NovelToon NovelToon
Takut Sial, Mau Tunangan

Takut Sial, Mau Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Idola sekolah
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.

Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.

Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.

Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah Lagi, Baffin Lagi

Silva, Kenya, dan Gavi berjalan beriringan di koridor menuju kelas. Di belakang mereka, Baffin berjalan bersama teman-temannya yang sedari tadi sibuk memprovokasi.

"Video mereka boncengan sambil pelukan sudah viral, Fin. Silva kayaknya bosan sama lo yang datar dan enggak ada ekspresi begini. Coba lo senyum deh, mungkin dia langsung balik," ledek Novel yang emang gak pernah bisa diem.

"Diem lo," desis Baffin sinis.

Langkah kaki Baffin langsung mempercepat ritme. Tanpa aba-aba, ia menerobos antrean koridor, meraih pergelangan tangan Silva, dan menariknya paksa.

Silva sempat memberontak dan mencoba melepaskan cengkeraman itu, namun ia kalah kuat. Kenya yang melihat situasi itu berniat menolong, tetapi Gavi segera menahan lengannya, memberi isyarat gelengan kepala agar tidak ikut campur.

Baffin menarik Silva hingga ke area sepi di belakang sekolah. Begitu Baffin melepaskan cengkeramannya, Silva langsung mengusap pergelangan tangannya yang memerah. Sakit. Sangat sakit. Bibirnya mengerucut sebal, maju lima sentimeter.

"Kamu jahat! Sakit tahu!" sungut Silva dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Ngapain berangkat sama Gavi?" tanya Baffin langsung pada intinya. "Semua orang sudah tahu kita tunangan. Terus kamu malah berangkat sama cowok lain? Aku jadi enggak punya harga diri."

"Kita cuma temen! Lagian mending aku berangkat sama dia, kita sudah temenan dari lama. Kalau sama kamu kan cuma tunangan karena perjodohan," balas Silva tidak mau kalah.

Baffin menyipitkan mata. "Maksudnya kamu lebih dulu kenal sama Gavi?"

"Bukan! Aku sama dia temenan. Kita... walaupun dulu temen, tapi itu pas masih kecil. Sekarang sudah enggak."

"Iya, sekarang kita bukan temen. Tapi tunangan," potong Baffin dingin.

"Tapi kan kamu terpaksa! Kenapa kamu harus bersikap kayak gini, sih? Harusnya kamu senang kalau aku enggak perlu repotin kamu lagi. Kamu capek kan sama aku? Kamu selalu bilang aku ceroboh!"

Silva berbalik, berniat pergi dari sana. Namun, gerakan Baffin lebih cepat untuk menahannya kembali.

"Sudah mau bel masuk, Apin! Nanti kalau telat gimana?" keluh Silva sengit.

Baffin hanya menatapnya datar. Namun, ada kilat yang tidak biasa di dalam manik mata laki-laki itu. Ia marah.

"Kamu tunangan aku, Silva. Kamu harus jaga jarak sama cowok lain. Apalagi peluk-pelukan kayak gitu di depan umum," ujar Baffin, mencoba menahan sisa-sisa kesabarannya.

"Aku enggak peluk-pelukan! Aku cuma pegangan!" sergah Silva membela diri.

"Enggak seharusnya kamu berangkat sama dia."

"Terus sama kamu? Kamu gak tahu gara-gara ini semua orang jadi enggak suka sama aku. Kemarin aku sampai ribut dan dihukum sama guru, gara-gara siapa kalau bukan gara-gara kamu?"

Baffin menatap Silva tajam. Pola ini sudah biasa. Gadis di depannya ini selalu menjadikannya kambing hitam atas segala kesialan yang terjadi.

Biasanya, Baffin hanya akan menghela napas lelah dan mengalah. Tapi, kali ini berbeda. Sesuatu di dalam dirinya mulai habis kesabaran.

"Kamu enggak suka diomongin?" tanya Baffin dengan nada rendah.

"Iyalah! Aku kan sekolah mau tenang!"

"Terus kamu berangkat sama Gavi begini enggak jadi omongan? Lagian biarin aja orang-orang enggak suka. Ngapain peduli?"

"Aku enggak peduli! Aku cuma malas. Aku mau jaga jarak biar orang-orang diam!"

"Menurut kamu, orang-orang bakal diam kalau kamu menjauh?"

Silva tertegun. Mulutnya terkunci, tidak tahu harus menjawab apa.

"Kamu punya otak enggak—"

"Punya!" potong Silva cepat, tersinggung.

"Kamu selalu nyalahin aku. Sekarang kamu juga diomongin gara-gara berangkat sama Gavi. Salah aku juga?" Baffin menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan senyum sinis yang dipaksakan.

"Enggak. Kamu enggak salah apa-apa. Semuanya salah aku."

baffin mengerjapkan mata. Lah? Keningnya berkerut bingung. Silva kan marah dengannya. Terus tiba-tiba bilang semuanya salah dia. Dan Baffin gak salah apa-apa. Duh, capeknya urusan sama cewek.

      "Tapi, sekarang kamu marah sama aku, kan? Berarti menurut kamu aku salah." Balas Baffin.

