Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.
Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05. Luka Bernama Ibu
Mobil sedan hitam mewah milik Rizal berhenti tepat di depan pagar rumah. Sarah turun dengan anggun, membetulkan gaun malamnya yang menjuntai rapi, lalu melambaikan tangan manis ke arah Rizal sebelum kendaraan mahal itu melaju menghilang di kegelapan malam.
Begitu deru mesin mobil tak lagi terdengar, raut wajah manis di paras Sarah seketika menguap. Digantikannya dengan wajah tegang penuh amarah saat ia melangkah lebar memasuki pelataran rumah.
Kriiiieeet.
Langkah Sarah terhenti di ambang pintu. Lampu ruang tamu menyala redup, dan di sana—di atas sofa kusam yang sudah lama tak diganti—Bellona duduk tenang. Kotak kebaya krem yang tadi pagi diantarkan Sarah masih tergeletak utuh di atas meja, sama sekali tidak tersentuh.
“Bagus, ya!” suara Sarah melengking, memecah keheningan rumah. Ia berjalan mendekat dengan ritme heels yang menghentak keras di atas lantai marmer. “Ditelepon nggak diangkat, dicariin nggak ada kabar! Kamu tahu nggak berapa kali Mama harus bohong sama Om Rizal cuma buat nutupin kelakuan kamu yang nggak tahu tata krama ini?!”
Bellona tidak bergerak. Ia hanya mengangkat wajahnya perlahan, menatap perempuan berambut pirang di hadapannya itu dengan mata yang dingin dan hampa.
“Aku nggak minta Mama bohong,” sahut Bellona datar.
“Bellona!” Sarah menunjuk wajah putrinya dengan telunjuk yang gemetar. “Mama ini mama kamu! Mama capek-capek nyiapin masa depan, nyari calon suami yang terpandang, tapi kamu malah kayak begini! Kamu sengaja mau ngerusak kebahagiaan Mama, iya?!”
Bellona terkekeh pelan. Sebuah terkekeh hambar yang justru membuat suasana di ruangan itu semakin memanas.Ia bangkit berdiri, menyejajarkan tingginya dengan Sarah.
“Kebahagiaan Mama?” Bellona menatap lurus ke dalam manik mata ibunya. “Atau kebahagiaan Mama sendiri yang dibungkus pakai nama aku? Dari dulu Mama selalu bilang ‘demi masa depan kamu’, tapi jujur deh, Ma... kapan pernah ada ‘aku’ di dalam pikiran Mama?”
“Kamu—”
“Aku nggak butuh papa baru, Ma!” potong Bellona cepat, suaranya naik satu oktav, menumpahkan segala desakan yang menumpuk di dadanya sejak pagi. “Aku nggak butuh Om Rizal, aku nggak butuh keluarga settingan yang Mama buat-buat itu!”
Sarah tersentak, tetapi ia cepat menetralkan rasa terkejutnya dengan raut wajah keras. “Jangan kekanak-kanakan, Belle! Kamu butuh sosok figur ayah! Kamu butuh keluarga yang utuh!”
“Figur ayah?” Bellona tertawa sinis, matanya mulai memerah menahan panas yang menjalar ke pelipisnya. “Selama ini aku nggak pernah punya papa, Ma. Boro-boro punya sosoknya, tahu namanya aja enggak! Mama pernah cerita siapa laki-laki yang udah bikin aku ada di dunia ini? Nggak pernah!”
Kata-kata itu menghantam ruangan seperti dentuman keras.
“Aku bahkan nggak tahu kenapa aku harus lahir ke dunia ini kalau cuma buat jadi beban di hidup Mama!” lanjut Bellona dengan nada gemetar. “Selama belasan tahun Mama biarin aku tumbuh tanpa tahu siapa papa aku, dan sekarang tiba-tiba Mama bawa laki-laki asing, suruh aku panggil dia 'Papa', terus berharap aku bisa senyum manis seolah-olah semuanya baik-baik aja?! Mama gila!”
Plak!
Suara tamparan memecah udara. Wajah Bellona terlempar ke samping. Pipi kirinya terasa panas dan kebas, tetapi ia tidak memegangnya. Ia hanya memejamkan mata sejenak, menerima rasa sakit yang rasanya jauh lebih ramah dibanding kata-kata yang keluar dari mulut ibunya.
Sarah memegang telapak tangannya yang gemetar. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun meluapkan emosi yang memuncak.
“Jaga mulut kamu, Bellona!” bentak Sarah dengan suara yang gemetar menahan amarah dan kehormatannya yang merasa terinjak.
Sarah maju satu langkah, menatap putrinya dari atas ke bawah dengan tatapan penuh penekanan.
“Kamu pikir hidup cuma soal perasaan kamu aja?! Kamu pikir romantisme masa lalu dan idealisme konyol kamu itu bisa ngebayar biaya sekolah?! Bisa ngebeli makan kamu sehari-hari?!”
Sarah menunjuk ke sekeliling rumah kusam yang mereka tinggali—rumah tua yang selama ini disokong oleh mendiang ibunya.
“Oma kamu udah nggak ada, Bellona! Nggak ada lagi tempat kamu ngadu atau minta perlindungan! Cuma Mama... cuma Mama dan pernikahan ini yang bisa jamin kehidupan kamu ke depannya!” tekan Sarah, setiap katanya ditata seperti vonis mati. “Om Rizal itu punya uang, punya posisi! Tanpa dia dan tanpa Mama yang mau merendahkan gengsi buat nikah, kamu itu nggak ada apa-apanya! Kamu nggak bakal bisa bertahan hidup!”
