NovelToon NovelToon
EFEK MANDAROBA

EFEK MANDAROBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: just Zii

Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.

Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.

​Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.

Alden.

Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.

​BRAAKK!

​Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:

​"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: KERTAS TANPA TULISAN

Mobil sedan hitam bersuspensi halus itu meluncur tanpa suara menyusuri jalanan privat yang diapit oleh pepohonan pinus yang menjulang tinggi.

Di dalam kabin yang senyap dan beraroma kulit mewah, Sesil menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Di luar, kabut tipis menyelimuti perbukitan, memotong akses visual ke peradaban.

Di sampingnya, Alden duduk tegak. Jemarinya yang panjang dan kokoh bertaut rapat dengan tangan kanan Sesil, seolah memperingatkan dunia luar bahwa wanita di sisinya adalah miliknya yang paling berharga.

"Kita hampir sampai," ucap Alden lembut. Suaranya memecahkan kesunyian yang menggantung sejak mereka meninggalkan klinik swasta dua jam lalu. "Tempat ini selalu menjadi favoritmu, Sesil. Tempat di mana kita merencanakan masa depan."

Sesil tidak menjawab.

Ia hanya mengangguk pelan, berusaha mengukir senyum tipis yang terasa canggung di bibirnya. Sejak terbangun dari koma tiga hari lalu, ingatan tentang siapa dirinya masih menjadi benang kusut yang tak berujung.

Dokter mengatakan bahwa proses pemulihan ingatan membutuhkan waktu dan lingkungan yang tenang, tanpa tekanan.

Gerbang besi tempa berwarna hitam pekat setinggi tiga meter terbuka secara otomatis begitu sensor kendaraan mendeteksinya. Sedan itu melaju perlahan memasuki area pekarangan yang sangat luas.

Di hadapan mereka, berdiri kokoh sebuah kediaman bergaya arsitektur modern kontemporer yang didominasi oleh panel-panel kaca besar dan dinding beton ekspos bernuansa abu-abu gelap.

Rumah itu megah, anggun, namun berdiri terisolasi di tengah lanskap perbukitan yang sepi. Tidak ada rumah tetangga di sekitarnya. Yang ada hanya hamparan rumput hijau yang tertata terlalu rapi dan kepungan hutan pinus yang rapat.

"Mari, Sayang," ujar Alden seraya membukakan pintu mobil untuk Sesil.

Pria itu mengulurkan tangannya dengan keanggunan seorang bangsawan.

Saat telapak kakinya menapak di atas lantai marmer serambi, sebuah gelombang deja vu yang aneh mendadak menghantam dada Sesil.

Denyut halus menjalar di pelipisnya. Rumah ini... terasa tidak asing. Langkah kakinya seolah secara refleks mengetahui ke arah mana ia harus berbelok, bahkan sebelum Alden memandunya.

Namun, rasa familiar itu bukannya memberikan kenyamanan, melainkan melahirkan sebuah kegelisahan yang mengusik.

Ada kejanggalan yang tak kasatmata, seolah-olah otaknya mengenali struktur tempat ini, tetapi jiwanya menolak untuk merasa berada di rumah.

"Ibu Marta sudah menyiapkan kamar untukmu di lantai dua," kata Alden seraya melepaskan jas mewahnya dan menyerahkannya kepada seorang wanita paruh berwajah datar yang sudah menanti di dekat pintu utama. "Ibu Marta adalah pengurus rumah tangga kita. Dia yang akan melayani seluruh kebutuhanmu selama masa pemulihan."

Sesil menatap wanita paruh baya itu. Ibu Marta membungkuk sopan, namun matanya yang dingin menghindari kontak mata langsung dengan Sesil.

"Selamat datang kembali, Nona Sesil," sapanya pendek. Ada ketegangan yang tertahan dalam nada bicaranya.

"Terima kasih, Bu Marta," jawab Sesil canggung.

