Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.
Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.
Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.
Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP SERIBU DUSTA
Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tampak sibuk seperti biasa. Lalu-lalang pengacara berdasi rapi, para pencari keadilan, serta awak media yang menenteng kamera berlensa panjang memadati koridor utama lantai dua. Udara di dalam gedung terasa padat, bergesekan dengan ketegangan yang merayap di setiap sudut ruangan sidang utama.
Pukul sepuluh pagi, pintu kayu besar ruang sidang utama terbuka perlahan.
Nesa melangkah masuk dengan balutan setelan jas formal berwarna charcoal yang dipadukan dengan kemeja putih bersih. Di sisi kiri dan kanannya, Miya dan Kara berjalan mendampingi dengan langkah tegap penuh dukungan, sementara Bila mengawal di belakang membawa map dokumen hukum penting. Penampilan Nesa memancarkan aura ketenangan mutlakmtidak ada keraguan, tidak ada sisa ketakutan, melainkan ketegasan seorang pimpinan yang siap menagih keadilan atas apa yang telah dirampas darinya.
Kehadiran Nesa langsung memicu kehebohan kecil di barisan bangku penonton dan wartawan. Bisik-bisik dan kilatan lampu kamera ponsel langsung menyambar ke arahnya. Namun, Nesa berjalan lurus tanpa menoleh, menempati kursi sisi penggugat dengan kepala tegak.
Beberapa saat kemudian, pintu samping ruang sidang terbuka. Dua petugas kepolisian menggiring masuk dua orang tahanan berrompi oranye dengan tangan diborgol besi.
Itu adalah Dika dan Sasya.
Pemandangan tersebut membuat seisi ruang sidang kembali bergeming. Dika tampak jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali ia berdiri di atas panggung peluncuran NesAura. Rambutnya acak-acakan, wajahnya kusam tanpa pencukuran, dan tatapan matanya kosong menatap lantai marmer. Di belakangnya, Sasya berjalan dengan kepala tertunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sembab dan pucat di balik helai rambut kusutnya. Riasan tebal dan arogansi yang dulu selalu melekat pada diri mereka kini telah musnah sepenuhnya, menyisakan wujud pesakitan yang terhina oleh perbuatan mereka sendiri.
Begitu duduk di kursi terdakwa, Dika sempat mengangkat wajahnya perlahan. Pandangannya beradu dengan tatapan tajam Nesa dari seberang ruangan. Ada secercah kepedihan, permohonan ampun, dan rasa malu yang luar biasa terpancar dari manik mata pria itu. Namun, Nesa membalas tatapan itu dengan dingin tanpa kebencian yang meledak-ledak, melainkan dengan tatapan hampa seolah Dika hanyalah orang asing yang tidak berarti apa-apa lagi di dalam hidupnya.
"Sidang lanjutan perkara pidana korporat, penggelapan aset, dan pemalsuan dokumen atas nama terdakwa Dika Pratama dan Sasya Kirana dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," suara palu hakim ketua berketuk nyaring, menggema ke seluruh penjuru ruang sidang.
Suasana langsung senyap seketika. Jaksa penuntut umum mulai membacakan tuntutan akhir, memaparkan kembali seluruh bukti digital, aliran dana haram ke perusahaan cangkang, hingga rekaman audio persekongkolan yang telah diverifikasi keabsahannya oleh tim forensik digital firma hukum Miya.
Tidak ada pembelaan berarti dari pihak pengacara pengganti yang ditunjuk negara untuk Dika dan Sasya. Sebab, seperti yang sudah diduga sebelumnya, tidak ada satu pun firma hukum ternama yang sudi membela kasus dengan bukti sekuat granit tersebut, terlebih setelah terungkap bahwa seluruh rekening dan aset pribadi kedua terdakwa telah habis dibekukan.
Di tengah jalannya persidangan, saat jaksa penuntut memperlihatkan salinan dokumen otorisasi palsu yang ditandatangani oleh Dika, Sasya tiba-tiba menoleh ke arah Dika dengan sorot mata menyala penuh amarah. Di balik borgol besinya, wanita itu berbisik tajam dengan suara tertahan yang cukup terdengar oleh orang di sekitar meja terdakwa.
