Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tembok-Tembok yang Membisu
Lantai koridor SMA Loyola masih menyisakan bisik-bisik kasak-kusuk dari para murid yang menyaksikan insiden tadi pagi. Derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keriuhan kecil itu saat Clarissa melangkah cepat masuk ke dalam kelasnya. Bagian bawah rok seragam mewahnya mengibas keras seiring dengan napasnya yang memburu dan jemarinya yang mengepal erat hingga memutih pada buku-buku jari. Wajah cantiknya yang biasa dipoles sempurna kini tampak memerah padam oleh kombinasi rasa malu yang luar biasa hebat dan amarah yang membakar hingga ke ulu hati.
Dua siswi pengikutnya, yang ikut menanggung malu akibat teguran terbuka di tengah koridor, mengekor dengan canggung dan takut-takut dari belakang. Mereka saling lempar pandang prihatin, tak ada satu pun yang berani membuka suara terlebih dahulu.
"Kurang ajar!" desis Clarissa tajam saat menghempaskan tas kulit mewahnya ke atas meja kelas hingga menimbulkan bunyi benturan keras yang bergema di sudut ruangan.
"Clarissa, kamu... kamu yang tenang dulu. Cristan mungkin cuma tidak enak hati saja karena suasana koridor tadi terlalu ramai—" coba salah satu temannya berusaha menenangkan dengan nada suara pelan yang bergetar.
"Diam kamu!" potong Clarissa seraya memutar tubuhnya, menatap temannya itu dengan kilatan mata yang penuh kebencian. "Kalian tidak usah pura-pura tidak tahu! Cristan itu milikku! Keluarga kami sudah merencanakan pertemuan bisnis dan perjodohan ini sejak lama! Berani-beraninya dia mempermalukan aku di depan semua orang... hanya demi membela anak penjual jamu dari kampung itu!"
Clarissa menyandarkan punggungnya pada kursi kayu, napasnya masih memburu kasar. Jemari tangannya meremas tepi meja dengan ketegangan yang amat sangat. Tatapan matanya memicing tajam menatap ke arah pintu kelas tempat Aurel biasanya melintas. Dendam di dalam dadanya telah membakar seluruh akal sehatnya. Bagi Clarissa, apa yang terjadi pagi ini bukan sekadar adu mulut biasa, melainkan ancaman langsung terhadap gengsi dan posisinya di SMA Loyola.
"Lihat saja," bisik Clarissa dengan nada suara yang begitu dingin dan menyengat. "Aku akan bikin anak jamu itu tidak betah dan dibenci satu sekolah. Tidak ada satu orang pun yang boleh berdiri di samping dia!"
Sementara itu, jauh dari riuhnya lorong kelas utama, di sudut taman perpustakaan yang sepi dan dinaungi rimbun pohon pule, Aurel duduk tenang di atas bangku semen. Buku catatan pelajaran dipeluknya rapat di dada. Hatinya masih terasa hangat sekaligus canggung setelah kejadian di koridor tadi pagi. Ketenangan batin yang selalu diajarkan oleh ibunya, Sari, menjadi perisai utama bagi Aurel untuk tidak menyimpan rasa dendam.
Suara derap langkah kaki yang mantap namun lembut di atas rumput taman membuat Aurel memiringkan kepala dan mendongak. Cristan Dewangga berjalan mendekat membawa dua kotak minuman dingin di tangannya. Senyum tulus yang sangat jarang diperlihatkannya kepada murid lain kini tersungging halus di bibirnya.
"Ini... buat mendinginkan suasana," ucap Cristan pelan, lalu menyodorkan salah satu kotak minuman itu dan mengambil tempat duduk di bangku kayu yang berseberangan dengan Aurel.
Aurel ragu sejenak, menatap kotak minuman itu sebelum akhirnya menerima dengan anggukan sopan. "Terima kasih, Cristan... dan terima kasih juga untuk bantuannya di koridor tadi."
Cristan menghela napas panjang, lalu menyandarkan bahunya pada sandaran bangku, menatap Aurel lekat-lekat. "Aku yang harus meminta maaf atas nama Clarissa. Sikap dan perkataannya sudah sangat keterlaluan. Kamu sama sekali tidak pantas mendapatkan perlakuan kasar seperti itu dari siapa pun di sekolah ini."
"Aku tidak apa-apa, kok," jawab Aurel dengan suara lembut dan ketenangan alami yang selalu berhasil menyita perhatian Cristan. "Aku sudah terbiasa dengan pandangan atau perkataan orang lain tentang latar belakang keluargaku. Bagi aku dan Ibu, yang terpenting adalah kejujuran dan cara kita menghargai sesama manusia, bukan harta atau seragam mahal yang kita pakai."
Cristan terpaku menatap mata teduh Aurel. Di dalam lingkaran pergaulannya yang selalu dipenuhi oleh kepura-puraan, pamer kekayaan, dan persaingan gengsi antar-anak pengusaha, sosok Aurel bagaikan oase yang sangat menyegarkan. Ada kejujuran, kedewasaan, dan ketulusan batin pada diri Aurel yang tidak pernah ia temukan pada gadis-gadis elite seperti Clarissa.
