NovelToon NovelToon
Aku Tak Terima Dicurangi

Aku Tak Terima Dicurangi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Mandul
Popularitas:239.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.

Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.

Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.

Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.

Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas pembantu : 22

Sepersekian detik Siska tak bereaksi, seperti orang linglung. Wajahnya terasa panas sampai merambat ke telinga, hampir saja dia kelepasan mengumpat.

“Maaf, Nyonya. Saya kecapean, kemarin seharian menjaga Alamsyah,” dustanya dengan suara seperti orang berkumur-kumur.

Helyara mendengus dalam hati, masih dengan memandangi wajah sedikit pias. “Cuci muka sana! Terus bersihkan rumah. Ini sudah hampir jam tujuh pagi — lampu belum dimatikan, gorden masih tertutup rapat, lantai banyak debu berpasir, dan barang-barang kalian semalam tergeletak begitu saja. Hunian saya sudah mirip penginapan gratisan.”

“Baik, Nyonya.” Angguknya cepat-cepat, tanpa berani menatap bukan dikarenakan takut, tetapi khawatir kalau tidak bisa menahan diri berakhir kedoknya terbongkar.

“Kamu gak punya rasa simpati sama sekali ya, Helya? Siska itu kecapean, wajar kalau kesiangan bangun!” seru suara menahan kesal di belakang tubuh wanita belum beranjak dari sana.

Siska merasakan angin segar. ‘Mampus kamu terus-terusan diserang semua orang. Buruan nangis, aku paling senang melihat wajahmu berderai air mata,’ ia tak jadi masuk ke dalam rumah.

Gerakannya tidak tergesa-gesa, memutar badan lalu bersitatap dengan wanita berambut sebahu, memakai baju tidur pendek.

“Kalau mbak Zanaya kasihan, silahkan bantu meringankan pekerjaan rumah Siska,” usulya tenang.

“Enak saja. Aku tamu disini, masa disuruh bersih-bersih?” kelakar Zanaya seraya berkacak pinggang. Dia berdiri di teras dapur, berjarak satu meter dari pintu kamar pembantu.

Helya juga meniru gaya kakak iparnya, bersedekap tangan. “Tamu itu datangnya sekali-kali, bukan hampir tiap hari. Jika mbak Zanaya merasa tamu, harusnya tau diri, jangan ikut campur Nyonya rumah yang sedang mendisiplinkan pembantunya.”

Telak, balasan itu menusuk ke ulu hati, membungkam mulut yang sering menyindir sampai Helyara merasa kerdil.

“Kamu nunggu apalagi, Siska? Bukannya cepat-cepat cuci muka, malah berdiri di sana. Atau menantikan dibela sana-sini, iya?” tuduh Helya, menyimpan kepuasan tersendiri melihat dua wanita gagal membuatnya merasa tak berarti.

“Maaf, Nyonya.” Siska berlari masuk ke dalam kamar mandi.

“Mbak Zanaya kenapa belum siap-siap? Mau libur lagi? Kali ini apa alasannya?” cecar Helya, kasih mempertahankan raut tenang, suara sedang.

“Ini aku mau mandi.” Ia berbalik badan, masuk ke dalam rumah.

‘Kalian pikir — tekanan, cemoohan, kata-kata kejam masih memiliki efek dahsyat bagi mental dan hatiku? Salah besar!’ Helya juga masuk ke dalam rumah.

Gorengan tadi dibeli, ditaruh ke atas piring, begitu juga bubur pulut hitam disiram kuah santan. Helya membawa nampan ke ruang tengah. Dari sini bisa melihat ke tempat lainnya. Ia duduk tenang, menikmati sarapan paginya.

Siska masuk lewat pintu belakang, lalu mengambil sapu dan serokan, pada pundak tersampir kain lap.

Setiap gerakan pembantu mulai membersihkan rumah — menyibak gorden, mematikan lampu, dan sekarang sedang menyapu dengan wajah tertunduk, tidak luput dari mata tajam Helyara.

‘Sadar dirilah! Sampai kapanpun kamu gak akan bisa menggantikan posisiku sebagai nyonya rumah,’ batinnya berkelakar, mulut mengunyah bakwan goreng sambil menggigit cabai rawit.

Bi Mirma sudah bercerita banyak, dia mengatakan kalau selama Siska masuk ke dalam rumah Helyara, lebih banyak bersantai daripada bekerja.

Wanita itu sibuk melakukan perawatan selagi sang nyonya mendekam terus di ruang kerja.

‘Baru kusadari dia memiliki kulit putih, halus, dada besar, bokong montok. Kamu sukses besar memakai uangku untuk mempercantik diri,’ diam-diam Helya memperhatikan Siska yang menyapu lantai hendak melewati ruang tengah.

Siska tidak memakai celana panjang seperti biasa, tetapi selutut. Kaosnya pun tak selonggar sebelumnya, sekarang terlihat sedikit mempertontonkan lekuk tubuh.

Helyara yang dulu sudah terlanjur percaya, dan selalu memanusiakan manusia, sangat menghargai orang, tak pernah membeda-bedakan lewat kasta, enggan memperhatikan secara detail kedua pembantunya.

Sekarang matanya terbuka lebar, otak bekerja keras menghasilkan pemikiran kritis, tajam.

Banyak hal tak terlihat, satu persatu tampak seolah sengaja muncul ke permukaan dengan sendirinya.

Hari masih pagi, Siska sudah merasa kegerahan. Ac dalam rumah telah dimatikan, dan dia tidak terbiasa bekerja sebanyak ini.

‘Awas kamu gendut, bakalan kubalas nanti!’ dia terus menggerutu, menyumpahi. Rasanya sulit sekali menahan diri, terlebih mencium bau masam ketiak, badan lengket keringat.