"Ini semua gara-gara kamu..." desis Sasya penuh kebencian, menatap Dika tajam. "Kamu yang meyakinkanku kalau kita tidak akan pernah ketahuan."
Dika, yang sejak tadi menunduk, mendongakkan kepalanya perlahan. Rahangnya mengeras, menatap Sasya balik dengan kilatan amarah yang tak kalah pekat. "Diam kamu, Sasya! Jangan berani-beraninya menyalahkanku sekarang! Kamu sendiri yang dari awal ikut menghasutku dan menikmati setiap rupiah hasil penggelapan itu."
"Cukup! Terdakwa satu dan terdakwa dua, jaga ketertiban di dalam ruang sidang!" bentak hakim ketua dengan suara tegas, mengetuk palu kecilnya sekali untuk memperingatkan.
Kedua pengkhianat itu langsung terdiam, kembali menundukkan kepala dalam suasana penuh kepahitan dan saling benci. Pemandangan itu disaksikan oleh Nesa dari kursi penggugat dengan sudut bibir terangkat tipis. Mereka tidak perlu dihancurkan oleh orang lain; kebusukan hati mereka sendiri terbukti menjadi hukuman paling kejam yang meremukkan hidup mereka dari dalam.
Setelah melalui proses pembacaan tuntutan dan pemeriksaan saksi-saksi ahli yang berlangsung selama hampir dua jam, hakim ketua akhirnya mengetuk palu sidang untuk diskors sementara menjelang pembacaan vonis akhir minggu depan.
"Sidang ditunda dan akan dilanjutkan kembali pada hari Rabu pekan depan untuk agenda pembacaan putusan akhir. Majelis hakim keluar ruang sidang."
Tok... tok... tok.
Para petugas kepolisian kembali mendekati kursi terdakwa, memasang pegangan borgol, dan bersiap menggiring Dika dan Sasya kembali ke mobil tahanan. Sebelum digiring keluar lewat pintu samping, Dika sempat melangkah terhuyung dan menoleh sekali lagi ke arah Nesa, seolah hendak mengucapkan sepatah kata terakhir.
Namun, Nesa sama sekali tidak memberinya kesempatan. Tanpa menoleh sedikit pun, Nesa berdiri dari kursinya, merapikan jasnya, lalu berbalik melangkah keluar ruang sidang didampingi oleh Miya, Kara, dan Bila.
Mereka meninggalkan ruang sidang diiringi kilatan lampu kamera jurnalis yang terus mengejar setiap gerak-gerik mereka. Bagi media, ini adalah akhir dari sebuah skandal korporat besar. Namun bagi Nesa, ini adalah langkah nyata menuju pemulihan jiwa yang telah lama dinantikannya.
Sore harinya, suasana di ruang kerja utama NesAura Skincare terasa jauh lebih damai. Mentari perlahan terbenam di ufuk barat, memantulkan cahaya jingga keemasan yang menembus dinding kaca ruangan.
Nesa berdiri di dekat jendela, memegang segelas air putih hangat di tangan kanannya. Pikirannya melayang kembali ke masa-masa sulit beberapa bulan ke belakang saat ia merintis usaha ini dari nol, saat ia mempercayakan hatinya pada orang yang salah, hingga malam kelam di mana ia kehilangan segalanya, termasuk buah hati yang sangat dicintainya.
Pintu ruangan terketuk perlahan, membuyarkan lamunan Nesa. Bila melangkah masuk dengan membawa beberapa berkas laporan distribusi akhir bulan.
"Bu Nesa, draf kerja sama ekspansi pabrik baru dengan mitra luar negeri sudah selesai direview oleh tim hukum. Apakah Ibu ingin memeriksanya sekarang, atau mau ditunda sampai besok?" tanya Bila dengan nada lembut penuh perhatian.
Nesa menoleh, tersenyum tipis kepada asisten setianya. Ia meletakkan gelasnya di atas meja kecil, lalu berjalan mendekati meja kerja. "Simpan di sini saja, Bil. Besok pagi akan saya baca dan tanda tangani."
"Baik, Bu," jawab Bila mengangguk. Ia hendak berbalik keluar, namun tiba-tiba menghentikan langkahnya seolah teringat sesuatu. "Oh iya, Bu Nesa... Kara dan Miya tadi berpesan, malam ini mereka mengajak Ibu makan malam bersama di restoran biasa untuk merayakan perkembangan sidang hari ini."
