NovelToon NovelToon
LIKA LIKU HATI

LIKA LIKU HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Dosen
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sopaatta

'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.

》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.

》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :

~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~

》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"

Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗

Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Aneka Ria

...~•Happy Reading•~...

Angga ikut melihat ke mobil pik up yang telah parkir tidak jauh dari mobilnya. "Kau janjian dengan Monce juga?" Angga terkejut dan tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

Dia memukul bahu Nelson dengan kepalan renggang. "Jadi Anggi, aku garuk hidungmu dengan kulit durian." Ancam Nelson membuat mereka tertawa. "Refleks." Ucap Angga di sela tawa mereka.

"Anggi, kau makin menawan." Ucap Monce yang turun dari mobil.

"Gak usah puja puji. Keenakan di kampung sampe gak ingat kami." Angga bersikap kesal, tapi tidak tahan saat Monce mendekat dan menautkan bahu dengannya dan Nelson.

"Akhirnya aku melihatmu lagi." Monce memegang wajah Angga.

"Kau makin menggemaskan kalau lagi kesal." Monce menepuk pipi Angga pelan, membuat Nelson makin tertawa.

"Gak usah merayu. Aku sekarang sangat kesal. Kau pulkam gak kabar-kabari, gak bisa dihubungi." Angga bersikap galak. "Tapi mengapa kulitmu agak coklat?" Angga menarik tangan Monce dan memperhatikan kulit wajah dan tangannya.

"Ya, beginilah bekerja di alam persada. Yang penting kalian masih mengenalku." Nelson dan Angga jadi tertawa melihat gaya Monce memperagakan pekerjaannya dengan tangan seperti orang berenang.

"Eh, ada bau dunia." Monce baru tersadar dengan bau durian. "Siapa yang jual durian ini?" Monce menunjuk ikatan durian di dekat motor Nelson.

"Kekasih gelapku... Nih, bayar berlipat-lipat harganya." Angga langsung menaikan ikatan durian ke mobil Monce.

"Benaran, itu kau beli buatku?" Monce tidak berpikir dibawa Nelson.

"Itu hasil kerja kerasnya di gunung." Angga menjelaskan dengan wajah serius.

"Itu makan sepuasnya. Supaya gak ribut minta menjelajah pasar buat cari durian." Ucapan Nelson membuat Monce tertawa ingat kelakuan mereka cari durian di pasar.

"Kalau begitu, barter dengan hasil panenku." Monce membuka penutup bagasi pik up. "Anggi, mau mentah atau panggang?" Teriak Monce dari dalam mobil untuk meledek Angga.

"Dua duanya." Jawab Angga santai, walau tidak mengerti maksud pertanyaan Monce. Dia sudah tahu, apa pun tawarannya, pasti baik.

"Niii, masukan ke mobil." Monce memberikan kotak styrofoam berukuran sedang, tapi berat. "Jangan lupa bagi Evi." Monce mengingatkan, saat mereka meletakan kotak styrofoam di bagasi mobil Angga.

"Monce, kau serius bawa ini buat kami?" Angga terkejut saat membuka tutup kotak styrofoam dan melihat ikan kerapu yang sudah dipanggang dan juga masih mentah, tapi dibekukan.

"Kenapa? Kalau gak suka, kita jual saja di sini." Wajah takjub Angga membuat Monce suka meledeknya.

"Sudah, pinda sana." Angga mendorong Monce. "Aku mau amankan ini."

Namun Nelson mendorongnya, karena penasaran dengan bawaan Monce. "Waaaah, Mon. Kasihan sekali. Dia harus menelan air liur sepanjang jalan." Nelson ikut meledek Angga.

"Sudah, Son. Biarkan dia berjuang kendalikan air liurnya." Monce menarik tangan Nelson. "Bantu ikat ini di motormu." Monce memberikan kotak styrofoam yang sama kepada Nelson.

"Thanks Mon. Ternyata usaha keramba keluargamu sukses besar." Nelson ingat Monce pamit pulang kampung untuk bantu usaha orang tuanya membudidayakan ikan kerapu di keramba jaring apung.

"Alhamdulillah." Angga bersyukur dengan wajah cerah. Dia tidak menyangka kedua temannya akan membawa ole-ole untuknya. Sehingga hatinya penuh oleh rasa haru.

