**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Seberang Loket
Aina tidak tahu bagaimana tangannya bisa tetap bergerak. Ia meraih map plastik bening itu, membukanya perlahan, dan mengeluarkan selembar fotokopi kartu keluarga beserta kartu keluarga asli yang dilapisi plastik.
Nama-nama itu kini ada di tangannya. Bukan lagi di layar komputer, bukan lagi sekadar data. Kertas yang nyata dengan tanda tangan dan stempel, yang membuktikan bahwa perempuan di depannya memiliki sesuatu yang selama sepuluh tahun Aina kira miliknya.
"Untuk pendaftaran TK, ya Bu?" tanyanya. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, datar dan terlalu tenang.
"Iya, Bu. TK Pertiwi di Kuta. Katanya harus dilegalisir dulu," jawab Sekar sambil tersenyum. "Maaf merepotkan, Bu. Saya baru pertama kali urus sendiri. Biasanya suami saya yang urus semua surat-surat."
Aina menunduk lebih dalam. Kalimat itu begitu akrab. Kalimat yang sama yang dulu membuatnya merasa disayangi.
"Tidak merepotkan, Bu. Sudah tugas kami," jawabnya pelan.
Ia mulai memeriksa berkas, mencocokkan data satu per satu seperti prosedur. Nama kepala keluarga, Nomor kartu keluarga, Alamat. Setiap kali matanya melewati nama Lalu Raka, dadanya terasa ditekan.
"Inaq, Inaq, ibunya kenapa diam?"
Suara kecil itu membuat Aina mengangkat wajah. Arsya berdiri berjinjit di depan meja loket, dagunya nyaris tidak sampai ke permukaan meja. Matanya bulat dan jernih, dengan bulu mata panjang yang melengkung.
Mata Raka.
Aina tercekat, Bocah itu benar-benar fotokopi ayahnya. Lekuk alis yang sama. Lesung pipi kecil di sisi kiri yang sama, yang dulu membuat Aina jatuh cinta di pertemuan pertama mereka.
"Arsya, jangan ganggu Ibu, Nak. Ibu lagi kerja," tegur Sekar lembut.
"Ibu mau permen?" Arsya mengabaikan ibunya, Ia merogoh saku celana dan mengeluarkan sebutir permen jahe berbungkus plastik bening, lalu menyodorkannya ke atas meja. "Ini enak. Mamik yang beli."
Aina menatap permen itu. Permen jahe merek yang sama yang selalu Raka bawa pulang ke rumah mereka. "Buat kamu Na, biar tidak mual waktu naik motor, kata Raka dulu".
Tangannya gemetar ketika menerima permen itu. "Terima kasih, Arsya."
Bocah itu tersenyum lebar, memamerkan gigi susu yang tidak rata. "Ibu cantik. Kayak Inaq."
Sekar tertawa kecil, malu. "Maaf, Bu. Anaknya memang suka bicara."
Aina tidak sanggup menjawab. Ia hanya mengangguk, lalu kembali menunduk pada berkas, menyembunyikan matanya yang mulai panas.
Anak ini tidak bersalah, Perempuan ini mungkin juga tidak tahu apa-apa. Lalu kepada siapa ia harus marah? Kepada siapa sakit ini harus dialamatkan?
"Ibu sakit?" tanya Sekar tiba-tiba. Nada suaranya berubah cemas. "Wajah Ibu pucat sekali."
"Tidak apa-apa, Bu. Cuma kurang tidur."
Sekar merogoh tasnya dan mengeluarkan botol kecil minyak kayu putih. "Ini Bu, dipakai dulu. Saya juga dulu sering pucat waktu hamil Arsya, Mualnya parah sampai empat bulan."
Aina membeku. Apakah begitu jelas? Atau perempuan itu hanya menebak?
"Saya… tidak hamil, Bu," dustanya, entah mengapa.
"Oh, maaf, Bu. Saya asal bicara." Sekar tersenyum canggung, tetapi tetap meletakkan botol itu di meja. "Pakai saja, Bu. Saya ada lagi di rumah."
Kebaikan kecil itu justru terasa paling menyakitkan. Aina ingin membenci perempuan ini. Ingin melihatnya sebagai perampas, sebagai musuh. Tetapi yang ada di depannya hanyalah seorang ibu yang ramah, yang menawarkan minyak kayu putih kepada orang asing.
"Sudah lama menikah, Bu?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Aina sebelum ia sempat menahannya.
Sekar tampak sedikit terkejut, lalu tersenyum. "Dua belas tahun, Bu. Tapi baru dikasih Arsya setelah tujuh tahun menunggu. Lama sekali. Saya sampai hampir putus asa."
"Tujuh tahun".
Aina menelan ludah. "Jadi Sekar juga pernah menunggu. Juga pernah berdoa di malam-malam panjang, juga pernah ditanya kapan isi".