Nesa merenung sejenak, lalu menggelengkan kepalanya perlahan dengan senyuman hangat. "Katakan pada mereka terima kasih banyak, Bil. Tapi malam ini aku ingin pulang lebih awal dan beristirahat di rumah saja. Rasanya aku butuh waktu sendiri malam ini."
Bila mengerti betul apa yang dirasakan atasannya. Ia tahu, di balik ketegaran luar biasa yang ditunjukkan Nesa di hadapan publik dan ruang sidang tadi, luka batin atas kehilangan bayinya masih menyisakan ruang sepi yang hanya bisa disembuhkan oleh waktu dan ketenangan diri.
"Baik, Bu. Akan saya sampaikan pada mereka," ujar Bila penuh pengertian sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
Sepuluh menit kemudian, gedung utama NesAura mulai sepi. Karaan dan Miya sudah pulang lebih dulu setelah mendapat pesan pembatalan dari Nesa. Nesa merapikan barang-barangnya, memasukkan tablet dan ponsel ke dalam tas kerja, lalu berjalan keluar menuju lantai dasar tempat mobil jemputannya sudah menunggu di basemen.
Sepanjang perjalanan pulang, di dalam mobil ber-AC yang dikemudikan sopir sewaan, Nesa menatap keluar jendela. Lampu-lampu jalanan ibu kota mulai menyala terang, menciptakan garis-garis cahaya panjang yang berpijar di balik kaca mobil. Hatinya terasa tenang, namun ada keheningan mendalam yang menyelimuti relung jiwanya.
Setibanya di rumah mewah miliknya, suasana menyambut dalam gelap. Bi Lastri sudah merapikan ruang tamu dan menyiapkan lampu sudut sebelum pulang ke rumahnya sendiri, menyisakan Nesa seorang diri di dalam rumah yang kini terasa begitu luas.
Nesa melangkah masuk ke kamarnya di lantai atas. Ia menyalakan lampu tidur bercahaya kuning temaram, melepaskan blazer formalnya, lalu duduk di tepi ranjang besar.
Rumah ini dulu dipenuhi oleh kepalsuanmdi mana Dika biasa duduk di sofa membaca koran sambil memasang senyuman manis bermuka dua, dan di mana Sasya kerap datang berkunjung membawa racun terselubung di balik kedok kekeluargaan. Kini, semua kepalsuan itu telah musnah. Tidak ada lagi suara-suara beracun di bawah atap ini. Yang tersisa hanyalah keheningan mutlak.
Nesa menunduk, merapat kedua telapak tangannya di atas perut ratanya yang kini telah rata. Sensasi nyeri di dadanya kembali menyergap perlahan bukan lagi rasa amarah atau kebencian terhadap Dika dan Sasya, melainkan rasa rindu yang teramat sangat kepada malaikat kecilnya yang pergi sebelum sempat melihat dunia.
Sehelai air mata hangat akhirnya menetes lolos dari pelupuk mata Nesa, jatuh membasahi punggung tangannya di dalam kamar yang sunyi.
Tidak ada yang melihat tangisannya malam ini. Tidak ada kamera media, tidak ada dewan komisaris, dan tidak ada tuntutan hukum. Di hadapan kesendiriannya, Nesa mengizinkan dirinya untuk berduka, meratapi kenangan yang hilang, sekaligus memeluk erat sisa-sisa kekuatan yang membawanya bertahan hingga detik ini.
"Sayang... ibu di sini..." bisik Nesa lirih ke udara kosong, suaranya bergetar menahan rindu yang tak bertepi. "Ibu sudah menepati janji ibu... orang-orang jahat itu sudah mendapatkan balasannya. Tidurlah dengan tenang di sana, Nak..."
Di luar jendela, angin malam berhembus lembut menyapu dedaunan pohon di halaman rumah. Di antara puing-puing masa lalu yang telah terbakar habis, Nesa perlahan memejamkan matanya, merangkul luka itu sebagai bagian dari perjalanan hidupnya, dan bersiap menyongsong fajar baru esok hari dengan kepala tegak sebagai perempuan yang benar-benar merdeka.