Namaku Aliqa Mardika, setelah lulus SMA orangtuaku menjodohkan ku dengan putra dari sahabatnya, yang bernama Davin Aryasatya dia berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis di Rumah Sakit Swasta.
Dengan berat hati aku menerima perjodohan ini, dengan harapan seiring kita bersama cinta akan hadir dengan sendirinya.
Ternyata aku memasuki hubungan yang salah, pria yang di jodohkan dengan ku telah memiliki hubungan dengan wanita lain.
Akan kah pernikahan ini berjalan dengan semestinya?
Ini adalah novel pertama ku, mohon maaf jika mengalami kesalahan dalam penulisan, mohon koreksinya.
Ditunggu like, komen & vote nya ya reader.. terimakasih 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divty Hardyfani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untuk Apa?
Sudah beberapa hari ini, saat aku berangkat dan sepulang bekerja aku selalu menyempatkan diri untuk menuju kediaman ku bersama dengan Aliqa, berharap menemukannya di sana.
Dimana sebenarnya kamu Al? Setiap hari aku datang ke tempat mu, namun kau belum juga kembali. Kemana aku harus mencari mu? Perasaan ku semakin kacau setiap memikirkan mu kini tak ada di dekat ku.
Meski aku bersama Mila tapi tak seperti saat aku bersama mu, setelah kepergian mu benar-benar membuat ku merasakan kehilangan, ada kekosongan di dalam hatiku. Sebenarnya apa arti dirimu di dalam hidup ku? Aku pun tak tau!
"Vin, kamu berubah? Sekarang kau lebih sering mendiamkan ku! Apa kau sudah tak mencintai ku?" Ucap Mila membuyarkan lamunan ku.
"Tidak sayang, aku tak pernah berubah, mungkin aku hanya merasa lelah. Hati ku tetap milik mu, aku mencintai mu."
"Aku merasa kau berubah, kau lebih sering melamun! Kau memikirkan bocah sialan itu?"
"Stop! Jangan pernah berkata Aliqa bocah sialan!" Ucap ku dengan nada bicara yang meninggi.
"Vin, kau tak pernah membentak ku seperti itu! Bocah sialan itu sepertinya telah mencuci otak mu."
"Maaf, aku hanya merasa pusing. Aku tak menemukan Aliqa dimana pun." Aku benar-benar tak dapat menyaring ucapan ku, semuanya keluar begitu saja dari mulut ku.
"Kau mencarinya? Untuk apa? Kau tak mencintainya! Bukannya hanya ada aku dalam hidup mu, kau tak memerlukan dia Vin!" Ucap Mila dengan raut wajah tak percaya akan perubahan sikap Davin kepada Aliqa.
"Benarkah hanya ada Mila dalam hidup ku? Kenapa perasaan ku tak membenarkan ucapan yang di lontarkan Mila, sejak kapan wanita itu mengisi sebagian hati ku?" Gumam ku dalam hati.
"Bukan kah kau telah berjanji pada ku untuk terus bersama ku dan tak akan melibatkan perasaan apapun setelah menikah dengan nya! Segera ceraikan Aliqa, Vin !"
Aku tak berniat menjawab pertanyaan Mila, hatiku seakan tersayat setiap Mila membicarakan perceraian. Terserah, siapa pun boleh mengatakan aku egois, aku tak akan menceraikan Aliqa.
"Kau memiliki ku dan anak yang sedang ku kandung. Apakah tidak cukup membuat mu bahagia?"
"Aku lelah." Davin berlalu memasuki kamar meninggalkan Mila yang terduduk di sofa ruang keluarga.
Mila meremas ujung baju yang di kenakannya, berusaha menahan amarahnya untuk tak meluap. Usahanya untuk menyingkirkan Aliqa tak semudah itu, terlebih Davin telah menggunakan perasaan di dalam hubungannya dengan Aliqa.
Laki-laki itu belum juga menyadari perasaannya terhadap Aliqa. Mila harus memikirkan cara untuk memisahkan mereka.
***
"Selamat pagi sayang," ucap Mila membelai pipi Davin lembut.
"Pagi sayang," ucap Davin mencium pucuk kepala Mila.
Seakan kejadian tadi malam bukan suatu masalah, mereka mengawali pagi dengan penuh kehangatan melupakan kejadian semalam.
"Mandi dulu sayang, biar aku persiapkan bajunya. Nanti kita sarapan bersama," ucap Mila dan di jawab oleh satu anggukan oleh Davin.
