Kembali dengan kisah keluarga Nugraha, kali ini adalah generasi termuda, ALENSKY yang berpindah tempat kuliah untuk sebuah ketenangan, namun pada akhirnya kembali pada pertarungan antara Cinta, Persahabatan dan Kekuasaan.
Perpaduan kisah yang menyeret kita untuk menggunakan emosi dan hati saat membacanya, ada kalanya ketidak Adilan yang lama membelenggu akhirnya harus terlepas oleh seseorang yang punya keberanian.
Persembahan sebuah Novel dari Author Sinho, semoga memberikan kesenangan dan manfaat bagi para pembaca.
Salam, sehat, semangat dan jangan lupa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alen 27
Hanya ada dirinya dan Tranaka di ruangan saat ini, terlihat sekali Alensky mondar mandir bingung setengah mati
"Kau gila!" Teriaknya.
"Bukannya kau sendiri yang menginginkan sandiwara ini ada hasilnya, uang satu milyar, itu kan tujuan utama?" Ucap Tranaka.
"Tentu saja, aku ingin menyudahi urusan kita, uang itu yang kamu minta untuk ganti rugi kan, setelah itu semua selesai, kita tidak ada urusan lagi"
"Lalu kau akan membiarkan ku kembali dalam lubang pertunangan yang aku benci?"
"Ck, kamu kan bisa mencari gadis lainnya Naka, di kampus kita banyak wanita cantik, kaya dan mempesona, kamu tinggal menjentikkan jari untuk memilih salah satunya, selesai kan?"
"Tentu saja tak semudah itu, mereka tidak akan percaya padaku, terutama Daddy dan keluarga Meriya, akhirnya tetap masuk dalam lubang perjodohan juga"
"Itu urusan mu!"
"Dan aku mau melalui urusan itu dengan mu"
Sahut Tranaka yang kini hanya tersenyum sambil menyandarkan punggungnya di tembok, senang sekali melihat wajah galau Alensky yang sedang bolak balik berjalan di depannya.
"Ini kacau!" Alensky akhirnya menjatuhkan tubuhnya di sofa sambil menutup wajahnya.
"Apanya yang kacau, pernikahan kita akan di rahasiakan, Oma menyetujui permintaan kita hingga kita tamat kuliah, selebihnya akan berjalan seperti biasanya, mudah kan?"
Alensky menatap tajam ke arah Tranaka, rasa kesalnya sudah terasa di ubun-ubun saat ini.
"Kau sengaja kan?" Ucap Alensky.
"Sengaja apa?" Tranaka mulai waspada.
"Sengaja mengatakan hal itu agar terjadi hal semacam ini, iya kan?!"
"Aku hanya bicara jujur pada Oma"
"Keterlaluan!"
Seperti yang di khawatirkan, Alensky menyerang Tranaka, gerakannya begitu cepat dan membuat beberapa barang seketika berantakan.
"Hentikan Alen!" Ucap Tranaka memperingatkan, namun Alensky saat ini benar-benar ingin menghajar Tranaka yang berusaha untuk menahan serangannya.
Satu pukulan membuat Tranaka terjatuh di atas Sofa, ngilu juga kulit perutnya, hingga akhirnya Tranaka menyambar tangan Alensky dan menariknya cukup kencang.
Alensky terjatuh tepat di atas tubuh Tranaka, tak berhenti sampai di situ, tangannya berusaha untuk mencekik leher Tranaka dengan kuat.
"Alen, aku bisa mati!" Tranaka hampir kehabisan nafas, tak mungkin juga dia tega menendang Alensky yang saat ini menindihnya, tepat diatas perutnya dengan posisi yang benar-benar panas tentu saja.
"ALENSKY!!"
Untung saja ada jeritan yang membuat semua adegan itu terhenti.
Sera dan Oma terperanjat dan segera membuang muka, malu sendiri dengan perbuatan muda mudi yang di jadikan satu di dalam kamar agar tidak kabur, eh malah membuat otak tercemar.
BRAK!
"Rapikan baju kalian, dan keluar secepatnya!" Teriak Sera kesal setengah mati melihat adegan me-sum adik sepupunya.
"Ya Tuhan, sial!" Alensky ingin sekali menangis saat ini, kenapa malah salah paham seperti ini.
Sedangkan Tranaka, berusaha menahan tawanya walau hampir saja kehilangan nafas sesaat tadi.
"Ehem, kau ingin posisi seperti ini atau kita sudahi?" Tanya Tranaka.
Bug
Bug
Bug
Alensky langsung menghadiahi Tranaka pukulan di dadanya bertubi-tubi, setelah itu menurunkan tubuhnya dan masuk ke dalam kamar mandi.
BRAK!