"Kamu sangat berbeda, Aurel," bisik Cristan jujur tanpa ada keraguan sedikit pun. "Dan jangan pernah biarkan siapa pun membuatmu merasa berkecil hati."
Di saat yang sama, puluhan kilometer dari SMA Loyola, sebuah mobil sedan putih tanpa sopir pribadi berhenti perlahan di area parkir RS Elisabeth Semarang.
Bu Maya Larasati turun dari mobil dengan pakaian anggun namun sederhana, dipadu kaca mata hitam lebar yang menutupi sebagian raut wajah cantiknya yang pucat pasi. Sejak mencuri dengar percakapan rahasia antara Pak Hartono dan dua pria berjas tadi malam di rumah megah mereka, Bu Maya tidak bisa memejamkan mata walau hanya sekejap. Bayang-bayang kegelisahan tentang Suster Rina, kepanikan suaminya, serta rasa asing yang selalu ia rasakan saat menatap raut wajah dan tabiat Clarissa kini terus menyiksa jiwanya tanpa ampun.
Dengan langkah kaki yang terasa berat dan gemetar, Bu Maya melangkah masuk menembus lorong-lorong rumah sakit yang dingin beraroma karbol. Ia tidak berniat menghubungi suaminya atau membawa-bawa kekuasaan nama besar keluarga Hartono. Kali ini, ia bertindak murni sebagai seorang ibu yang hatinya diliputi dahaga luar biasa akan kebenaran.
Bu Maya berjalan menuju area arsip rekam medis lama di lantai bawah tanah. Setelah menunjukkan kartu identitas diri sebagai salah satu donatur tetap yayasan rumah sakit, seorang petugas arsip senior menyambutnya dengan sikap sangat sopan di ruang tamu khusus.
"Ada yang bisa kami bantu, Bu Maya?" tanya petugas arsip tua itu dengan ramah seraya menyuguhkan segelas air hangat.
Bu Maya meremas jemari tangannya yang dingin di atas pangkuan, melepas kaca mata hitamnya, lalu menahan napas sebelum memberanikan diri mengutarakan tujuannya.
"Saya... saya ingin melihat kembali dokumen rekam medis kelahiran putri saya, sembilan belas tahun yang lalu," ucap Bu Maya dengan suara parau yang bergetar pelan. "Pada malam badai besar dan pemadaman listrik total di bangsal bersalin VIP."
Petugas arsip tua itu mengerutkan dahi sejenak, mencoba mengingat-ingat, lalu berdiri menuju deretan rak arsip kayu di ruang dalam. Bu Maya menunggu dengan dada berdebar kencang, tangannya tak henti-hentinya bertaut menahan gejolak kecemasan.
Namun, sepuluh menit kemudian, petugas arsip itu kembali dengan tangan kosong dan raut wajah yang tampak serba salah serta tertutup.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Bu Maya," ucap petugas itu seraya menundukkan kepala. "Setelah saya periksa di sistem katalog induk, berkas rekam medis dan log harian perawat untuk bangsal bersalin pada periode bulan dan tahun tersebut sudah tidak ada di ruang arsip umum."
Dahi Bu Maya berkerut dalam, jantungnya mendadak berdegup lebih kencang. "Tidak ada? Bagaimana bisa berkas rekam medis rumah sakit sebesar ini hilang?"
"Bukan hilang, Bu," jawab petugas itu dengan nada berbisik penuh kehati-hatian. "Menurut catatan sistem, seluruh dokumen asli kelahiran pada malam pemadaman listrik total sembilan belas tahun lalu telah dipindahkan ke arsip khusus yang sifatnya terisolasi, atas instruksi langsung dari direksi dan perwakilan hukum keluarga pengampu rumah sakit. Kami tidak memiliki wewenang untuk membuka atau menyalin berkas tersebut tanpa persetujuan tertulis."
Deg!
Dada Bu Maya terasa bagai dihantam benda tumpul. Persetujuan direksi dan perwakilan hukum? Siapa lagi pengampu hukum berpengaruh yang memiliki akses dan kekuasaan untuk mengunci dokumen tua itu jika bukan suaminya sendiri, Pak Hartono?
Bu Maya berdiri dari kursinya dengan tubuh yang agak limbung. Kenyataan bahwa dokumen itu sengaja dikunci rapat justru semakin menegaskan bahwa ada rahasia besar yang memang sedang dilindungi oleh Pak Hartono.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Bu Maya melangkah keluar dari ruang arsip menembus lorong rumah sakit dengan pikiran yang kian kalut. Bukti tertulis itu memang belum didapatkannya, namun api kecurigaan di dalam dadanya kini telah menyala menjadi prasangka yang tak akan pernah bisa dipadamkan lagi.
kalau bisa double up