"masukkan kartu penyegelnya sekarang, atau kita akan mati di tempat ini!,
saat satu persatu siswa lenyap misterius dan hanya memisahkan debu hitam, itsuki ikawasi dan teman temannya terjebak oleh siluman pemangsa manusia, situasi menjadi gila ketika sahabat mereka berbalik menyerang di bawah sihir hitam!
dipojokkan oleh amukan api dari raja siluman pemangsa manusia dan penyanderaan di atas kawah lava gunung valerius, itsuki terpaksa meledakkan rahasia terbesarnya: kebangkitan murni kekuatan 7 elemen.
berhasilkah mereka menyegel monster legendaris tersebut, ataukah ini awal dari perang dimensi yang jauh lebih besar? .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NABILA_08.p, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 Sisa Abu Di Dasar Hilangnya Harapan
Kegelapan total sempat merenggut kesadaran kaguya. Namun, rasa sakit yang membakar di sekujur tubuhnya menolak membiarkannya mati dalam ketenangan, kesadarannya di tarik paksa lagi ke permukaan bumi yang dingin. Matanya terbuka perlahan, hanya untuk mendapati pandangannya tertutup oleh lapisan darah yang mengering dan debu tebal.
Setiap embusan napasnya terasa seperti tusukan pisau belati di dalam paru-paru, tulang-tulangnya retak ,dan energi sihir di dalam cincinnya benar-benar suram, menyusahkan logam dingin yang tak lagi berdenyut.
Di hadapannya, keheningan yang mencekam menyelimuti area pertempuran, asap hitam dari api Kaguya masih membumbung tinggi, berbaur dengan bau anyir darah dan lendir korosif, warga sipil yang terbebas dari kutukan tergeletak di mana-mana, tak bergerak bagaikan ladang mayat.
Namun, ancaman besar belum menghilang, makhluk raksasa dari dasar sumur itu masih berdiri kokoh, ratusan tentakelnya bergerak pelan, menghasilkan suara gesekan di atas tanah berbatu, seolah-olah sedang merayakan kemenangan mutlak atas tiga pahlawan yang kini telah hancur.
Kaguya mencoba menggerakkan jari jemarinya. Dengan susah payah, ia memutar kepalanya ke samping, beberapa meter dari tempatnya berbaring, tubuh Itsuki masih berburu kaku. Kulit sang Sovereign yang biasanya di aliri dengan garis-garis magma merah membara, kini berubah menjadi abu-abu pucat kehitaman.
Racun makhluk itu telah mengkristal di sekitar dadanya, bentuk pola jaring hitam yang mengunci detak jantungnya. Dua peluru energi yang di tembakan Kaguya sebelumnya masih menancap di dada itsuki, memancarkan pendaran cahaya biru redup, yang menahan berjuang menahan laju racun agar tidak menghancurkan jiwa Itsuki sepenuhnya.
Namun, itu hanya menunda kematian. Itsuki tidak bergerak, tidak bernapas, ia bagaikan patung batu yang menunggu untuk hancur menjadi serpihan.
"Itsuki...." bisik Kaguya, namun suara yang keluar dari tenggorokannya hanyalah desisan parau tanpa kekuatan. Air mata kembali meleleh, membasahi luka terluka di pipinya.
Ingatannya kemudian melayang ke Roy, sahabatnya yang humoris namun handal dalam pertemuan itu telah di lemparkan ke dalam sumur maut. Pikiran tentang tubuh Roy yang hancur di dalam dasar kegelapan purba itu membuat dada Kaguya semakin sesak. Rasa bersalah yang menghantam jiwanya lebih keras dari pada hantaman tentakel monster sebelumnya.
Tiba-tiba, suara erangan pelan terdengar dari arah balik bongkahan batu besar di bibir sumur. kaguya tersentak. Dengan sisa-sisa kekuatannya yang ia kumpulkan dari rasa keras kepalanya , ia menyeret tubuhnya di atas tanah. Setiap jengkal per seretan tubuhnya menghasilkan rasa sakit yang luar biasa, namun, ia mengabaikan nya.
Ia terus merangkak, meninggalkan jejak darah panjang di belakangnya. Ketika ia berhasil mengintip dari balik batu, matanya terbelalak.
Hinata.
Gadis itu perlahan-lahan mulai membuka matanya, tembakan spiritual dari Roy sebelum memutus rantai kutukan yang mengendalikan pikirannya. Hinata memegangi kepalanya yang terasa pening luar biasa. Wajahnya pucat, dan pakaiannya kotor oleh lumpur sumur.
Ketika kesadarannya pulih sepenuhnya, hal pertama yang di tangkap oleh matanya adalah pandangan neraka di sekelilingnya.
"KA.... KAGUYA?", Hinata berpikir sebentar melihat kondisi Kaguya yang bersumpah darah dengan pakaian yang robek-robek. Ia segera merangkak mendekati kaguya, air matanya langsung menetes melihat penderitaan temannya, "Apa yang terjadi? Dimana Itsuki? Dimana Roy?".
Kaguya tidak mampu menjawab dengan kata-kata yang runtut, ia hanya bisa mengarahkan pandangannya yang layu ke arah tubuh kaku Itsuki, lalu beralih menatap lubang sumur yang menganga lebar di dekat mereka.
Hinata mengikuti arah pandang Kaguya, ketika ia melihat Itsuki tergeletak kaku di tanah dengan dada yang menghitam, dan menyadari bahwa Roy tidak ada sama sekali di sana melainkan telah di uncalkan ke dalam sumur maut, seluruh tubuh Hinata bergetar hebat.
Jantungnya seakan berhenti berdetak, rasa syok dan luka yang mendalam menghantam seketika. Ia ingat bagaimana dirinya menggeliat dan memberontak liat menyerang itsuki sebelumnya. Ia ingat bahwa semua ini terjadi karena mereka mencoba menyelamatkannya.
"Tidak....Tidak mungkin...." Hinata menggelengkan kepalanya dengan histeris, ia mengguncang-guncang tubuh kaguya, "ini tidak nyata kan,? , Kaguya, katakan padaku ini semua hanya mimpi buruk!".....
Namun, realitas tidak memberikan ruang untuk penyangkalan. Makhluk misterius bertentakel itu menyadari kalau masih ada dua mangsa yang tersisa dan terbangun . Monster itu mengeluarkan suara raungan rendah yang menggetarkan malam, salah satu tentakelnya yang di penuhi diri yang beracun kembali terangkat tinggi di udara, bersiap untuk menghujani kebawah mengakhiri hidup Kaguya dan Hinata sekaligus.
Melihat bahaya yang mendekat, ketakutan di dalam diri Hinata mendadak lenyap, di gantikan oleh luapan emosi yang membakar, sebagai seorang keturunan yang memiliki darah penyembuh dan menjaga spiritual, ia tidak bisa membiarkan pengorbanan teman-temannya sia-sia.
"jangan sentuh mereka, makhluk terkutuk!"....
teriak Hinata dengan lantang.
Hinata berdiri tegak di depan tubuh Kaguya yang tak berdaya, ia merentangkan kedua tangannya. Di dadanya, sebuah energi murni yang tertekan oleh kutukan mendadak meledak keluar. Cahaya putih keperakan yang sangat terang memancar dari tubuh HINATA, membentuk sebuah kubah pelindung absolut berbentuk bunga teratai yang suci.
BUM!.
(Bersambung).