NovelToon NovelToon
OUR WEDDING CONTRACT

OUR WEDDING CONTRACT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fio Purple

Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.

Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.

Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.

Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?


Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 13. Gala Dinner

Ketenangan kamar belum sempat kembali setelah percakapan mengenai “bulan madu” yang tidak sengaja diumumkan Alessia kepada ibunya. Vellano masih menatap istrinya dengan ekspresi tidak percaya ketika tiba-tiba ponselnya kembali berdering.

 Siapa yang menelpon...

Nama Ibu.

Alessia spontan melirik layar ponsel itu. Entah mengapa, pikirannya langsung melayang pada Ansley.

Namun Vellano mengangkat panggilan tersebut.

“Ya, Mom?”

Suara Nyonya Anne terdengar begitu bersemangat sampai Alessia bisa mendengarnya dari tempat tidur.

“Vellano! Benarkah kalian akan berbulan madu ke Maladewa?”

Vellano memejamkan mata.

Alessia langsung menutup mulut, menahan tawa.

“Dari mana Mom tahu?”

“Fabiola sudah memberitahu Mama! Bahkan sudah ramai di grup WhatsApp keluarga. Semua orang mengucapkan selamat.”

Vellano menatap Alessia dengan tatapan tajam.

Alessia hanya mengangkat kedua tangannya, seolah berkata, Aku juga tidak tahu akan sejauh ini.

Nyonya Anne terus berbicara dengan penuh antusias. Ia bahkan sudah mulai membicarakan betapa cocoknya Maladewa untuk pasangan pengantin baru.

Vellano akhirnya menyerah.

“Iya, Mom. Bulan depan kami pergi.”

“Bagus! Mama tunggu fotonya!”

Panggilan berakhir.

Vellano meletakkan ponselnya perlahan.

Alessia tidak mampu menahan tawa lagi.

“Kamu lucu sekali kalau sedang kesal.”

“Ini semua gara-gara siapa?”

Alessia langsung pura-pura melihat ke arah lain.

“Kau yang menyebut Maladewa,” lanjut Vellano.

“Aku gugup.”

“Dan sekarang satu keluarga tahu.”

Alessia terkekeh. “Setidaknya tempatnya bagus.”

Vellano menghela napas panjang. “Aku tidak pernah merencanakan bulan madu.”

“Aku juga.”

“Lalu kenapa kita harus pergi?”

Alessia terdiam sesaat.

“Karena kalau tidak, kita harus menjelaskan kepada dua keluarga bahwa kita berbohong.”

Vellano terdiam.

Argumen itu terlalu masuk akal untuk dibantah.

Akhirnya ia mengusap wajah frustrasi.

“Baiklah. Bulan depan kita ke Maladewa.”

Alessia tersenyum lebar.

Dan begitulah, sebuah bulan madu yang bahkan tidak pernah mereka inginkan akhirnya menjadi rencana nyata—semuanya hanya karena satu kalimat gugup Alessia.

 ................

 Beberapa hari kemudian, kehidupan Alessia dan Vellano kembali berjalan seperti biasa. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sampai suatu sore, ketika Alessia baru saja pulang dari sirkuit balap.

Tubuhnya masih terasa pegal. Rambutnya sedikit berantakan, jaket balapnya bahkan belum sempat ia lepaskan ketika Vellano tiba-tiba muncul di ruang tengah.

“Kita ada acara malam ini.”

Alessia yang sedang mengambil minum langsung menoleh. “Acara apa?”

“Gala dinner. Dengan beberapa pengusaha.”

Alessia terdiam beberapa detik.

“Tidak.”

Vellano mengangkat alis. “Aku belum selesai bicara.”

“Aku sudah selesai mendengarkan.”

“Alessia.”

“Aku baru pulang balapan, Vellano. Aku mau mandi, makan, lalu tidur.”

Vellano menghela napas. “Ingat kontrak pernikahan kita?”

Alessia langsung memasang wajah kesal.

Dalam kontrak itu jelas tertulis bahwa sebagai istri Vellano, ia wajib menghadiri acara-acara resmi tertentu, terutama yang berkaitan dengan keluarga dan bisnis.

“Kau sengaja memakai kontrak itu untuk memaksaku, kan?”

“Bukan memaksa. Mengingatkan.”

“Bedanya tipis.”

“Yang penting efektif.”

Alessia mendengus kesal. “Suami menyebalkan.”

“Aku dengar.”

“Memang sengaja.”

