kecil.

R.W.

Arga terdiam.

Nadia membaca bagian tersebut dua kali.

“Ini bisa menjadi bukti bahwa seseorang dengan inisial R.W. pernah mengajukan keberatan teknis.”

“Ya,” jawab Arga. “Tetapi kita masih harus memverifikasi siapa yang menulisnya dan apakah dokumen ini benar-benar berasal dari periode yang sama.”

Petugas arsip mencatat nomor dokumen dan mengonfirmasi bahwa map itu memang tercatat dalam bundel arsip proyek, meskipun belum masuk indeks utama.

Arga meminta salinan resmi melalui prosedur yang tersedia.

Ketika mereka meninggalkan ruang dokumentasi, ia membawa satu kesimpulan penting.

Raka bukan sekadar nama yang pernah muncul dalam daftar personel.

Ada catatan yang menunjukkan seseorang dengan inisial yang sama pernah berusaha mempertahankan keberatan keselamatan agar tidak hilang dari laporan akhir.

Namun, nasib orang tersebut masih belum jelas.

Pada saat yang sama, di arena National Automotive Engineering Challenge, Rendy Mahardika sedang menghadapi babak penyisihan berikutnya.

Ia harus menyelesaikan diagnosis kendaraan performa tinggi secara mandiri.

Arga belum tiba kembali di arena, sehingga Rendy tidak bisa meminta pendapatnya.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa selama beberapa babak terakhir, ia terlalu terbiasa berdiskusi dengan Arga.

Ia memeriksa data yang tersedia, menyusun daftar kemungkinan penyebab, lalu menguji hipotesisnya satu per satu.

Masalah kendaraan tersebut berupa penurunan respons tenaga yang muncul setelah mesin bekerja dalam kondisi tertentu. Hasil pemindaian awal menunjukkan beberapa catatan kesalahan, tetapi tidak ada satu pun yang secara langsung menunjuk komponen yang rusak.

Rendy menahan keinginannya untuk langsung mengganti sensor yang paling sering dikaitkan dengan gejala tersebut.

Ia memeriksa sambungan, membandingkan data aktual dengan nilai referensi, dan mengulangi pengujian setelah memastikan kondisi kendaraan aman.

Pada akhirnya, ia menemukan bahwa gangguan berasal dari sambungan listrik yang tidak stabil.

Bukan kerusakan besar.

Bukan pula komponen mahal.

Namun, masalah itu cukup untuk membuat kendaraan kehilangan respons pada saat dibutuhkan.

Setelah perbaikan dan pengujian ulang, hasilnya kembali normal.

Rendy memperoleh nilai tinggi.

Ketika keluar dari area pengujian, ia melihat Arga baru saja tiba.

“Kamu terlambat,” katanya.

“Aku sedang memeriksa dokumen lama.”

Rendy mengangkat alis.

“Dan aku baru saja menyelesaikan diagnosis tanpa bantuanmu.”

Arga tersenyum.

“Bagaimana hasilnya?”

“Nilai tinggi. Tapi aku tidak akan memberitahumu detailnya.”

“Bagus. Berarti kamu mulai percaya pada kemampuanmu sendiri.”

Rendy terdiam sejenak.

“Aku ingin mengatakan sesuatu.”

Arga menunggu.

“Selama ini aku berpikir orang yang hebat adalah orang yang bisa menyelesaikan masalah paling cepat. Tapi sekarang aku mulai paham bahwa yang lebih penting adalah mengetahui kapan kita benar-benar sudah menemukan penyebabnya.”

Arga menepuk bahunya.

“Kecepatan memang penting. Tapi keputusan yang salah bisa membuat kita mengulang pekerjaan dari awal.”

Rendy mengangguk.

Hubungan mereka perlahan berubah menjadi persaingan yang sehat.

Namun, ketenangan itu terganggu ketika seorang petugas panitia menghampiri mereka.

“Pak Arga, ada seseorang yang meminta bertemu dengan Anda. Dia mengatakan memiliki informasi terkait proyek ARX-9.”

“Siapa namanya?”

“Dia tidak memberikan nama lengkap. Tetapi dia meninggalkan pesan.”

Petugas menyerahkan secarik kertas.

Tulisan di atasnya hanya satu kalimat.