"Walau orang tuaku gak punya kampung, hari ini aku bawa pulang hasil dari kampung. Thanks, Bro Son, Ce."

"Ingat, bagi buat Evi." Nelson mengingatkan Angga lagi.

"Oh iya, untung kau bilang Evi." Monce maju mendekati Angga. "Kerapu yang besar dan sudah dipanggang itu buat Evi." Monce jadi membuka tutup styrofoam dan menunjuk ikan yang dia maksud.

Nelson ikut melihat. "Pindah, Anggi. Aku mau foto dan kirim ke Evi. Kadang air liurmu gak sopan lihat yang menggoda." Ucapan Nelson membuat Monce tertawa.

"Astagfirullah... Son, Son, segitu curiganya padaku." Angga meninju bahu Nelson. Mereka bertiga tertawa sambil menutup pintu bagasi mobil Angga.

"Karna orang tuaku gak punya kampung, tapi punya uang, aku akan traktir. Kita makan enak setelah Son lulus ujian." Janji Angga sebagai rasa persaudaraan di antara mereka.

Nelson dan Monce tidak mengganggap Angga sedang pamer kekayaan orang tuanya, tapi itu adalah bentuk kasih sayang di antara mereka. Berbagi dan saling support tanpa diminta.

"Angga, usahakan skripsi kita disetujui secepatnya. Supaya bisa wisuda bersama Nelson." Monce jadi ingat skripsi dan menyemangati Angga.

"Ayo, siapa takut." Angga merasa tertantang dan percaya diri.

"Ok, good. Semoga yang ada di mobil bisa jadi amunisi." Nelson menautkan bahu dengan hati senang. "Nanti call call. Aku pamit duluan, sudah mulai panas." Nelson naik motor dan melambai.

~••

Setelah melewati jalan yang padat merayap, Nelson tiba di rumah. "Maaa, Paaa, tolong ini." Teriak Nelson yang melihat pintu rumah terbuka.

Pak Esra berlari keluar mendengar suara Nelson. "Kau bawa apa sebanyak ini?" Pak Esra terkejut melihat motor Nelson seperti orang mau ke pasar.

Nelson senang melihat Papanya berakhir pekan di rumah. "Papa tolong angkat ini. Nanti aku cerita kisahnya." Dia memarkir motor, lalu masuk ke dalam rumah untuk meletakan backpacker. Kemudian dia keluar membantu Papanya yang sedang melepaskan durian dari motor.

"Pohon durian Kakek berbuah banyak?" Tanya Pak Esra sambil menjinjing ikatan durian ke dalam rumah.

"Aku gak tahu pohon berbuah banyak, Pa. Tapi setiap hari Om Tante dan Zeth bawa pulang durian sangat banyak." Nelson menceritakan. Mengapa dia tidak tahu, karena tidak diijinkan Kakeknya ke hutan.

"Baguslah. Kau datang tepat waktu, jadi bisa makan sepuasnya."

"Iya, Pa. Kakek pilih buah yang enak buatku dan Tine..." Nelson bercerita sambil menurunkan durian.

"Lalu apa itu di kotak? Apa kakekmu buka durian dan masukan ke situ juga?"

"Kita angkat dulu, Pa. Nanti Papa lihat isinya." Nelson sengaja menggoda Papanya.

Pak Esra tercengang saat membuka tutup styrofoam di dapur. "Kau dengan siapa pergi mancing?"

"Bukan mancing, Pa. Itu ole-ole Monce dari kampung."

"Oh, ini usaha keluarganya yang kau bilang itu?"

"Iya, Pa. Sekarang makin sukses setelah Monce sering pulang bantu."

"Baguslah. Semoga menjadi ladang usahanya. Biar ada banyak pekerja di kampung." Pak Esra mengeluarkan ikan mentah dan pindahkan ke kulkas. Sedangkan yang sudah dipanggang Nelson letakan di atas meja makan.

"Semoga Mama gak beli banyak ikan..." Pak Esra menceritakan Bu Weny sedang ke pasar.

"Neelll..." Tiba-tiba terdengar suara Bu Weny dari halaman saat melihat motornya.

"Panjang umur Mamamu." Pak Esra merapikan durian di lantai, agar tidak tersandung.

"Hiiiii... Weniiiii..." Nelson membuat wajah jelek lalu memeluk erat Mamanya.