Mila mempersiapkan keperluan dan baju yang akan di kenakan oleh Davin untuk pergi bekerja. Setelah selesai, Mila menuju meja makan dan menunggu Davin untuk melaksanakan sarapan bersama.
Davin menyelesaikan ritual mandi nya, dia melihat ke arah ranjang telah ada baju yang di siapkan oleh Mila. Pikirannya kembali ke kejadian dimana Aliqa yang mempersiapkan baju untuk bekerja dan membantu mengenakan dasinya.
Kepergian Aliqa membuat kekosongan di hati dan benar-benar membuat Davin memupuk kerindungan yang teramat sangat untuk sosok Aliqa.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Davin beranjak hendak menuju mobilnya, tak ada Aliqa yang mengantarkan nya hingga ke depan pintu dan mencium punggung tangan nya takzim.
Kehilangan Aliqa benar-benar membuatnya sangat kacau, kebiasaan Aliqa begitu sangat di rindukannya.
***
Seperti baisa sebelum berangkat menuju rumah sakit, aku akan membelokannya ke kediaman Aliqa, berharap Aliqa berada disana.
Aku memasuki rumah mencari keberadaan Aliqa yang selalu bermain dalam pikiran ku, aku menaiki lantai dua. Langkah ku terhenti, terdengar suara gemericik air, aku mengikuti arah suara.
Aku terdiam mematung memandangi pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar kami.
Hingga akhirnya sosok wanita yang begitu ku nantikan keluar dari balik pintu, buliran bening dari sudut mata ku terjatuh begitu saja, sementara wanita itu bergeming di tempatnya dengan hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya.
Ku langkahkan kaki ku, menghampiri sosok wanita itu. Manik indahnya menatap ku begitu lekat.
Aku memeluk Aliqa erat, "Maafkan aku Al.. Maafkan aku." Aliqa tetap bergeming di tempatnya. "Maaf." Tak satupun ucapan maafku mendapatkan jawaban darinya.
"Apak kau tak akan memaafkan ku?" Air mataku terus saja mengalir.
"Untuk apa? Untuk apa Mas terus memohon maafku? Sedangkan Mas tau aku selalu memafkan mu, seberapa besarpun kesalahan mu. Ini salah ku, tak seharusnya aku menerima perjodohan ini setelah aku mengetahui bahwa Mas sudah memiliki kekasih hati. Aku tau Mas, aku tau... Namun aku berusaha untuk menutup mata dan tetap berharap seiring kita bersama cinta akan hadir dengan sendirinya. Aku kira setelah kepulangan dari rumah Papa mertau kamu telah berubah Mas, aku kira kau telah sedikit menerima ku di dalam hidup mu. Nyatanya aku salah Mas, aku telah salah menilai mu. Kesalahan mu selalu ku maafkan, kesempatan selalu ku berikan, ternyata tak cukup membuat mu berubah Mas. Kau anggap aku apa Mas?" Aliqa terisak.
"Meski kau tak mencintaiku, tak sepantasnya kau menkahi kekasihmu tanpa seizinku!"
"Maafkan aku Al, maaf." Aku tak memiliki jawaban apapun selain kata maaf yang terus menerus keluar dari dalam mulut ku.
"Biarkan aku sendiri, aku bukan prioritas mu. Urusi saja istri yang sedang mengandung anak mu." Aliqa menyeret Davin untuk keluar dari dalam kamarnya, setelah Davin keluar pintu kembali di tutup oleh Aliqa.
Aliqa bersandar di daun pintu kembali menumpahkan tangisnya, tangisan pilu menggema di dalam kamarnya.
Sementara itu Davin memukul-mukul pintu dan terus berkata "Maafkan aku." Dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya.
Davin mendengarkan tangisan pilu Aliqa, laki-laki itu terus berfikir betapa banyak keakitan yang telah di timbulkan olehnya, kebaikan dan ketulusan Aliqa selalu di balas oleh sebuah kesakitan.
Dengan langkah gontai Davin meninggalkan Aliqa yang sedang menumpahkan tangisnya di dalam kamar, Davin akan memberikannya waktu untuk sendiri. Davin pergi menunju Rumah Sakit dan akan segera kembali dengan harapan Aliqa telah tenang dan menerima permintaan maaf Davin.
Davin akan menerima setiap keputusan yang di berikan oleh Aliqa, telah banyak kesakitan yang di timbukan dia berhak untuk memutuskan akan bagaimana dan seperti apa hubungan pernikahan yang dijalani.