Vellano hanya menghela napas, lalu pergi meninggalkannya. Sementara Alessia mengomel sepanjang perjalanan menuju kamar.

Malam pun tiba.

Alessia berdiri di depan lemari, kebingungan memilih pakaian. Ia tidak ingin mengenakan sesuatu yang terlalu feminin atau mencolok. Setelah beberapa menit mencari, matanya akhirnya tertuju pada sebuah dress hitam elegan dengan potongan sederhana. Tidak terlalu formal, tetapi tetap terlihat mewah.

“Ini saja.”

Ia mengenakannya, lalu mematut diri di depan cermin.

Tak lama kemudian, Vellano muncul dengan tuxedo hitamnya.

Langkahnya terhenti.

Untuk beberapa detik, ia hanya diam menatap Alessia.

Alessia menyadarinya dan langsung mengernyit. “Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Jangan bohong. Kau menatapku.”

Vellano berdeham dan membuang pandangan. “Dress-mu bagus.”

Alessia menyipitkan mata. “Cuma bagus?”

Vellano kembali menatapnya. Kali ini lebih lama.

“...Kau cantik.”

Alessia terdiam.

Pujian sederhana itu justru membuatnya salah tingkah.

“Jangan tiba-tiba bicara aneh.”

“Aku hanya mengatakan fakta.”

Alessia mendengus, lalu berjalan melewatinya.

Namun diam-diam, sudut bibirnya terangkat.

Malam itu, tanpa mereka sadari, pasangan yang awalnya menikah hanya karena sebuah kontrak justru terlihat seperti pasangan sungguhan.

......................

 Pintu mobil terbuka di depan gedung tempat gala dinner berlangsung. Vellano turun lebih dahulu, kemudian mengulurkan tangannya kepada Alessia.

Alessia sempat menatap tangan itu dengan malas.

“Harus?”

“Banyak kamera.”

Alessia mendengus kecil sebelum akhirnya menerima tangan suaminya.

Begitu mereka memasuki ruangan, hampir seluruh mata langsung tertuju kepada mereka.

Pasangan pengantin baru itu berjalan berdampingan dengan begitu serasi. Alessia tampak cantik dan badass dalam dress hitam elegannya, sementara Vellano terlihat tampan, tenang, dan berwibawa dalam tuxedo hitam yang warnanya senada dengan pakaian istrinya.

Beberapa tamu bahkan berbisik kagum.

“Mereka serasi sekali.”

“Benar-benar seperti pasangan dari majalah.”

Alessia yang mendengar bisikan itu hanya melirik Vellano.

“Jangan besar kepala.”

“Aku bahkan belum bicara.”

“Wajahmu sudah bicara.”

Vellano menahan senyum.

Mereka kemudian berbaur dengan beberapa rekan bisnis Vellano. Alessia berusaha bersikap ramah meskipun dalam hati ia sudah menghitung berapa lama lagi acara itu akan berakhir.

Namun ketenangannya mendadak terganggu ketika seorang wanita menghampirinya.

Seorang wanita cantik dengan pakaian mewah berjalan mendekat dengan ekspresi angkuh.

Laura.

Putri salah satu rekan bisnis Vellano.

Dan yang lebih penting, Laura adalah mantan kekasih Vellano.

“Alessia,” sapa Laura dengan senyum tipis. “Aku dengar kalian menikah.”

“Berita itu rupanya sampai juga kepadamu,” jawab Alessia santai.

Laura tersenyum sinis. “Aku hanya agak terkejut. Vellano dulu punya selera yang berbeda.”

Beberapa tamu yang berada di sekitar mereka mulai diam-diam memperhatikan.

Alessia mengangkat alis.

“Oh? Kalau begitu aku harus berterima kasih kepada Vellano. Berarti seleranya sudah berkembang.”

Beberapa orang langsung menahan tawa.

Wajah Laura berubah.

“Aku hanya mengatakan—”

“Tidak perlu dilanjutkan,” potong Alessia. “Aku sudah cukup lama berdiri di sini mendengarkan sesuatu yang sebenarnya tidak penting.”

Laura tampak tersinggung.

“Kau merasa hebat hanya karena sekarang menjadi istrinya?”

Alessia tersenyum manis.

“Tidak. Aku merasa hebat karena bisa berdiri di sini tanpa harus mengganggu mantan orang lain.”

Beberapa tamu langsung menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan tawa.

Laura semakin malu.

“Alessia!”

“Apa?”

“Kau benar-benar—”

“Cantik? Aku tahu.”

Laura terdiam.