Tanyakan kepada Marcus Hale siapa yang memberinya perintah untuk mengesahkan laporan final.

Arga mengangkat pandangan.

Rendy membaca pesan itu dari sampingnya.

“Marcus lagi?” gumamnya.

“Bisa jadi petunjuk. Bisa juga upaya untuk mengalihkan perhatian kita.”

“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”

“Aku akan meminta pertemuan resmi dan menanyakan pertanyaan itu langsung kepadanya.”

Rendy mengangguk.

“Kalau kamu membutuhkan saksi, aku akan ikut.”

Arga menatapnya sebentar.

“Kamu tidak harus terlibat.”

“Aku tahu. Tapi kalau ayahku ikut terseret dalam perkara ini, aku juga perlu mengetahui kebenarannya.”

Arga menerima tawaran tersebut.

Mereka kemudian mengirimkan permintaan pertemuan kepada Marcus melalui panitia, memastikan bahwa komunikasi itu tercatat dan tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Sore hari, Marcus Hale akhirnya menyetujui pertemuan di ruang administrasi kompetisi.

Ia datang bersama seorang petugas hukum yang bertugas mengawasi percakapan terkait dokumen perusahaan.

Arga duduk berhadapan dengannya. Rendy memilih duduk di samping, sementara Nadia bergabung melalui sambungan video.

Marcus terlihat lelah.

“Aku sudah membaca permintaan kalian,” katanya. “Apa yang ingin kalian ketahui?”

Arga membuka buku catatannya.

“Siapa yang memerintahkan Anda mengesahkan laporan final ARX-9 meskipun laporan keselamatan awal memuat keberatan teknis?”

Marcus menatap Arga cukup lama.

“Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu hanya berdasarkan ingatan.”

“Apakah Anda menerima instruksi dari direktur pengawasan?”

Marcus tidak langsung menjawab.

Petugas hukum di sampingnya mencatat sesuatu.

“Dalam proses seperti ini,” kata Marcus akhirnya, “ada beberapa tingkat persetujuan. Aku menerima dokumen evaluasi dari manajemen proyek, lalu memeriksa bagian yang menjadi tanggung jawabku. Aku tidak mengingat adanya instruksi lisan yang bisa kuidentifikasi secara pasti sebagai perintah dari satu orang tertentu.”

Arga tidak puas, tetapi ia memahami bahwa jawaban itu belum tentu merupakan kebohongan.

“Apakah Anda melihat laporan keselamatan awal sebelum menandatangani laporan final?”

“Ya.”

“Apakah Anda mengetahui bahwa ada keberatan teknis yang tidak muncul dalam ringkasan final?”

Marcus menunduk sebentar.

“Aku mengetahui bahwa ada perbedaan antara beberapa versi dokumen.”

“Lalu mengapa Anda menyetujui laporan final?”

Pertanyaan itu membuat ruangan hening.

Marcus akhirnya mengangkat wajah.

“Karena aku percaya perubahan tersebut telah disetujui melalui jalur resmi. Aku menganggap bagian yang tidak tercantum dalam ringkasan final sudah dipindahkan ke lampiran lain.”

“Apakah Anda memverifikasi keberadaan lampiran itu?”

Marcus terdiam.

Kali ini, ia tidak segera menjawab.

“Aku tidak ingat pernah melihat lampiran tersebut setelah paket final disusun.”

Arga mencatat jawabannya.

Marcus melanjutkan, “Aku tidak akan berpura-pura bahwa keputusanku benar. Aku seharusnya memastikan bahwa semua keberatan keselamatan tetap tercatat dengan jelas. Tetapi aku juga tidak bisa mengaku mengetahui siapa yang mengubah dokumen itu jika aku tidak memiliki bukti.”

Arga menatapnya.

“Apakah Anda bersedia menyerahkan catatan pribadi yang masih Anda miliki kepada pemeriksaan independen?”

“Jika permintaan itu dilakukan melalui prosedur resmi, ya.”

Jawaban tersebut tidak menyelesaikan misteri.

Namun, untuk pertama kalinya, Marcus secara terbuka mengakui bahwa ia menyetujui laporan final tanpa memastikan seluruh lampiran keselamatan tetap tersedia.

Setelah pertemuan berakhir, Arga dan Rendy berjalan keluar bersama.