Selesai menyapu, Siska mengelap perabotan rumah yang tidak banyak. Helyara termasuk pribadi simpel, tak suka membeli barang pajangan.

Pintu kamar tamu sayap kiri rumah dibuka, Ganira dalam tampilan baru bangun tidur, memakai daster, rambut digelung tanpa disisir lebih dulu, berniat pergi ke dapur.

Namun langkahnya terhenti mendapati menantunya duduk berleha-leha sambil makan bubur.

Ganira juga melihat Siska yang naik kursi pendek, sebelah tangan memegang piring antik, satunya lagi menggerakkan kain lap.

“Helya, siapkan sarapan buat Mama sama Papa! Banyakin santan ke bubur!” titahnya berdiri disamping menantunya.

Ditelan dulu suapan terakhir bubur, lalu meneguk teh hangat yang juga dibeli. Barulah dia menjawab tanpa mau menatap. “Suruh Siska, itu tugas dia.”

“Kamu gak lihat dia lagi sibuk?” suaranya mulai meningkat.

“Mama juga gak lihat apa, aku sedang menikmati sarapan?” sahutnya berani.

Andai saja Alandi tidak memperingati, sudah diajak bertengkar Helyara.

Ganira melengos ke dapur, dan tak lama kemudian teriakannya terdengar sampai depan.

Suara langkah kaki menghentak lantai, dia tidak menemukan sesuatu bisa di makan terhidang di atas meja.

“Kamu gak ada beliin Mama sama Papa dan lainnya sarapan?!”

“Buat apa? Yang ada percuma.” Sudut mata Helyara berkerut memandang seuntai kalung emas hasil rancangannya yang bertengger manis di leher ibu mertua.

“Kamu nanya buat apa? Ya untuk dimakan. Gak ada inisiatifnya sama sekali dirimu!” Ganira terpancing emosi, terlebih sikap Helyara santai sekali.

“Mama belum lupa banyaknya kejadian di masa lalu, kan? Sini aku ingetin! Setiap kali Mama sama Papa datang, aku berusaha sebaik mungkin menyiapkan sarapan, tapi bukan mendapatkan pujian, terus kritik pedas dilontarkan,” ia berhenti sebentar, mengelap telapak tangan berminyak menggunakan tisu.

“Yang rasa bakwan hambar, tahu isi keasinan, santan bubur keenceran, sambal lontong sayur kepedasan, masih banyak lagi. Gak ada yang bener, berakhir sarapan kubeli menjadi penghuni tong sampah. Berarti tindakanku kali ini cuma beli menu sarapan untuk diri sendiri udah tepat, kan?” senyumnya mengandung ejekan.

“Keterlaluan kamu, Helya!” bentak Ganira.

Kartika yang sedari tadi menguping, berjalan mendekat, berdiri di samping neneknya, mencari perlindungan sebelum berkata-kata tajam.

“Pantesan Tante mandul, soalnya pelit banget jadi orang. Makanya gak hamil-hamil sampai sekarang,” cibirnya dengan berani menatap mencemooh persis sang nenek kalau lagi memarahi Helyara.

“Sini kamu, aku ajari caranya bersikap terhadap orang lebih tua.” Tangan Kartika ditarik sampai terlepas dari genggaman Ganira, dan badannya menabrak sofa.

.

.

Bersambung.

1
Fri5
wkwkwkwkwkwk kebayang JD percobaan samsak dulu 🤪🤣🤣🤣🤣
Ma Em
Ayo Helyara cepat bertindak buat Alandi dan gundiknya menyesal juga keluarganya yg benalu usir saja , bagus Helyara siksa saja terus si Alandi .
Nur Wakidah
jodohnya Helya selanjutnya Sakta apa Yudis 🤭🤭🤭
FiaNasa
padahal aq juga berharap otongnya Alan yg Kena injak biar Siska gak bisa ngerasain dulu 🤣🤣🤣
FiaNasa
pesanku helya klau mau tidur tolong kunci kamarmu ya takut saat kau tidur dicekoki sesuatu atau disuntik obat oleh mereka..waspadalah
lyani
yallah sengaja banget si kamu hel😂
lyani
jangan dilepas Hely....kenain diitunya biar nggak bs bangun sekalian 😅
yuyun Rahayu
Ayoo Hel,semnggt untk sembuhh dan hancurkan keluarga parasit ituuu
🌷💚SITI.R💚🌷
knp ga di onjek tu..boar ga bosa berkicau lg
🌷💚SITI.R💚🌷
arus listriky kurang kuat yara, jd sialan ga kejang² de
🌷💚SITI.R💚🌷
drakula atau vamvir nih yg dekap yara..klu sialan kan pasyiy pura² dia
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
nahh mulai ketahuan kan
nahh kan mau bilang apa coba
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wehhh jd pas covid itu ya tp di lampung sini aman kok
lyani
buat spt masira sekeluarga
mie_moet
sumpah aku pgn berbicara kasar buat siskmpling🤬 dan sialan🤬 ganiron🤬sapto🤬 esmosi tingkat pentit imi🤬🤬
Sumìni Manju Maja
jambaknya aku wakilin y helya
sherly
pesankan kamar VVIP ya Siska, sebab itu nanti ditempati oleh salah satu dr kalian...dasar org gila dah dikasi pendidikan tinggi malah ilmunya dipakai buat nyakitin org... bisa kena pasal pidana nih Siska
Marlina Prasasty
🫣🫣🫣🤭🤭🤭
sherly
puas banget dah si helya balas si mokondo... hahahah good job
Teh Qurrotha
si Ganira. harus di kasih karma yang paling menderita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!