Alessia bahkan sempat tersenyum puas.

“Terima kasih sudah memperhatikan.”

Saat suasana mulai memanas, Vellano yang sejak tadi berbicara dengan seorang pengusaha akhirnya datang menghampiri.

Begitu melihat Laura, ekspresinya langsung berubah dingin.

Ia berdiri di samping Alessia dan dengan tenang menggenggam tangan istrinya.

“Ada masalah?”

Laura langsung menatapnya. “Vellano, aku hanya sedang berbicara dengan Alessia.”

“Aku tahu.”

Tatapan Vellano kemudian beralih kepada Laura.

“Dan aku rasa percakapan ini sudah cukup.”

Laura terdiam.

Vellano lalu berkata dengan suara tegas, cukup keras hingga beberapa tamu di sekitar mereka dapat mendengarnya.

“Aku mencintai Alessia. Dan kalau kau ingin tahu, bukan dia yang mengejar ku.”

Vellano menatap istrinya sejenak.

“Akulah yang mengejarnya.”

Alessia langsung menoleh dengan mata membesar.

“Apa?”

Vellano tetap tenang.

“Fakta.”

Beberapa tamu tersenyum geli.

Laura semakin pucat karena malu. Ia akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan pesta.

Alessia menatap punggung Laura, lalu menoleh kepada Vellano.

“Kau serius bilang kau mengejar ku?”

Vellano mengangkat bahu.

“Memangnya aku salah?”

Alessia terdiam.

“...Menyebalkan.”

Namun kali ini, ia tidak bisa menyembunyikan senyum kecil di wajahnya.

......................

 Akhirnya, setelah gala dinner yang cukup melelahkan sekaligus penuh drama, Alessia dan Vellano meninggalkan acara tersebut.

Di sepanjang perjalanan pulang, Alessia sama sekali tidak berhenti membahas satu hal.

“Jadi, kau benar-benar bilang di depan semua orang kalau kau yang mengejar ku?”

Vellano yang sedang menyetir tetap tenang. “Memangnya aku salah?”

“Masalahnya, kenapa harus bilang begitu?”

“Karena itu kenyataannya.”

Alessia mendengus. “Aku tidak pernah tahu kau punya hobi mengarang cerita.”

Vellano melirik sekilas. “Aku tidak mengarang.”

“Lalu waktu kapan kau mengejar ku?”

“Banyak.”

“Contohnya?”

Vellano diam.

Alessia langsung menyeringai. “Nah. Tidak bisa jawab.”

“Aku sedang menyetir.”

“Alasan.”

Vellano menghela napas. “Kalau aku tahu kau akan menginterogasi ku sepanjang perjalanan, tadi aku biarkan kau pulang sendiri.”

Alessia langsung melotot. “Berani sekali.”

Sesampainya di rumah, mereka masuk sambil masih berdebat kecil. Namun baru beberapa langkah melewati pintu ruang tamu, keduanya mendadak berhenti.

Di sofa, seseorang sedang duduk dengan santai.

Alessia membeku.

Vellano pun langsung memasang wajah waspada.

“Siapa itu?” bisik Alessia.

“Aku juga mau bertanya hal yang sama.”

Sosok di sofa perlahan menoleh.

Alessia refleks mundur satu langkah dan hampir menginjak kaki Vellano.

“ASTAGA!”

Vellano buru-buru menahan pinggangnya.

“Tenang!”

Orang itu justru terlihat santai.

“Lama sekali kalian pulang.”

Alessia dan Vellano saling pandang.

Malam yang mereka kira sudah selesai ternyata baru saja dimulai.

...****************...

 Kira-kira siapakah seseorang itu.Dan bagaimana bisa dia masuk sedangkan pintu mansion di lengkapi dengan sandi dan ada penjaga di pintu gerbang masuk?

 Nantikan selalu keseruannya.Terimakasih yang sudah membaca.Jangan lupa like dan vote ya.

 Bye🥰

1
Verawati Naycyl
penasaran nich thor.....Axel kamu blak blak abis..karen sampai malu tuch🤣🤣
Rho Fioca Purple: Wkwkwk,sabar ya kak Nanti ada part khusus untuk Axel dan Karen.Pantengin terus ya kak😁
total 2 replies
Verawati Naycyl
itu pasti vellano dan Axel...
Verawati Naycyl
lanjut thor
Enz99
Bagus
Rho Fioca Purple: Trimakasih kak🥰
total 1 replies
Rho Fioca Purple
Good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!