“Menurutmu dia mengatakan yang sebenarnya?” tanya Rendy.

“Aku belum tahu.”

“Kamu bahkan tidak terlihat marah.”

“Aku sudah terlalu lama marah kepada orang-orang yang mungkin mengetahui sesuatu. Sekarang aku ingin mengetahui apa yang benar-benar mereka lakukan.”

Rendy mengangguk.

Mereka baru mencapai lorong ketika ponsel Arga bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Marcus tidak pernah menjadi orang yang mengambil keputusan terakhir. Dia hanya orang yang menandatangani dokumen. Cari perintah asli yang dikirim pada pukul 22.14.

Arga membaca pesan itu dengan hati-hati.

Pukul 22.14.

Waktu yang sama dengan catatan dalam buku lamanya: perintah penghentian ditahan sambil menunggu konfirmasi pengawasan.

Ia segera menunjukkan pesan tersebut kepada Nadia.

“Apakah kita punya catatan komunikasi pada waktu itu?” tanyanya.

Nadia berpikir sejenak.

“Ada kemungkinan. Sistem komunikasi internal ARX-9 menggunakan server terpisah dari server pengujian. Jika arsipnya masih tersimpan, kita mungkin bisa menemukan catatan perintah.”

“Siapa yang mengelola server itu?”

“Bagian integrasi sistem. Tetapi kita perlu memeriksa struktur organisasinya pada tahun tersebut.”

Arga teringat nama Raka Wibisono.

Teknisi integrasi sistem.

Orang yang namanya tidak lagi muncul dalam laporan final.

Mungkin Raka mengetahui siapa yang mengirim perintah pada pukul 22.14.

Mungkin ia sendiri yang menerima perintah tersebut.

Atau mungkin ada orang lain yang menggunakan jalur komunikasi yang sama.

Arga belum memiliki jawaban.

Tetapi kini, mereka memiliki waktu yang bisa dijadikan titik awal untuk pencarian yang lebih terarah.

Malam itu, Arga kembali ke Agung Joyo Motor.

Pak Darto telah menutup sebagian bengkel ketika Arga masuk membawa map berisi salinan dokumen.

“Kamu menemukan sesuatu?” tanya Pak Darto.

“Beberapa petunjuk. Belum ada kesimpulan.”

Arga meletakkan map di atas meja.

Ia menunjukkan catatan koreksi laporan keselamatan dengan paraf R.W., lalu menceritakan pertemuannya dengan Marcus.

Pak Darto membaca salinan itu tanpa banyak bicara.

Setelah beberapa saat, ia menunjuk sebuah kalimat pada halaman kedua.

“Orang yang menulis ini sepertinya tidak ingin keberatan keselamatan dihapus.”

“Itu yang saya pikirkan.”

“Kalau begitu, mungkin orang itu bukan musuhmu.”

“Mungkin. Tapi kita belum tahu siapa yang menulisnya, dan apakah catatan ini lengkap.”

Pak Darto mengangguk.

“Kamu belajar banyak dari masa lalu, Arga.”

Arga tersenyum kecil.

“Saya hanya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.”

Sebelum ia pergi, ponselnya kembali bergetar.

Kali ini bukan pesan.

Sebuah email resmi masuk dari bagian administrasi perusahaan induk Nusantara Precision Systems.

Subjeknya berbunyi:

PEMBERITAHUAN HASIL PEMERIKSAAN AWAL ARSIP SR-04.

Arga segera membukanya.

Isi email menyatakan bahwa audit inventaris telah menemukan ketidaksesuaian serius. Kotak SR-04 memang tercatat dalam sistem digital, tetapi lokasi fisiknya belum dapat dikonfirmasi. Selain itu, terdapat satu dokumen pemindahan arsip yang tidak tercantum dalam daftar distribusi resmi.

Dokumen tersebut memiliki tanggal lima tahun lalu.

Dan pada kolom penerima, tertulis nama yang membuat Arga membeku.

RAKA WIBISONO.

Namun, pada bagian bawah dokumen, terdapat keterangan tambahan:

TANDA TERIMA BELUM DAPAT DIVERIFIKASI.

Arga menatap layar laptop.

Jika dokumen itu asli, Raka mungkin pernah menerima sebagian arsip ARX-9 setelah proyek dihentikan.

