NovelToon NovelToon
Bu Gubernur Bar-bar Pilihan Hati Sang Kapten

Bu Gubernur Bar-bar Pilihan Hati Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.

Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.

Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.

Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.

Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?

Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Kesal

Sesampainya di puskesmas, Zea langsung membawa Sagara menuju ruang tindakan. Beberapa perawat muda yang sedang berjaga segera mendekat, tetapi langkah mereka mendadak melambat ketika melihat pasien yang dibawa oleh gubernur tersebut ternyata seorang pria tinggi, gagah, dan berwajah sangat tampan.

“Lukanya di bagian mana, Pak?” tanya salah seorang perawat dengan suara yang terdengar sedikit gugup dan malu-malu.

Sagara menunjukkan lengannya tanpa banyak bicara. “Di sini.”

Perawat itu mengangguk cepat, tetapi bukannya langsung mengambil peralatan, ia malah melirik wajah Sagara beberapa kali. Temannya yang berdiri di belakang bahkan berbisik sesuatu sambil menahan senyum.

Zea memperhatikan tingkah mereka dengan kening berkerut. “Kalian mau mengobati pasien atau mau mengadakan sesi pemotretan?”

Para perawat langsung tersentak. “Maaf, Bu!”

Zea menghela napas. “Pengawal saya keburu kehabisan darah gara-gara sikap salting kalian semua. Lihat wajahnya semakin datar begitu.”

Wajah para perawat langsung memerah. “Tidak, Bu! Kami tidak salting!”

“Benarkah?” Zea menunjuk salah seorang perawat. “Dari tadi kapasnya saja sudah dipegang terbalik.”

Perawat itu langsung melihat tangannya dan benar-benar mendapati kapas yang dipegangnya memang terbalik. Ia buru-buru memperbaikinya dengan wajah semakin merah.

Intan yang berdiri di samping Zea langsung menutup mulutnya agar tidak tertawa. “Bu, jangan diganggu terus.”

“Saya cuma mengingatkan,” jawab Zea santai.

Sagara duduk tenang di kursi pemeriksaan. Wajahnya tetap datar seolah semua keributan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Salah seorang perawat kemudian mendekat untuk membersihkan luka. “Pak, mungkin akan sedikit terasa sakit.”

Sagara hanya mengangguk. “Lakukan saja.”

Zea berdiri tidak jauh dari sana sambil memperhatikan. “Pelan-pelan, ya.”

Perawat itu tersenyum kecil. “Tenang, Bu. Kami akan berhati-hati.”

Zea menunjuk jarum dan benang yang sudah disiapkan. “Jangan sampai kalian salah jahit.”

Perawat itu langsung menatap Zea dengan wajah kaget. “Salah jahit bagaimana, Bu?”

“Ya jangan sampai tangannya malah dijahit ke meja.”

Intan langsung menepuk jidatnya. “Ya ampun, Zea.”

Beberapa perawat menahan tawa, sementara Sagara hanya menghela napas panjang.

“Bu Gubernur,” katanya datar, “mereka tenaga medis profesional.”

“Saya tahu.”

“Kalau begitu jangan menakut-nakuti mereka.”

“Saya cuma bercanda.”

Sagara tidak menjawab lagi.

Ketika perawat mulai menangani lukanya, Sagara tanpa sadar melirik tangannya yang tadi digenggam Zea dalam perjalanan menuju puskesmas. Tatapannya tertahan beberapa detik pada tangannya sendiri sebelum perlahan beralih kepada Zea.

Zea yang kebetulan melihat tatapan itu langsung mengerutkan kening. “Kenapa?”

Sagara segera mengalihkan pandangan. “Tidak ada.”

“Terus kenapa lihat tangan sendiri?”

“Tidak kenapa-kenapa.”

Zea semakin bingung. “Aneh.”

Intan yang memperhatikan sejak tadi langsung melirik Sagara, kemudian melirik Zea. Ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa, tetapi memilih diam karena tahu sahabatnya itu kemungkinan besar tidak akan menyadarinya.