Hening mendadak jatuh menguasai ruang tamu itu.
Bellona perlahan memutar kepalanya kembali, menatap Sarah. Tidak ada air mata yang jatuh di pipinya yang memerah. Rasa sakit akibat tamparan itu menghilang, digantikan oleh rasa kebas yang teramat dingin di dasar hatinya.
Ia melihat perempuan di hadapannya bukan lagi sebagai sosok ibu, melainkan seorang asing yang menjual segalanya demi rasa aman yang semu.
“Kalau jaminan hidup yang Mama maksud adalah harus jadi orang asing di rumah sendiri...” Bellona berbisik pelan, hampir tak terdengar, tetapi cukup tajam untuk mengiris keheningan. “...aku lebih pilih nggak punya apa-apa.”
Tanpa menunggu balasan Sarah, Bellona memutar tubuhnya, berjalan melangkahi kotak kebaya di atas lantai, lalu masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu rapat-rapat.
Brak!
Sarah berdiri sendirian di ruang tamu yang dingin, mengepalkan tangannya rapat-rapat dalam kesunyian.
***
Pagi harinya, sinar matahari menyusup samar melalui celah gorden kamar Bellona. Pipi kirinya masih terasa sedikit hangat dan menyengat—sisa tamparan semalam yang kini meninggalkan jejak kemerahan samar.
Pintu kamar Bellona mendadak terdorong keras tanpa ketukan.
Sarah berdiri di ambang pintu. Pakaiannya tampak rapi dengan kacamata hitam yang bertengger di atas kepalanya. Tidak ada raut bersalah atau sisa amarah semalam di wajahnya. Yang ada hanya ekspresi dingin penuh kendali.
“Bangun. Ikut Mama,” ucap Sarah singkat.
Bellona yang sedang duduk di tepi ranjang hanya meliriknya dingin. “Aku nggak mau ke mana-mana.”
Sarah menyunggingkan senyum tipis—senyum yang membuat bulu kuduk Bellona merinding.
“Semalam kamu bilang mau tahu siapa papa kamu, kan?” Sarah melipat kedua tangannya di dada. “Kamu bilang kamu nggak tahu kenapa kamu ada di dunia ini. Yaudah, ayo ikut. Mama anter kamu ketemu sama dia hari ini.”
Jantung Bellona berdegup kencang secara spontan. Pernyataan itu menghantamnya tepat di dada, tetapi rasa curiga jauh lebih mendominasi. Selama belasan tahun, nama itu tabu di rumah ini. Tidak mungkin Sarah tiba-tiba berubah pikiran hanya dalam semalam.
“Nggak usah bohong, Ma,” sahut Bellona serak. “Aku nggak butuh.”
“Mama nggak lagi nawarin, Bellona,” potong Sarah penuh penekanan. “Kamu yang minta semalam. Sekarang Mama kabulin. Jadi berdiri, dan ikut Mama.”
“Aku bilang NGGAK MAU!” Bellona menegaskan posisinya, memalingkan wajah dan enggan bergeming dari tempat tidur.
Sarah mengembuskan napas kasar, lalu menepuk tangannya dua kali. “Masuk.”
Langkah kaki berat mendadak terdengar dari luar kamar. Dua orang pria bertubuh tegap dengan kemeja batik rapi—orang-orang suruhan Rizal yang sengaja disiapkannya—masuk ke dalam kamar yang sempit itu. Suasana seketika berubah mencekam.
Mata Bellona membelalak. “Ma! Apa-apaan ini?!”
“Bawa dia ke mobil. Pastikan dia duduk manis di kursi belakang,” perintah Sarah tanpa sedikit pun keraguan di matanya. Ia berbalik dan melangkah santai keluar kamar.
“Lepasin! Jangan pegang-pegang!” jerit Bellona saat kedua pria itu memegang kedua lengan dan mencengkeramnya kuat.
Bellona mencoba memberontak, menendang ke segala arah, tetapi tenaganya sama sekali tidak sebanding. Tubuh mungilnya diseret paksa keluar dari kamar, melewati ruang tamu, hingga keluar menembus Pagar rumah.
Aksesori dan barang-barang di sekitar lorong sempat tersenggol saat Bellona berusaha menahan tubuhnya di kosen pintu, namun cengkeraman pria-pria itu terlalu kokoh.
Kriiiiieeet.
Suara pagar tua berderit keras mengiringi tubuh Bellona yang dipaksa masuk ke dalam pintu tengah mobil MPV hitam yang sudah terparkir di depan rumah. Pintu bergeser itu dibanting tutup dari luar.
KLIK.
Suara sistem pengunci otomatis terdengar dingin.
Bellona menggedor-gedor kaca mobil dari dalam dengan napas tersengal-sengal. “Buka! Ma, buka pintunya! Mama mau bawa aku ke mana?!”
Di luar, Sarah membetulkan kacamata hitamnya, mengabaikan gedoran dan teriakan putrinya dari balik kaca mobil gelap. Ia melangkah anggun menuju kursi penumpang depan, lalu membuka pintu dan duduk di samping pengemudi.
“Jalan,” perintah Sarah tenang kepada sopirnya.