"Kamu nolak perjodohan, tapi posesifnya minta ampun. Terus orang-orang ngejek aku. Mereka bilang aku sok pasang muka tertekan pas disuapin sama kamu. Padahal aku emang beneran tertekan!"

"Kamu lupa kamu mecahin mangkok di mall, Cilpa? Kamu lupa sudah janji bakal nurut sama aku? Lagian enggak penting kamu peduliin omongan mereka," cecar Baffin balik.

"Aku ENGGAK peduli!"

"Kalau enggak peduli, kamu enggak akan ngejauhin aku!"

"Memang kenapa kalau aku ngejauhin kamu? Kamu kan enggak suka sama aku. Harusnya senang, dong!" tantang Silva, menatap lurus ke mata Baffin.

Baffin maju selangkah, mengikis jarak di antara mereka. "Aku nolak perjodohan, tapi tetap dijodohin, kan? Terus menurut kamu, kalau aku biarin kamu marah dan menjauh dari aku, orang tua aku bakal diam aja?"

Merasakan atmosfer yang semakin intim dan mengintimidasi, Silva memilih jalan pintas: kabur. Namun, dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Baffin kembali mencekal pergelangan tangannya, menolak memberikan celah.

"Kamu enggak boleh pergi kalau masih marah."

"Aku enggak marah. Kenapa juga harus marah? Kamu kan enggak salah," balas Silva ketus dengan kalimat yang mulai tidak jelas arahnya.

Baffin mendengus pelan, menatap gadis di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Memang aku enggak salah. Tapi kan menurut kamu aku selalu salah. Kamu kejepit helm sendiri, salah aku. Kamu mecahin kaca di koridor, juga salah aku. Sekarang semua orang enggak suka sama kamu, juga salah aku."

•••

Kelas 3A

"Si Baffin sama Silva kok enggak masuk-masuk, ya?" celetuk Cyriel sambil melirik dua meja kosong di sebelah kanannya.

"Si Baffin lagi senyum ngikutin saran gue kayaknya," balas Novel asal.

Kaisan langsung meringis merinding, tidak sanggup membayangkan bagaimana mengerikannya jika seorang Baffin mendadak tersenyum manis. "Ngarang banget lo, Tengil! Kalau senyum pun enggak butuh waktu selama ini kali!"

"Si Novel emang enggak jelas. Entah otaknya ditaruh di mana?" ucap Cyriel jengkel, lalu tanpa perasaan menggeplak kepala Novel menggunakan buku paket yang tebal.

Plak!

"Aduh! Lo zalim terus sama gue! Doa orang terzalimi itu makbul, lho!" peringat Novel sambil mengusap kepalanya yang berdenyut.

Kebiasaan, setiap hari pasti ada saja bagian tubuhnya yang jadi sasaran tangan enteng Cyriel.

Mendengar kata 'makbul', Cyriel langsung memajukan kursinya. "Ya sudah, kalau gitu doain gue, ya. Biar gue bisa punya rumah yang nyaman, terus nyokap gue enggak perlu jualan makanan matang lagi. Biar nyokap bisa tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah."

Novel hanya mendengus malas, tidak sudi mendoakan orang yang baru saja menganiaya kepalanya.

Karena bosan, Kaisan yang sengaja pindah duduk ke meja Baffin agar bisa mengobrol sejajar dengan mereka, kembali menyahut. "Tapi serius, menurut lo berdua, mereka lagi ngapain sekarang di luar?"

"Lagi buka baju," balas Novel, masih dengan watak asalnya.

Dan lagi-lagi... Plak! Cyriel memukulnya tanpa ragu.

"Cyriel!!!" geram Novel tertahan. Ia ingin sekali berteriak kencang, namun urung karena di depan kelas sudah ada guru yang sedang menulis di papan tulis.

Mengabaikan Novel yang misuh-misuh, Kaisan menjentikkan jarinya. "Gimana kalau kita taruhan? Tebak Baffin sama Silva lagi ngapain sekarang?"

"Ogah gue. Gak punya uang," tolak Cyriel cepat sebelum Kaisan melangkah lebih jauh.

"Yah... taruhan enggak harus pakai uang juga imbalannya," balas Kaisan mencoba membujuk.

Novel yang gampang penasaran akhirnya menoleh, menatap Kaisan melompati jarak kosong di antara meja mereka. "Kalau menurut lo sendiri, mereka lagi ngapain?"

Kaisan mengetuk-ngetuk dagunya, berlagak berpikir keras. "Lagi... mmm..."

Novel berdecak. "Lama lo! Keburu keduluan ajalnya Cyriel nanti!" potong Novel tidak sabaran.

Plak!

Memang luar biasa kombinasi dua orang ini. Mulut Novel kelewat enteng, dan tangan Cyriel pun sama sekali tidak kalah enteng untuk melayang.

"Gue cubit beneran lo, ya?!" ancam Novel yang mulai kesal setengah mati karena kepalanya jadi sansak dadakan.

Kaisan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas lelah. Dua temannya ini memang tidak pernah bisa akur kalau sudah disatukan dalam satu deret meja.