Zea justru kembali memperhatikan proses pengobatan. “Dok, eh, perawat ... jahitannya yang rapi, ya.”

“Bu, kami tahu,” jawab perawat itu sambil tersenyum.

“Jangan sampai bekasnya jelek.”

Sagara menoleh. “Bu.”

“Apa?”

“Ini luka, bukan pakaian pesta.”

Zea langsung mendengus. “Saya cuma ingin memastikan pengawal saya tetap utuh.”

Intan kembali menepuk jidatnya. “Kenapa kalimat Ibu selalu terdengar aneh?”

Zea menoleh. “Apa yang aneh?”

“Tidak ada.”

Sementara itu, Sagara kembali diam. Namun kali ini sudut matanya beberapa kali melirik Zea yang masih berdiri di dekatnya.

Zea sama sekali tidak menyadarinya. Ia malah sibuk mengomentari proses pengobatan, sesekali bertanya apakah jahitannya sakit, lalu kembali bercanda dengan para perawat yang semakin gugup.

Setelah beberapa saat, perawat akhirnya selesai menangani lukanya. “Sudah selesai, Pak.”

Sagara mengangguk. “Terima kasih.”

Zea langsung maju. “Mana, saya lihat.”

“Tidak perlu.”

“Kenapa tidak perlu?”

“Karena sudah selesai.”

Zea tetap melihat perban di lengan Sagara. “Lumayan rapi.”

Intan menatapnya heran. “Memangnya kamu dokter?”

“Bukan.”

“Terus kenapa menilai?”

“Karena saya yang mengantarnya. Bagaimana nanti kakek bertanya kenapa pengawalnya lecet?”

Intan kembali menggelengkan kepala.

Sagara berdiri dari kursinya. “Kita bisa pulang sekarang?”

Zea mengangguk. “Bisa. Tapi nanti jangan banyak bergerak dulu.”

“Saya baik-baik saja.”

“Kalimat itu lagi.”

Sagara diam.

Zea kemudian berjalan keluar ruangan bersama Intan. Sagara menyusul di belakang mereka sambil sesekali menatap lengannya yang sudah diperban.

Entah kenapa, yang terus terlintas di pikirannya bukan rasa sakit akibat luka tadi, melainkan sensasi aneh ketika tangan Zea menggenggam tangannya sepanjang perjalanan menuju puskesmas.

Sagara segera mengalihkan pikirannya. “Konyol.”

Zea yang berjalan di depan langsung menoleh. “Kamu bilang apa?”

“Tidak ada.”

Intan menatap Sagara sekilas, kemudian menatap Zea. Ia hanya bisa menghela napas sambil bergumam, “Kayaknya yang harus diperiksa bukan cuma luka di tangan.”

Zea mengernyit. “Maksudmu?”

“Tidak ada, Zea.”

Zea semakin bingung. “Hari ini kenapa semua orang aneh?”

Intan hanya menggelengkan kepala sambil berjalan pergi. Baginya, menghadapi Zea dan Sagara dalam satu ruangan terkadang jauh lebih melelahkan daripada menghadapi rapat pemerintahan seharian.

***

Keesokan paginya, suasana barak pasukan khusus sudah ramai oleh aktivitas para prajurit yang menjalani latihan pagi.

Sagara yang baru saja keluar dari salah satu bangunan barak langsung berhenti ketika melihat dua sosok wanita berdiri tidak jauh dari sana.

“Bu Zea?” Sagara mengerutkan kening.

Zea tersenyum lebar sambil mengangkat beberapa wadah makanan yang dibawanya. “Pagi, Kapten Es Batu!”

Sagara berjalan mendekat dengan wajah datar. “Apa yang kalian lakukan di sini?”

“Aku mau menjengukmu,” jawab Zea santai. “Sekalian membawa makanan yang dibuat Bunda.”

Sagara melirik wadah makanan tersebut. “Untuk saya?”

“Iya, memangnya untuk siapa?”

Intan langsung menyahut, “Bunda Zahra bilang kamu harus makan yang banyak karena sedang dalam masa pemulihan.”

