Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Ternyata dugaannya saat di jalanan kemarin memang benar seratus persen.
Penyakit jantung Pak Darma bukanlah penyakit alami melainkan hasil racun perlahan yang disengaja.
"Syukurlah kalau begitu."
Raka menghela nafas lega dan mengusap wajahnya yang tegang.
"Lalu kenapa kemarin sore kakek saya bisa tiba-tiba pingsan di jalanan."
Dokter Handoko merapikan peralatannya ke dalam tas medisnya dengan santai.
"Itu hanya kelelahan biasa, Tuan Muda Raka."
"Saya akan meresepkan obat baru dengan dosis yang lebih tinggi agar kejadian kemarin tidak terulang lagi."
Dokter Handoko mengeluarkan sebuah botol kecil berisi kapsul berwarna biru pekat dari tasnya.
"Tuan Besar harus meminum obat ini dua kali sehari tanpa boleh terlewat satu kali pun."
Pak Darma mengambil botol obat itu dengan tangan sedikit gemetar.
"Terima kasih, Dokter Handoko, saya akan meminumnya secara rutin."
"Jangan minum obat itu, Kakek."
Suara Astiana tiba-tiba memecah suasana dan membuat semua orang di kamar itu menoleh padanya.
Raka langsung menatap Astiana dengan sorot mata penuh amarah.
"Sedang apa kau di sini, bukankah aku menyuruhmu diam di ruang kerjaku."
Raka membentak Astiana dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru kamar.
"Gadis pelayan ini lancang sekali mencampuri urusan medis."
Dokter Handoko ikut menimpali dengan nada merendahkan dan tersinggung.
"Siapa dia, Tuan Muda, kenapa pelayan tidak sopan ini dibiarkan masuk ke kamar Tuan Besar."
Pak Darma mengangkat tangannya untuk menenangkan situasi yang mulai memanas itu.
"Dia bukan pelayan, Dokter Handoko, dia adalah gadis yang menyelamatkan nyawaku kemarin sore."
Dokter Handoko sedikit terkejut mendengar pernyataan dari pasien VIP-nya tersebut.
Dia menatap Astiana dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan.
"Oh, jadi ini gadis kampung yang katanya memakai terapi tusuk jarum kuno itu."
Dokter Handoko tertawa sinis seolah baru saja mendengar sebuah lelucon konyol.
"Tuan Besar, Anda sangat beruntung tidak mengalami infeksi karena jarum kotornya."
"Tolong jangan biarkan dukun palsu seperti dia ikut campur dalam penanganan medis modern saya."
Astiana berjalan maju beberapa langkah mendekati ranjang Pak Darma.
"Obat biru di tangan kakek itu bukan obat penyembuh."
Astiana menatap lurus ke arah mata Dokter Handoko yang tiba-tiba sedikit melebar.
"Kapsul itu mengandung ekstrak bunga oleander yang sangat beracun jika dikonsumsi jangka panjang."
Deg.
Wajah Dokter Handoko langsung memucat seketika mendengar kandungan rahasia obat racikannya disebut dengan tepat.
"Bagaimana gembel ini bisa tahu kandungan obat buatanku."
Suara hati Dokter Handoko berteriak sangat panik namun dia berusaha mempertahankan ekspresi datarnya.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan, gadis gila."
Dokter Handoko membalas bentakan Astiana dengan nada suara yang sengaja ditinggikan untuk menutupi kegugupannya.
"Ini adalah obat jantung impor dari Swiss, bukan racun bunga sembarangan."
Raka melangkah maju dan berdiri di antara Astiana dan Dokter Handoko.
"Cukup, Astiana, kau sudah sangat kelewatan kali ini."
Raka menunjuk pintu keluar kamar dengan tatapan mata yang sangat mengerikan.
"Dokter Handoko sudah merawat keluarga kami selama belasan tahun."
"Dia adalah dokter terbaik di kota ini dan kau berani menuduhnya meracuni kakekku."
"Aku hanya mengatakan fakta yang aku lihat, Tuan Muda Raka."
Astiana sama sekali tidak mundur apalagi terlihat takut dengan kemarahan Raka.