•••

Kembali ke area belakang sekolah.Silva akhirnya menyerah untuk kabur setelah berkali-kali langkahnya dicekal oleh Baffin.

Laki-laki itu tampaknya keras kepala, ingin semua ketidakjelasan di antara mereka segera beres hari ini juga. Karena lelah terus berdebat sambil berdiri, Silva memilih berjalan ke arah pohon rindang dan mengempaskan tubuhnya di kursi panjang yang ada di sana.

Baffin yang pastinya juga lelah menghadapi keras kepalanya Silva, ikut melangkah dan duduk di sebelah gadis itu. Kesunyian sempat menyergap.

Merasa bosan dan canggung, Silva merogoh saku seragamnya lalu mengeluarkan ponsel.Baffin melirik, lalu dahinya seketika mengerut begitu melihat penampakan benda pipih tersebut. Tanpa izin, ia merebut dan membalik ponsel Silva ke depan wajahnya.

"Loh... ini kan ponsel yang baru?" tanya Baffin bingung sekaligus heran.

"Iya," jawab Silva ketus.

"Kenapa layarnya sudah pecah-pecah begini?"

"Gara-gara berantem di koridor kemarin!" ketus Silva sambil menarik paksa ponselnya menjauh dari jangkauan Baffin.

Gadis itu langsung membuka aplikasi TikTok dan mulai asyik scrolling. Ia sama sekali tidak peduli kalau jam pelajaran sudah dimulai di kelas. Lagian, kan Baffin yang menahannya di sini dan melarangnya pergi. Jadi kalau mereka membolos, itu murni salah Baffin.

Duh, Baffin lagi kan yang salah.

     Baffin memperbaiki posisi duduknya, menghadap penuh ke arah Silva. "Kenapa kemarin bisa sampai berantem? Siapa yang mulai?"

"Aku."

Baffin menaikkan satu alisnya. "Masa?"

"Kalau enggak percaya enggak usah tanya!" sergah Silva mulai terpancing.

"Aku kenal kamu, Cilpa."

"Kalau sudah tahu ya enggak usah tanya!"

Mendengar balasan judes yang kelewat defensif itu, sudut bibir Baffin malah tertarik ke atas. Ia tersenyum kecil. Aneh, padahal beberapa menit lalu tensi di antara mereka sempat memanas.

"Mereka ngapain kamu kemarin? Bilang, biar aku yang balas mereka supaya enggak berani ganggu kamu lagi," tawar Baffin dengan nada yang mendadak melembut.

"Tanya saja sendiri sama mereka. Kalau aku yang jawab, nanti kamu enggak percaya juga. Malas," ujar Silva tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.

Setelah itu, keheningan kembali tercipta di antara mereka. Silva sibuk dengan dunianya sendiri di balik layar kaca, sementara Baffin hanya diam memperhatikan.

Tatapan laki-laki itu lekat menatap wajah Silva dari samping, sementara jemarinya bergerak santai, mulai memainkan ujung rambut gadis itu.

Suasana mendadak terasa janggal. Padahal mereka baru saja terlibat keributan besar, tetapi sekarang malah terjebak dalam momen sedekat ini.

"Kamu enggak ada niat beli ponsel baru?" tanya Baffin memecah keheningan setelah sekian lama.

"Tadi pagi Bunda lihat ponsel aku saja sudah hampir ngamuk. Untung Ayah langsung tenangin. Enggak tahu deh kalau aku berani minta beli ponsel baru lagi, bakal diapain aku sama Bunda," curhat Silva, sedikit merinding membayangkan amarah bundanya.

Baffin terkekeh pelan. "Kamu ceroboh, sih."

Mendengar kata keramat itu, Silva langsung menggeser duduknya menjauh. Ia menatap Baffin dengan pandangan tidak suka.

Baffin selalu dan selalu mengejeknya dengan sebutan itu. Walaupun Silva sadar dirinya memang agak teledor, tetap saja ia tidak suka dikatai ceroboh. Lagipula, ia tidak melakukan kecerobohan setiap hari, kan?

"Kenapa? Marah?" tanya Baffin, sedikit terhibur melihat pipi Silva yang menggembung kesal.

"Jauh-jauh! Sana!" titah Silva sambil mengibaskan tangannya, mengusir Baffin.

Baffin tidak beranjak. Ia justru menatap Silva lekat-lekat. "Mau aku beliin ponsel baru, enggak?"

Seketika gerakan tangan Silva terhenti. Ia menoleh cepat dengan mata berbinar, tampak sangat tertarik dengan tawaran barusan.

"Kamu serius mau beliin aku ponsel baru?" tanyanya antusias. Rasa kesalnya menguap begitu saja. Bagaimanapun, keretakan di layar ponselnya saat ini memang sudah sangat parah—sudah menyerupai sarang laba-laba yang siap hancur kapan saja.

1
Ai Oncom
❤️❤️❤️
chill: makasih ya sudah mampir.. baca juga buku yang satunya. 📖📖
total 1 replies
falea sezi
😒 cwek manja g guna sial teros
falea sezi
🤣🤣 ceroboh dan goblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!