"Anak nakal..." Bu Weny memeluknya, erat. "Dari mana ikan sebanyak ini?" Bu Weny tertegun melihat ikan kerapu di atas meja dengan mata berbinar.

Nelson kembali menceritakan seperti kepada Papanya. "Mama, aku mau mandi dan istirahat, ya. Lelah badan dan jantung turun gunung bawa durian..." Dia menceritakan durian yang diberikan juga kepada Angga dan Monce.

"Iya. Mandi dan istirahat. Nanti Mama bangunin buat makan." Mamanya mendorong lengannya untuk meninggalkan dapur, sebab melihat Papanya masih mau bicara.

...~•••~...

...~•○♡○•~...

1
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
kalau masih gelap jd kebayang jalanan sepi.. banyak pohon2.. gelap.. hii.. serem juga
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
huehehehe.. mamanya lagi melow yaa Nelson. dibawa bercanda aja spy hatinya terhibur
❥␠⃝ ͭ🍁𝗨𝗺𝗺𝗮💃🆂🅾🅿🅰🅴
Syukurlah Nelson lulus dengan nilai bagus, untung teman-teman Nelson langsung menariknya keluar dari situ sehingga si Alena tidak bisa mendekatinya dan berbuat macam-macam, kamu itu seperti penguntit saja Alena selalu membuntuti Nelson dimanapun dia berada padahal Nelson sudah berusaha menghindari mu
❥␠⃝ ͭ🍁𝗨𝗺𝗺𝗮💃🆂🅾🅿🅰🅴
Keluarga yg mana Alena yg sedang kau kunjungi, atau kamu lagi curi-curi kesempatan untuk bertemu dengan Nelson, pakai acara suruh nganterin ke dermaga, memang nya kamu sampai ketempat itu naik apa kok minta diantar balik
Rahmawati
selamat Nelson, lulus dengan predikat summa cumlaude
❥␠⃝ ͭ🍁Hermina🧣❣️
Selamat dan sukses babang nelson. semoga jadi pados yang membanggakan juga ❣️
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Jelas beda dnk, circle Nelson tulus sdgkn Alena pny circle ...
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
aku udah mulai paham nih. ternyata alena hanya bergaya punya banyak uang ya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
kalau numpang sama saudara emang begini sih. ga enak rasanya. mendingan kost
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒
marah2 aja nih mamanya. apa mama dan papa alena sdh berpisah ya
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Huaaa itu salah satu taktik & strategi Alena spy bisa deket dgmu, Nelson 🤦🤦🤦
❥␠⃝ ͭ🍁Hermina🧣❣️
alena sadis. berubah cuma buat menarik hati babang nelson. semua cara ditempuh. wanita begini menyeramkan 🙊🙈
❥␠⃝ ͭ🍁Ƭɧȋєʀᴀ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
hilihh Alena itu cuma pencitraan biar terlihat berubah baik dihadapan Nelson lagian udah kayak penguntit aja sich tau segala kegiatan Nelson di luar 😒😒🤧
❥␠⃝ ͭ🍁Ƭɧȋєʀᴀ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
wkwkkk kasih tau dulu Evi takut jatah buatnya dihabiskan sama Angga 🤭🤣🤣
Rahmawati
ikut terharu liat kasih sayang kakek pada nelson🥰
❥␠⃝ ͭ🍁𝗨𝗺𝗺𝗮💃🆂🅾🅿🅰🅴
Walaupun tidak punya pohon durian Nelson dapat jatah durian super yg banyak namanya juga rezeki tak terduga malah bisa berbagi sama teman-teman Nelson malah jadi ajang barter oleh-oleh dari hasil pulang kampung walaupun Nelson sendiri yg pulang ke kampung kakeknya
🍁🐰Avrily❤🔍🌐
persahabatan sudah jarang ditemukan saat ini. semoga bisa jadi inspirasi 👍👍💖
❥␠⃝ ͭ🍁Hermina🧣❣️
senang baca persahabatan dan cara pertemanan babang nelson angga dan monce ❣️
Rahmawati
angga harus tutup mulut biar liurnya gk netes😂
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
persahabatan antara Nelson Angga dan Monce benar benar sudah seperti saudara kandung aja saling berbagi saling support satu sama lainnya keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!