“Saya hanya mengalami luka di lengan,” jawab Sagara.

“Ya, tetap saja luka,” balas Zea. “Jangan sok kuat.”

Sagara menghela napas pendek. “Saya bisa menjaga diri sendiri.”

Zea mengangkat satu alis. “Kalau begitu, kenapa kemarin sampai harus dijahit?”

Sagara langsung diam.

Intan menahan tawa. “Kena telak.”

Zea kemudian menyerahkan wadah makanan kepada Sagara. “Pokoknya beberapa hari ke depan kamu istirahat saja.”

Sagara menatapnya. “Lalu siapa yang menjaga Anda?”

“Aku bisa menjaga diri sendiri.”

Sagara langsung mengingat bagaimana Zea beberapa kali kabur dari pengawalan, memanjat jendela toilet, dan terlibat dalam keributan di desa.

“Tidak meyakinkan,” katanya datar.

Zea langsung memasang wajah kesal. “Hei!”

Intan tertawa kecil. “Saya juga setuju dengan Kapten.”

Zea mendengus. “Aku tidak ingin terlihat jahat karena memaksa kamu terus bekerja saat tanganmu terluka.”

Sagara terdiam sejenak.

Kalimat sederhana itu membuat ekspresinya sedikit berubah. Selama ini ia mengira Zea hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi ternyata wanita itu juga memperhatikan kondisinya.

“Saya masih bisa bekerja,” katanya akhirnya.

“Tidak,” jawab Zea cepat. “Ini perintah.”

Sagara mengangkat alis. “Perintah?”

“Iya. Selama beberapa hari, kamu istirahat.”

“Saya bukan bawahan Anda.”

“Sekarang kamu pengawalku, jadi aku yang menyuruh.”

Sagara hanya menghela napas. “Merepotkan.”

Zea langsung menunjuk dirinya sendiri. “Siapa yang merepotkan?”

“Anda.”

“Dasar Kapten Es Batu!”

Perdebatan kecil mereka ternyata menarik perhatian para prajurit yang sedang melakukan latihan pagi. Beberapa orang mulai melirik ke arah mereka, terutama karena jarang sekali ada dua wanita berada di area barak pada pagi hari.

“Siapa mereka?” bisik salah seorang prajurit.

“Tidak tahu. Tapi yang pakai hijab putih itu cantik banget.”

“Jangan keras-keras.”

“Kenapa?”

“Takut didengar komandan.”

Beberapa prajurit lainnya ikut melirik.

“Yang satu lagi juga cantik.”

“Sepertinya bukan orang sembarangan.”

Seorang prajurit yang sedang beristirahat tiba-tiba melihat Zea lebih lama. Matanya langsung membesar.

“Eh, tunggu!”

Temannya menoleh. “Kenapa?”

“Itu ... bukannya Bu Gubernur Zea?”

Mereka semua langsung terdiam.

“Serius?”

“Coba lihat baik-baik.”

Beberapa prajurit mulai saling pandang, kemudian buru-buru melihat Zea lagi.

“Ya ampun, benar!”

“Gubernur Zea!”

“Bu Gubernur datang ke sini?”

Suara mereka semakin ramai hingga beberapa prajurit lain ikut menoleh.

Zea yang mendengar keributan itu langsung melirik ke arah mereka. “Kenapa mereka melihat ke sini?”

Intan tersenyum. “Kayaknya mereka baru sadar siapa kamu.”

Seorang prajurit bahkan sampai berbisik, “Aslinya jauh lebih cantik daripada di media sosial.”

“Benar. Di foto saja sudah cantik, ternyata aslinya lebih cantik lagi.”

“Jangan sampai ketahuan sedang bergosip.”

Sayangnya, suara mereka masih cukup terdengar.

Zea hanya tertawa kecil. “Kalian sedang membicarakan saya?”

Para prajurit langsung berdiri tegak.

“Siap, Bu!”

Intan menahan tawa melihat perubahan sikap mereka yang mendadak seperti patung.