Cukup keras, membuat Tranaka hanya menggeleng kan kepala, lalu merapikan bajunya dan perlahan berdiri, keluar lebih dulu sebelum wanita dengan mode pembunuh itu akan benar-benar menghabisi nya.
Terkejut, ruangan tengah telah tertata rapi, di sana ada beberapa orang yang sudah datang, Tranaka juga melihat Deddy nya yang tengah berbincang dengan wajah yang tegang.
"Dad?"
"Hei, Daddy tak menyangka akan secepat ini" ucap Tomi yang sebenarnya shock juga saat di hubungi.
Tomi Rudolf, berjalan menghampiri sang putra satu-satunya, lalu memeluknya.
"Pernikahan rahasia Dad" bisik Tranaka.
"Sebenarnya Dady ingin sekali saat ini memukul mu" kesal sekali melihat Tranaka yang justru terlihat santai sekali.
Dan tak lama kemudian, acara segera di mulai, seperti yang diinginkan, akhirnya keduanya telah menikah resmi secara agama, tak ada lagi kekhawatiran di wajah Oma, dan Sera juga merasa lega.
Dengan semua yang masih bisa di samarkan, satu permintaan Alensky sampai nanti pernikahan resmi secara Negara dilangsungkan, dan pesta meriah seperti permintaan Oma dan kedua orang tuanya.
Terlihat Alensky memeluk dua orang yang sangat dicintainya, sebelum akhirnya berpisah.
Tranaka juga memberikan pelukan dan ciuman di keningnya, ada perasaan aneh, kehangatan yang tak bisa di gambarkan, dan semuanya terasa menghipnotis suasana.
Kini hanya tinggal Oma dan mereka berdua.
"Oma akan pulang, dan ingat status kalian, baik-baik lah menjaga hubungan Alensky, dan uang satu milyar sudah ada di rekening mu"
Alensky mengangguk, lalu memeluk Oma sebelum akhirnya seorang sopir menjemputnya, maklum Sera pulang lebih dulu karena perusahan yang membuat nya pusing mengharuskan dia rapat darurat di tengah malam.
Tranaka melepas jas nya, masuk ke dalam kamar seolah itu adalah Apartemennya.
"Eh, tunggu!, mau kemana?" Alensky mencegat nya.
"Aku mau ganti baju"
"Lalu kenapa masuk ke dalam kamar ku?"
"Memangnya aku harus melepas bajuku disini?" Tanya Tranaka.
"Terserah, asal jangan berani masuk ke dalam kamar ku lagi!" Alensky memberikan peringatan.
"Ck, cerewet sekali, minggir!" Tranaka masuk begitu saja dengan sedikit mendorong tubuh Alensky hingga bergeser ke samping.
"Naka!"
Dan pintu kamar mandi pun tertutup rapat seketika.
Alensky dengan kesal berjalan keluar, memilih menenangkan diri di ruang tengah sambil menikmati coklat hangat yang di buatnya sendiri.
"Ya Tuhan, kenapa bisa seperti ini, bahkan kak Sera masih akan melangsungkan pernikahan, aku malah nikah duluan" berkata dalam hati, lalu memejamkan mata sambil merebahkan tubuhnya di sofa, lelah dan ngantuk menyerangnya.
Hampir setengah jam Tranaka berada di dalam kamar, membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, saat merasakan suasana yang begitu sepi segera membuka pintu dan melihat kesemua sudut ruangan.
"Alensky?" Tranaka melihat gadis itu sudah tertidur dengan wajah yang nampak begitu kelelahan.
Menggoyang bahunya pelan, namun tak ada reaksi apapun yang di dapatkan, Tranaka tak tega untuk membangunkan, hingga akhirnya mengangkat tubuh Alensky dan membawanya ke dalam kamar.
Mungkin malam ini niatnya untuk pulang ke Apartemennya sendiri di batalkan, Tranaka mengunci pintu dan menata Sofa yang ada di luar untuk tempatnya tidur.
Ada senyuman muncul tiba-tiba, teringat bahwa saat ini telah membalikan keadaan seperti yang di harapkan, Alensky menjadi miliknya, bukan hanya perjanjian semata, tapi di hadapan sang Pencipta.
"Dasar gadis licik" ucap Tranaka sebelum matanya terpejam.
Sementara di dalam kamar, Alensky menghela nafas pelan, matanya perlahan terbuka dan merasakan perasaan lega, Tranaka tak melakukan apapun padanya saat dirinya berpura-pura terlelap dalam tidurnya.
"Kenapa ini bisa terjadi?, dan kenapa aku bisa merasa begitu bisa menerima?, apa Tranaka juga merasakan hal yang sama ya?" Gumam Alensky, bertanya dalam hati.
Yuk komen ya, jangan lupa LIKE VOTE dan HADIAH nya.