Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9 Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan
Suara deru mesin motor tua yang batuk-batuk di depan gang menjadi pertanda yang amat dihafalkan Anisa.
Segera, dengan jemarinya yang masih basah, ia mengusap sudut matanya yang sembab, menyapu sisa-sisa air mata penderitaan akibat caci maki Bu Salma sepanjang siang tadi.
Ia menarik napas dalam-dalam, menepuk-nepuk pipinya agar tampak lebih segar, lalu memaksa sebuah senyum manis terukir di bibirnya.
Pintu papan rumah sewa itu berderit saat terbuka. Burhan berdiri di ambang pintu dengan kaos oblong lusuh yang basah kuyup oleh keringat, menempel ketat di tubuhnya yang tegap namun nampak amat keletihan.
Wajahnya berjelaga debu semen dan tanah merah, jemari tangannya yang kasar menyisakan noda semen kering di sela-sela kuku.
"Assalamualaikum, Dinda..." sapa Burhan lirih, suaranya parau dan terengah-engah.
"Waalaikumsalam, Kang..." jawab Anisa lembut. Ia melangkah maju, meraih tangan Burhan yang kasar dan mencium punggung tangannya dengan penuh hormat.
Burhan bergegas menarik tangannya pelan, merasa tak enak hati. "Tangan Akang kotor sekali, Nisa Nanti bajumu ikut kena debu semen."
"Tidak apa-apa, Kang. Kebersihan tangan seorang suami yang bekerja keras mencari rezeki halal itu berkah," bisik Anisa, berusaha menatap mata suaminya tanpa menunjukkan mata merahnya yang baru saja berhenti menangis.
Burhan tersenyum tipis, matanya melirik ke arah dapur karena sudah sangat lapar ,
" oh iya sudah masak Nisa ?" tanya Burhan kepada Nisa
"sudah mas , sudah bersihkan dulu badan nya biar Nisa ambilkan mas" ucap Nisa kepada Burhan suaminya
" ok mas kemarin mandi dulu ya" jawab kembali Burhan kepada Nisa
" oh iya mas lihat tadi nampak ibu Salma dari sini, dia tak marah dan bikin masalah kan ?" tanya Burhan kepada NIsa
Pertanyaan sederhana itu seketika membuat dada Anisa berdenyut nyeri. Bayangan tatapan hina dan lemparan sapu ijuk dari Bu Salma tadi pagi mendadak melintas.
Namun, Anisa cepat-cepat mengendalikan emosinya. Ia menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum paling hangat yang ia miliki.
"Tidak, mas Bu Salma baik-baik saja hari ini. Cuma tadi minta tolong sapukan halaman sebentar," bohong Anisa demi menjaga kedamaian hati suaminya. "Kang Burhan pasti capek sekali, ya? Mari masuk, saya sudah siapkan air hangat dan handuk di kamar mandi."
Burhan menghembuskan napas panjang, melangkah masuk lalu melepas sepatu boot karetnya yang sudah bolong di bagian tumit. "Hari ini proyek ngecor lantai dua, Nisa Mandor minta selesai sebelum hujan turun, jadi Akang angkat adonan semen hampir tak ada istirahatnya. Punggung Akang rasanya mau patah."
"Ya Allah... kasihan sekali Kang Burhan," Anisa mengambil tas ransel lusuh suaminya dan menggantungnya di paku dinding. "Kang Burhan duduk dulu di lincak, biar saya ambilkan minum."
Anisa bergegas ke dapur kecil dan menuangkan segelas air putih hangat. Saat membelakangi Burhan, pertahanan dirinya sempat runtuh. Setetes air mata menetes di permukaan meja dapur. Anisa cepat-cepat mengusapnya lagi. Tidak, Anisa. Jangan biarkan Akang melihatmu menangis. Bebannya di tapak proyek sudah terlalu berat, batinnya menguatkan diri.
Ia kembali ke ruang tengah dan menyerahkan gelas itu pada Burhan.
"Ini, Kang, diminum dulu."
Burhan menerima gelas itu dan meminumnya hingga kandas dalam beberapa tegukan. Ia mengusap mulutnya dengan belakang lengan baju, lalu menatap wajah istrinya rapat-rapat.
"Nadia... matamu kok merah?" tanya Burhan tiba-tiba, menyipitkan mata penuh selidik.
Anisa terperanjat sejenak, namun dengan cepat ia mencari alasan. "Oh... ini, Kang. Tadi sewaktu mengulek sambal di dapur, mata saya terkena percikan cabai. Perih sekali sampai keluar air mata terus dari tadi."
Burhan menatap Anisa lama, ada rasa iba dan bersalah yang mendalam di dalam dadanya. Ia meraih jemari Anisa yang terasa dingin. "Maafkan Akang ya, Nad. Harusnya kamu tidak perlu hidup susah begini. Harus masak di dapur yang sempit, menumpang di rumah orang, dan makan seadanya. Kalau saja Akang punya keahlian lain selain jadi kuli..."
"Kang, jangan bicara begitu!" potong Anisa cepat, matanya berkaca-kaca—kali ini bukan karena sakit hati pada Bu Salma, melainkan karena rasa cinta pada suaminya. "Saya tidak pernah menyesal menikah dengan Kang Burhan. Saya bangga punya suami yang jujur dan mau membanting tulang demi memberi saya makan halal. Soal makan seadanya, yang penting kita makan bersama."
Burhan tertegun mendengar tutur kata istrinya yang begitu teduh. Kelelahan yang membakar otot-otot tubuhnya seolah memudar perlahan, terhapus oleh kelembutan wanita di hadapannya.
"Sabtu besok mandor janji gajian turun," kata Burhan seraya mengelus pipi Anisa dengan punggung jarinya yang bersih dari semen. "Akang bakal melunasi sisa sewa ke Bu Salma. Sisanya... nanti Akang belikan kamu kain baru ya? Baju rumahmu sudah banyak yang tipis."
"Tidak usah, Kang. Uangnya disimpan saja untuk tabungan kita," bisik Anisa penuh ketulusan. "Sekarang, Kang Burhan mandi dulu ganti baju, ya? Supaya badannya segar. Setelah itu kita makan malam bersama."
"Iya, Dinda," jawab Burhan tersenyum lega.
Saat Burhan beranjak berjalan menuju kamar mandi di belakang, Anisa menatap punggung suaminya yang membungkuk karena keletihan. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding kayu, mengusap dadanya yang sesak. Biarlah pedasnya makian Bu Salma ia telan sendiri, asal senyum dan semangat suaminya tidak padam ditelan beratnya beban hidup.