Alden merangkul pinggang Sesil secara protektif, memandunya menaiki tangga melingkar berbahan kayu jati menuju lantai atas. "Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di ruang kerja bawah tanah hingga sore nanti. Kamu beristirahatlah di kamar. Jangan ragu memanggil Marta jika membutuhkan sesuatu."

"Alden," panggil Sesil mendadak, menahan langkah pria itu tepat di depan pintu kamar utama.

Alden menoleh, menatapnya dengan binar mata yang penuh dengan afeksi berlebih. "Ya, Ada apa, Sesil?"

"Bolehkah aku meminta dompetku? Atau... kartu identitas, ponsel, dan barang-barang pribadiku yang lain?" tanya Sesil ragu. "Aku ingin melihat foto-foto lamaku. Mungkin itu bisa membantuku mengingat."

Raut wajah Alden membeku sejenak—sebuat impresi mikro yang hanya berlangsung sepersekian detik sebelum kembali digantikan oleh senyuman hangat yang tertata rapi. Pria itu mengusap lembut pipi Sesil dengan punggung jarinya.

"Ponsel dan dompetmu hancur saat kecelakaan itu terjadi, Sayang," jawab Alden dengan nada suara penuh simpati yang terdengar sangat meyakinkan. "Tas milikmu terbakar bersama kendaraan. Tapi jangan khawatir, aku sudah mengurus semua dokumen pengganti untukmu. Untuk sementara waktu, fokuslah pada pemulihan fisikmu dulu. Jangan menyiksa otakmu dengan hal-hal yang belum saatnya."

Sesil menelan ludah yang terasa pahit. "Begitu... Baiklah."

Alden mengecup dahi Sesil cukup lama, membiarkan aroma sandalwood yang menjadi ciri khasnya memenuhi indra penciuman wanita itu, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi menyusuri lorong sunyi.

Kamar tidur utama itu sangat luas dan terawat sempurna.

Pencahayaan alami masuk melalui dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah tebing dan hutan. Di tengah ruangan, terdapat tempat tidur berukuran king-size dengan sprei sutra berwarna abu-abu.

Semuanya tampak mewah, mahal, dan steril.

Begitu derap langkah Alden menghilang di balik pintu kayu yang tebal, Sesil langsung mengunci pintu kamar dari dalam.

Hawa dingin mendadak menusuk kulitnya. Rasa panik yang sejak tadi ia tekan di depan Alden kini merayap naik tanpa kendali. Naluri dasarnya membisikkan satu hal yang sangat jelas: ada yang tidak beres.

Sesil melangkah cepat menuju lemari pakaian walk-in closet yang terletak di sudut kamar. Ia membuka pintu kaca buram tersebut. Di dalamnya, berderet puluhan gaun, kemeja, dan pakaian wanita yang tertata rapi sesuai gradasi warna. Sesil mengambil salah satu gaun berwarna krem dan memeriksa labelnya. Masih ada bekas potongan benang tempat label harga sebelumnya menempel.

Ia mengambil gaun lain, lalu setelan celana—semuanya baru. Tidak ada satu pun pakaian yang memperlihatkan bekas pemakaian berulang atau aroma detergen biasa. Pakaian-pakaian ini dibeli sekaligus dalam jumlah besar untuk mengisi lemari ini.

Jantung Sesil mulai berdetak lebih kencang. Ia beralih ke meja rias.

Ia membuka laci pertama. Kosong, hanya ada beberapa produk perawatan kulit berorientasi medis tanpa merk terkenal.

Laci kedua berisi sisir dan aksesori rambut yang juga tampak serba baru.

Sesil meraba bagian bawah laci, mencari celah atau barang yang mungkin terselip.

Tidak ada.

Ia melangkah ke meja kerja kecil di sudut kamar. Ia membuka laci-lacinya satu per satu dengan gerakan tergesa-gesa.

Di laci paling bawah, ia menemukan tumpukan kertas HVS putih bersih dan beberapa pulpen berdesain elegan.

Sesil mengambil tumpukan kertas tersebut dan membaliknya dengan cepat. Kosong. Semuanya kertas tanpa tulisan.