"Kalau kau tidak percaya, panggil pihak laboratorium sekarang juga untuk memeriksa kandungan kapsul itu."
Dokter Handoko langsung merebut kembali botol obat itu dari tangan Pak Darma dengan kasar.
Sret.
"Saya tidak akan membiarkan obat mahal ini diperiksa hanya karena tuduhan tidak berdasar dari seorang dukun kampung."
"Kalau keluarga Darma lebih mempercayai gadis ini daripada saya, saya akan mengundurkan diri sekarang juga."
Dokter Handoko memakai taktik ancaman klasik untuk menekan psikologis Raka dan kakeknya.
Dia tahu betul keluarga konglomerat ini sangat bergantung padanya selama bertahun-tahun.
"Tidak, Dokter Handoko, jangan pedulikan ucapan gadis tidak waras ini."
Raka segera memegang lengan dokter tersebut untuk menahannya pergi.
"Aku akan mengurus gadis ini dan memberinya pelajaran karena sudah lancang."
Raka mencengkeram pergelangan tangan Astiana dengan sangat kuat hingga urat-urat di tangannya menonjol.
Grep.
"Ikut aku sekarang juga."
Raka menarik tubuh Astiana dengan paksa menuju pintu keluar kamar utama tersebut.
"Raka, hentikan tindakan kasarmu pada Nak Astiana."
Pak Darma berteriak menegur cucunya namun suaranya terdengar melemah.
Uhuk uhuk.
Pria tua itu terbatuk keras sambil memegangi dadanya yang kembali terasa sedikit nyeri.
"Kakek istirahat saja, biar aku yang mengurus parasit ini."
Raka mengabaikan perintah kakeknya dan terus menyeret Astiana keluar dari kamar.
Astiana sebenarnya bisa saja melepaskan cengkeraman Raka dengan satu sentakan kecil tenaga dalamnya.
Namun dia memilih diam dan mengikuti tarikan pemuda arogan itu tanpa melawan.
"Biarkan saja dokter palsu itu lolos untuk saat ini."
Astiana membatin dengan sangat tenang.
"Aku sudah mencatat wajah dan gelombang suara hatinya, dia tidak akan bisa sembunyi dariku."
Langkah kaki Raka yang panjang dan cepat membuat mereka berdua segera tiba di halaman belakang rumah.
Area ini sangat sepi dan jauh dari jangkauan para pelayan lainnya.
Bruk.
Raka menghempaskan tangan Astiana dengan kasar hingga gadis itu sedikit terhuyung ke belakang.
"Apa sebenarnya tujuanmu datang ke rumah ini, hah."
Raka membentak dengan jarak wajah hanya beberapa jengkal dari wajah Astiana.
Hembusan nafas pemuda yang sedang emosi itu sampai menerpa kulit wajah Astiana.
"Aku sudah bilang, aku ke sini hanya untuk menumpang tidur."
Astiana membalas tatapan tajam itu dengan sorot mata yang sangat kosong dan dingin.
"Pembohong besar."
Raka mengacak-acak rambutnya sendiri karena merasa sangat frustrasi.
"Kau mencoba menghasut kakekku, kau menuduh dokter keluarga kami, dan kau memanipulasi pekerjaanku."
"Kau pasti penyusup yang dikirim oleh pesaing bisnis kakekku untuk menghancurkan keluarga Darma dari dalam kan."
Astiana menghela nafas panjang yang terdengar sangat lelah.
Dia mulai menyadari bahwa berdebat dengan pria yang otaknya dipenuhi kecurigaan ini sangat membuang waktu.
"Terserah kau mau menuduhku apa, Tuan Muda Raka."
"Tapi ingat satu hal ini baik-baik."
Astiana melangkah maju satu langkah hingga jarak mereka berdua menjadi sangat dekat.
"Kalau kakekmu mati besok karena obat biru itu, jangan pernah menangis dan memohon bantuan padaku lagi."
Raka terdiam kaku mendengar kalimat ancaman balik yang diucapkan dengan nada sangat rendah namun mematikan itu.
Aura di sekitar Astiana tiba-tiba terasa sangat berat dan menekan membuat Raka kesulitan bernapas untuk sesaat.
Pemuda arogan itu tanpa sadar menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