Di tahun-tahun penantian itulah Raka menikahi Aina.
"Apakah itu alasannya? Apakah Aina hanya cadangan, rahim kedua yang dipersiapkan kalau-kalau rahim pertama tidak memberi keturunan?"
Pikiran itu membuat perutnya mual hebat. Aina meraih botol minyak kayu putih tanpa sadar dan menghirupnya dalam-dalam.
Ia memaksa dirinya kembali bekerja. Mencocokkan data, memeriksa ulang. Lalu matanya menangkap sesuatu.
"Bu, nama anak di kartu keluarga tertulis Lalu Arsya Pratama. Tapi di fotokopi akta kelahiran yang Ibu lampirkan, tertulisnya Lalu Arsya Pratam. Hurufnya kurang satu."
Sekar mencondongkan tubuh, menatap kertas itu. "Aduh, iya, Bu. Saya tidak memperhatikan. Foto kopiannya terpotong, mungkin. Aslinya di rumah."
"Kalau bisa difoto saja aktanya, Bu. Biar saya cocokkan langsung."
"Sebentar, saya telepon suami saya. Dia di rumah hari ini."
Sebelum Aina sempat berkata apa-apa, Sekar sudah menekan layar ponselnya. Arsya mulai merengek minta digendong, jadi Sekar menyalakan pengeras suara dan meletakkan ponsel di meja loket, tepat di depan Aina, sambil mengangkat anaknya.
Nada sambung terdengar sekali. Dua kali.
"Halo, Dinda?"
Suara itu.
Aina mencengkeram tepi meja. Suara yang setiap malam mengucapkan selamat tidur padanya. Suara yang kemarin sore mengetik capek banget, sayang di layar ponselnya.
"Abang, tolong fotokan akta kelahiran Arsya! Akta kelahirannya Ada di lemari, map hijau. Ini di kantor camat, katanya ada huruf yang tidak cocok."
Hening sejenak di seberang.
"Kantor camat?" Suara Raka berubah. "Kantor Camat Pujut?"
"Iya, Abang. Kenapa?"
"Di… di bagian mana, Dinda?"
"Loket pelayanan. Ibunya baik sekali, malah dikasih tahu kalau ada salah tulis." Sekar melirik papan nama kecil di atas meja Aina, lalu tersenyum. "Namanya Ibu Aina."
Hening.
Kali ini hening yang panjang. Begitu panjang hingga Sekar mengernyit dan mengecek layar ponselnya, mengira sambungan terputus.
"Abang? Halo?"
Aina menatap ponsel itu. Ia bisa membayangkan wajah Raka di seberang sana. Pucat. Mungkin berdiri kaku di depan lemari, dengan map hijau di tangan.
"Dinda," suara Raka akhirnya terdengar, serak dan tergesa. "Pulang sekarang. Suratnya biar Abang yang urus nanti."
"Tapi, Bang…"
"Pulang sekarang, Dinda. Tolong."
Sambungan terputus.
Sekar menatap ponselnya dengan bingung. "Maaf, Bu. Suami saya tiba-tiba begitu. Mungkin ada urusan mendadak."
Aina memasukkan kembali berkas-berkas itu ke dalam map dengan gerakan perlahan. Tangannya sudah tidak gemetar lagi. Ada sesuatu yang dingin dan tenang yang tiba-tiba mengendap di dadanya.
"Tidak apa-apa, Bu," katanya sambil menyodorkan map itu. "Silakan datang lagi kalau aktanya sudah ada."
Sekar menerima map itu, masih tampak heran. Ia pamit dengan sopan. Arsya melambaikan tangan kecilnya dari gendongan ibunya.
"Dadah, Ibu cantik!"
Aina membalas lambaian itu dengan senyum yang terasa seperti retak.
Belum genap lima detik keduanya keluar dari pintu, ponsel Aina di laci meja bergetar keras. Layarnya menyala, menampilkan nama yang selama sepuluh tahun membuatnya tersenyum setiap kali muncul.
Mas Raka ❤ memanggil…
Aina menatap layar itu tanpa bergerak. Getarnya berhenti, lalu muncul lagi. Berhenti, muncul lagi. Tiga kali. Empat kali.
Ia tidak mengangkatnya.
"Bu Aina…"
Rini sudah berdiri di sampingnya. Wajahnya pucat. Dari loket sebelah, ia jelas mendengar semuanya. Matanya bergantian menatap ponsel yang terus bergetar dan pintu tempat Sekar baru saja keluar.
"Bu," bisiknya hati-hati. "Lalu Raka yang tadi itu… suami Ibu, kan?"
Aina mengangguk pelan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, satu per satu, ke atas permen jahe pemberian Arsya yang masih tergeletak di mejanya.
"Iya, Rin," jawabnya lirih. "Aku sedang mengandung anaknya."