Ia memeriksa lemari buku di samping meja. Berderet buku-buku ensiklopedia, jurnal kedokteran, dan novel-novel klasik bertema filsafat. Sesil mengambil satu per satu buku tersebut dan mengocok lembarannya, berharap ada foto, catatan kecil, selipan tiket penerbangan, atau setidaknya coretan tangan di margin halaman yang menunjukkan kehidupannya sebelum hari kecelakaan itu.

Namun, tidak ada apa-apa. Rumah ini bersih dari identitas lamanya.

Tidak ada foto masa kecil.

Tidak ada ijazah.

Tidak ada foto pernikahan atau pertunangan mereka yang dipajang di dinding, padahal Alden mengaku bahwa mereka telah berpacaran selama bertahun-tahun dan berencana menikah.

Satu-satunya foto yang ada di kamar itu adalah sebuah foto berbingkai perak di atas nakas—foto Alden yang sedang merangkul bahu Sesil di sebuah taman. Namun saat diperhatikan lebih dekat, pose Sesil dalam foto itu tampak kaku, dan matanya tidak menatap kamera.

Mengapa? batin Sesil menjerit.

Jika aku hidup dan tinggal di sini, di mana jejak kehidupanku? Di mana barang-barang yang pernah kusentuh?

Keberadaan rumah ini rasanya seperti sebuah panggung sandiwara yang baru saja dibangun beberapa jam sebelum ia tiba.

Tempat ini terlalu steril, terlalu rapi, dan sengaja dikosongkan dari segala bentuk informasi masa lalu.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan di pintu kamar membuat Sesil meloncat kaget. Ia dengan cepat mengembalikan buku yang dipegangnya ke rak dan merapikan tumpukan kertas di meja.

"Nona Sesil?" Suara Ibu Marta terdengar dari luar pintu. "Saya membawakan teh herbal dan obat sore dari Tuan Alden."

Sesil menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan raut wajahnya yang pucat sebelum berjalan membuka kunci pintu.

Ibu Marta berdiri di ambang pintu memegang nampan perak berisi secangkir teh hangat dan sebuah wadah plastik kecil berisi dua butir pil tanpa label—satu berwarna putih dan satu lagi berwarna kuning pudar.

"Tuan Alden berpesan agar Nona meminum obat ini tepat waktu sebelum beristirahat," ujar Ibu Marta dengan nada datar, menyerahkan nampan tersebut.

Sesil menatap dua butir obat itu dengan rasa curiga yang mendalam.

"Bu Marta... bolehkah aku bertanya sesuatu?"

Ibu Marta tidak menjawab, hanya menatap Sesil dengan pasif.

"Apakah... apakah aku punya barang-barang pribadi lain di rumah ini? Foto keluarga, atau mungkin buku catatan?" tanya Sesil dengan suara berbisik, memindai raut wajah wanita tua di hadapannya.

Mata Ibu Marta berkilat pelan, ada sapuan rasa takut yang melintas sangat cepat di dalam manik matanya sebelum ia kembali menunjukkan ekspresi tanpa emosi.

"Tuan Alden telah menyediakan semua yang Nona butuhkan di rumah ini," jawab Ibu Marta dengan kalimat yang terdengar seperti hafalan yang telah dilatih berulang kali. "Nona tidak memerlukan hal lain selain beristirahat dan mematuhi petunjuk Tuan Alden."

Sebelum Sesil sempat membalas, Ibu Marta sedikit membungkuk dan berbalik pergi, melangkah cepat menyusuri lorong sunyi tanpa menoleh lagi.

Sesil berdiri terpaku di pintu yang terbuka. Ia menatap dua butir obat tanpa label di tangannya, lalu memandang ke arah tumpukan kertas putih tanpa tulisan di atas meja kerjanya. Di dalam kediaman mewah yang terisolasi ini, di antara kemewahan yang mengekangnya, Sesil akhirnya menyadari satu hal yang mengerikan:

Ia tidak sedang dipulihkan dari sebuah kecelakaan. Ia sedang dihapus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!