Zea melambaikan tangan. “Santai saja. Saya tidak akan memarahi kalian.”

Para prajurit masih berdiri kaku.

Salah seorang akhirnya memberanikan diri berkata, “Maaf, Bu. Kami hanya kaget karena Ibu ternyata lebih cantik daripada yang kami lihat di media sosial.”

Zea langsung tersenyum puas. “Nah, kalau begitu tidak masalah.”

Intan menatap Zea. “Wah, dipuji sedikit langsung senang.”

“Tentu saja,” jawab Zea tanpa malu. “Siapa yang tidak senang dipuji?”

Sagara yang berdiri di sampingnya hanya memijat pelipis. “Saya mulai menyesal sudah mengizinkan Anda datang.”

1
ismi
kenapa ? gak lanjut dibabak baku hantam kak yul😄😄😄
Hary Nengsih
🤣🤣🤣
juwita
krn anak seorang jenderal bisa seenaknya🤣🤣. bener* persis di dunia real🤣🤣
juwita
awas aj memanfaatkan kekuasaan Bpk mu soraya buat dptin sagara🤣🤣
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ajak si Soraya tanding gelut Zea biar th kl kamu bkn gubernur yg manja dan dpt di remehkan oleh dia biar seluruh barak jg th kamu itu gak gampangan dan gak lemah 😏💪
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kalah ya ngaku kalah aja Soraya jngn buat kamu nanti malu dngn kekeh pengen tanding lg sama Zea 😏😏 makanya jd orang yg sotoy dan suka rendahin jd malukan ternyata Zea lbh unggul dr kamu dah minggir aja jngn di terusin biar gak tambah malu nantinya 😏😡
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Soraya blm th aja kehebatan Zea jd jngn remehkan Zea kl kamu blm lihat sendiri kehebatannya 😏😏😡
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mundur Alon" aja Soraya karna Sagara bkn buat kamu tp buat Zea seorang ☺️☺️
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
wah saingan merebutkan Sagara nih 😅😅
Maria Lina
lh thor kata nya gk lanjut lgi piye iki
mama_im
kirain mau lanjut latih tanding di ring tinju 🤣🤣🤣🤣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: 🤣🤣🤣 Kadung malu kak
total 1 replies
mama_im
kalah ya kalah aja 😒😒😒😤😤😤
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: Kagak Terima dia kak🤣🤣
total 1 replies
Ayu Padi
Thor ..mau ngasi info aja ..ada Novel baru judul nya BALAS DENDAM SANG PUTRI .. cerita ini sangat sangat mirip bngeeeet dgn novel author yg judul nya KESEMPATAN KEDUA SANG PUTRI GUO MEI... coba author baca novel tsb..apakah bener sangat mirip ..gak rela aja Thor Krn Guo Mei itu favorit aku bngtt...
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: Author udah cek kak. Emang mirip banget 🥺🥺🥺. Cuman dia ubah nama dan beberapa biar gak terdeteksi🥺🥺
total 4 replies
Tiara Bella
asikkk ada lagi nh cerita.....
cilla
ihh nungguin karya author lama ternyata babnya udh banyak aku ketinggalan mana ada dua lagi😭😭😭😭🤭
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
wahahahaaaaa🤣🤣🤣🤣
pimter sekali mereka bikin si kanebo kereing mati kutu
mau bilang apa lagi coba hadeh
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
🤣🤣, sang kapten cemburu 🤣🤣, mau bilang cemburu, tapi gengsi 🤣🤣
Suci Dava
Alhamdulillah up lgi
Patrish
bener bener gubernur bar bar..KDM kalah jauh..kades HoHo lewat..🤣🤣🤣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: 🤣🤣🤣 Gubernurnya gen Z kak
total 1 replies
Mei Mei
minnajai kapten na taro ibu gubernur, Zea si bawa kapten 11 dan 12 sipat nya, aahh si kapten cemburu ladde i,
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: 🤣🤣🤣 Ndag sadarpi itu kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!