Tetapi tanda terima yang belum terverifikasi berarti mereka belum bisa memastikan bahwa pemindahan tersebut benar-benar terjadi.

Arga meneruskan email itu kepada Nadia dan meminta agar semua dokumen pendukung dipertahankan.

Beberapa menit kemudian, Nadia membalas.

Arga, aku menemukan sesuatu yang lebih aneh. Dokumen pemindahan ini dibuat pada pukul 23.48, tetapi tanda persetujuannya tercatat pada pukul 21.07.

Arga membaca pesan itu berulang kali.

Perbedaan waktu tersebut bisa saja disebabkan prosedur administrasi yang tidak biasa atau kesalahan pencatatan. Namun, jika waktu itu memang akurat, berarti persetujuan diberikan hampir tiga jam sebelum pemindahan tercatat dibuat.

Ia belum bisa menyebutnya sebagai pemalsuan.

Tetapi ketidaksesuaian itu harus diperiksa.

Arga menatap foto lama ruang kendali yang masih tersimpan di laptopnya.

Malam itu, seseorang menahan perintah penghentian.

Seseorang menyetujui laporan final yang tidak memuat seluruh keberatan keselamatan.

Dan seseorang mungkin membawa pergi dokumen yang seharusnya menjadi bagian dari arsip resmi.

Kini, semua petunjuk mulai mengarah pada satu waktu yang sama.

Pukul 22.14.

Waktu ketika perintah penghentian ditahan.

Waktu ketika keselamatan tim seharusnya menjadi prioritas.

Dan waktu ketika keputusan yang tidak pernah tercatat dengan jelas mungkin telah mengubah kehidupan banyak orang.

Arga menutup laptopnya.

Ia tahu pencarian berikutnya tidak lagi cukup dilakukan dengan membaca laporan dan mewawancarai saksi.

Mereka harus menemukan catatan komunikasi asli.

Namun, sebelum ia sempat menyusun rencana, sebuah pesan masuk dari nomor yang sama dengan penelepon misterius sebelumnya.

Pesan itu hanya berisi satu kalimat.

Aku Raka Wibisono. Jika kamu ingin mengetahui siapa yang menahan perintah penghentian pada malam itu, datanglah sendirian ke bengkel lama di kawasan industri besok pukul enam pagi. Jangan beri tahu Nadia, Kevin, atau siapa pun.

Arga membaca pesan tersebut berulang kali.

Ia ingin percaya bahwa akhirnya ia telah menemukan saksi yang selama ini dicari.

Namun, permintaan untuk datang sendirian justru membuatnya semakin waspada.

Seseorang yang benar-benar ingin mengungkap kebenaran seharusnya tidak perlu membuatnya mengabaikan keselamatan diri sendiri atau menyembunyikan pertemuan dari semua orang.

Arga tidak membalas pesan itu.

Ia mengambil tangkapan layar, menyimpan nomor pengirim, lalu mengirimkan salinannya kepada Nadia dengan catatan bahwa identitas pengirim belum terverifikasi.

Setelah itu, ia menghubungi orang yang paling ia percaya.

Pak Darto.

“Pak, besok pagi saya mungkin harus memeriksa satu petunjuk di kawasan industri. Saya belum tahu apakah sumbernya bisa dipercaya.”

Pak Darto menjawab tanpa ragu.

“Kalau begitu, jangan pergi tanpa memberi tahu seseorang tentang tujuanmu. Jangan memasuki tempat tertutup sendirian, dan jangan menyerahkan dokumen asli kepada orang yang belum kamu kenal.”

Arga mengangguk.

“Saya akan berhati-hati.”

Ia mematikan layar ponselnya dan memandang langit malam di luar jendela bengkel.

Besok pagi mungkin akan menjadi awal dari jawaban yang telah ia cari selama lima tahun.

Atau justru jebakan yang dirancang untuk menghentikan penyelidikannya.

Apa pun yang menunggunya, Arga bertekad untuk tidak lagi membiarkan orang lain menentukan kebenaran atas namanya.

Bersambung.

1
Rahmat Agung
🙏
Supendi Supendi
lanjut dan semangat terus thor💪
Supendi Supendi
semoga jalan ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan🤣
Supendi Supendi
menarik thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!