"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. PERMAINAN MANIS DI ATAS PENTAS
Helaan napas berat keluar dari bibir Austin Vanderbilt saat melangkah masuk ke dalam penthouse mewahnya. Pria itu sengaja menghindari panggilan ibunya karena enggan terjebak dalam pertanyaan seputar skandal Pertunangan yang diciptakannya sendiri.
Namun, begitu melangkah ke dalam ruang tengah, Austin membeku seketika.
Di atas sofa kulit impor milik Austin, Olivia Vanderbilt ibunya duduk manis memegang cangkir teh. Dan dari arah dapur, melangkah keluar seorang wanita bercelemek dengan senyuman paling manis sekaligus paling beracun yang pernah Austin lihat.
Aleeza Wira.
"Kau sudah pulang, Mi Amor?" panggil Aleeza dengan nada mengalun riang yang sengaja dibuat-buat.
Mata Austin membelalak tajam. Mi Amor?! Panggilan mesra itu terdengar seperti sindiran tajam di telinga sang miliarder.
"Aku dan calon menantuku sedang memasak makanan khas Indonesia," ujar Olivia gembira, merangkul bahu Aleeza penuh rasa sayang. "Bukan begitu, Aleeza?"
"Tentu saja, Ibu," balas Aleeza dengan kerlingan mata jahil yang ditujukan tepat pada Austin. " Sebab, Mi Amor di depan kita ini sangat menyukai tantangan, bukan?"
Di meja makan, Aleeza menyodorkan semangkuk bubur ayam beraroma rempah pekat. Di atasnya, Aleeza sengaja menaburkan potongan cabai rawit pedas dalam jumlah gila-gilaan.
"Ini hidangan spesial untukmu, Austin," senyum Aleeza mengembang manis saat ia menyendokkan bubur pedas itu dan mengarahkannya tepat ke depan bibir Austin.
"Ayo, buka mulutmu. Kau harus menghabiskannya demi menghargai calon mami dan calon istrimu."
Austin menatap mangkuk itu curiga, lalu beralih menatap ibunya yang sedang memperhatikan mereka dengan binar binar bahagia.
Di bawah tatapan penuh peringatan dari ibunya, Austin tidak punya pilihan lain. Pria arogan itu terpaksa membuka mulutnya dan menerima suapan dari Aleeza.
BAM!
Seketika rasa pedas yang membakar menyengat lidah mahal Austin! Tenggorokannya serasa terbakar panas, reaksinya membuat matanya memerah menahan sakit.
"Bagaimana, Mi Amor? Enak?" bisik Aleeza penuh rasa puas, kembali menyendokkan bubur pedas berikutnya tanpa ampun.
"Cukup, Aleeza," bisik Austin setengah tertahan, berusaha tersenyum kaku di depan sang ibu seraya dengan cepat meraih gelas air dingin. "Aku sudah sangat kenyang."
"Makanlah yang banyak, Austin!" timpal Olivia tertawa bahagia melihat interaksi 'mesra' putra dan calon menantunya.
Austin hanya bisa menelan ludahnya yang terasa pahit dan terbakar. Malam ini, seorang Austin Vanderbilt yang berkuasa kalah mengenaskan di tangan wanita yang paling ia benci!
Satu jam kemudian, Olivia akhirnya pamit pulang setelah merasa puas melihat keharmonisan mereka.
Begitu pintu utama tertutup rapat, Austin langsung meneguk habis dua gelas air es, lalu berbalik menatap Aleeza dengan sorot mata penuh amarah yang membakar.
"KAU!" bentak Austin dengan suara baritonnya yang berat, melangkah maju mengikis jarak di antara mereka. "Apa yang kau lakukan di rumahku?! Kau berniat meracuniku, Aleeza Wira?!"
Aleeza tidak mundur sedikit pun. Gadis itu justru menyilangkan tangan di dada, mendongak menatap Austin dengan keberanian murni.
"Aku hanya sedang memainkan peran sebagai 'calon istri idaman' yang kau ciptakan sendiri di depan publik, Tuan Vanderbilt!" kekeh Aleeza licik. "Ingat prinsip jurnalisme kami: Keep your friends close, and your enemies closer."
Austin mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras ketat. "Kau sengaja memanfaatkan ibuku untuk membalas dendam padaku, bukan?"
"Aku tidak membalas dendam, Austin," balas Aleeza seraya melangkah santai menuju kamar utama penthouse tersebut. "Aku hanya menanggapi permainan gilamu. Oh ya karena kita sudah resmi 'bertunangan' di depan ibumu, kamar utama ini jadi milikku malam ini. Kau bisa tidur di sofa!"
Aleeza membalikkan badan, lalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu rapat-rapat.
KLEK! Suara kunci pintu terdengar nyaring.
"Aleeza ! Buka Pintunya ! Ini penthouse milikku!" teriak Austin seraya menggedor pintu kamar dengan napas memburu.
Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar, selain tawa kecil Aleeza yang terdengar samar.
Austin berdiri membeku di depan pintu kamarnya sendiri yang terkunci rapat. Rahangnya tertutup rapat, bibirnya yang masih terasa pedas menyunggingkan senyuman tipis yang berbahaya.
Ya, Austin Vanderbilt kalah telak malam ini. Tapi dalam benaknya, satu hal yang pasti permainan baru saja dimulai.
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!